
Melihat kelucuan keponakannya yang semakin hari semakin gembul itu membuat Dania semakin gemas. Setiap hari dia selalu memandangi foto keponakan kesayangannya itu.
Dania juga terus berharap jika di dalam rahimnya segera tumbuh janin milik Ardan. Dan pagi ini Dania nekat menggunakan alat tes kehamilan meski siklus datang bulannya baru telat satu hari.
Dania sengaja membeli alat tes kehamilan itu tanpa sepengetahuan Ardan. Karena dia tidak mau membuat Ardan kecewa jika dia tidak benar hamil.
Saat melihat Ardan masih terlelap, Dania buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa tiga buah testpack yang di belinya kemarin sore.
"Bismillah" Dania masih menungggu beberapa detik untuk melihat hasilnya. Jantungnya berdetak cepat, takut jika hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.
Berlahan Dania menyiapkan hatinya, mencoba membuka hasil yang sedari tadi dia tutup dengan tangannya.
Tangis Dania pecah, tubuhnya luruh ke bawah. Menangis terisak membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Terimakasih ya Allah. Terimakasih" Tangan Dania mulai meraba perutnya sendiri. Menyapa calon anaknya yang masih belum berbentuk itu.
"Dania?? Kamu di dalam??" Ardan yang tidak menemukan Dania di sampingnya mencoba mengetuk pintu kamar mandi. Karena tidak ada suara apapun dari dalam sana membuat Ardan merasa khawatir.
"Kamu sedang apa?? Kenapa lama sekali??" Tanya Ardan lagi dari luar.
Dania mengusap air mata bahagianya itu lalu berdiri untuk membuka pintunya. Dia sidah tidak sabar ingin memberitahu Ardan soal kehamilannya itu.
Ceklek...
Belum sempat Ardan bertanya tapi Dania sudah lebih dulu menubruk dada bidangnya. Memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.
"Kok nangis?? Ada apa??" Ardan mendengar isakan kecil dari Diandra juga punggung istrinya itu yang bergetar.
"Aku bahagia" Jawab Diandra.
"Bahagia kok nangis??"
Dania melepaskan pelukannya lalu menatap sang suami dengan senyum merekahnya. Dan tentu saja itu membuat Ardan keheranan. Istrinya itu tersenyum tapi matanya berair.
"Ini!!" Dania menyerahkan ketiga benda tadi.
Dengan bingung Ardan menerima dan memperhatikan satu persatu barang pemberian Dania itu.
"Ini?? Ini beneran??" Tanya Ardan dengan genetar.
"He,em" Angguk Dania dengan semangat.
"Jadi aku akan jadi Ayah??" Wajah Ardan tampak berbinar.
"Iya Mas, aku hamil" Jawaban itu membuat Dania langsung mendapat ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Alhamdulillah, makasih sayang"
Tiba-tiba Ardan berlutut dan menciumi perut Dania dengan gemas.
"Anakku tumbuhlah dengan sehat di dalam perut Mamamu ya, jangan susahkan dia lakukan apapun sesukamu tapi pada Papa saja" Ucapan Ardan tentu saja membuat Dania terharu, dia tak kuat jika melihat Ardan yang terlalu menyayanginya itu.
"Kita beri tahu Bunda dan Papa yuk??" Ajak Dania.
Hubungannya dengan Jonatan kini memang sudah semakin membaik. Setelah Dania pikir lagi, semua itu juga bukan salah Jonatan. Dan terutama Ardan yang sudah berkali-kali menasehatinya, jika Dania masih beruntung bisa bertemu lagi dengan orang taunya. Jadi jangan menyia-nyiakan semua itu sebelum nanti menyesal pada akhirnya.
Ardan mengangguk senang, lalu menuntun Dania keluar kamar untuk mencari keberadaan Bunda.
"Bunda!!"
"Bunda!!"
Dania hanya tersenyum melihat Ardan yang teramat bahagia itu.
