Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
31


__ADS_3

"Sayang, hey?"


Alam menyentuh pundak Kania karena istrinya itu hanya diam tak bergeming.


"Kaya gini kamu bilang kecil??" Tanya Kania sambil menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan ucapan suaminya.


"Ya kan nggak sebesar kantor tempat kita kerja" Alam menggaruk tengkuknya.


"Kalau kamu cari perbandingan setingkat itu ya jelas ini kecil. Tapi coba kamu lihat di luar sana. Harusnya bersyukur bisa bangun usaha sebesar ini!!"


Omelan Kania ini justru membuat Alam gemas, jika saja tidak di tempat umum. Mungkin Alam akan khilaf dan mencicipi bibir cerewet itu.


Sudah lama Alam tidak bisa melihat Kania yang seperti ini. Kania yang banyak bicara, perhatian dan manja pada Alam.


"Ngapain malah senyum-senyum??" Kania mendelik pada Alam.


"Habisnya kamu gemes banget" Alam mencubit pelan pipi Kania.


"Ih nggak usah pegang-pegang!! Malu di lihat orang!!" Kania sedikit berbisik dengan kesal.


"Iya iya maaf. Ayo masuk!!"


Alam meraih tangan Kania. Menuntunnya masuk ke tempat usaha Alam itu.


Sebuah bengkel mobil yang cukup besar dengan puluhan montir dan deretan mobil yang sedang di perbaiki.


Di tempat yang luas itu juga merangkap tempat pencucian mobil yang langsung bersebelahan dengan bengkel.


Maka dari itu, Kania sempat syok karena omongan Alam yang tak sesuai dengan kenyataan.


Kania berjalan di samping Alam dengan tangan yang masih berada di genggaman suaminya itu.


Sejak Kania turun dari mobil sebenarnya ia sudah menjadi pusat perhatian semua karyawan Elang.


"Duh aku malu banget, kenapa pada liatin semua sih!! Mungkin mereka heran kali ya karena bosnya gandeng wanita lain. Bukan Kak Dania yang baisa di ajak ke sini" Batin Kania.


"Selamat siang bos!!"


Sapa seseorang yang memakai seragam bertuliskan Bengkel milik Alam.


"Siang Pak Wahid" Balas Alam dengan ramah.


"Wah akhirnya bos kita bawa pacar juga nih" Satu lagi karyawan Alam datang mendekat.


"Tunggu!! Berati Kak Dani belum pernah kesini!!" Batin Kania kembali berbisik.


"Tebakan kalian salah, dia bukan pacar saya" Jawab Alam sambil melirik Dania.


Nyess...


Ada rasa nyeri di hati Kania saat Alam tak mau mengakuinya. Dengan cepat Kania ingin melepaskan genggaman itu tapi Alam justru semakin mengeratkannya.


"Dia bukan pacar saya tapi istri saya!!"

__ADS_1


Sontak Kania menatap Alam yang tengah menatap Kania dengan senyumannya yang manis bagaikan gula. Pipinya memerah, rasa aneh yang tadi dirasakannya saat Alam menolak menyebut Kania sebagai pacarnya telah hilang di gantikan rasa tersipu malu.


"Wuaaahhhhh...."


Heboh mereka yang mendengar ucapan Alam.


"Nggak pernah gandeng cewe tau-tau udah menikah aja nih" Celetuk pria yang terlihat seumuran dnegan Alam.


"Mana cakep banget lagi bos!!" Kini giliran orang yang di sebut Pak wahid tadi yang menggoda Alam dan Kania.


Kania menundukkan wajahnya karena malu, sedangkan Alam malah terus tersenyum menanggapi anak buahnya itu.


"Kalian bisa aja. Oh ya kenalin ini istri saya namanya Kania" Ucap Alam.


"Halo aku Kania istrinya Kak Alam. Salam kenal" Sapa Kania dengan ramah.


"Hayyyyyy" Jawab mereka serempak. Bahkan montir yang tadinya fokus dengan pekerjannya rela berhenti sejenak saat mendengar suara lembut milik Kania.


"Maaf karena nggak ngundang kalian karena ini hanya acara sederhana saja. Insyaallah kalau kita mengadakan resepsi pasti kita akan undang kalian semua"


"Iya kan sayang??" Alam meminta jawaban dari Kania.


Kania merasa kikuk karena kini semua mata tertuju padanya.


"Iy iya" Jawab Kania gugup.


"Nggak papa bos, kita lihat bos datang sama wanita aja kita udah senang. Selama ini kita takut kalau ternyata bos ini___" Pak Wahid menggantungkan kalimatnya dengan saling memandang teman-temannya.


"Saya itu normal, jangan asal ya kalian!!" Kesal Alam.


"Astaghfirullah, gue pria normal kali Dan!!" Bantah Alam.


Alam dan Ardan bertemu dua tahun yang lalu secara tak sengaja di sebuah warteg. Saat itu Ardan sedang kebingungan mencari pekerjaan. Sedangkan Alam baru saja membeli tanah yang kini jadi sudah menjadi bengkel itu.


