Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
68


__ADS_3

"Sudah Kakak bilang kan, mereka pasti menyerbu rumah ini di jam yang masih enak buat kita tidur" Bisik Alam pada Kania yang duduk di sebelahnya.


Dan saat ini Bunda dan Mama Yesi sudah berada di hadapan mereka berdua. Saling mengungkapkan kebahagiaan mereka karena sama-sama akan mendapatkan cucu pertamanya.


"Pelan-pelan nanti mereka dengar, nggak enak tauk!!" Gantian Kania yang berbisik.


"Kalian kenapa bisik-bisik begitu??" Curiga Mama Yesi.


"Nggak pa__"


"Kania masih mau minta peluk katanya Ma" Sambar Alam begitu saja yang membuat Kania melotot ke arahnya.


"Ohhh wajar kalau itu. Namanya hamil muda pasti selalu pingin di manja suami. Iya kan jeng??" Bunda mencari pembenaran dari Mama Yesi.


"Iya betul sekali, apalagi masih pengantin baru kaya kalian ini. Wah lagi hangat-hangatnya ya jeng??" Kini Yesi yang mulai mengeluarkan pengalamannya di waktu muda dulu.


"Enggakkkk Bun, Ma. Kak Alam ini yang sukanya ngawur" Kania sudah terlanjur malu dengan kelakukan suaminya itu.


"Nggak papa Dek, kamu nggak usah malu kaya gitu dong" Alam justru semakin menggoda istrinya. Menurutnya melihat Kania yang gugup seperti itu tampak sangat menggemaskan.


"Bunda Kak Dania mana?? Kok nggak kesini, ini kan hari libur??"


Alam tersenyum jahil karena tau Kania mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku di sini" Bukan Bunda tapi suara dari pemiliknya langsung yang baru memasuki rumah Kania itu.


Dania datang bersama Ardan di sampingnya. Dan yang paling membuat semua yang ada di sana tersenyum senang adalah, tangan Dania yang saling bertautan dengan Ardan.


"Waahhh jadi kalian udah nggak malu-malu lagi seperti waktu itu??" Goda Bunda.


"Kalian cocok" Celetuk Kania dengan mengedipkan satu matanya untuk Dania.


Dania hanya tersipu malu mendengar godaan-godaan untuknya itu.


"Doakan yang terbaik untuk kita ya Bunda dan semuanya" Ucap Ardan.

__ADS_1


"Pasti bro, gue tau lo banget. Dan ini pertama kalinya gue lihat lo sebahagia ini" Ucap Alam tak lepas memandang Ardan yang selalu menarik sudut bibirnya ke atas.


"Ayo duduk dulu, nggak enak dong ngobrol sambil berdiri" Ucap Kania.


Ardan tidak mau melepaskan tangan Dania sama sekali walau Dania sudah memelototinya. Akhirnya Dania hanya pasrah duduk dengan tangannya yang masih di genggam oleh Ardan. Sungguh mereka.berdua itu seperti anak muda yang baru mengenal cinta, padahal umur mereka sudah hampir menginjak kepala tiga.


Pagi itu terasa sangat hangat karena mereka semua bahagia atas kehamilan Kania itu. Apalagi di tambah Ardan yang akan melamar Dania secara resmi minggu depan.


***


Berbeda dengan Alam dan Kania yang sedang di liputi kebahagiaan. Farel saat ini justru sedang meratapi nasibnya sendiri. Malam ini di sebuah bar, dia sudah duduk di sana selama lebih dari dua jam dangan puluhan gelas minuman beralkohol yang telah di minumnya.


Dia tidak tau lagi harus kembali kemana, mengeluh kepada siapa. Mengadu pada Papanya juga tidak mungkin karena sudah beberapa hari yang lalu dia tidak pulang ke rumah.


Akibat keterpurukannya itu Farel berlahan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Bertemu dengan orang-orang baru setiap hari di bar itu membuatnya terkontaminasi oleh hal-hal negatif.


Rokok, alkohol dan wanita sudah menjadi temannya sehari-hari sejak Alam mengancamnya waktu itu. Rasa putus asanya kepada cintanya membuat Farel mencari pelampiasan.


Seperti saat ini, dia berada di sana karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa Papanya telah menemukan anak kandungnya. Yang secara otomatis akan menjadi pewaris utama semua harta Jonatan.