"Ardan, ada apa teriak-teriak pagi-pagi begini??" Bunda muncul dari kamarnya dengan wajah yang sudah segar sepertinya telah selesai mandi.
"Bunda lihat ini" Ardan memberikan testpack tadi kepada Bunda.
"Bunda akan punya cucu lagi, Dania hamil Bun" Ucap Ardan dengan berbinar.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu kasih Bunda cucu" Bunda menghambur memeluk Dania dengan haru. Ibu dan anak itu saling berpelukan dengan air mata kebahagiaan.
__ADS_1
"Kamu sudah kasih tau Papa mu??" Tanya Bunda setelah dia tenang.
"Belum" Jawab Diandra dengan gelengan.
"Cepat hubungi dia, pasti Papamu senang sekali" Pinta Bunda.
"Iya Bunda"
Dania mengambil ponsel yang sejak tadi ada di dalam kantong piyamanya. Lalu menghubungi nomor yang sudah sering dihubunginya itu.
"Halo Papa, selamat pagi??" Sapa Dania dengan hangat.
"Pagi sayang, Papa baru saja bangun. Ada apa kamu telepon Papa pagi-pagi begini. Apa ada sesuatu??" Tanya Jonatan dengan suara yang masih serak.
"Iya Pa, ada sesuatu. Dania mau kasih kabar tapi Papa jangan kaget ya. Jantung Papa aman kan??" Canda Dania.
"Jangan salah, Papa sudah tua begini tapi masih sehat segar bugar. Memangnya ada apa??" Jonatan tampak penasaran.
Dania melirik Ardan dan Bunda yang ikut tertawa mendengar candaan mereka berdua itu.
"Sebentar lagi Dania bakal kasih Papa hadiah Cucu"
"Apa?? Papa nggak salah dengar kan??"
"Benar Pa, Telinga Papa masih sehat kok"
"Alhamdulillah akhirnya aku mempunyai penerus" Teriak Jonatan di seberang sana.
"Papa!" Dania memang tidak suka jika Jonatan akan membahas mengenai penerus kerajaan bisnis miliknya itu.
Karena bagi Dania, Farel yang lebih berhak atas semua itu.
"Papa sudah membiarkan kamu dan Ardan untuk hidup dengan pilihanmu sendiri tanpa bantuan apapun dari Papa Dania. Tapi jangan halangi Papa memberikan semuanya ini kepada cucu Papa. Titik!!"
"Tap.." Bunda yang menahan Dania untuk membantah ucapan Jonatan itu.
"Iya terserah Papa saja. Sekarang lebih baik Papa mandi dulu. Baunya sampai sini"
Dania mematikan teleponnya begitu saja, dia tau pasti Jonatan sedang menggerutu.
"Dania, biarkan saja Pak Jonatan melakukan itu. Lagipula dia butuh penerus, dan pasti Beliau juga ingin darah dagingnya sendiri yang mewarisi semua kekayaannya. Biarkan semua berjalan dengan semestinya. Kelak anak kamu juga akan memilih jalannya sendiri. Jika dia menerima maka dukunglah, tapi jika dia menolak kamu juga tidak bisa memaksanya"
Dania menerima nasehat Bunda itu. Dia mengangguk dengan sedikit senyuman di wajahnya.
***
Di saat kebahagiaan kita rasakan setiap hari, pasti waktu itu akan terasa cepat berlalu. Seperti halnya Alam dan Kania yang tidak menyangka jika putrinya kini sudah semakin besar, bahkan sudah bisa ke kamar kecil sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya.
"Papa, nanti kan Dio kesini. Kita berenang bareng ya??" Pinta gadis kecil berambut panjang dengan poni yang lucu itu.
"Memangnya Dio mau kesini Ma?" Tanya Alam lada Kania yang datang dari dapur membawa teh dan camilan untuk merek bertiga.
