Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
63


__ADS_3

Karena luka yang di alami Kania tidak terlalu parah, maka Kania hanya menginap satu malam di rumah sakit. Dan siang ini Kania sudah di perbolehkan pulang.


Tapi Kania tampak kesal saat Alam tak kunjung tiba menjemputnya. Tadi katanya dia akan mengurus sesuatu sebentar. Tapi Kania tidak di beri tahu sesuatu itu apa. Kania takut jika terjadi apa-apa lagi dengan Alam seperti kemarin setelah Alam kembali dalam keadaan babak belur.


"Maaf ya Dek, Kakak lama" Alam muncul dengan senyuman yang semakin menambah kadar ketampanannya.


"Lama banget sih Kak, aku bosen banget nungguin kamu dari tadi sendirian disini" Keluh Kania dengan suaranya yang manja.


"Kamu gemesin banget kalau kaya gini" Alam yang sudah di samping Kania mencubit pipi Kania dengan gemas.


"Beneran gemes?? Dulu katanya nggak suka kalau aku manja" Sindir Kania tapi tak berani menatap Alam.


"Dulu itu Kakak belum sadar aja kalau kamu ternyata semenggemaskan ini"


Cup..


Alam mencium pucuk hidung Kania karena terlalu gemas dengan istrinya itu.


"Iya sih kayaknya Kakak dulu emang nggak sadar-sadar sama pesona aku" Kania dengan gayanya yang centil mengibaskan sedikit rambutnya.


Alam terkekeh melihat kelakuan Kania itu. Sepertinya Kania yang dulu sudah kembali lagi ke hadapan Alam saat ini. Dan Alam sama sekali tidak keberatan. Memang sosok itulah yang ia rindukan selama ini. Kania yang seperti itu yang membuat Alam kelimpungan menyesali perbuatannya.


"Kita pulang yuk, semua udah siap kan??" Kania mengangguk antusias. Akhirnya dia akan kembali tidur nyaman di kasurnya lagi, tidak di ranjang rumah sakit yang tidak nyaman itu.


Alam menggandeng tangan Kania berjalan keluar rumah sakit. Senyuman selaku terlihat di bibir mereka berdua, terlihat sekali jika mereka adalah pasangan yang sangat bahagia.


Tapi memang kenyataannya begitu. Walau hubungan mereka di mulai dengan keterpaksaan, kemudian di terjang badai perpisahan, tapi kemudian di satukan kembali oleh takdir. Dan kini mereka hanya tinggal menikmati buah dari pesakitan mereka sebelumnya. Hanya bahagia yang bisa mereka rasakan saat ini. Meski mereka tau kedepannya hubungan tidak selalu mulus tanpa adanya kerikil, tapi jika mereka selalu bersama, sesulit apapun rintangannya pasti akan terasa mudah.


"Kita langsung pulang Kak??" Tanya Kania ketika sudah berada di dalam mobil.


"Iya, memangnya kamu mau mampir ke mana dulu?? Atau mau beli apa??"


"Enggak kok, cuma pingin cepat istirahat aja di rumah" Alam yang sudah mulai melajukan mobilnya meraih tangan kanan Kania. Menggenggamnya dengan erat meski satu tangannya masih fokus pada kemudinya.

__ADS_1


"Awas Kak, lagi nyetir loh" Kania mencoba memperingatkan suaminya itu.


"Nggak papa, Kakak pelan-pelan kok. Kakak cuma pingin romantis kaya pasangan-pasangan lainnya" Ucap Alam membuat Kania tersipu. Dia membiarkan pria kaku disampingnya itu untuk melakukan sesukanya.


"Kak, kalau aku boleh tau, apa benar Kakak mengundurkan diri dari kantor karena nggak mau canggung misalnya kita benar berpisah??" Ucapan Alam waktu itu memang sangat menyakitkan bagi Kania.


"Benar, tapi yang paling benar adalah. Kakak nggak bisa melihat kamu menjadi milik orang lain. Kalau masih kerja di sana otomatis akan terus ketemu sama kamu kan?? Dan itu Kakak nggak mau. Lebih tepatnya hati ini yang nggak bisa"


Kania begitu terharu dengan cinta yang Alam berikan untuknya itu. Karena rasa bahagia di dalam hatinya itu Kania langsung memeluk lengan Alam dan menempelkan kepalanya di sana selama beberapa detik.


