
"Kapan saja Bunda. Asal Dania siap, Ardan pasti siap"
Jawaban Ardan itu membuat lutut Dania lemas seketika.
Bukan jawaban seperti ini yang Dania harapkan, karena Ardan tidak mendengarkan peringatan Dania tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya Bunda punya menantu lagi" Bunda langsung memeluk Dania yang tampak linglung itu.
Dania tidak tau lagi harus bagaimana. Yang jelas di dalam hatinya ada rasa kesal dan sedih yang menjadi satu.
Bagaimana dia tidak sedih, melihat Bunda sebahagia itu, mana tega Dania mematahkan harapan Bunda itu.
Tapi dia juga kesal dan marah pada Ardan yang memicu keadaan seperti ini. Dia menatap Ardan dengan tatapan tajamnya.
Tidak tahan dengan dengan semua kekacauan itu Dania lebih memilih keluar dari ruangan Kania. Kakinya membawa Dania menaiki tangga hingga samapi di atap rumah sakit.
Angin yang berhembus kencang menerbangkan rambutnya yang panjang itu. Tidak ada orang sama sekali di sana kecuali Dania.
Dania hanya berdiri menatap lurus ke depan menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Bukan tidak ingin menangis tapi entah mengapa air matanya tidak bisa keluar.
Dania juga bingung dengan perasaannya saat ini. Ingin menangis tapi tidak bisa. Ingin marah tapi tidak tau pada siapa. Ingin berteriak tapi seakan lehernya dicekat oleh sesuatu yang terasa mengganjal.
"Maafkan aku Dania" Suara itu mengejutkan Dania. Dia kira hanya dirinya sendiri yang ada di atas sana.
Dania hanya melirik siapa pria yang telah tiba di sampingnya itu.
"Apa gunanya maaf mu itu, semua sudah terlanjur runyam seperti ini" Jawab Dania dengan ketus.
"Kalau begitu aku akan temui Bunda lagi, akan kau katakan yang sebenarnya. Sekali lagi aku minta maaf" Arda berbalik ingin meninggalkan Dania.
"Jangan g*la kamu!! Kamu yang sudah memberikan harapan itu pada Bunda dan sekarang kamu mau menghancurkannya begitu saja??" Dania berbalik dan menatap Ardan dengan garang.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita menikah. Lagipula sudah terlanjur basah" Balas Ardan dengan enteng tanpa beban sekalipun.
Dania mengacak rambutnya yang sudah terlihat berantakan karena tertipu angin itu.
"Kamu pikir menikah itu mudah?? Kamu pikir pernikahan itu main-main sampai kamu dengan mudahnya mengucapkan itu??"
"Aku tidak pernah bilang jika aku main-main. Aku serius Dania" Ardan menunjukkan keseriusannya itu melewati tatapan matanya.
Dania yang bisa membaca sorot mata Ardan itu berusaha memalingkan wajahnya.
"Ardan, kita ini tidak saling mengenal. Aku hanya baru tau nama kamu saja. Tidak dengan latar belakang kamu, keluarga kamu, pekerjaan dan semuanya. Begitupun dengan kamu yang tidak mengenalku dnegan baik" Ucapan Dania melemah.
"Kalau begitu mulai sekarang kita harus saling mengenal. Aku akan memberitahumu semua yang ingin kamu tau dariku. Dan ijinkan aku untuk mengenalmu lebih dalam lagi Dania. Ayo kita menikah" Ucap Ardan dengan kesungguhan di dalam hatinya.
Memang sejak awal dia sama sekali tidak ada niatan untuk bermain-main di depan Bunda. Apa yang dia katakan itu berasal dari dalam hatinya.
"Enggak!! Enggak, ini g*la!! Mana mungkin aku menikah dengan seseorang yang baru tiga kali bertemu. Aku tidak mau Ardan, pernikahan ini tidak akan berhasil. Aku tidak mencintai kamu Ardan"
"Tapi aku mencintaimu Dania, dan akan aku buat kamu mencintaiku!!" Tekad Ardan pada kalimatnya itu.
