Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
65


__ADS_3

Berbeda dengan Dania yang sedang di buat pusing dengan tindakan nekat Ardan waktu itu. Justru saat ini Alam tengah panik karena menemukan Kania tiba-tiba pingsan saat membuat sarapan untuknya.


Alam langsung membawa Kania ke rumah sakit. Dia takut jika kecelakaan yang di alami Kania beberapa minggu yang lalu membuat Kania mengalami luka dalam yang lewat dari pemeriksaan Dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?? Kenapa dia tiba-tiba pingsan padahal sebelumnya tidak mengeluh apapun" Tanya Alam pada Dokter yang telah menangani Kania itu.


"Sebentar ya Pak, saya akan mengantar pasien ke ruang periksa Dokter kandungan dulu. Setelah itu beliau yang akan menjelaskan semuanya"


Dokter itu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan yang jelas pada Alam.


"Kenapa harus di periksa Dokter lain?? Memangnya apa yang terjadi sama kamu Dek?? Dokter apa tadi?? Aku sampai tidak fokus mendengarkan" Gumam Alam seorang diri karena kekesalannya.


Alam mengikuti brankar yang membawa Kania itu. Alam sedikit lega karena melihat istrinya itu sudah membuka matanya, meski di dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang apa yang akan mereka lakukan pada Kania.


"Bapak silahkan ikut masuk ke dalam" Ucap seorang perawat.


"Aneh" Batin Alam. Tadi saja saat Alam ingin menemani Kania dia dilarang masuk. Tapi saat Alam diam saja justru di persilahkan masuk.


Seorang Dokter berhijab mendekati brankar Kania setelah membaca hasil pemeriksaan Kania dari dokter sebelumnya.


"Mari Pak kita lihat sama-sama janinnya ya" Ucap Dokter itu sudah duduk membawa sebuah alat yang di tempelkan pada perut Kania.


"Janin?? Maksudnya??" Dokter itu hanya tersenyum melihat reaksi terkejut dari Alam.


"Kamu nggak papa kan sayang??" Alam mengusap lembut kening Kania.


"Nggak papa" Jawab Kania hanya dengan gerakan bibirnya saja.


"Nah benar sekali" Ucap Dokter itu saat menemukan sesuatu yang dicarinya.


"Selamat Bapak kandungan istri anda sudah memasuki usia 5 minggu" Dokter itu masih menggerak-gerakan alat di tangannya pada perut Kania.


"Apa dokter?? Jadi istri saya hamil??" Alam sungguh tidak percaya dengan kabar membahagiakan itu.

__ADS_1


"Iya, Pak dan kandungannya sehat. Janinnya juga kuat. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan" Jelasnya pada Alam.


"Tapi kenapa tadi istri saya pingsan Dokter??"


"Itu mungkin karena Ibu mengalami pusing yang tiba-tiba membuatnya pingsan. Itu juga termasuk gejala kehamilan. Dan besok juga pasti akan mengalami mual muntah jadi tidak usah kaget. Semua itu masih wajar kecuali mual yang berlebihan itu bisa di bawa lagi ke sini untuk melakukan pemeriksaan"


Alam menggenggam tangan Kania dengan erat. Rasanya saat ini ingin sekali memeluk dan mencium istrinya itu jika tidak ada perawat dan Dokter di ruangan itu.


Alam dan Kania hanya saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Seakan meluapkan kebahagiaan mereka berdua melewati sorot mata itu.


"Jadi apa yang harus saya lalukan untuk menjaga kehamilan istri saya Dokter?? Apa istri saya tidak perlu menginap di sini??" Tanya Alam ketika Kania sudah duduk di sebelahnya.


"Tidak perlu Pak, istri Bapak bisa di rawat di rumah saja. Dan untuk kehamilan pertama ini harus lebih hati-hati jangan mengerjakan pekerjaan berat. Pikiran yang tenang juga bisa membuat janin berkembang dengan sehat. Dan untuk Bapak, usahakan mengontrol segala asupan gizi yang di konsumsi selama kehamilan" Dan masih banyak lagi pesan Dokter kepada Alam.


Alam yang sudah siap menjadi seorang Ayah itu tampak sangat serius mendengarkan petuah-petuah yang di berikan kepadanya. Sepertinya Kania benar-benar mendapatkan suami siaga.


