Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
47


__ADS_3

Kania memasuki rumahnya dengan perasaan hampa. Sejak beberapa bulan pernikahannya baru kali ini dia memasuki rumah itu tanpa Alam.


Kania sudah tidak ada tenaga lagi untuk melakukan apapun. Dia memilih langsung naik ke atas menuju kamarnya.


Wanita berusia 26 tahun itu merebahkan badannya di kasur. Mengusap lembut bantal yang biasanya di gunakan Alam untuk mengantarnya ke dalam mimpi.


Belum juga satu hari mereka berpisah. Kania sudah sangat merasakan kesepian di hatinya.


"Kalau aku saja seperti ini saat kamu tinggal, apa aku masih pantas untuk terus melawan perasaanku sendiri?? Batin Kania.


Kania bak seorang istri yang di tinggal merantau oleh suaminya. Menghirup dalam-dalam bau parfum yang tertinggal di batal milik Alam.


Namun pikirannya kembali terusik oleh ancaman Farel. Wajahnya langsung terlihat mendung seketika.


"Kak aku harus bagaimana?? Aku tidak menyangka jika Farel akan menjadi bumerang di pernikahan kita. Aku takut semua ini akan berakhir buruk. Tapi aku juga tidak mau Farel menghancurkan mu"


"Hikss.. hikss..."


Kania membenamkan wajahnya ke bantal yang menjadi tempat curahan hatinya itu.


Firasatnya benar, jika setelah pesta itu, jika hal berat akan menimpa Alam.


-


-


Pagi ini pun sama, rumah rasanya sunyi tanpa suara Alam yang kadang merecokinya di dapur. Kania hanya melengos melewati dapur itu untuk pergi ke kantor.


Dia melewatkan sarapannya pagi ini, jangan kan untuk membuat sarapan. Tadi malam saja Kania tidur tanpa mengganti bajunya. Tidak ada rasa semangat di dalam dirinya. Terlalu malas untuk melakukan sesuatu saat hatinya sedang gundah seperti itu.


Andai saja kantornya itu adalah milik keluarganya, pasti Kania lebih memilih absen dan pergi mengunjungi Alam.


Tapi sungguh sayang, Kania hanyalah seorang pegawai yang hanya menjual otaknya saja.


Jika biasanya Kania akan berangkat bersama Alam. Kini dirinya harus duduk termenung di belakang kemudi orang hang sama sekali tidak di kenalnya.


Kania sudah beberapa kali mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk dari suaminya.Dia sadar jika ponsel Alam pasti sudah di sita oleh pihak penyidik, tapi entah mengapa harapan itu selalu bersarang di pikiran Kania.


Saat baru saja kakinya menginjak lantai perusahaan. Kania sudah di sambut dengan senyuman rama dari Farel di depan sana.


Jika orang lain yang melihatnya pasti akan terpana mendapat senyuman seperti itu dari pria tampan. Tapi tidak dengan Kania. Menurutnya semua itu hanya palsu. Itu hanya topeng untuk menutupi sifat yang sesungguhnya.


"Selamat pagi Kania" Sambut Farel dengan lembut.


Kania hanya membalas Farel dengan sebuah senyum yang semanis mungkin agar tidak terlihat keterpaksaan di wajah Kania.


"Aku senang deh akhirnya kita bisa dekat kaya dulu lagi" Ucap Farel mengiringi langkah Kania.


"Sayangnya aku tidak Rel" Batin Kania yang menjawab.


"Tapi jangan terlalu dekat jika di kantor Rel. Aku tidak ingin mereka memandangku dengan hina" Kania mengedarkan pandangannya. Dia merasa terintimidasi dengan tatapan-tatapan aneh semua orang. Kania tau apa sebabnya mereka melakukan itu.

__ADS_1


Bagaimana bisa seorang istri yang suaminya mendekam di penjara justru dekat dengan pria lain. Kiranya seperti itulah pikiran mereka.


Farel mengikuti arah pandang Kania, dia tau apa yang ada di pikiran Kania.


"Baiklah, tapi ingat janjimu padaku"


"Itu bukan janji Rel, tapi keterpaksaan" Lagi-lagi hati Kania yang menjawab.


"Iya" Hanya itu jawaban yang lolos dari bibir Kania.


"Oke, nanti sepulang kantor aku ingin mengajakmu makan malam. Tidak ada penolakan!! Dan sekarang aku harus pergi dulu" Farel pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Kania.


Kania meraih dinding yang berada di dekatnya. Lututnya seakan lemas tak mampu untuk berdiri. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mencari cara lain untuk melawan Farel.


Dia takut jika Farel telah menggunakan uangnya untuk semakin mengancamnya. Dia dan Alam hanyalah kerikil bagi Farel yang seperti gunung karang yang sangat besar.


