
"Apa maksudnya ini Kania??!!" Alam membalik kertas yang ada di tangannya agar Kania bisa membaca isi dari kertas itu.
Bola mata Kania seakan ingin keluar dari tempatnya setelah menyadari isi dari surat itu yang menyulut amarah Alam.
"Kak aku bisa jelaskan"
Suara Kania sudah bergetar, dia sungguh ketakutan melihat Alam semarah itu.
"Sudah berapa kali kalian bertemu di belakangku??" Tanya Alam dengan suaranya yang dingin dan tatapannya yang tajam menghujam tepat di hati Kania.
Niat hati Kania untuk membebaskan Alam dengan menuruti kemauan Farel justru menjadi boomerang untuknya sendiri.
Sekarang Kania yang harus menerima akibat dari tindakan gegabahnya itu.
"Kak ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Farel. Aku akan jelaskan semuanya" Kania sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia begitu takut dengan Alam.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?? Apa kamu sudah tidak sabar ingin berpisah denganku?? Hanya satu bulan Kania, tinggal satu bulan lagi pernikahan kita berusia enam bulan. Kenapa kamu sudah tidak sabar untuk kembali kepada Farel??"
"Kenapa kamu tidak jujur kalau selama ini kamu tidak bisa menerima cinta ku lagi?? Kenapa beberapa hari ini kamu harus berpura-pura menerima pernikahan kita sedangkan di luar sana kamu masih berhubungan dengan Farel??
Kania menggeleng dengan kuat, dia menolak semua tuduhan yang Alam berikan itu.
"Enggak Kak, aku tidak pura-pura. Aku memang mengi__"
"Kalau kamu memang menginginkan pernikahan kita berakhir setidaknya tunggu satu bulan lagi. Aku akan tepati janjiku untuk menceraikan mu. Kalau perlu malam ini juga aku akan menalak mu jika kamu mau"
DUARR...
Bagai di sambar petir hati Kania terasa hancur mendengar kalimat yang dulu pernah dia ucapkan sendiri. Tapi saat ini kalimat itu sangat menyakitkan bagi Kania.
"Kakak, jangan ucapkan kalimat itu. Aku tidak ingin berpisah darimu" Ucap Kania menahan sesak di dadanya.
"Kenapa?? Bukankah ini yang kamu inginkan?? Segera berpisah dariku dan bersatu dengan Farel?? Aku kan kabulkan permintaanmu itu"
Alam membuang kertas yang sedari tadi di remasnya itu. Lalu pergi keluar meninggalkan Kania yang terisak menangisi keb*dohannya.
"Kak, Kak Alam mau kemana??" Kania mengejar Alam yang sudah memundurkan mobilnya.
"Kak jangan pergi, aku akan jelaskan semuanya. Kak dengar aku dulu!!" Kania mengetuk kaca mobil milik Alam. Dia masih berusaha untuk mengehentikan Alam.
"Kakak aku mohon jangan tinggalkan aku, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya!!" Teriak Kania dari luar agar Alam bisa mendengarnya.
Tapi tampaknya usaha Kania itu sia-sia saja, karena Alam tetap pergi meninggalkan Kania. Entah kemana tujuan Alam, yang jelas dia tidak ingin berada di dekat Kania saat ini. Karena dia takut akan lepas kendali pada istrinya itu.
Kania bersimpuh di depan rumahnya. Rasanya sudah lemas karena menangis dan menahan rasa sesak di dalam dadanya. Apa lagi yang bisa dilakukannya saat ini selain menangis meratapi nasib pernikahannya. Apa lagi bayang-bayang perceraian yang di ucapkan Alam sungguh membuatnya ketakutan.
Dia tidak ingin berpisah dengan Alam, dia tidak ingin cintanya kembali hilang setelah berhasil mendapatkannya kembali.
Lagi pula ini hanyalah kesalahpahaman saja. Kania yakin dia bisa menjelaskan semuanya kepada Alam.
__ADS_1
Berlahan Kania bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dengan tatapan kosong Kania meraih kertas yang di buang Alam tadi. Kertas yang berisi tulisan tangan dari Farel, dan penyebab pertengkaran itu terjadi.
Kania membuka lagi kertas yang sudah tidak berbentuk itu.
...Kania, ini jam tangan kamu yang kemarin tertinggal di rumahku. Maaf tadi tidak sempat memberikannya padamu....
...FAREL...
"FAREL KETERLALUAN!!" Kania merobek kertas itu lalu melemparnya ke sembarang arah.
Kania kembali bersimpuh di lantai rumahnya yang dingin, air matanya yang sudah banyak keluar itu tak kunjung berhenti juga.
Saat ini rasanya Kania ingin berteriak melepaskan rasa sesak di dalam dadanya. Tapi apa gunanya, tidak akan ada yang mendengarkan jeritan hatinya.