Dia semakin berambisi untuk merebut harta itu setelah tau siapa orang itu. Hingga akhirnya kemarin malam Farel menemui Dania secara langsung.


Farel kembali meneguk minuman di dalam gelasnya sebelum dia menyadari jika orang-orang di sekitarnya berlarian ke sana kemari.


"Razia, razia!! Cepat pergi dari sini!!" Teriak orang-orang di dalam sana sambil mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Farel yang masih mendapatkan kesadarannya tapi kepalanya sudah terasa berat itu berjalan dengan sempoyongan. Mencoba berjalan mencari pintu keluar.


Tubuhnya yang sudah tak seimbang itu membuatnya sudah untuk mencapai pintu yang tidak jauh darinya.


Tapi karena desak-desakan di pintu itu membuat Farel tersungkur ke lantai. Bahkan kakinya sempat terinjak beberapa orang yang sedang panik menyelamatkan dirinya sendiri.


"Jangan bergerak!! Angkat tangan kalian!!" Terlambat sudah, petugas sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan yang masih memutar musik dengan keras itu.


"Tetap pada posisi kalian jangan ada yang bergerak satupun!!" Ucap alah satu petugas dengan pistolnya yang sudah siap di tangan.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu di periksa satu per satu. Tentu saja yang di cari petugas itu adalah obat-obatan terlarang yang masih marak beredar di tempat seperti itu.


Farel pun tak luput dari pemeriksaan petugas. Badannya yang lemas dan terkapar di lantai tak menghalangi petugas itu untuk menggeledah seluruh baju yang di kenakan Farel.


"Ndan!!" Panggil salah satu anak buah kepada komandannya.


"Apa yang kau temukan??" Pria berbadan tinggi tegap itu mendekati Farel.


"Ini Ndan" Anak buahnya menyerahkan hasil temuan yang di temuannya dari dompet Farel.


"Bawa dia dan hubungi keluarganya"


"Siap Ndan"


Farel tampak mulai terlelap, dia tau apa yang sedang terjadi. Tapi dia sama sekali tidak mampu mengelak, bahkan menggerakkan tangannya saja tidak bisa karena terlalu lemas.


-


PLAKKK...


Farel yang baru saja membuka matanya merasa sangat terkejut dengan sebuah tamparan pada pipi kirinya. Bahkan melihat sekitarnya saja belum tapi seseorang sudah berhasil mengayunkan tangannya kepadanya.


"Siapa kau berani-beraninya men__. Papa??" Farel yang akan mengumpat tiba-tiba saja menghentikan niatnya karena ternyata Jonatan ada di hadapannya.


"Iya baru sadar kau anak tidak tau diri!!" Jonatan yang sudah tidak muda lagi itu tampak melebarkan matanya saat mengatakan itu.


"Apa maksud Papa?? Kenapa Papa mengatakan seperti itu padaku??" Farel berdiri menatap nyalang kepada Jonataan.


"Buang tatapan mu itu yang tidak sopan itu dan lihatlah sekitarmu. Kau dimana dan sedang apa kau di sini!!" Geram Jonatan.


Berlahan Farel menuruti apa yang Jonatan perintahkan. Bola matanya bergerak ke samping untuk melihat keadaan di sana.


Perdebatannya bersama Jonatan itu ternyata menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Mereka berdua ternyata berada di ruang pemeriksaan kantor polisi. Dan di sama terdapat beberapa polisi dan juga banyak orang yang duduk dengan kedua tangannya terikat di belakang.


"Berani sekali kamu mencicipi barang haram seperti itu!! Sekarang terserah padamu. Papa tidak akan pernah membantumu keluar dari sini!! Selesaikan sendiri dan jalani masa hukuman mu sampai kau bebas dengan sendirinya!!"

__ADS_1


Jonatan pergi meninggalkan Farel dengan kemarahannya. Dia sudah tidak mau lagi menyelesaikan masalah yang di buat oleh anak angkatnya itu. Bukan karena tak sayang karena sudah bertemu putri kandungnya. Tapi agar Farel menyadari kesalahannya sendiri.


Farel hanya menatap kepergian Jonathan dengan nanar. Penyesalan tinggallah penyesalan, Farel tertunduk dengan pilu. Dia kini benar-benar sendiri tampa siapapun yang berada di sampingnya.


__ADS_2