Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
36


__ADS_3

"Gimana?? Udah berhasil belum deketin Pak Alam??"


Kania yang duduk di dalam toilet sontak menajamkan pendengarannya. Sedari tadi dia memang mendengar banyak omongan di luar sana tentang masalah pekerjaan, rumah tangga dan lainnya.


Kania tetap acuh tak peduli, karena memang semua orang pasti punya masalahnya sendiri.


Tapi ketika nama suaminya di sebut, Kania mulai tertarik.


Dia sempat berpikir jika Alam yang mereka sebut adalah Alam yang lain. Mungkin saja ada banyak nama Alam di kantornya.


Tapi kalimat kedua yang keluar membuat Kania yakin jika yang menjadi topik pembicaraan adalah Alam suaminya.


"Berhasil gimana?? Manusia es kaya gitu sulit banget di dekati. Gue yang seorang asisten sekretaris CEO aja nggak bisa menarik perhatian seorang top manager kaya dia"


"Ha ha ha... Kasian banget sih lo Jes"


"Jes?? Asisten sekretaris??" Tanya Kania dalam hati.


Kani langsung paham siapa wanita itu. Siapa yang tak mengenal dia, seorang wanita cantik dan seksi. Idola para pria di kantornya.


"Jadi Jesy suka sama Kak Alam??" Gumam Kania tanpa suara.


Kania masih berdiam diri di dalam bilik meski kegiatannya menguras perut sudah selesai. Ia ingin mendengar lebih jauh apa yang Jesy dan temannya katakan.


"Kalian tenang aja, gue bakalan buktikan kalau pesona gue nggak bisa di tampik" Ucap Jesy dengan yakin.


"Halah, palingan dia juga nggak mau sama lo. Gue rasa lo bukan tipe dia deh. Buktinya dia nggak pernah melirik lo sekalipun" Ucap wanita yang lain.


"Nggak mungkin, siapa coba yang nggak suka sama gue. Gue yakin dia cuma gengsi aja" Kekeh Jesy dengan keyakinannya.


"Nggak usah banyak omong, lo buktikan saja!! Udah yuk, udah habis nih jam istirahatnya"


Setelah itu Kania mendengar beberapa langkah meninggalkan toilet.


Kania akhirnya bisa keluar dari sana tanpa ada orang lagi di depan cermin besar itu.


"Jadi tipe wanita Kak Alam seperti apa, sampai seorang Jesy aja nggak bisa mendekatinya" Tanya Kania dalam hati sambil melihat penampilannya di kaca besar itu.


"Kalau kaya Kak Dania ngga mungkin, buktinya dia nikah sama aku. Kalau kaya aku, nggak mungkin lagi karena dia pernah bilang nggak suka wanita manja dan kekanakan"


"Tau deh pusing, ngapain juga mikirin kaya gitu. Buang-buang waktu aja"


Kania menggerutu dengan kesal di toilet yang sepi itu.


-


-


-


Nyatanya Kania salah, niatnya untuk tidak peduli dengan Jesy yang menyukai Alam, justru mereka berdua selalu muncul di otaknya.


Berbagai pertanyaan pun ingin sekali di tanyakan Kania pada Alam.


"Apa benar dia nggak tertarik sama Jesy?? Dia kan cantik, pintar, seksi, mana mungkin?? Ya kan??"


Kania terus berbicara dengan hatinya sendiri, sampai pekerjaannya terabaikan sejak makan siang tadi.


"Bu, sekretaris Pak Jonatan minta laporan keuangan minggu ini. Katanya Bu Kania yang suruh antar langsung ke sana"


Ucap Sisi setelah menerima telepon dari orang yang Kania tak tau bagian apa.


"Hah, oh iya. Abis ini saya ke sana" Kania yang hanya melamun dari tadi sempat dibuat kaget.


"Sekretaris?? Ih males deh, pasti di sana lihat si Jesy itu" Batin Kania dengan wajah yang di tekuk.


Meski tidak mau tapi akhirnya Kania tiba juga di lantai tempat ruangan CEO itu. Dengan langkah berat dan malas Kania menyeret kakinya ke ruangan sekretaris itu.

__ADS_1


Dari kejauhan Kania sudah bisa melihat seseorang yang paling malas dijumpainya, yaitu Jesy. Kania bisa langsung mengenali perempuan itu hanya dari warna rambutnya yang di cat coklat kemerahan dengan bajunya yang mini.


"Mau ya pergi sama aku??" Kania samar-samar mendengar obrolan Jesy bersama seseorang yang sedang membelakangi Kania.


"Maaf saya tidak bisa" Tolak suara berat itu.


Kania tau betul siapa pemilik suara itu. Namun Kania semakin mendekat dengan rasa penasaran dan hati yang bergemuruh.


"Loh memangnya kenapa?? Kamu datangnya sendiri kan?? Jadi nggak ada salahnya dong Pak Alam?"


Jesy masih saja membujuk Alam. Kania bisa mendengar jelas semua ucapan Jesy itu, meski Kania tidak tau apa yangs sedang mereka bicarakan.


"Saya datang sama is__"


"Permisi!!" Suara Kania sedikit keras karena Jesy terlihat mengabaikan kedatangannya meski wanita itu tadi sempat meliriknya.


"Iya ada apa??" Kesal Jesy kerena Kania mengganggu waktunya bersama Alam.


"Maaf Bu, saya hanya mengantar laporan yang di minta Pak Adam" Ucap Kania dengan senyum ramahnya.