Awalnya Alam hanya ingin membuka tempat pencucian mobil saja. Namum setelah bertemu dengan Ardan, dan setelah mereka ngobrol cukup lama, ternyata Ardan adalah seorang montir yang baru saja kehilangan pekerjaannya tempat kerjanya mengalami kebangkrutan.


Dari situlah Alam mulai mengajak Ardan bekerjasama untuk membangun bengkel itu. Dengan modal dari Alam, dan Ardan sebagai penanggung jawab di dalam bengkel.


Ardan juga baru kali ini melihat Kania. Memang Alam sudah sangat dekat dengan Ardan, namun Alam selalu tertutup mengenai masalah percintaannya.


"Nggak kebayang gue gimana reaksi Sandra setelah melihat ini" Celetuk Ardan lagi.


"Siapa Sandra sebenarnya??" Batin Kania bertanya-tanya.


"Sudahlah hentikan!! Dia hanya sebatas rekan kerja tidak lebih" Sergah Alam karena ia takut Kania akan marah padanya.


"Itu kan lo, dia kan ngarep banget. Nah tuh orangnya datang. Panjang umur banget" Ardan menatap jengah wanita yang mendekat ke arah mereka.


"Mas Alam!!" Panggil wanita itu dengan manja.


Semua mata teralihkan dengan sura itu. Kania melihat wanita cantik dengan rambut sebahu dan bagian tubuhnya yang berisi di bagian-bagian tertentu mendekat ke arahnya.


"Hay San" Balas Alam.

__ADS_1


"Kok udah lama nggak lihat bengkel?? Pesanku juga nggak ada yang kamu balas!!" Sandra ingin meraih lengan Alam namun Alam lebih dulu menghindar.


Sandra belum menyadari jika sedari tadi tangan Alam menggandeng Kania.


"Pesan apa?? Bukannya jika ada maslah bisa langsung menghubungi Ardan??" Ucap Alam sambil melirik Kania. Alam nisa menangkap wajah masam dari istrinya itu.


"Oh jadi mereka sering bertukar pesan?? Memangnya Sandra ini siapa sebenarnya??" lagi-lagi Kania hanya bertanya dalam hati.


"Ya man beda Mas, kalau sama Mas Ardan cuma masalah pekerjaan kalau sama kamu kan__"


"Oh ya San, kenalin ini Kania istri aku" Dengan cepat Alam memotong ucapan Sandra. Dia tau kemana arah pembicaraan itu.


"Apaaa??? Istri??"


Sandra terkejut bukan main. Harapannya untuk membina rumah tangga dengan Alam telah hancur.


"Iya" Jawab Alam datar.


"Nggak mungkin Mas, sejak kapan kamu punya pacar kok tiba-tiba sudah punya istri?? Aku tau ini cuma akal-akalan kamu aja kan buat menghindar dari aku. Kamu tau kan kalau aku itu cint____"


"Cukup Sandra!!" Sentak Alam. Suaranya yang sedikit lantang mampu menarik perhatian orang-orang di sana.


Kania berusaha melepaskan tangannya. Ia seperti sedang dalam drama percintaan dimana dia berperan sebagai wanita pengganggu di antara sepasang kekasih.


Alam tau jika Kania pasti bingung dengan semua ini. Tapi Alam kali ini harus tegas dengan Sandra.


Alam tak membiarkan Kania lepas dari genggamannya. Ia tak mau terjadi salah paham, jadi Alam ingin memperingatkan Sandra di depan Kania.


"Sandra, dari awal aku tidak pernah menganggap kamu lebih dari seorang rekan kerja. Jadi aku mohon berhenti bersikap seperti ini. Aku sudah menikah dan dia adalah istri yang sangat aku cintai" Tegas Alam.


Sandra hanya menunduk menahan air matanya.


"Dari dulu aku tidak pernah menanggapi mu karena aku ingin kamu sadar jika aku tidak bisa membalas perasaanmu. Di dalam hatiku sudah ada wanita lain. Yaitu Kania, istriku"


"Jadi mulai sekarang bersikaplah sebagaimana mestinya kita sebagai rekan kerja. Jangan libatkan perasaan dalam hal ini. Aku yakin semua akan menjadi lebih baik setelah ini. Kembalilah bekerja, maafkan aku yang bersikap seperti ini di depan banyak orang" Alam berbisik di akhir kalimatnya.


Sandra belum juga mengangkat kepalanya, ia merasa malu apalagi dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Kania!!"


Alam merasakan genggamannya terlepas dengan hentakkan yang kuat.


Kania meninggalkan Alam dan juga semua karyawan Alam yang menatap Kania dengan kebingungan. Pasalnya istri bosnya itu berlari dengan keadaan menangis.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Happy reading, tinggalkan like kalian untuk karya ini ya.. Semoga kalian suka, terimakasih😊


__ADS_2