
Alam yang masih tiduran di ranjang hanya menatap istrinya yang sibuk mondar-mandir ke kiri dan ke kanan untuk bersiap ke kantor.
"Kamu yakin mau berangkat ke kantor Dek?? Nggak mau temenin Kakak aja hari ini??" Tanya Alam dengan selimut yang masih bertengger rapi di badannya. Dia seperti enggan keluar dari kehangatan itu setelah beberapa hari hanya tidur beralaskan tikar.
"Ada hal penting yang harus aku urus Kak. Maaf ya??" Alam memang belum ingin masuk ke kantor setelah ke jadian kemarin. Mungkin besok atau lusa. Dia juga harus mempersiapkan dirinya menghadapai orang-orang di kantor.
"Apa itu??" Tanya Alam penasaran.
"Emmm, tidak apa-apa kok Kak hanya masalah pekerjaan" Bohong Kania, karena dirinya ingin bertemu Dania dan membahas masalah keluarnya Alam dari penjara.
"Nggak ada yang kamu sembunyikan kan Dek?? Kamu nggak ada hubungannya dengan kebebasan Kakak kemarin kan??"
Deg...
Lagi-lagi Kania lupa jika Alam itu seperti cenayang yang bisa menebak pikiran orang lain.
"Enggak kok Kak, aku juga tidak tau siapa yang tiba-tiba membebaskan kamu" Kali ini Kania jujur, karena dia juga ingin menemui Dania membahas masalah ini.
"Ya sudah, Kakak antar kamu ya??"
"Nggak usah Kak, kamu istirahat saja di rumah. Aku berangkat sendiri saja ya" Kania buru-buru meraih tangan Alam dan mencium punggung tangannya.
"Aku pergi dulu" Alam semkin curiga dengan istrinya yang terlihat buru-buru itu. Padahal masih jam 7 pagi, dan itu menunjukkan jam masuk kantor masih lama.
-
-
Kania sudah mengirimkan pesan pada Dania, jika ia sudah menunggu Dania di taman Hotel tempa Dania bekerja.
Dia sangat penasaran dengan apa yang di lakukan Kakaknya itu. Kania tidak mau Dania berkorban demi Kania dan Alam. Kania jelas takut Kakaknya yang berganti membuat perjanjian dengan Farel.
"Kenapa kamu bertemu Kakak pagi-pagi begini Dek??" Dania yang baru datang langsung duduk di samping Kania.
"Jawab dengan jujur apa yang telah Kakak lakukan sehingga Kak Alam bisa bebas secepat itu??" Kania tidak punya waktu lagi untuk sekedar basa basi.
"Jadi benar Alam sudah di bebaskan?? Ternyata dia menepati janjinya secepat itu" Ucap Dania.
"Apa maksud Kakak?? Dia siapa?? Jangan bilang Kakak melakukan perjanjian aneh dengan Farel demi aku!!" Delik Kania pada Kakaknya. Dia tidak mau melihat orang lain menderita hanya demi dirinya.
"Baiklah, mungkin ini waktunya Kakak jujur sama kamu Dek"
"Jujur?? Jujur masalah apa??"
"Sebenarnya Kakak sudah menemukan keluarga kandung Kakak. Dan karena itu juga yang bisa membuat Alam bisa keluar dari penjara" Jawab Dania dengan menundukkan kepalanya.
"Apa?? Keluarga Kakak?? Bagaimana bisa?? Jelaskan semuanya Kak!!" Kania begitu terkejut dnegan pengakuan Dania itu.
"Beberapa bulan yang lalu..."
FLASHBACK ON
Dania sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara di hotelnya. Kali ini sebuah perusahaan besar yang akan menyewa ballroom hotelnya. Ini adalah acara amal besar-besaran yang pastinya akan membutuhkan persiapan yang matang, maka dari itu Dania juga harus terlibat sendiri di persiapan acara itu.
Siang ini pemilik perusahaan itu akan datang melihat langsung persiapan amal yang akan di adakan malam harinya.
Dania menyambut para petinggi perusahaan dengan sangat apik dan profesional. Kualitas kerja Dania memang tidak bisa di ragukan lagi. Dengan lancar Dania menjelaskan semua detail dari kinerja para timnya.