"Aku harus minta bantuan pada siapa?? Rasanya aku tak kuat menahan beban ini sendirian" Gumam Kania.


Kania adalah pribadi yang tertutup, dia tidak punya banyak teman. Ada juga hanya sebatas mengenal, tidak pernah dekat. Karena sedari dulu sahabat satu-satunya adalah Dania, Kakaknya.


Kania merogoh ponsel di dalam tasnya dengan buru-buru.


Dia segera mencari kontak seseorang yang dengan mudah dia temukan.


"Halo??" Jawab seseorang yang di hubungi Kania.


"Kak!!" Suara Kania lirih.


"Dek?? Kamu kenapa Dek?? Kamu ada masalah, kenapa suara kamu seperti itu??" Dania memang sepeka itu.


"Tentu saja, pasti Kakak bisa. Nanti Kakak ke sana" Dania juga terdengar sangat khawatir dengan keadaan adiknya itu.


"Aku menunggumu Kak" Ucap Kania sebelum mematikan panggilannya.


Kania mengusap air matanya yang sempat menetes. Dengan menghembuskan nafas panjangnya. Kania menegakkan badannya, berusaha tetap kuat untuk terus masuk ke dalam perusahaan yang sekarang ini tampak menyeramkan baginya.


-


-


-


Dania tergopoh-gopoh mencari keberadaan adiknya di dalam cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka.


Dania sangat khawatir pada adiknya itu saat tiba-tiba menghubunginya dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Dek??" Dania duduk di depan Kania yang duduk tertunduk tanpa menyadari kedatangan Dania.


"Kakak" Lirih Kania dengan mata yang sudah memerah.


Dania menarik kursinya hingga menjadi bersebelahan dengan Kania.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa Dek?? Katakan, kenapa kamu seperti ini. Apa Alam menyakitimu??" Dania memberikan banyak pertanyaan pada Kania sekaligus.


Kania menggeleng pelan, air matanya sidah mulai menetes.


"Lalu ada apa??" Dania semakin gemas Karena Kania tak kunjung memberitahunya.


"Kak Alam masuk penjara Kak"


"Apaa!! Kok bisa??" Dania merasa jantungnya sudah ingin melompat dari tempatnya.


"Ini semua karena aku Kak"


"Ceritakan dengan benar, jangan membuat Kakak semakin bingung" Tegas Dania.


"Kak Alam di jebak Farel Kak. Dia sakit hati karena aku tidak menerima pernyataan cintanya._____"


Kania menceritakan semuanya pada Dania. Termasuk ancaman yang di lakukan Farel padanya.


"Kakak tidak mengira Farel akan senekat itu Dek. Tapi jika dia waras, sebenarnya itu salahnya sendiri. Tapi kenapa dia melampiaskan semuanya pada kalian" Geram Dania.


"Aku tidak tau lagi harus bagaimana selain menuruti permintaannya Kak. Aku tidak tega melihat Kak Alam di perlakukan seperti itu" Kania menangis sesenggukan di bahu Kakaknya.


"Dia benar-benar g*la Dek. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu!!"


"Aku tau itu Kak. Dan aku juga tidak berharap batuan apapun darimu. Aku tau kita tidak bisa melawan Farel Kak. Aku hanya membutuhkan kamu di sampingku saat ini" Rasanya sudah sedikit lega setelah dia menyampaikan masalahnya pada Dania.


"Kakak tau Dek, tapi Kakak juga sebisa mungkin akan membantumu" Dania mengusap lembut bahu Kania.


"Tapi" Kania mengangkat kepalanya "Aku mohon sembunyikan ini dari Bunda dan Mama Yesi ya Kak. Ini juga permintaan Kak Alam"


Dania mengangguk dengan pasrah, dia juga tidak ingin membuat Bundanya banyak pikiran.


"Terimakasih Kak, hanya kamu tempatku menuangkan kesedihanku saat ini. Karena tidak mungkin aku memberitahu semua ini pada Kak Alam"


"Tapi Dek, apa sebaiknya kamu memberitahu Alam saja" Ucap Dania dengan ragu.


"Kak, jika Farel tau. Maka dia tidak segan menghancurkan kita lebih dari ini. Dia sudah mengatakan itu" Dania mengerti posisi adiknya saat ini benar-benar sulit.


"Baiklah, Kakak mengerti. Kaka akan menyembunyikan semua ini dari siapapun"


Kakak beradik tak sedarah itu saling menggenggam. Tapi Kania tidak tau jika Dania sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dengan sedikit menurunkan egonya, Dania bisa membuat Alam dan Kania terbebas dari Farel.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Kira-kira apa yang dipikirkan Dania ya?? Apa yang akan dia lakukan??


Makanya tetap setia sama Kania dan Alam ya readers ☺


__ADS_2