Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
57


__ADS_3

Kania tidak menolak saat Alam mengatakan ingin mengantarnya pulang. Memang itu tujuannya, membawa Alam untuk pulang ke rumah.


"Apa setelah ini Kakak mau pergi lagi??" Tanya Kania pada Alam yang menatap lurus jalanan di depannya.


Alam diam tak mau menyahuti pertanyaan Kania. Tentu Kalian bisa merasakan apa yang Kania rasakan saat ini. Sakitnya seperti apa ketika pertanyaan kita tidak di tanggapi, apalagi oleh orang yang kita cintai.


"Kalau Kakak mau pergi lagi lebih baik antarkan aku ke rumah Bunda saja. Selama Kakak tidak ada di rumah, aku takut sendirian di sana" Kania memalingkan wajahnya saat merasakan air matanya ingin terjatuh. Dia tidak mau terlihat begitu mengenaskan di depan Alam.


Bahkan setelah mengatakan itu pun Alam tidak juga mengeluarkan suaranya, atau bahkan sekedar mengangguk.


Setelah melalui perjalanan dari bengkel sampai ke rumah dengan sangat membosankan bagi Kania itu.


Kania turun dari mobil Alam, melirik sedikit pada suaminya itu. Dia tidak rela jika Alam benar-benar akan pergi lagi setelah ini.


Tapi dugaan Kania salah, Alam justru masuk ke dalam rumah mendahului Kania. Membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang di bawanya sendiri.


Dengan cepat Kania menyusul Alam, ada sedikit rasa bahagia di dalam hatinya. Iya hanya sedikit, karena Kania masih takut nanti Alam akan pergi lagi.


Sampai di kamar Kania mendengar suara gemericik air. Sudah pasti Alam sedang mandi di dalam sana.


Kania langsung menuju lemarinya, mengambil baju ganti untuk Alam, kemudian meletakkannya di ranjang. Seperti biasa, Alam akan memakai segala sesuatu yang di siapkan oleh Kania.


Tak mau menunggu Alam yang mungkin akan lama berada di kamar mandi, Kania lebih memilih untuk pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk merela berdua.


Kania berdoa dalam hatinya agar Alam tidak akan pergi setelah ini, dan akan menghabiskan malam berdua setelah mendengar penjelasan Kania tadi.


Hasil masakannya ia tata di atas meja dengan rapi, Kania tersenyum menatap dua piring kosong pada tempatnya masing-masing itu. Menatap itu saja Kania bahagia sekali, menurutnya makan berdua setiap hari sudah termasuk hal yang romantis.


Tanpa sadar, selama Kania menikah dengan Alam, setiap hari dia hanya memasak makanan yang di sukai Alam saja. Dan baru hari ini hal itu di sadari oleh Kania. Biar bagaimanapun kalau cinta sudah menguasai hati, pasti pikiran pun akan di jalankan tanpa persetujuan pemiliknya.


Kania naik ke kamarnya untuk memberitahu Alam jika makan malamnya sudah siap. Tapi Kania harus di buat kecewa dengan harapannya yang sudah di bangun sejak tadi.


Kania menahan gejolak hatinya yang tiba-tiba menyeruak. Mengigit bibirnya agar tidak menangis saat itu juga.


Suami yang di tunggunya sejak tadi kini justru sudah berbaring memejamkan mata dengan selimut menutupi separuh tubuhnya. Bahkan baju yang Kania siapkan tadi sama sekali tak tersentuh.

__ADS_1


Rasanya sakit sekali di dalam hati Kania, ternyata penjelasannya tadi sama sekali tak berarti apa-apa. Alam yang mengantarnya pulang juga tidak ada artinya. Dia tetap diam dan acuh.


Rasa lapar yang Kania tahan sejak tadi kini hilang seketika. Mungkin Berbagai masakan yang terlihat lezat tadi juga akhirnya terbengkalai di atas meja makan begitu saja.


Kania masuk ke dalam kamar mandi membawa rasa sesak di dadanya. Menangis di bawah guyuran air mungkin lebih baik untuknya saat ini.


Inilah akibat yang harus di terimanya akibat keputusan gegabahnya itu. Kania tau saat ini Alam kecewa padanya. Tapi Kania tidak ingin Alam mendiamkannya seperti ini. Lebih baik Alam memarahinya daripada harus sakit menerima sikap acuhnya.


Setelah hampir satu jam Kania berada di dalam kamar mandi akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Badannya sudah menggigil kedinginan karena terlalu lama berdiri di bawah shower.


Kania melihat Alam yang masih terbaring di ranjang, tapi saat ini posisinya berubah menjadi membelakangi tempat tidur Kania.


