
Kania mengusap air matanya tak ada hentinya menetes itu. Sementara Alam sang suami terus berusaha untuk menghentikan tangisan istrinya itu.
"Udah dong sayang, nanti dikiranya Kakak yang buat kamu nangis kaya gini. Malu diliatin orang banyak" Ucap Alam sambil terus tersenyum kepada orang di sekitarnya yang memandangi mereka dengan tatapan aneh.
"Habisnya aku terharu Kak, Bunda bisa tersenyum selebar itu. Ini kan mantu pertama Bunda. Pasti Bunda seneng banget di atas sana"
Ucap Kania memandangi Bunda nya dari kejauhan. Bunda yang mendampingi Dania di atas pelaminan bersama Pak Jonatan.
Hari ini adalah hari pernikahan Dania. Setelah satu bulan yang lalu Ardan benar-benar melamar Dania secara resmi. Mereka berdua langsung menentukan tanggal pernikahan yaitu hari ini. Karena menurut Bunda hal yang baik harus segera dilaksanakan tidak perlu di tunda lagi.
Dania tampak bahagia bersanding bersama Ardan. Mereka berdua tampak serasi berdiri berdampingan dengan baju pengantin yang di pesan secara dadakan itu.
Pesta pernikahan yang di gelar secara sederhana, dan hanya mengundang teman-teman terdekatnya terasa sangat khidmat dan sakral. Meski Jonatan ingin mengadakan pesta secara besar-besaran demi membahagiakan Dania, tapi dengan tegas Dania menolak. Bukan karena dia tidak menghargai niat baik Papanya itu. Tapi Dania lebih menjaga perasaan Ardan. Dia tidak mau membuat Ardan berkecil hati karena tidak mampu memberikan pesta pernikahan yang mewah.
"Iya Kakak, tau tapi kamu yang tenang ya. Jangan nangis lagi. Nanti kalau Bunda dan Dania lihat kamu terus menangis kaya gini, yang ada mereka jadi sedih loh" Alam membantu mengusap air mata Kania.
"Bedak kamu luntur nih" Canda Alam membuat Kania cemberut.
"Auk ahhh!!" Kesal Kania.
"Kita duduk dulu yuk, kasian anak kita di ajak berdiri terus, apalagi kamu pakai sepatu tinggi kaya gitu" Alam menuntun Kania mencari kursi kosong untuk mereka.
"Ahhh ternyata enak juga buat duduk" Kania melepas sepatunya itu. Membiarkan kakinya bebas tanpa alas.
"Kamu mau minum, Kakak ambilin ya??"
"Nggak usah, di sini aja temenin" Kania bergelayut manja di lengan Alam.
Sejak awal kehamilannya itu Kania berubah manja pada Alam. Tidak mau di tinggal lama-lama, bahkan pernah Kania mengikuti Alam mandi hanya karena tidak mau di tinggal sendirian.
Jika dulu Alam kesal melihat sikap Kania yang manja dan kekanakan itu, justru kini Alam begitu menyukai Kania ketika bermanja padanya.Dia tau sebab Kania seperti itu adalah karena hormon kehamilannya.
"Dek??"
__ADS_1
"Hemm"
"Kok gitu di panggil suaminya!!"
"Iya maaf. Kenapa Kak Alam sayang??" Ucap Kania mengusap pipi Alam.
"Kita dulu kan menikah di rumah sakit, kamu nggak pingin mengadakan pesta untuk pernikahan kita?? Ya walaupun sedikit terlambat, tapi nggak papa kan kalau kita adakan dekat-dekat ini??"
Alam merasa dia perlu membahagiakan istrinya. Masa dulu menikah seadanya, ditambah sekarang tidak adanya resepsi pernikahan untuk mereka.
"Siapa sih yang nggak pingin pernikahan impian mereka. Aku juga iya Kak, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Aku sudah bahagia dengan pernikahan ini, ada atau tidaknya resepsi pernikahan kita, yang penting aku sudah bahagia"
"Apalagi hari pernikahan ita adalah hari Ayah berpulang. Jadi itu adalah hari kebahagiaan dan kesedihan untukku. Aku rasa aku tidak membutuhkan itu Kak" Imbuh Kania
Hati Alam sedikit berdenyut mendengar kelapangan hati Kania. Rasanya ingin sekali membungkam bibir manis itu dengan bibirnya, tapi Alam masih sadar dan tidak ingin menghancurkan hari bahagia Ardan dengan tindakan konyolnya itu.
