
"Emmhhhh..."
Kania memegang keningnya yang terasa pusing. Mengerjakan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk menyerang matanya.
Kamar dengan nuansa putih dan bau obat-obatan yang tidak di sukai Kania menyambutnya begitu kelopak mata itu berhasil terbuka sempurna.
"Kamu sudah bagun Dek?"
Suara yang sangat Kania kenal namun beberapa hari ini tidak ia dengar selembut itu membuat jantung Kania berdebar.
"Kak Alam??" Ucap Kania tampa mengeluarkan suaranya.
Lalu ingatan sebelum dia terbangun di tempat seperti ini mulai melintas di pikiran Kania. Dimana dia melihat suaminya yang beberapa hari mengacuhkannya itu justru sedang bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Kakak panggilkan dokter dulu ya??" Alam beranjak dari samping Kania tapi berhasil di tahan oleh Kania.
"Tidak udah Kak, aku baik-baik saja" Tolak Kania. Dengan sedikit kesakitan Kania mencoba untuk mengambil posisi duduk.
Akhirnya Alam kembali duduk di tempat semula. Di kursi tepat di samping ranjang Kania.
"Kak??" Kania memberanikan dirinya menatap Alam dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kania minta maaf untuk semua kesalahan Kania. Kania minta maaf karena berbohong soal Farel pada Kakak. Dan Kania juga minta maaf karena selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Kakak"
Kania yang tidak mendapatkan respon dari Alam terus melanjutkan ucapannya meski air matanya sudah saling berjatuhan.
"Aku sudah menjelaskan semuanya sama Kakak. Tapi Kalau Kakak masih tetap pada pendirian Kakak untuk kita tetap bercerai. Insyaallah Kania siap"
Lagi-lagi Kania tidak mendapatkan jawaban apapun dari Alam hanya kening pria itu yang sedikit berkerut.
"Kania tidak akan menghalangi Kakak jika Kakak mau kembali pada Kak Dania. Lagipula Kak Dania juga yang telah membantu Kakak keluar dari penjara. Bukan aku yang memilih berbohong demi membebaskan mu tapi justru gagal ini"
Kania menundukkan kepalanya, bukan dia ingin menyembunyikan tangisannya karena itu juga tidak perlu karena Alam sudah melihatnya. Kania hanya tidak mampu untuk menatap suami yang sangat dicintainya itu.
"Sudah??" Akhirnya Alam mampu mengeluarkan suara yang sangat dirindukan Kania itu.
Kania mengangkat kepalanya, bingung dengan pertanyaan Alam itu.
__ADS_1
"Sudah ngocehnya??" Tanya Alam lagi dengan suara yang halus seperti kemarin.
Kania tidak tau harus menjawab apa, tapi di dalam hatinya ada sedikit rasa kesal. Semua yang telah di ucapkan tadi adalah segala isi hatinya, tapi justru di katakan mengoceh.
Alam meraih tangan Kania yang sejak tadi mengepal erat. Membawa keduanya ke dalam genggaman tangan besar milik Alam.
"Makasih ya kejutannya" Ucap Alam dengan senyuman tipisnya.
Kania sempat bingung tapi langsung teringat dengan kejutan yang telah disiapkan untuk suaminya itu di rumah.
"Kakak sudah lihat??" Tanya Kania dengan ragu.
"Iya, tadi Kakak sempat pulang untuk mengambil kartu identitas mu yang ada di rumah" Jawab Alam seperti tidak ada masalah sebelumnya.
"Maaf kejutannya gagal" Ucap Kania dengan sendu.
"Tidak papa, Kakak suka kok" Alam mengusap sisa air mata yang ada di pipi Kania.
"Dan Kakak juga mencintaimu" Ucap Alam dengan suara yang sedikit berbisik membuat Kania memalingkan lagi wajahnya untuk menatap Alam.
Alam menunjukkan foto di dalam ponselnya. Foto yang dia ambi di rumah saat melihat rumahnya yang sudah di hias indah oleh Kania. Di mana Kania juga menulis kalimat KANIA LOVE ALAM dengan menggunakan lilin dan bunga-bunga yang indah.
Alam menggeleng pelan dengan senyum menghiasi bibirnya yang beberapa hari selalu mengatup itu.
"Maafkan Kakak yang kemarin terlalu emosi sampai mengeluarkan kata-kata itu sayang. Kakak benar-benar menyesali semuanya. Kakak salah paham sama kamu, sampai Kakak tidak mau mendengarkan penjelasan kamu dulu" Alam mencium punggung tangan Kania dengan lembut. Melepas kerinduannya pada kulit lembut milik istrinya itu.
"Tapi kenapa Kakak tetap ingin bercerai setelah aku menjelaskan semuanya?? Bahkan Kakak juga masih menghindari, tidak mau makan masakan ku juga tidak mau pakai baju yang aku siapkan"
"Karena Kakak masih merasa kecewa sama kamu, Kakak sudah memberikan kesempatan kamu berkai-kali untuk jujur, tapi nyatanya kamu lebih memilih untuk berbohong. Kakak juga ingin memastikan sesuatu darimu. Kamu memang sudah memberikan hak untuk Kakak atas dirimu sepenuhnya. Tapi Kakak belum mendengar kata cinta dari bibir kamu sendiri"
Kania kembali sesenggukan dengan pernyataan Alam itu.
