
Sudah beberapa hari berlalu sejak pesta yang menimbulkan kegaduhan itu berlalu. Hubungan Kania dan Alam memang sudah mulai membaik, tapi mereka juga harus menghadapi gunjingan dan omongan tak sedap dari rekan kantornya.
Banyak yang mengatakan Kania adalah wanita yang suka mempermainkan hati banyak pria. Ada juga yang mengatakan jika Kania memanfaatkan posisi Farel untuk mendapatkan posisi tinggi di kantor yang notabennya adalah milik keluarga Farel.
Tapi Kania tetap mencoba untuk menutup telinga rapat-rapat. Dia tidak ingin meladeni orang-orang yang hanya iri kepadanya. Bagaimana Kania tidak menganggap mereka itu iri, karena Kania bisa mendapatkan perhatian dua pria sekaligus, yang seharusnya di impikan semua wanita di kantornya itu.
Yang Kania pikirkan hanyalah pekerjaannya yang tidak pernah mengecewakan, hanya itu saja tidak ada yang lain.
"Bu, Bu Kania gawat Bu!!" Seru sisi yang berlari dari luar ruangan Kania.
"Ada apa??" Kania ikut panik karena melihat kepanikan Sisi.
"Itu Bu, Pak Alam"
"Iya kenapa Pak Alam??" Kania semakin penasaran kare sisi tidak kunjung menyampaikannya dengan jelas.
"Pak Alam kena sidak Bu, katanya Pak Alam terlibat penggelapan dana perusahaan" Ucap Sisi dengan menundukkan kepalanya.
"Apaa??" Kania sontak berlari menuju ruangan Alam.
Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keadaan Alam. Dia amat percaya jika suaminya tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu.
"Tidak, itu tidak mungkin. Kak Alam bukan orang seperti itu" Gumam Kania sambil terus berjalan dengan cepat mencari keberadaan suaminya itu.
Di depan ruangan Alan sudah banyak karyawan berkumpul di sana. Mereka sedang mencuri dengar apa yang terjadi di dalam sana.
Kania yang sudah tak sabar lagi menerobos kerumunan orang-orang itu.
Matanya menangkap sosok suaminya yang berdiri di apit dua orang polisi. Alam tampak pasrah melihat ruangannya di geledah dan barang-barangnya di masukkan ke dalam beberapa kotak besar oleh anggota kepolisian.
"Kak!!" Panggilan Kania mampu membuat Alam mencari keberadaan istrinya itu.
"Dek??" Ucap Alam tanpa suara.
Seolah tak melihat dua polisi yang berada di samping suaminya itu, Kania menghambur ke pelukan Alam begitu saja.
"Kak, apa yang terjadi?? Kenapa bisa begini??" Tangis Kania di pelukan suaminya itu.
"Kakak juga tidak tau Dek. Tapi kamu jangan khawatir, semua ini tidak benar. Kamu percaya sama Kakak kan??" Bisik Alam pada Kania.
Kania mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh yang menurut Kania sangat pas di peluk itu.
__ADS_1
"Aku percaya. Aku percaya kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Apapun yang terjadi akau akan selalu di samping mu Kak. Kamu jangan menyerah, buktikan sama mereka kalau kamu tidak bersalah"
"Pasti sayang, itu sudah pasti" Alam mencium pucuk kepala Kania. Di saat seperti inilah peran Kania sangat di butuhkan Alam. Dan Alam sangat bersyukur Kania menjalankan perannya dengan baik.
"Maaf Bu, kami harus membawa saudara Alam untuk pemeriksaan lebih lanjut" Ucap salah seorang polisi untuk menghentikan Kania yang terus memeluk Alam.
"Tapi Pak, suami saya tidak bersalah!!" Ucap Kania dengan kesal.
"Maka dari itu, suami anda agar memberikan keterangan terlebih dahulu untuk memastikan dia bersalah atau tidak"
"Sudah Dek, biarkan Kakak ikut mereka. Kamu percaya sama Kakak kan??" Tanya Alam lagi dan Kania kembali menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Kakak pergi dulu. Nanti kamu pulangnya hati-hati ya" Alam mengusap kepala Kania dengan lembut sebelum melangkah dengan di ikuti kedua polisi tadi.
