Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
54


__ADS_3

Hari ini Alam sudah kembali ke kantornya. Pak Jonatan sudah mengembalikan nama baik Alam di perusahannya. Karyawan yang kemarin mencibir dengan kata-kata pedasnya sekarang seakan tidak mampu lagi menapakkan wajahnya di depan Alam.


Termasuk Jesy yang malu hanya untuk sekedar berpapasan dengan Alam. Dia lebih memilih menghindar jika tidak sengaja bertemu dengan Alam. Padahal waktu itu Jesy hanya mencibir Elang di depan Kania, tapi perasaan Jesy tidak tenang takut jika Kania telah mengadukannya kepada Alam.


"Pak Alam, saya minta maaf karena waktu itu saya tidak percaya apa yang anda katakan" Ucap Pak Jonatan secara pribadi kepada Alam.


Bahkan pemilik perusahaan itu datang sendiri ke ruangan Alam hanya untuk sekedar meminta maaf.


"Tidak papa Pak, jika saya ada di posisi Bapak, saya juga akan berpikiran yang sama karena bukti itu sangat kuat mengarah kepada saya"


Jonatan sebenarnya sangat merasa bersalah tidak mengungkapkan pelaku sebenarnya. Tapi dia ingat pesan Dania untuk merahasiakan semua itu.


"Ya sudah, kalau begitu kembalilah bekerja seperti semula. Dan saya jamin nama Pak Alam akan kembali bersih seperti dulu lagi"


"Terimakasih Pak Jonatan, karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali ke kantor ini"


"Tentu saja karena anda tidak bersalah, silahkan dilanjutkan saya permisi" Jonatan meninggalkan ruangan Alam di ikuti sekretarisnya.


Jonatan masih bisa mengendalikan emosinya kepada anak angkatnya itu. Dia hanya memberikan teguran dan ancamannya saja. Dia belum bertindak terlalu jauh, masih berharap Farel akan sadar dengan perbuatannya itu.


Tapi Jonatan tidak akan memberikan ampunan kepada Farel jika berani mengganggu Kania lagi. Jonatan sadar selama ini dia jarang sekali memperhatikan Farel. Meski anaknya itu terlihat mandiri dan dermawan tapi Jonatan baru tau jiak di balik semua itu Farel mempunyai obsesi pada sesuatu yang dia inginkan.


-


-


Kania terkejut bukan main saat Farel terlihat menghampirinya. Terlebih lagi kini Kania sedang berjalan keluar kantor bersama Alam.


Tubuh Kania sudah mengeluarkan keringat dinginnya. Kania terlihat sangat takut jika Farel akan berbuat nekat lagi di hadapan Alam.


Kania berdoa di dalam hati semoga ketakutannya itu tidak terjadi. Dia tidak ingin hubungannya dengan Alam kembali goyah karena Farel.


"Kania??" Kania memejamkan matanya saat namanya di panggil oleh Farel. Tiba-tiba saja badannya bergetar ketakutan.


Alam sudah mengernyitkan dahinya, melihat Farel yang menghampiri Kania.

__ADS_1


"Kania kenapa kamu menghindari ku, kenapa juga kamu memblokir nomor ponselku??" Ucap Farel begitu dia sampai di depan Kania. Pria itu sungguh tidak mempedulikan adanya Alam di samping Kania.


"Maaf Rel, kayaknya memang kita harus menjaga jarak. Sekarang aku sudah bersuami, aku tidak mau terjadi salah paham di antara kita lagi" Kania berharap Farel tidak menyinggung masalah kemarin lagi. Dia belum siap menerima kemarahan Alam


"Tapi bukankah kamu sudah berjanji agar hubungan kita bisa seperti dulu lagi??"


"Apa maksud anda Pak Farel??" Alam langsung menyambar ucapan Farel itu. Alam merasa telah melewatkan sesuatu selama dia ada di penjara.


"Kita pulang Kak, aku akan jelaskan di rumah" Tanpa melihat Farel yang tersenyum licik Kania menarik tangan Alam agar menjauh dari Farel.