Berlahan Kania mulai mendekat, dengan pelan menaiki ranjang agar tidak mengusik Alam yang sudah terlelap.


Kania berbaring lagi-lagi menatap punggung yang membelakanginya itu. Air mata yang sejak tadi ia tumpahkan di kamar mandi nyatanya kini belum habis juga.


"Aku minta maaf untuk semua kesalahanku Kak" Ucap Kania dengan pelan tapi suaranya sudah bergetar manahan tangisannya.


Setalah mengatakan itu Kania langsung berbalik, membuat punggung mereka saling berhadapan.


Kania tidak tau kapan suasana dingin ini akan berlangsung. Tapi dia berharap jika hubungannya dengan Alam lekas membaik. Dia tau jika saat ini Alam perlu waktu untuk menenangkan hatinya. Dan sebisa mungkin Kania akan tetap berusaha untuk perbaiki rumah tangganya.


-


-


Kania terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi, dia memang sengaja menyalakan alarm agar tidak seperti kemarin saat Kania bangun dan tidak menemukan Alam di sebelahnya.


Kali ini pun sama, Alam sudah tidak ada lagi tempatnya tadi malam. Kania tampak panik, menyibak selimutnya untuk mencari Alam.


Tapi Kania segera mengurungkan niatnya karena mendengar pintu kamar mandi terbuka. Alam muncul dari sana dengan baju rapinya. Bukan baju kantoran seperti biasanya. Hanya baju kasual saja tapi Alam tetap terlihat tampan di mata Kania.


"Kakak mau kemana?? Ini kan hari libur" Tanya Kania dengan senyum manisnya, berharap kali ini Alam akan membalas pertanyaannya walau hanya satu kata.


Meski Alam tetap diam, Kania tetap tidak menyerah dengan suaminya itu.

__ADS_1


"Kakak mau ke bengkel ya?? Aku buatin sarapan ya?? Tadi malam Kakak kan nggak makan sama sekali"


"Tidak usah" Jawaban singkat dari Alam yang dingin itu.


Alam meraih jam tangan dan dompetnya kemudian berjalan keluar kamar dengan Kania yang masih mengekornya.


"Kalau gitu minum teh dulu ya, ini kan masih jam enam pagi. Biar badannya hangat" Kania sudah benar-benar membuang urat malunya. Dia tetap memaksa Alam yang sudah jelas menolaknya.


Kali ini Alam tidak menolak, dia menuju meja makan dan duduk di sana. Senyum Kania mengembang meski tanpa jawaban tapi Alam mau menerima tawarannya.


Alam duduk di sana dengan diam. Melihat makanan yang tertata rapi di atas meja. Semua yang ada di sana adalah makanan kesukaannya. Dia tau itu hasil masakan Kania tadi malam.


Dia juga melirik dua piring kosong yang masih bersih di sana. Tapi entah apa yang ada di dalam pikiran Alam. Pria itu hanya menatap makanan itu dengan tatapannya yang dingin.


"Ini tehnya Kak, maaf ya mejanya masih berantakan. Aku beresin dulu ya" Kania meraih piring-piring berisi makanan mubasir itu. Membawanya ke belakang, tidak tau apa yang akan dia lakukan pada masakannya itu.


Kania kembali duduk di samping Alam yang sedang menikmati teh buatannya. Alam memang diam duduk di sana. Tapi dia lebih fokus pada ponselnya dari pada Kania. Jika kemarin Alam lebih suka menggoda Kania, berbeda dengan tiga hari ini.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu??" Tanya Kania dengan ragu.


Alam masih diam tak peduli.


"Kenapa Kakak memilih resign dari kantor??" Kania menunggu jawaban Alam yang sepertinya mustahil dia dengar.


"Kalau Kakak tidak mau menjawabnya juga tidak papa" Kania menundukkan kepalanya. Meraih gelasnya kemudian menyeruput teh yang sudah agak dingin itu.


"Aku hanya tidak ingin membuatmu canggung saat kita berpisah nanti"


Deg...


Kalimat yang tidak terlalu panjang itu berhasil memporak porandakan hati Kania. Tanpa seijin Kania, mata itu mulai buram karena tertutup air yabg siap akan terjun bebas.


Kania mendongak menatap Alam yang sudah berdiri, bersiap untuk pergi dari meja makan itu.


"Jadi Kakak tetap ingin berpisah setelah aku menjelaskan semuanya??" Tanya Kania pada Alam yang memunggunginya.

__ADS_1


Meski Alam sempat berhenti sejenak, tapi dia kembali melangkah meninggalkan istrinya yang sudah hancur itu.


__ADS_2