"Makasih Kakak udah mau membalas cintaku" Kania menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Harusnya Kakak yang berterimakasih karena cinta mu yang tulus itu mampu membuat Kakak menyadari perasaan Kakak hang sesungguhnya" Alam mengusap rambut Kania dengan lembut.


"Tapi kan Kakak udah tau kebenarannya, apa Kakak nggak mau balik lagi ke kantor??"


"Enggak, justru Kakak malah mengambil keputusan yang tepat. Karena kalau Kakak di sana pasti Farel tidak akan membiarkan kita tenang. Yah meskipun kamu masih kerja di sana dan bisa saja Farel tiba-tiba menemui kamu" Tiba-tiba Alam mengubah ekspresi wajahnya.


"Kak, aku nggak akan pernah macam-macam kok. Yang aku cintai cuma kamu, tidak ada yang lain" Ucap Kania tau persis apa yang Alam takutkan.


"Jika kelak Allah sudah memberikan amanah pada kita. Kamu mau kan Dek, di rumah saja menjaga anak kita. Merawat Kakak dan anak-anak kita kelak??" Obrolan manis mereka di dalam mobil itu sungguh terasa menghangat bagi Kania.


"Tentu saja, apapun untuk kalian" Jawab Kania yang tidak bisa menahan haru lagi. Air matanya merembes keluar.


Alam kembali meraih tangan Kania dan memberikan kecupan mesra pada punggung tangan putih itu.


Mobil Alam telah memasuki halaman rumahnya. Memarkirkan mobil tempat ditempatnya pun sudah. Tapi saat Kania ingin keluar terlebih dahulu Alam mencegahnya.


"Kenapa Kak??" Tanya Kania heran.


"Biar Kakak saja" Alam keluar dari mobil, memutarnya hingga tiba di samping Kania.


"Ayo turun tuan putri" Alam mengulurkan tangannya, menuntun Kania seolah turun dari kereta kencana.

__ADS_1


Kania tampak bingung dengan aksi romantis yang di lakukan suaminya itu.


Alam terus menggenggam tangan Kania tanpa mau melepasnya. Hingga sampai di depan pintu rumahnya yang terkunci pun, Alam masih enggan melepas tangan Kania.


"Kak??" Kania menatap Alam, memeluknya dengan erat setelah Alam membuka pintu rumahnya.


Kejutan yang kemarin harusnya Kania siapkan untuk Alam kini justru menjadi kejutan untuk Kania.


Terlihat bunga-bunga yang sudah di ganti dengan yang lebih segar, serta tulisan KANIA LOVE ALAM itu kini sudah berbeda. Karena Alam telah menambahkan dua kata di bawahnya menjadi KANIA LOVE ALAM LOVE KANIA.


"Kamu suka??" Kania mengangguk dalam pelukan Alam.


"Iya, suka sama kejutan yang aku buat sendiri" Kekeh Kania.


Kania berjalan masuk mendahului Alam. Menikmati indahnya ruangan penuh bunga itu. Benar kan katanya, jika seseorang yang dicintainya menyiapkan semua ini pasti akan sangat bahagia. Berbeda dengan Farel waktu itu yang membuat Kania merasa risih.


Alam melingkarkan tangannya di pinggang Kania daro belakang. Menghirup udara sebanyak-banyaknya dari ceruk leher Kania.


"Kamu wangi Dek, Kakak suka" Bisik Alam yang menjadikan bahu Kania sebagai penopang dagunya.


"Jadi kalau aku nggak wangi Kakak nggak suka??" Goda Kania.


Alam menggeleng kemudian kembali mengendus leher dan bahu Kania.


"Kamu selalu wangi Dek, jadi nggak ada saat kamu nggak wangi. Buktinya kamu kan belum mandi dari pagi tapi tetap wangi"


Bluss...


Kania merasa malu karena memang dia tidak ingin mandi di rumah sakit sebelum dia pulang tadi. Kania ingin berendam di rumah dengan air hangat pasti akan menyegarkan badannya. Tapi justru Alam membuatnya merasa malu.


"Aaaa... mau apa Kak??" Kania terkejut karena Alam menggendongnya tanpa aba-aba.


"Memandikan mu"

__ADS_1


Kania pasrah dengan apa yang suaminya lakukan, dia tidak akan menolak karen menolak suami itu dosa. Kania hanya mengalungkan tangannya di leher Alam dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah di dada berotot milik suaminya itu.


__ADS_2