-
-
Kania terbangun dari sofa dengan cepat, ternyata dia ketiduran di sofa ruang tamu. Niatnya dia ingin menunggu suaminya itu pulang tapi justru tidak mampu menahan kantuk.
Kania berjalan ke arah jendela, melihat apa suaminya itu sudah pulang atau belum.
Nihil, Kania tidak menemukan mobil Alam terparkir di luar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Sebenarnya kamu kemana Kak??" Gumam Kania khawatir.
Kania memutuskan untuk mengganti bajunya terlebih dahulu. Siapa tau sebentar lagi suaminya itu akan segera pulang.
Dan benar saja, saat Kania keluar dari kamar mandi, Kania mendengar dengan jelas suara mobil milik Alam. Dengan senyuman mengembang di bibirnya, Kania berlari ke bawah untuk menyambut Alam.
Dengan harapan yang tersisa di dalam hatinya, Kania mencoba untuk mengulas senyum di bibirnya.
"Kakak sudah pulang?? Kaka dari mana saja??" Pertanyaan itu keluar saat Kania melihat Alam sudah berada di depan pintu.
Dengan wajah dingin dan datarnya Alam berjalan begitu saja melewati Kania. Tidak ada niatan di dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Kania itu.
"Kak" Panggil Kania lagi tapi Alam sudah terlanjur menaiki tangga menuju kamarnya.
Kania menyentuh dadanya merasakan perih di dalam sana. Perasaan yang dulu pernah ia rasakan saat mendapat penolakan dari Alam kini Kania bisa merasakan kembali.
Tak putus asa, Kania mengejar Alam ke kamarnya. Dia harus bisa mengajak Alam untuk bicara. Tidak akan ada selesainya jika hanya diam seperti itu.
Kania duduk di tepi ranjangnya, jantungnya berdetak keras saat menunggu Alam keluar dari kamar mandi.
Ceklek..
Kania spontan berdiri mendekati suaminya itu.
"Kak, kita harus bicara" Ucap Kania lirih.
__ADS_1
Alam melirik Kania sekilas lalu merebahkan dirinya di ranjang membelakangi Kania.
"Tidurlah, besok kamu harus bekerja. Aku juga lelah"
Sretttt....
Penolakan itu seolah menyayat hati Kania yang paling dalam.
Tak terasa buliran air mata Kania kembali menetes di pagi buta.
Mau tidak mau Kania harus menghentikan niatnya untuk menjelaskan semuanya pada Alam. Kania memilih untuk menyusul Alam berbaring di belakangnya. Tidak seperti Alam yang membelakanginya, Kania justru menghadap pada punggung kokoh itu.
-
-
Di saat Kania terbangun di pagi hari karena hangatnya sinar matahari yang mengenai wajahnya. Kania sudah tidak menemukan Alam lagi di sampingnya.
Kania langsung menyibakkan selimutnya untuk mencari Alam, dia takut Alam akan meninggalkannya lagi seperti semalam.
Kania menuruni anak tangga dengan cepat. Bahkan tanpa sadar dia melompati tiga anak tangga sekaligus.
"Kak??" Panggil Kania sembari membuka satu per satu ruangan di lantai bawah, namun tidak ada bayangan Alam sekalipun.
Kemudian dengan sedikit berlari Kania mengintip bari balik jendela. Hatinya tiba-tiba mencelos saat tidak lagi melihat mobil Alam terparkir di sana.
Alam telah pergi lebih dulu darinya, bahkan meninggalkannya. Entah itu ke kantor atau kemana yang jelas Alam pergi tanpa pamit pada Kania.
-
-
Dengan menyeret ke dua kakinya Kania menapaki bangunan yang menjulang tinggi tempatnya mencari sesuap nasi itu.
Semangatnya sudah hilang sejak tadi malam. Mungkin hari ini akan di lalui Kania dengan sangat berat. Rasanya lebih berat dari saat dia memutusakan pergi tiga tahun yang lalu. Kali ini rasanya lebih mencekik sampai-sampai tidak ada semangat hidup lagi jika Alam benar-benar meninggalkannya.
Kania berdiri di depan lift, menunggu bersama karyawan yang bukan satu divisinya.
Tatapan matanya memang terlihat kosong tapi telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan di belakang Kania.
"Eh katanya Pak Alam sudah mengundurkan diri ya??"
"Iya, surat pengunduran dirinya sudah dikirim lewat email tadi malam"
"Wah sayang sekali, kan dia terbukti tidak bersalah kenapa harus mengundurkan diri ya??"
"Iya harusnya dia tidak usah malu dan tetap bertahan di sini"
Perbincangan mereka itu terdengar jelas di telinga Kania. Entah mereka sengaja atau memang tidak menyadari Kania yang berada di sana. Bukankah semua sudah tau kalau Kania adalah istri Alam.
__ADS_1
"Kak Alam mengundurkan diri?? Tadi Malam??" Tanya Kania dalam hati.