"Maaf dokter kalau" Alam melirik Kania kemudian Dokter itu dengan sedikit malu.


"Tentu saja boleh Pak, saya lihat kondisi janinnya kuat. Jadi kalau Ibu tidak merasa kesakitan boleh saja melakukan itu. Wajar kok kalau pasangan baru seperti kalian menanyakan hal itu. Tidak usah malu"


Kania yang baru sadar tentang apa yang telah di jelaskan oleh Dokter langsung melirik Alam dengan tajam.


Alam hanya nyengir kuda saja melihat lirikan mematikan dari Kania. Dia sudah siap menerima serangan dari Kania setelah ini.


🌻🌻🌻


"Apa benar kamu akan segera menikah Vivian??" Tanya Jonatan.


"Vivian??" Heran Dania.


"Vivian adalah nama mama kamu berikan sayang" Dania tersenyum tipis mendengarnya.


"Tapi aku lebih nyaman dengan namaku saat ini Pa. Jadi tolong mengertilah" Ucap Dania dengan lembut.

__ADS_1


Jonatan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia tetap harus menuruti permintaan putrinya itu agar dia lebih dekat lagi dengan Dania.


"Baiklah maafkan Papa Dania" Ucap Jonatan dengan tulus.


Setelah pembicaraan yang berhasil membuat Bunda terkejut tadi. Dania meminta izin pada Bunda untuk berbicara dengan Jonatan. Dengan alasan untuk membicarakan pernikahannya.


Dan kini mereka telah duduk di sebuah restoran yang masih terlihat sepi karena belum waktunya makan siang.


"Iya Pa benar, aku ingin menikah. Nama laki-laki itu Ardan. Dia hanya pegawai biasa seperti aku saat ini. Dan aku hanya meminta Papa sebagai wali nikah untuk aku" Ucap Dania.


"Tapi apa kamu sudah mengenal lebih jauh tentang pria itu Dania?? Apa kamu benar-benar mencintainya??" Tanya Jonatan.


Dania sempat terdiam, karena bisa di bilang cinta itu malah tidak ada sama sekali.


"Pa, aku memberi tahu Papa hanya untuk meminta satu hal itu saja dari Papa. Karena aku masih menghormati Papa. Dan untuk masalah lainnya biar menjadi urusanku dan calon suamiku saja. Kita sudah dewasa dan kita yakin dengan keputusan kita"


Dania memang sudah menerima Jonathan sebagai Ayah kandungnya. Namun Dania belum bisa untuk bersikap sedekat itu.


"Baiklah kalau begitu, tapi apa kamu mau mengenalkan calon suami kamu itu sama Papa??" Jonatan berharap bisa terlibat dalam urusan pernikahan anaknya itu. Bahkan jika Dania mau, Jonatan akan mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan mereka.


"Tentu saja, rencananya minggu depan Ardan akan datang ke rumah Bunda untuk memintaku secara resmi. Dan kalau Papa bisa, Dania juga minta Papa ada di sana"


"Tentu saja sayang, Papa pasti akan ada di sana. Papa juga mau merasakan anaknya di lamar oleh seorang pria. Papa akan sangat bahagia nak. Papa tidak peduli pria mana yang mempersunting mu, mau dari kalangan bawah atau atas, yang penting dia bertanggung jawab dan mencintaimu dengan tulus. Papa ini merasa tidak berhak untuk mengatur semua tentang mu Dania. Kamu mau mengganggap Papa seperti ini saja Papa sudah bahagia sekali"


Entah mengapa ucapan Jonatan kali ini benar-benar menyentuh hati Dania. Pria tua itu menunduk menyembunyikan kesedihannya.


Dania yang merasa tersentuh dengan ungkapan hati Papanya itu langsung berdiri dan memeluk Jonatan.


"Maafkan Dania Pa, Dania tidak bermaksud untuk mengabaikan Papa. Hanya saja Dania perlu waktu untuk menyesuaikan dengan keadaan ini" Ucap Dania yang merangkul pundak Papanya itu.


"Papa tau Dania. Pelan-pelan saja, pati kamu juga terkejut dengan semua ini"


Ayah dan anak itu saling berpelukan menyatukan ikatan batin mereka yang telah lama terputus. Namun ternyata tanpa mereka sadari, di balik sekat meja ada seseorang yang dengan jelas mendengarkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2