Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
40


__ADS_3

Inikan..?" Kania menutup mulutnya karena terkejut.


"Iya, maafkan Kakak waktu itu ya" Sesal Alam pada Kania.


Kania masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pasalnya waktu itu jelas sekali Kania melihat Alam bersama Dania di mall.


Tapi kenapa Alam bisa punya foto kue ulang tahunnya dulu yang sudah Kania tinggal di cafe ini.


"Kenapa kamu bisa punya foto kue ini??" Tanya Kania penasaran.


"Bukan hanya fotonya saja, tapi ini Kakak juga yang makan" Jelas Alam.


"Kok bisa, waktu itu kan kamu sama Kak Dania di m___"


Kania langsung mengatupkan bibirnya karena dirinya keceplosan kalau melihat Alam.


"Jadi kamu juga ke mall itu Dek??"


Kania hanya diam, dia tidak mau menjawabnya.


"Maafkan Kakak Dek. Kakak memang jahat waktu itu. Kakak bohong sama kamu. Kakak selalu mencari alasan hanya untuk menghindari kamu"


Alam menundukkan wajahnya, dia sangat malu dengan istrinya itu.


"Benar, kamu memang jahat. Dan saat itu aku juga menyesal, kenapa juga aku harus ke mall hanya karena sayang dengan tiket bioskop yang sudah aku beli. Seandainya saja aku membuang tiket itu, dan memilih pulang. Maka aku tidak akan melihat kebohongan kamu. Aku akan percaya dengan alasan kamu itu"


Kania kembali menampakkan senyum b*dohnya lagi. Senyuman yang sama saat dulu mengetahui hubungan Alam dan Dania.


"Kamu tau Kak?? Waktu itu aku duduk di sini, berdandan dengan cantik, memakai dress yang indah dan juga menyiapkan kue cantik itu. Aku terus menunggu kedatangan kamu disini dengan senyuman di bibirku"


Pikiran Kania menerawang jauh pada saat ulang tahun mengenaskannya dulu.


"Aku ingat waktu itu sampai pipiku rasanya kebas karena terus tersenyum" Kania terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.


"Maaf Dek" Alam menyentuh tangan Kania yang berada di atas meja.


"Tidak papa, itu sudah berlalu" Senyum Kania dengan sumbang.


"Lalu bagaimana kue itu bisa ada padamu??" Kania kembali lagi ke pertanyaannya di awal tadi.


"Waktu Kakak menemani Dania nonton film kesukaannya. Tapi kamu tau sendiri kan kalau Kakak tidak suka film horor??"


Kania mengangguk pelan.


"Kakak bilang ke Dania kalau ingin ke toilet. Padahal saat itu Kakak pergi ke cafe menemui kamu. Tapi di saat Kakak tiba di sini, kamu sudah nggak ada. Kakak coba tanya sama pegawai di sini, katanya kamu udah lama perginya. Dan orang itu bilang kalau kamu tinggalin kue itu di sini. Jadi Kakak bawa pulang kuenya"


Jelas Alam panjang lebar.


"Kenapa Kakak tiba-tiba berubah pikiran untuk datang kesini, padahal udah susah payah kasih alasan kaya gitu"


"Kakak juga nggak tau. Tapi saat bersama Dania, Kakak selalu memikirkan kamu"


Kania tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kakak ingat tidak, setiap aku ajak kamu keluar atau ketemuan pasti kamu selalu bilang sibuk, banyak kerjaan, capek. Aku sudah banget cari waktu senggang kamu. Kalau aku mau ke rumah kamu juga kamu menolak dengan berbagai alasan yang anehnya saat itu aku percaya begitu saja".


Kania bercerita seolah tidak ada rasa sakit di hatinya. Bibirnya terus tersenyum seperti tidak menceritakan dirinya sendiri.


"Sampai-sampai aku datang ke kantor kamu, bawa makan siang buat kamu. Berharap bisa ketemu sama kamu, setelah seminggu lebih nggak ketemu, mengobati rasa rinduku walau hanya sebatas jam makan siang. Tapi waktu itu kamu.."


Kania tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia mengerjakan matanya berharap air matanya itu tidak jatuh meski sudah menggenang.


"Sssttt sudah Dek. Maafkan Kakak yang terlalu banyak menyakiti kamu. Dulu Kakak memang terlalu b*doh"


Lagi-lagi kata itu yang keluar dari bibir Alam yang membuat Kania sudah bosan mendengarnya.


"Maka dari itu, ijinkan Kakak merubah semua itu menjadi sesuatu yang tidak pernah terlupakan. Bukan kesedihan melainkan kebahagiaan. Ijinkan Kakak menemani kamu sampai tua nanti. Sejujurnya Kakak masih berharap kalau kamu mau merubah perjanjian kita. Kakak sangat berharap kamu mau hidup sama Kakak selamanya"


Alam mengusap tangan Kania yang sedari tadi masih di genggamnya.