"Kakak benar-benar ingin menangis setiap mendengar kata petuah mu itu Dek" Ucap Alam berbisik di telinga Kania.
Ardan terkekeh karena ucapan istrinya yang terkadang terdengar lucu itu.
"Maaf ya Dek, Kakak nggak bisa kasih pesta impian kamu. Kamu hanya menikah seadanya sama Kakak" Ucap Alam.
"Nggak papa, nggak usah minta maaf. Mau pernikahan sesederhana apa atau semewah apa kalau nggak ada cinta di dalamnya tetap saja akan hancur. Yang terpenting adalah cinta kita di pernikahan ini. Itu sudah lebih cukup untuk membuat keluarga kita bahagia" Ucap Kania dengan bijaksana.
"Tapi aku mau satu hal Kak"
"Apa itu, katakan!! Kalau Kakak bisa pasti Kakak akan kabulkan apapun permintaan kamu"
"Aku ingin ada foto pernikahan kita Kak. Kita bisa foto studio saja. Pakai gaun pengantin, pakai riasan seperti pengantin. Setidaknya ada bukti kalau kita benar-benar menikah" Canda Kania di akhir kalimatnya.
"Ayo lakukan itu kapanpun kamu mau" Jawab Alam dengan antusias. Permintaan yang sangat mudah bagi Alam.
Kania mengangguk senang. Mungkin permintaan Kania itu terlihat sepele namun benar-benar mengandung arti yang sangat dalam untuknya.
__ADS_1
-
-
Dania membawa Ardan memasuki kamarnya untuk pertama kalinya. Setelah seharian sibuk dengan acara pernikahan mereka, sekarang tiba waktunya mereka untuk istirahat.
Ardan tampak mengagumi kamar yang bernuansa soft dan rapi itu.
"Maaf ya kamarnya kecil. Kasurnya juga nggak terlalu besar, tapi muat kok buat dua orang" Ucap Dania.
Dania langsung duduk menghadap meja riasnya. Mulai melepas pernak pernik yang ada di rambutnya.
"Nggak papa, ini jauh lebih bagus daripada kamar ku di panti dulu" Ardan duduk di tepi ranjang. Melepaskan dasinya yang sudah terasa mencekik itu.
"Kamar semewah apapun kalau bukan kamar sendiri ya nggak akan terasa nyaman" Ardan membenarkan ucapan Dania itu.
"Dania, apa aku boleh tanya sesuatu??" Dania yang sedang membersihkan wajahnya itu langsung menghentikan tangannya.
"Apa??" Tanya Dania menatap Ardan.
"Tidak, kamu tidak salah sekalipun. Aku hanya ingin tanya, apa kamu menyukai seseorang?? Maaf bukannya aku ikut campur dengan urusanmu. Tapi aku hanya ingin tahu agar aku bisa menjaga batasan ku untuk tidak menyentuhmu sebelum kamu menginginkannya sendiri Dania"
"Aku tau pernikahan kita ini bisa di bilang pernikahan karena terpaksa. Tapi aku mau membuatmu benar-benar bisa menerima pernikahan kita ini Dania. Jadi aku garap kamu mau jujur kepadaku tantang perasaanmu itu??"
Ucap Ardan panjang lebar di malam pengantin mereka berdua itu. Kedua pasang pengantin yang tadi terlihat sangat bahagia di atas pelaminan. Sekarang justru terlihat jelas kecanggungan di antara meraka.
"Baiklah, aku akan jujur tentang suatu hal padamu. Tapi aku harap kamu tidak akan berubah setelah mendengar apa yang sebenarnya telah terjadi di antara kita. Dan percayalah itu hanya masa lalu. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakannya. Dan aku mohon kamu juga bisa membantuku untuk lepas dari masa lalu itu dan menggantinya dengan cinta yang baru yaitu milik kamu" Ucap Dania memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Ardan.
"Aku janji Dania. Aku akan memenuhi hatimu hanya dengan namaku. Tidak akan aku sisakan sedikitpun untuk pria lain. Jadi aku mohon katakanlah" Ucap Ardan.
Dania mengambil nafas panjangnya sebelum mengeluarkan rahasia yang ia sembunyikan dari Alam.
"Jadi sebenarnya, aku dan________"
__ADS_1