"Apa hal itu perlu di pertanyakan lagi saat aku sudah menyerahkan mahkotaku hanya untukmu Kak??" Tanya Kania dengan suara yang bergetar.
"Kakak minta maaf sayang. Sekarang Kakak sudah tidak butuh itu lagi. Kakak sudah tau kalau cinta kamu dari dulu memang tidak pernah hilang. Dan masalah Dania tadi" Kania menajamkan pendengarannya. Mencoba menguatkan hatinya jika yang akan Alam katakan membuatnya sakit kembali.
"Kakak menemuinya hanya untuk berterimakasih karena sudah membantu membebaskan Kakak. Tentang pikiran kamu yang mengira Kakak akan kembali padanya itu buanglah jauh-jauh. Kakak hanya mencintai kamu, dan selamanya akan begitu. Kakak tidak pernah ada niatan untuk kembali padanya, bahkan membayangkan pun tidak"
__ADS_1
"Hiks.. Hiks.." Kania kembali terisak dengan sedikit keras.
"Jadi intinya, sebenarnya kamu itu percaya sama penjelasan waktu apa enggak??" Tanya Kania dengan kesal di sela tangisnya.
Alam bingung ingin sedih atau tertawa melihat istrinya marah dan menangis secara bersamaan.
"Kakak percaya sama kamu Dek, ditambah lagi Dania juga menjelaskan semua yang telah Farel lakukan sama kamu. Tantang kamu yang menangis karena bingung akan Kakak ceraikan juga di ceritakan sama Dania. Maaf ya Kakak sudah mengacuhkan kamu beberapa hari ini" Alam mencubit pipi Kania dengan gemas.
"Jahat, kamu jahat tau nggak Kak. Aku kelimpungan ke sana kemari cari kamu. Ngajak kamu ngomong walau nggak pernah kamu jawab. Aku masak nggak di makan, aku siapin baju nggak dipakai. Malah lihat kamu berduaan sama Kak Dania di cafe tadi" Kania mencubiti tangan Alam hingga beberapa kali dengan rasa kesalnya.
"Awwww, maaf sayang, ampun" Alam meringis menerima serangan Kania yang bertubi-tubi itu.
Kania akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia marah pada suaminya itu.
"Jadi tadi kamu lari sampai keserempet motor itu gara-gara cemburu ya??" Goda Alam mencoba membuka tangan Kania namun Kania menolak.
"Kamu tau nggak, tadi rasanya jantung Kakak sudah keluar dari tempatnya saat melihat kamu terkapar di pinggir jalan dengan tidak sadarkan diri. Kakak takut kehilangan kamu di saat kita baru saja akan bahagia, terlebih jika mengingat masalah yang sedang kita hadapi. Kakak rasanya nggak sanggup. Bahkan tadi Kakak tidak tau harus berbuat apa untuk menolong mu. Kakak hilang akal, pikiran Kakak kosong. Hanya memeluk kamu itu saja yang ada di pikiran Kakak"
"Tapi untung ada Dania yang menyadarkan Kakak untuk segera membawamu ke rumah sakit"
Alam berdiri dan memilih duduk di pinggiran ranjang Kania. Menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan Kakak ya, Kakak percaya sama kamu. Terimakasih karena kamu rela berkorban demi membebaskan Kakak. Untung saja Farel belum sempat melakukan apapun sama kamu. Jika itu sampai terjadi mungkin Kakak tidak akan memaafkan diri Kakak sendiri"
Alam mencium pucuk kepala Kania dengan dalam dan penuh cinta.
"Tapi kalau seandainya Farel berhasil merebut hak mu apa kamu masih mau menerima ku kak??" Ucap Kania dengan lirih, dia sudah ketakutan membayangkan hal itu akan terjadi.
"Dek, Kakak mencintai kamu apa adanya. Bahkan Kakak sudah siap jika pergaulan kamu di luar negeri sana benar-benar bebas. Apalagi kamu melakukan itu demi Kakak. Justru Kakak yang akan sangat merasa bersalah" Alam menatap manik mata Kania dengan dalam.
"Itu namanya cinta tapi b*doh!!" Celetuk Kania.
"Bukannya cinta dan b*doh itu beda tipis?? Kamu juga pernah merasakannya sendiri kan??" Serangan balik dari Alam mampu membungkam Kania.
"Terus kalau tadi aku nggak bangun lagi gimana??" Pertanyaan yang ngawur dari Kania membuat mata Alam menajam.
"Ya jangan dong!! Kakak baru dapat jatah sekali kok udah mau pergi" Jawaban tak terduga dari Alam itu membuat Kania melongo.
__ADS_1
Kania menarik lengan Alam dan sengaja menggigitnya dengan keras. Kania tida menyangka suaminya itu bisa-bisanya memberikan jawaban seperti itu.
"Aawwww KDRT terus kamu ya" Alam mengusap lengannya yang nampak jelas bekas gigi Kania di sana.