Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
48


__ADS_3

Dania berdiri di depan cafe sambil celingukan ke kiri dan kanan. Dia sengaja berdiri di sana berharap bertemu kembali dengan pemilik jaket yang sudah berada di tangannya itu. Kalau di hitung, sudah tiga kali Dania melakukan hal seperti ini.


Dania kembali melirik jam di tangannya. Sudah lebih dari satu jam tapi pria itu tidak juga terlihat. Sepertinya Dania akan kembali kecewa seperti sebelumnya.


"Oke sepuluh menit lagi" Gumam Dania.


Tapi setelah sepuluh menit itu berlalu pergi tak juga ada tanda-tanda pria yang tidak di kenal itu menampakkan diri. Sepertinya malam ini Dania harus menyerah.


"Mungkin besok kali ya??" Dania memutuskan untuk pulang. Dia berbalik ingin meninggalkan tempat itu.


BRUKKK..


"Aduh!!"


Dania terhuyung ke belakang karena menabrak sesuatu yang keras. Tapi tubuh Dania tidak jadi menyapa tanah karena ada yang menahan lengan Dania.


"Kok hobinya nabrak terus sih Mbak??"


"Mbak??" Gumam Dania. Dania langsung melihat siapa yang memanggilnya seperti itu lagi.


"Kamu??" Akhirnya Dania bertemu dengan pria itu lagi dengan Pria itu dengan cara yang sama, yaitu tabrakan.


"Iya, kita ketemu lagi" Pria itu tersenyum memperlihatkan gigi ginguslnya yang tidak terlalu menonjol itu.


Dania memalingkan wajahnya, dia sedikit terkesima melihat senyum manis pria tak di kenal itu.


"Oh iya, ini jaket kamu sudah aku cuci. Makasih ya MAS!!" Dania sengaja menekan kata Mas karena dia kesal selalu di panggil Mbak oleh pria tinggi di depannya itu.


"Kamu sengaja nungguin aku di sini??" Tebak pemilik jaket itu.


"Eng-nggaakk. Cuma kebetulan aja" Dania gugup karena pria itu menebak dengan benar.


"Masa sih, tapi kenapa jaketnya udah kamu bawa?? Kebetulan banget ya??" Pria itu menatap Dania yang gugup itu dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Udah deh!! Yang penting aku udah balikin jaketnya. Sekali lagi makasih ya Mas"


"Ardan!!" Pria itu justru mengulurkan tangannya ke depan Dania.


"Hah??" Dania tidak mendengar apa yang pria itu katakan.


"Aku Ardan, nama kamu siapa Mbak??"


Dania kembali kesal dengan sebutan itu.


"Dania, MAS Ardan!!" Dania menyambut uluran tangan itu tapi dengan wajah yang terlihat galak karena matanya sedikit mendelik pada Ardan.


Ardan justru terkekeh dengan tingkah Dania itu. Sebenarnya dia tau Dania tidak suka di panggil seperti itu. Tapi nampaknya Ardan sengaja menggoda Dania.


"Oh jadi nama kamu Mbak Dania??"

__ADS_1


Dania semkin kesal dengan Ardan sampai menghempaskan tangan Ardan yang masih berjabat tangan dengannya itu.


"Bisa nggak sih nggak usah panggil Mbak, Mbak, Mbak terus!! Adikku aja nggak pernah panggil Mbak kok. Lancang sekali anda ya!!" Dania nyerocos dengan berkacak pinggang.


"Iya sayang, maaf ya??" Ucap Ardan dengan manis.


Dania justru hampir tersedak air liurnya sendiri karena pria itu dengan seenak jidatnya memanggilnya seperti itu.


"Jangan kurang ajar ya!!" Delik Dania.


Tapi Ardan justru tetap bersikap santai dan tidak terpancing sama sekali dengan kemarahan Dania.


"Terus harus panggil apa dong?? Nama aja nggak sopan, Mbak nggak mau, di panggil sayang biar manis malah marah-marah. Kan Mas jadi bingung Dek"


Dania menutup telinganya, dia merasa telinganya sudah ternodai oleh pria yang baru saja di ketahui namanya itu.


"Ihh geliiii aku dengernya!! Udah deh ya, kan jaketnya udah aku balikin dan aku juga udah bilang makasih. Jadi aku rasa sudah cukup sampai di sini. Permisi!!" Dania meninggalkan Ardan dengan wajah kesalnya yang membuat seluruh wajahnya memerah.