__ADS_1
"Terimakasih, saya rasa penjelasan mu sudah sangat jelas Nak. Siapa namamu??" Tanya seseorang yang Dania ketahui sebagai pemilik perusahaan itu.
"Nama saya Dania Pak Jonatan" Ucap Dania dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Dania??"
"Betul Pak" Dania menjawab semua pertanyaan dengan sikapnya yang ramah.
"Wajahmu mengingatkanku dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya" Ucap pria tua itu dengan wajah sendunya.
Dania bingung harus menjawab apa, rasa canggung sedikit terasa di antara Dania dan beberapa orang yang mengikuti Jonatan.
"Maaf, tidak usah memikirkan apa yang saya katakan. Aku hanya teringat dengan istriku saja"
"Tidak papa Pak, saya paham tentang hal itu" Jawab Dania dengan sopan.
FLASHBACK OFF
"Jangan bilang Pak Jonatan___" Tanya Kania.
"Benar, Pak Jonatan bos besar kamu"
"Apa??" Kania belum terlepas dari keterkejutannya.
"Dan setelah pertemuan pertama itu, ternyata Pak Jonatan mengutus anak buahnya untuk mencari tau tentangku dan keluarga kita. Dan mereka akhirnya tau kalau aku bukan anak kandung Ayah. Bahkan melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku" Dania menitikkan air matanya. Kania menjadi orang pertama yang mengetahui rahasia ini.
"Tapi kenapa Pak Jonatan tidak menemui Bunda Kak??"
"Setelah menunjukkan hasil tes DNA itu, dia ingin menemui Bunda dan ingin memberitahu semuanya. Tapi aku melarangnya, aku belum bisa menerima semua ini. Aku belum siap Dek, bagiku keluarga yang sesungguhnya hanya kalian, tidak ada yang lain lagi" Dania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis terisak di pagi hari.
Usapan tangan Kania di punggung Dania yang bermaksud untuk menenangkannya justru semakin membuat Dania tidak bisa menahan tangisannya lagi.
"Tentu saja tidak. Tapi Pak Jonatan menunjukkan sebuah foto perempuan yang sangat mirip dengan Kakak. Katanya itu adalah istrinya, dan ini" Dania menunjukkan kalung kecil di lehernya.
"Kalung ini sangat mirip dengan kalung punya istrinya" Kenyataan itu juga mengejutkan untuk Kania.
"Berarti Farel itu adikmu Kak??" Tanya Kania yang baru saja menyadari sesuatu.
Dania menggeleng, lalu melanjutkan lagi ceritanya.
"Bukan, dia bukan anak kandung Pak Jonatan. Dia hanya anak angkat. Setelah mereka kehilanganku, Istri Pak Jonatan mengadopsi anak dari temannya yang mengalami musibah"
"Lalu kenapa Kakak bisa membebaskan Kak Alam??"
"Itu karena aku menemui Pak Jonatan. Meminta bantuannya untuk membebaskan Alam dan menceritakan semua yang Farel lakukan padamu. Dan Pak Jonatan mau membebaskan Alam tapi dengan syarat" Dania menatap adik kesayangannya itu.
"Syarat??" Kania takut jika syarat yang Dania maksud akan membuat Dania dalam bahaya.
"Iya"
FLASHBACK ON
"Akhirnya kamu mau menemui Papa Nak" Pak Jonatan menatap Dania dengan mata tuanya yang berbinar.
Dania membulatkan tekadnya untuk bertemu seseorang yang mengaku sebagai Ayah kandungnya itu.
"Langsung saja, saya tidak ingin basa basi lagi. Jujur saat ini saya sangat butuh bantuan anda" Dania masih sangat canggung berbicara dengan Jonatan.
__ADS_1
"Apa yang bisa Papa Nak, katakan saja" Ucap Jonatan dengan senang karena putrinya akhirnya mau menghubunginya.
"Saya ingin anda membebaskan Alam karyawan anda yang tidak bersalah itu!!" Tegas Dania.
"Alam?? Dia melakukan penggelapan uang di perusahaan, bagaimana bisa dia tidak bersalah??" Tanya Jonatan dengan heran.
"Ini semua karena Farel" Bukan bermaksud menghancurkan hubungan Ayah dan anak angkatnya tapi Dania harus mengatakan kebenaran.