"Kak!!" Panggil Kania dengan lirih.
Alam menoleh dengan senyum tipisnya. Menunjukkan pada Kania kalau dia akan baik-baik saja.
"Ya Allah ujian apa ini?? Kenapa Engkau memberikan ujian saat aku sudah mulai yakin dengan perasaanku??"
M
"Aku mohon tunjukkanlah kebenaran pada mereka semua jika suamiku tidak bersalah Ya Allah. Amin"
Kania berjalan dengan lunglai melewati teman-teman kantornya yang memandangnya dengan berbagai ekspresi.
Kania tidak peduli sama sekali sampai ada seseorang yang bisa menghentikan langkahnya.
"Cihh, gayanya aja sok dingin tak tersentuh. Ternyata sama aja mata duitan. Bukan uang sendiri tapi di embat. Kalau gue malu punya suami kaya dia" Suara yang menarik perhatian Kania itu adalah milik Jesy.
Tanpa ras takut sekali pun Kania mendekati Jesy.
"Dan beruntungnya Pak Alam tidak mempunyai istri seperti kamu yang bisanya hanya nyinyir tanpa tau dulu itu benar apa salah!!" Tatap Kania dengan sengit.
"Kalau nggak suka lebih baik diam daripada banyak omong cuma buat cari perhatian" Imbuh Kania lalu pergi dari hadapan Jesy yang wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
-
-
-
__ADS_1
Setelah pekerjaannya selesai, Kania tidak ada tempat tujuan lain selain kantor polisi. Dia sangat ingin menemui Alam saat ini juga. Dia ingin selalu berada di samping suaminya di saat kesusahan seperti ini.
Mungkin bibirnya selalu berkata dia tidak yakin dengan perasaannya. Tapi nyatanya?? Hatinya yang menuntun untuk selalu dekat dengan Alam.
Kania tiba di kantor polisi membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Dia sempat membeli beberapa makanan kesukaan Alam. Kania tau kalau suaminya itu pasti belum makan, apalagi dalam keadaan seperti ini. Dia juga membeli baju ganti seadanya untuk Alam.
"Permisi Pak, saya mau bertemu suami saya" Kania bertanya pada seorang anggota polisi yang duduk di meja bagian depan dengan sebuah komputer di hadapannya.
"Nama suami Ibu siapa??" Tanya petugas berperut buncit itu.
"Alam prasetya Pak. Dia baru saja datang tadi siang"
"Mari ikut saya"
Setelah mendengar jawaban Kania itu, petugaspun mengantar Kania ke sebuah ruangan. Dimana saat masuk ke ruangan itu suasana pengap begitu terasa menyapa Kania.
Di dalam otak Kania terbesit pikiran aneh. Alam hanya tertuduh melakukan penggelapan dana dan itu juga belum terbukti. Tapi kenapa untuk menemui Alam harus ke tempat seperti ini. Semacam menemui napi dengan kasus kriminal.
Kania terus berjalan melewati lorong yang sempit dan minim cahaya itu. Hal itu membuat Kania semakin yakin jika ada yang tidak beres mengenai perlakuan mereka terhadap Alam.
"Silahkan masuk, dia ada di dalam" Petugas itu hanya mengantarkan Kania sampai di depan pintu yang sedikit terbuka.
"Terimakasih" Ucap Kania pada petugas tadi.
Kania melangkah dengan ragu mendekati pintu itu. Melewati celah pintu yabg sedikit terbuka itu Kania bisa melihat Alam di dalam sana.
Suaminya itu duduk tertunduk di sebuah sofa kecil berwarna hitam. Rambutnya yang rapih sidah berantakan, kemeja berwarna navy itu juga sudah di gulung asal hingga siku. Dihadapannya hanya ada satu gelas air mineral yang hampir tandas.
Hanya melihat itu saja air mata Kania sudah tidak bisa di bendung lagi. Kania mendorong pintu itu pelan tanpa menimbulkan bunyi decitan sama sekali. Alam juga belum sadar akan datang ya Kania untuk menjenguknya.
"Kakak!!" Panggil Kania dengan suara bergetar menahan tangis.
-
-
-
-
Happy reading..
__ADS_1
Terus beri dukungan untuk Alam dan Kania agar kuat menghadapi badai yang akan datang yaa... ☺