"Iya sayang, hati-hati ya. Kalau kita nggak sengaja ketemu lagi kamu harus jadi calon istriku!!" Teriak Ardan yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Dalam mimpimu!!" Balas Dania membuat Ardan tertawa keras.


"Dasar pria s*nting!!" Gumam Dania dengan terus berjalan menjauh dari Ardan. Dia bahkan berharap untuk tidak bertemu dengan pria aneh itu lagi.


-


-


-


Saat ini wanita yang masih rapi dengan setelan kantornya itu telah menunggu Farel di sebuah taman yang telah di hias sedemikian rupa.


Sebelumnya Kania terkejut karen dia kira Farel salah memberi tahu tempat janjian mereka. Sampai ada seorang wanita berpakaian seperti pelayan yang menghampirinya dan mengajaknya duduk di kursi dengan meja yang di beri lilin di tengah-tengahnya.


Kania masih merasa bingung dengan keadaan sekitar yang sepi dan tidak ada siapapun. Hanya ada Kania di temani lampu yang gemerlap menghiasi sekitarnya.


Tiba-tiba suara musik romantis mulai terdengar ditelinga Kania. Tepat saat itu juga Farel juga muncul dari arah yang berseberangan dengan Kania.


Jika saja Farel adalah pria yang Kania cintai mungkin saat ini dia akan merasa kebahagiaan yang tak terkira. Namun sayang Kania sama sekali tak tersentuh dengan semua kejutan yang Farel berikan ini.


Dia ada di sana semata-mata hanya demi suaminya. Kania harus memberikan senyuman penuh keterpaksaan itu pada Farel.


"Kamu sudah lama??" Tanya Farel yang kemudian duduk si depan Kania.


"Baru saja kok" Jawab Kania berusaha bersikap tenang agar Farel tidak mengintimidasinya.


"Kalau gitu kita makan dulu ya??"


Farel menjentikkan jarinya memanggil para pelayan yang akan melayaninya.

__ADS_1


Sementara Kania hanya menurut tak bisa membantah.


Kania hanya menatap malas hidangan di atas mejanya itu, pikirannya justru melayang jauh memikirkan suaminya.


"Maafkan aku Kak, seharusnya aku datang membawakan makan malam untukmu. Tapi aku justru menemui pria lain di belakangmu. Aku makan enak di sini dan aku tidak tau kamu makan enak atau tidak di sana" Batin Kania teriris teringat suaminya itu.


"Ayo di makan Kania" Farel menegur Kania yang hanya menatap makanannya saja tanpa berniat memakannya.


"Iy-iya Farel" Kania mulai mengisi mulutnya dengan makanan yang terlihat enak dimatanya namun hambar di lidahnya. Bahkan Kania seakan tak sanggup untuk menelan jika saja Farel tidak ada di depannya.


Bukan karena tidak Enak, tapi Kania memang tidak ada niatan untuk memakannya.


"Farel"


"Iya??"


"Kapan Kak Alam bisa bebas??" Pertanyaan Kania itu seperti membangunkan macan yang sedang tidur.


"Sudah aku katakan dia akan bebas tidak lama lagi Kania. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan mengingkari janjiku!!" Tegas Farel.


Dia sudah susah payah membangun suasana romantis, tapi Kania menghancurkannya dengan sekejap saja hanya karena membahas pria yang bahkan Farel tidak ingin mendengar namanya.


"Aku bisa saja membebaskannya dengan cepat" Farel tersenyum licik.


"Lakukan Rel, aku mohon" Ucap Kania dengan wajah sedihnya.


"Dengan satu syarat" Ucap Farel memicingkan matanya.


"Besok kamu harus ikut aku ke suatu tempat. Kamu tenang saja aku nggak akan berbuat macam-macam sama kamu"


Kania tampak berpikir. Banyak pertimbangan di dalam hatinya. Termasuk kebohongannya yang semakin menumpuk


"Baiklah tapi untuk malam ini aku mohon sampai di sini saja Rel. Aku harus bertemu Kak Alam saat ini" Ucap Kania dengan keputusannya.


"Baiklah, tapi jangan lupa janjimu untuk besok!!"


"Asal kamu juga bebaskan Kak Alam" Kania tak mau kalah.


"Kamu tenang saja. Dia akan segera menghirup udara segar" Balas Farel dengan senyuman misterius.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Kira-kira Kania mau di ajak kemana sama Farel ya ya??


__ADS_2