"Farel?? Apa hubungannya dengan dia??" Tanya Jonatan terkejut.
"Farel sengaja menjebak Alam karena______" Dania menjelaskan semuanya, termasuk ancaman Farel pada Kania, dan juga kejadian yang baru saja di alami Kania.
"Saya tau anda sangat menyayangi Farel tapi saja juga menyayangi adik saya, dan saya mohon dengan sangat agar anda mempertimbangkan permintaan saya. Tidak mungkin anda membiarkan anak anda melakukan kejahatan seperti itu kan??"
"Papa tidak tau jika Farel bisa berbuat senekat itu" Tampak sekali kekecewaan dari wajah Jonatan.
"Jadi apa keputusan anda??" Tanya Dania dengan tegas tak menghiraukan perasaan Jonatan saat ini.
"Baiklah, Papa akan membebaskan Alam dan membersihkan nama baiknya. Tapi Papa punya syarat buat kamu" Bukan maksud Jonatan memanfaatkan keadaan ini untuk menekan Dania. Tapi dia juga ingin Dania membuka hati untuknya.
"Anda tidak tulus membantu saya, sampai-sampai meminta sebuah syarat??" Dania mendengus gak percaya.
"Bukan begitu, Papa hanya ingin bisa dekat dengan kamu sayang. Papa sudah kehilangan Mama kamu dan sekarang Papa tidak ingin kehilangan kamu untuk ke dua kalinya" Jonatan berusaha meraih tangan Dania tapi wanita cantik itu menjauhkannya.
"Katakan syaratnya dan segera bebaskan Alam" Dania mengambil keputusan dengan cepat.
Wajah yang tadi sendu kini berubah menjadi cerah dengan senyuman sumringah.
"Papa tidak ingin sesuatu yang memberatkan kamu. Papa juga tidak ingin membawa kamu sekarang juga. Papa hanya ingin kamu bersedia memanggil Papa mu ini dengan sebutan Papa, bukan seformal ini nak, dan Papa mohon ijinkan Papa untuk bertemu orang tua angkat kamu"
"Papa ingin berterimakasih padanya, dan Papa ingin tau cerita mereka menemukan kamu, hanya itu keinginan Papa nak. Setelah ini, kamu tetap tinggal dengan mereka juga tidak maslaah. Papa hanya mau pengakuan kamu saja"
Dania mencerna semua permintaan Jonatan itu. Dia menimbang-nimbang semuanya yang masih terlalu berat itu. Tapi Dania ingat tangisan Kania, kebahagiaan adiknya lebih penting baginya.
"Aku setuju" Jawab Dania dengan lugasnya.
Kebahagiaan tak tergambar lagi di wajah Jonatan. Dia sangat bahagia hari ini, setelah kepergian istrinya baru kali ini dia bisa merasakan rasa itu lagi.
"Papa senang sekali dengan keputusan kamu ini, jadi kapan Papa harus membebaskan Alam??"
"Secepatnya, kalau bisa malam ini juga. Papa" Ucap Dania dengan sedikit ragu.
"Oh terimakasih Tuhan, Engkau sudah mengembalikan anakku" Jonatan sangat terharu dengan panggilan Papa yang baru saja terucap dari bibir Dania untuk pertama kalinya.
FLASHBACK OFF
"Maafkan aku Kak, kamu selalu berkorban hanya untukku" Kania memeluk Dania itu dengan erat.
"Itu sudah tugas seorang Kakak, kamu tidak udah sungkan seperti ini"
"Tapi kapan Kaka akan membawa Pak Jonatan akan menemui Bunda Kak??" Tanya Kania.
Dania mengurai pelukannya. Mengusap sisa air matanya.
"Kakak belum tau, tapi secepatnya Dek" Dania rasa sudah saatnya dia berdamai dengan takdirnya.
"Apapun itu aku akan selalu mendukung keputusan Kakak, aku sangat berterimakasih atas semua yang Kakak lakukan untuk keluargaku"
__ADS_1
"Tapi aku masih meminta Kakak untuk tidak mengatakan semua ini pada Kak Alam. Biar aku yang menjelaskan padanya Kak"
Dania hanya mengangguk, dia percaya dengan adiknya itu. Dia yakin Kania bisa menyelesaikan maslah rumah tangganya.