Kania berjalan dengan cepat menuju Mobil Alam. Dia tidak sadar jika cengkeraman tangannya pada Alam sangat erat hingga membuat Alam semakin mencurigai istrinya itu.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan Dek?? Apa yang telah terjadi selama Kakak di dalam penjara??" Alam melepas paksa tangan Kania yang memegangnya erat.


Kania bingung ingin menjawab apa, dia tidak tau harus memulai dari mana.


"Jujur sama Kakak Dek!!" Tatapan tajam yang Alam berikan sungguh membuat Kania ketakutan.


"Tidak ada apa-apa Kak, Farel hanya marah karena aku memblokir kontaknya. Aku hanya tidak ingin dia mengganggu kita lagi. Nanti aku jelaskan di rumah ya, sekarang kita pulang dulu" Hanya itu jawaban yang bisa Kania berikan.


Alam hanya diam, dia tidak puas dengan jawaban yang Kania berikan itu. Tapi dia menurunkan sedikit egonya, tidak mungkin dia akan berdebat dengan istrinya di tempat parkir seperti itu.


Di dalam perjalanan pulang hanya terjadi keheningan di antara mereka. Tidak seperti pagi hari tadi saat mereka berangkat ke kantor. Bahkan tangan Farel tidak mau melepaskan tangan Kania saat mengendarai mobilnya. Mengingat semalam adalah malam yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua.


Mobil Alam sudah memasuki halaman rumahnya. Dan aksi saling diam mereka masih saling berlanjut sampai ada seorang kurir yang mengantarkan sebuah paket untuk Kania.


"Permisi Pak, apa benar ini alamat Ibu Kania??" Tanya kurir itu.


"Benar" Jawab Alam singkat.


"Ada paket untuk Ibu Kania Pak, silahkan tanda tangan di sini" Alam melirik Kania yang berdiri di depan pintu untuk menunggunya.


"Dari siapa??"


"Saya tidak tau Pak, karena tidak ada nama pengirimnya" Jawab kuris itu dengan sopan.

__ADS_1


Alam.membubuhkan tandatangannya pada kertas yang di sodorkan oleh kurir itu. Kemudian menerima kotak paket berukuran kecil itu.


"Terimakasih Pak, saya permisi" Alam tampak membolak balikkan kotak itu barangkali bisa melihat nama si pengirim namun tidak ditemukannya sama sekali.


"Itu apa Kak??" Tanya Kania yang melihat Alam membawa sebuah paket saat berjalan mendekatinya.


"Paket untukmu"


Kania melihat kotak yang di berikan Alam itu dengan bingung, karena dia tidak merasa memesan sesuatu.


"Tapi aku tidak pernah merasa membeli sesuatu. Ini juga tidak ada nama pengirimnya" Kania juga merasa aneh pada paket yang di terimanya itu.


Alam mengambil kembali kotak kecil itu dari tangan Kania. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Biar aku saja yang buka!!" Alam mencari gunting di dapur di ikuti Kania di belakangnya.


Dia juga merasa penasaran dengan paket misterius itu.


"Jam tangan??" Alam bergumam.


"Bukannya ini jam tangan kamu??" Alam menatap Kania penuh tanda tanya.


Kania melihat isi kotak itu, dan benar saja itu adalah jam tangan miliknya yang beberapa hari ini dia cari.


Alam menahan Kania yang ingin mengambil jam tangan miliknya saat Alam menyadari ada selembar kertas di dalam kotak itu.


"Tunggu!!" Kania yang masih tidak menyadari akan adanya mala petaka setelah ini membiarkan Alam mengambil kertas itu.


Kania dengan jelas bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Alam. Pria tampan di hadapannya itu tiba-tiba melihat Kania dengan tatapannya yang sudah memerah menahan amarah.


"Apa maksudnya ini Kania??!!" Alam membalik kertas yang ada di tangannya agar Kania bisa membaca isi dari kertas itu.


Bola mata Kania seakan ingin keluar dari tempatnya setelah menyadari isi dari surat itu yang menyulut amarah Alam.


"Kak aku bisa jelaskan"

__ADS_1


__ADS_2