Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
60


__ADS_3

Bunda yang sudah sangat khawatir dengan anaknya itu datang dengan perasaan cemasnya. Walau Dania sudah mengatakan jika Kania tidak apa-apa tapi Bunda tetap saja khawatir jika tidak melihat keadaan Kania dengan mata kepalanya sendiri.


"Kania kenapa kamu bisa seperti ini Nak??" Dengan tangisnya Bunda menghampiri Kania yang sedang terbaring itu.


"Bunda" Kania berusaha bangun di bantu oleh Alam.


"Kamu nggak papa kan Nak??" Bunda memeluk putri cantiknya itu.


"Kania nggak papa Bun, jangan nangis kaya gini dong. Kania cuma lecet-lecet aja kok" Kania membalas pelukan Bundanya itu.


Inilah alasan kenapa Kania tidak mau memberi tahu masalah rumah tangganya kepada Bunda. Karena pasti Bundanya akan ikut bersedih dan terlalu banyak berpikir.


"Tapi kenapa kamu bisa sampai keserempet motor begini??" Tanya Bunda.


"Tadi Kania lih___"


"Kania kurang hati-hati Bunda, Kania nggak fokus lihat jalan aja" Kania memotong omongan Alam. Dia juga memberikan kode dengan matanya kepada suaminya agar percaya dengan apa yang dia katakan pada Bunda.


"Makanya kamu itu kalau di jalan jangan sambil mainan Hp, lihat kanan kiri kalau mau nyebrang" Omelan Bunda membuat Kania tersenyum. Justru Kania lebih suka melihat Bunda seperti ini dari pada menangis.


"Maaf Bunda, Alam nggak bisa jagain Kania" Ucap Alam pada mertuanya itu.


"Tidak papa, namanya juga musibah. Siapapun tidak dapat menolaknya"


Terlihat jelas di mata tua itu jika dia sangat menyayangi menantunya.


"Bunda duduk dulu yuk, pasti capek kan dari depan lari ke sini??" Dania meraih tangan Bunda menuntunnya duduk di sofa tak jauh dari ranjang Kania.


Alam memang sengaja meminta kamar VIP untuk Kania, karena dia mau Kania nyaman beristirahat di rumah sakit.


Tak ada penolakan dari Bunda, karena memang yang Dania katakan itu benar.


"Assalamualaikum" Suara Yesi membuat semua orang yanga ada di dalam melihat ke arah pintu.


"Walaikumsallam" Jawab semua orang yang ada di dalam sana.


"Kania, bagaimana keadaan kamu sayang??" Baru saja kaki Yesi melangkah masuk tapi sudah menunjukkan kekhawatirannya.


"Kania nggak papa kok Ma, Kania baik" Jawab Kania merasa senang banyak yang memperhatikannya.


Ternyata Yesi tak datang sendiri, buktinya seorang pria mengekori Yesi dari belakang.


"Makasih ya Dan, udah antar Mama ke sini" Ucap Alam.


"Sama-sama, sekalian jenguk istri lo"

__ADS_1


Dania yang tampak familiar dengan suara itu mengangkat kepalanya yang sejak tadi melihat media sosialnya.


"Kamu??" Dania tampak terkejut dengan pria yang beberapa hari yang lalu di kenalnya.


Pria yang dengan seenaknya sendiri memberikan julukan yang menyebalkan baginya.


"Hay, ternyata kita memang jodoh ya??" Ardan mengedipkan satu matanya.


"Kalian saling kenal?? Tanya Alam dengan heran.


"Iya, dia calon istri gue Lam" Jawab Ardan tanpa melihat ekspresi Dania yang sudah melotot bersiap dengan sumpah serapahnya.


"Apa?? Jadi ini calon suami kamu Dania?? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Bunda?? Ternyata Bunda punya mantu yang ganteng-ganteng ya??" Bunda sudah menunjukkan biar bahagianya hanya dnegan mendengar pernyataan sepihak dari Ardan.


"Wah, tante nggak nyangka lho Dan, kalau kamu berjodoh sama Kakak Kania" Ucap Yesi.


"Eng-Enggak kok Bun, tan. Dia bohong, kita aja bar__"


"Kita baru jadian Bunda. Jadi maaf belum sempat untuk bertemu Bunda secara resmi" Dania merasa ucapan Ardan semakin keterlaluan.


"Nggak papa Nak, Dania memang agak pemalu. Jadi dia pasti belum siap kasih tau Bunda" Dania memejamkan matanya karena kesal. Apalagi Bunda juga sudah termakan kebohongan pria aneh itu.