Dania terlihat terkejut dilihat dari tubuhnya yang sempat menegang. Dia tidak menyangka pria yang dengan konyol menyebutnya calon istri, pria yang baru saja dia kenal justru mengatakan mencintainya tanpa keraguan dia dalam setiap katanya itu.
Dania tidak bisa membantah apa yang Ardan katakan itu, dia justru terus menangis dengan suaranya yang terdengar pilu di telinga Ardan.
Dengan sekali tarikan Ardan bisa merengkuh Dania ke dalam dekapannya. Membiarkan wanita yang dia cintai itu menangis di dadanya.
Tapi apa yang Dania lakukan?? Dia justru merasa nyaman dalam pelukan pria yang masih terasa asing baginya itu.
Pelukan hangatnya, wangi parfumnya bahkan detak jantung milik Ardan yang berdetak kencang justru membuat Dania merasa nyaman.
"Jangan menangis, kalau kamu mau menjalani semuanya dengan ikhlas, pasti tidak akan seberat yang kamu bayangkan" Bisik Ardan karena Dania masih ada di dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kita duduk dulu ya" Ardan membawa Dania duduk di bangku yang terlihat usang karena terkena sinar matahari dan hujan.
Dania hanya diam dan sesekali mengusap pipinya yang masih basah karena air mata.
"Dania dengar aku" Ardan menatap Dania dari samping.
"Mungkin aku masih merasa asing bagimu, juga tatapan matamu kepadaku yang seolah mengatakan aku pria g*la yang berani melamar seorang wanita yang baru aku kenal. Tapi aku tidak main-main dengan ucapan ku itu Dania. Aku serius, aku ingin menjadikanmu istriku" Dania masih tak bergeming menundukkan kepalanya.
"Namaku Ardan. Hanya Ardan saja yang ibu panti berikan untukku"
Kalimat Ardan itu mampu membuat Dania tertarik dan mengangkat kepalanya.
Ardan tersenyum masam.
"Aku tau hal inilah yang sering membuat wanita mundur ketika dekat denganku. Status sosialku yang hanya anak panti membuat wanita menjauh dariku" Kini Ardan yang merasa malu pada Dania. Tapi Dania justru menggelengkan kepalanya.
"Lanjutkan!!" Ucap Dania mulai menatap Ardan.
"Saat ini aku bekerja di bengkel milik Alam yang besar itu" Dania sempat mengernyit karena tidak tau jika Alam mempunyai bengkel. Tapi Dania hanya diam, memberi kesempatan agar Ardan melanjutkan ceritanya.
"Aku hanya seorang montir dan penanggung jawab saja di sana. Aku tidak kaya, aku hanya pria sederhana saja Tidak punya mobil mewah hanya punya mobil butut yang belinya saja hanya mampu mencicil. Masih banyak lagi kekuranganku yang nanti kamu akan tau sendiri saat dekat denganku. Maafkan aku yang telah lancang memintaku menjadi istriku dengan keadaanku yang seperti ini" Ardan tersenyum tipis di akhir kalimatnya itu.
Kebanyakan wanita yang sudah mendengar ceritanya ini pasti langsung pergi meninggalkannya. Dia sadar jika perempuan juga butuh hidup nyaman dengan di dukung materi yang berlimpah. Dan sepertinya Ardan belum bisa memenuhi kriteria itu.
"Tidak, aku tidak pernah memandang seseorang dari nilai materilnya" Jawab Dania lugas.
"Lalu apa setelah kamu mendengar latar belakangku itu, kamu mau menerimaku?? Aku tidak berjanji akan membahagiakanmu dengan banyaknya uang yang aku punya. Tapi aku janji tidak akan pernah menyakitimu meski hidup dalam kesederhanaan"
Ardan menatap Dania dalam dan penuh harapan. Dania wanita yang berhasil mencuri hatinya saat tidak sengaja menabraknya malam itu.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo kita menikah" Ucap Dania dengan yakin meski di dalam hatinya masih menumpuk keraguan.
__ADS_1