Kania masih diam, belum memberikan respon apapun tentang kalimat panjang dari Alam itu.


"Kamu mau kan Dek?? Kamu mau kan pikirkan lagi tentang perjanjian yang kita buat itu??" Alam menatap Kania dengan dalam dan penuh harap.


"Lihat mata Kakak Dek, lihatlah dengan benar. Apa kamu tidak melihat cinta di sana?? Kakak sungguh mencintaimu Dek"


"Apa benar di dalam hati kamu sudah tidak ada nama Kakak sama sekali?? Apa kesalahan Kakak begitu besarnya hingga kamu tidak ingin memberikan Kakak satu kesempatan lagi??" Ucap Alam dengan alisnya yang menurun. Menunjukkan sendu di wajahnya.


"Aku__" Kania ragu dengan apa yang ingin dia katakan.


Alam masih menunggu apa yang akan istrinya itu ucapkan.


"Hay, kalian di sini ternyata??" Suara lantang yang baru saja datang menghentikan ucapan Kania.


Alam menghela nafas beratnya karena merasa terganggu dengan kehadiran orang itu.


"Boleh gabung kan?" Ucapnya walau Kania masih di buat bingung dengan kedatangannya.


Kania melirik Alam yang hanya diam dengan tatapan dinginnya. Dia tau suaminya itu tidak suka. Bahkan kedatangan orang itu mengganggu momen mereka berdua.


"Kania, boleh kan??" Tanyanya lagi.


Kania menolah pada Alam meminta persetujuan dari pria yang sedang sudah memancarkan aura dingin itu.


Alam terus menatap Kania tajam. Kania sudah tau jawaban dari Alam, tapi Kania merasa tidak enak.


"Memangnya kamu sama siapa Rel??" Tanya Kania, mana tau Farel bersama temannya jadi suasana tidak akan canggung jika ada teman Farel juga.


"Oh tenang aku nggak sendiri kok. Aku bawa teman. Nah itu dia" Farel melambaikan tangannya ke belakang Kania.


Kania memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang yang datang bersama Farel.


Kania sempat menyipitkan matanya untuk memastikan seseorang yang datang bersama Farel.


"Kak Dania??" Gumam Kania.


"Dek, kamu makan disini juga??" Tanya Dania.

__ADS_1


"Iya Kak, kok kalian bisa barengan??" Tanya Kania belum juga memberikan tempat duduk untuk Farel dan Dania.


"Iya dong, kita emang sengaja janjian" Ucap Farel dengan senyum lebarnya.


"Janjian? Sejak kapan kalian dekat??" Tanya Kania penuh curiga.


"Nanti kita jelaskan yang penting sekarang kita bisa gabung kan??" Tanya Farel lagi.


"Iya" Jawab Kania dengan ragu.


Tapi saat Farel ingin duduk di samping Kania, Alam mencegahnya. Pria posesif itu langsung berpindah posisi yang awalnya di depan kini di samping Kania.


"Maaf Pak Farel, saya hanya ingi dekat dengan istri saya" Ucap Alam dengan nada yang tidak bersahabat.


"Tidak papa Pak Alam, saya paham" Jawa Farel dengan wajah yang memerah.


"Kakak udah sering ketemu sama Farel??"


"Enggak kok, baru berapa kali aja ketemunya" Jawab Dania.


"Iya cuma beberapa kali tapi setelah ini pasti akan lebih sering" Tambah Farel membuat Dania juga keheranan.


Obrolan mereka sempat terhenti karena pesanan Alam yang sudah datang.


"Oh ya, gimana kabar Bunda Kak?" Tanya Kania lagi. Dia sudah mengesampingkan pertanyaannya tentang Farel dan Dania.


"Alhamdulillah Bunda sehat Dek. Kapan-kapan kamu ke rumah ya, bunda pasti seneng banget" Ucap Dania sambil menikmati pesanannya.


"Iya pasti aku ke rumah kok. Iya kan Kak??" Kania bertanya pada Alam yang sedari tadi mendadak menjadi bisu.


"Iya sayang" Alam mengusap kepala Kania dengan sayang.


Kani menurut saja menerima perlakuan seperti dari Alam.


Tanpa mereka sadari, Farel mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia merasakan panas di hatinya menyaksikan kemesraan itu.


"Oh ya Kania, kamu dapat undangan pesta ulang tahun perusahaan besok malam kan??" Farel mencoba menarik perhatian Kania.


"Iya" Jawab Kania singkat.


"Kalian kan sengaja menyembunyikan status pernikahan kalian. Jadi bisa dong kamu perginya sama aku aja??"


Ucapan Farel itu membuat Kania otomatis menatap suaminya. Kalian sudah bisa bayangkan sendiri kan bagaimana menyeramkannya wajah Alam saat ini.


-


-


-


-


Happy reading readers 😊

__ADS_1


__ADS_2