Tatapan aneh justru terlihat dari Alam dan Kania. Mereka berdua tidak pernah tau jika Dania mengenal Ardan sebelumnya.


"Enggak Dek"


"Iya" Jawab Ardan dengan tegas.


Dania mulai jengah dengan tingkah Ardan. Dia berdiri lalu menarik Ardan, mengajaknya keluar dari ruangan Kania itu.


"Maaf Bunda, Tante, kita bicara di luar dulu ya" Pamit Dania membawa Ardan keluar yang hanya menurut saja pada Dania itu.


Mereka semua hanya diam menatap kepergian Dania dan Ardan dengan bingung.


"Wah selamat ya jeng, akhirnya kamu mau mantu lagi" Yesi mendekati Bunda yang duduk di sofa.


Bunda tampak senang mendengar berita itu. Dia memang berharap di sisa hidupnya masib di beri kesempatan untuk melihat Dania menikah.


-


-


Dania terus menyeret Ardan menjauh dari ruangan Kania. Sementara Ardan yang tangannya di pegang oleh Dania hanya tersenyum senang, menurut tanpa bantahan.


"Mau bawa aku kemana sih sayang??" Pertanyaan Ardan itu langsung menghentikan langkah Dania.

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih?? Sadar nggak ucapan kamu itu udah bikin kekacauan di dalam sana!!" Dania menatap Ardan dengan tajam.


"Kok masih tanya maksud aku apa. Kan aku udah bilang, kalau kita ketemu lagi kamu harus jadi calon istri aku" Ucap Ardan tanpa dosa.


"Dasar g*la!!" Umpat Dania.


"Nggak boleh gitu sama calon suami!!" Ardan mencoba memperingati Dania.


"Siapa juga yang mau jadi istri kamu" Cibir Dania dengan kesal.


"Ya kamu dong sayang, mau siapa lagi" Ardan masih belum puas dengan kejahilannya itu.


"Udah deh nggak usah ngaco. Aku minta kamu jelasin ke mereka semua tentang omongan kamu tadi. Aku nggak mau buat mereka semua salah paham. Ngerti??" Dania menatap Ardan dengan dalam.


"Iya ngerti" Jawab Ardan dengan membalas tatapan Dania itu.


Entah mengapa Dania merasakan ada sesuatu pada dirinya saat menatap maik mata hitam pekat milik Ardan itu.


Tapi Dania tak ambil pusing, dia pergi lebih dulu meninggalkan Ardan kembali ke ruangan Kania.


"Loh kok kamu sendiri Dania?? Mana calon suami kamu??" Tanya Bunda dengan antusias.


"Bunda dia bu___"


"Dania, asal kamu tau. Bunda mu ini tadi sampai menangis karena melihat kamu akhirnya mau menikah. Dia bilang di sisa hidupnya pingin lihat kamu menikah" Ucapan Yesi membuat Dania terpukul seketika.


"Iya Kak, lagian kata Kak Alam, Kak Ardan itu orangnya baik dan bertanggung jawab kok" Dania semakin di buat membisu dengan imbuhan Kania itu.


Dania seperti orang linglung di dalam ruangan itu, dia tidak tau harus mengatakan apa.


Tak lama kemudian Ardan muncul di belakang Dania. Kini harapan Dania tinggal menunggu penjelasan dari Ardan.


Sebenarnya ada rasa tak tega jika melihat wajah bahagia Bundanya itu. Dia tau betul apa yang di maksud Yesi tadi tentang keinginan Bundanya untuk melihatnya menikah. Bukannya tak ingin mengabulkannya, tapi Dania juga masih bingung dengan perasannya.


Di satu sisi dia masih menaruh perasaannya pada Alam tapi di sisi lain dia harus segera mencari pria yang bisa membahagiakannya.


"Nak Ardan, jadi gimana?? Perkataan kamu tadi serius kan?? Jadi kapan kamu akan melamar Dania secara resmi??"


Bunda bahkan sudah menyerang terlebih dahulu sebelum Ardan bersiap dengan tamengnya.


Dania menatap Ardan penuh harap, semoga saja pria di sampingnya itu mampu mengeluarkan penjelasannya tanpa menyakiti perasaan Bunda.


"Kapan saja Bunda. Asal Dania siap, Ardan pasti siap"


Jawaban Ardan itu membuat lutut Dania lemas seketika.

__ADS_1


__ADS_2