"Iya, tadi Kak Dania telepon, katanya mereka mau kesini"
Hari ini adalah hari Minggu jadi semua pasti ada di rumah termasuk Alam dan Ardan. Mereka akan mengambil libur di saat anak-anak mereka libur sekolah. Agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.
"Ya Pa??" Bujuk Fesya lagi.
"Iya, sayang. Nanti kita berenang sama-sama" Alam meraih anak semata wayangnya itu ke atas pangkuannya lalu menciumnya bertubi-tubi.
"Ampun Papa, geli!!" Seru gadis kecil berusia 5 tahun itu.
"Nggak, Papa nggak mau lepasin kamu. Biar pipinya habis Papa makan!!" Alam terus saja menggoda anaknya itu dengan gemas.
"Mama tolong!!" Teriak Fesya dengan tawa kegeliannya.
Kania justru ikut tertawa melihat apa yang di lakukan Alam pada putrinya itu tanpa berniat menolongnya sama sekali.
"Ciaaa!!!!!" Teriak anak laki-laki sambil berlari menghampiri Fesya.
"Dioooo" Fesya terlepas dari pangkuan Alam dan menghampiri anak laki-laki yang lebih kecil darinya itu.
__ADS_1
"Mereka bahagia banget kayanya kalau ketemu" Ucap Ardan dan Dania yang datang daru belakang Dio.
"Iya, kalau di rumah cuma Dio terus yang di ceritain" Balas Alam.
Mereka berempat bercengkerama sambil melihat kedua anak mereka yang bermain dengan akur.
"Kania, Alam, kemarin aku bertemu dengan Farel. Sekarang dia sudah bebas dari penjara. Dia menitipkan maaf untuk kalian berdua. Dia sudah menyesali semua perbuatannya dulu. Dan kemarin dia memutuskan untuk kembali ke Canada, dia akan memutuskan untuk kembali ke kehidupan bersosialnya seperti dulu lagi" Ucap Dania.
"Kita sudah memaafkan Farel kok Kak, iyakan Kak??" Kania memandang suaminya yang sedang menyeruput tehnya itu.
"Iya Dania, sampaikan salam kami padanya, semoga dia bisa berubah menjadi lebih baik lagi setelah ini"
"Pasti, aku pasti akan menyampaikan salam dari kalian"
Mereka melanjutkan obrolan ringan mereka, melepaskan sejenak masalah pekerjaan mereka yang tak pernah ada habisnya.
Namun obrolan mereka tiba-tiba terhenti saat Kania berlari ke kamar mandi.
"Kania kenapa Lam??" Tanya Dania.
"Nggak tau" Alam menjawabnya sambil menyusul Kania.
Alan terkejut melihat Kania yang terlihat kemas bersandar pada wastafel"
"Kamu kenapa sayang??" Alam memapah Kania keluar dari kamar mandi.
Dania juga khawatir melihat adiknya yang pucat pasi seperti itu.
"Kamu kenapa Dek?? Kamu sakit??" Dania memberikan segelas air putih yang baru saja di ambilnya.
Kania menjawabnya dengan menggeleng lemah.
"Aku tidak sakit, tapi aku hamil"
"Apa?? Hamil??"
Ketiga orang di hadapan Kania itu sangat kompak sekali menyuarakan keterkejutannya.
-
-
-
Segala sesuatu yang ditakdirkan untuk kita miliki, pasti akan kembali menjadi milik kita walaupun sudah pergi ke ujung dunia pun.
-
-
-
Bak tanaman akan tetap tumbuh jika di tanam di tempat yang benar meskipun tanpa pupuk. Begitupun cinta, akan tetap tumbuh dan terjaga jika hadir di hati yang tepat.
-
-
-
END....
-
-
-
Terimakasih untuk semua dukungan kalian untuk Kania dan Alam dari awal sampai akhir...
Sampai jumpa di karya otor selanjutnya..☺☺☺
__ADS_1