"Oh taruh saja di situ!!" Kania menunjuk sebuah meja dengan dagunya yang lancip.


"Tapi tadi katanya Pak Adam meminta saya yang antar langsung. Apa ada hal lain Bu??" Heran Kania.


"Kalau cuma nganter gini mending suruh Sisi aja" Gerutu Kania dalam hati.


Kania melirik Alam yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis. Tapi Kania langsung membuang mukanya lagi saat Alam malah mengedipkan satu matanya dengan genit.


"Apa sih, pria ini semakin hari semakin menjadi" Batin Kania salah tingkah.


Sementara Alam justru terkekeh pelan melihat reaksi Kania.


"Pak Alam ketawa??" Heran Jesy sampai membuka mulutnya saking tidak percayanya dengan di lihatnya. Alam si manusia es ternyata bisa tertawa.


"Tidak" Jawab Alam kembali ke mode dinginnya.


"Kalau tidak ada lagi saya permisi Bu" Kania ingin segera lenyap dari tempat itu.


"Ini undangan yang di berikan Pak Adam. Tadi titip ke saya makanya kamu di suruh ke sini sendiri"


Kania menerima pemberian Jesy itu, yang ternyata adalah undangan pesta ulang tahun perusahaan untuk hari sabtu malam.


"Oh iya Bu terimakasih. Kalau begitu sasa permisi" Kania sedikit membungkuk lalu pergi meninggalkan Alam dan Jesy.


"Ternyata ini yang mereka omongin?? Jesy mau ngajak Pak Alam??" Batin Kania.


Kania kembali ke ruangannya dengan sedikit kesal. Entah apa yang membuatnya kesal Kania juga tidak tau. Yang jelas ada rasa dongkol di hatinya.


-


-


-


"Dek??"


Panggil Alam pada Kania, dia merasa aneh karena istrinya itu hanya diam dan menatap keluar jendela mobilnya.


"Hemm" Jawab acuh Kania.


"Di panggil suaminya kok kaya gitu" Ucap Alam dengan lembut.


"Apa??" Akhirnya Kania menoleh pada Alam dengan wajah malasnya.


"Kamu kenapa sih sayang?? Kok diem aja dari tadi, kamu ada masalah??" Alam sesekali melihat wajah istrinya sambil fokus pada jalanan di depannya.


"Nggak papa" Lagi-lagi Kania hanya menjawab dengan singkat.

__ADS_1


Alam menghembuskan napasnya berat, dia harus bisa lebih halus menghadapi istrinya itu. Alam tau pasti Kania sedang memikirkan sesuatu jika sudah bersikap seperti itu.


"Oh ya, mengenai pesta besok sabtu. Kamu datang sama Kakak ya??" Alam mengajak Kania membahas hal lain.


"Bukannya mau pergi sama Bu Jesy ya??" Jawab Kania dengan suara pelan.


"Hah siapa bilang??"


"Orang tadi aku dengar kalian ngobrol kok" Lirik Kania dengan tajam karena Alam tidak mengakuinya.


"Dia memang ngajakin tapi Kakak kan nggak mau"


"Mau juga nggak papa, siapa sih yang nolak pergi sama idola kantor itu" Kania mengucapkan kata sindiran itu tanpa melihat Alam.


Alam justru terkekeh mendengar ucapan Kania itu.


"Ngapain ketawa?? Seneng ya mau pergi sama Bu Jesy??" Tajam Kania.


"Kamu cemburu??" Alam masih belum menghilangkan tawa di bibirnya.


"Dih!!" Cebik Kania.


"Cemburu juga nggak papa, Kakak suka kok di cemburuin"


"Nggak ada yang cemburu, mau pergi sama siapa aja terserah"


Alam tidak percaya dengan pernyataan Kania itu. Wajah dan sikapnya menunjukkan kalau dia sedang cemburu.


"Iya deh yang nggak cemburu" Alam semakin menggoda Kania.


"Jadi boleh dong Kakak beneran pergi sama Bu Jesy??"


Lirikan tajam Kania setelah Alam mengucapkan pertanyaan konyolnya itu sudah menjadi jawaban tersendiri untuk Alam, jika memang istrinya itu sedang cemburu.


"Ter-se-rah!!" Kania mengeja kalimat itu dengan bola mata yang mendelik tajam.


Bukannya Alam takut tapi ia justru terus tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Cemburu namun gengsi, tidak seperti dirinya yang blak-blakkan jika tidak menyukai Farel.


"Enggak sayang, Kakak cuma bercanda. Kakak akan pergi sama istri Kakak dong"


"Nggak mau!!" Tolak Kania.


"Loh kenapa?? Kamu masih tetap dengan pendirian kamu untuk menyembunyikan pernikahan ini??"


Kania hanya diam tak mampu menjawab.


"Seandainya Kakak nekat memberi tahu semua orang tentang pernikahan kita gimana??" Tanya Alam dengan serius untuk kali ini.


Kania menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap suaminya itu.


"Ya kita pisah saat itu juga" Ucap Kania spontan tanpa berpikir dulu dengan otaknya.


-


-


-


-


-


Happy reading readers.. Berikan like dan komentar sebanyak-banyaknya untuk karya ini yaa..


Baca juga karya ku yang lain


KEKASIH SAHABATKU

__ADS_1


GADIS MUNAFIK MILIK ELANG


Terimakasih.. Sampai jumpa lagi besok dangan Kania dan Alam😊


__ADS_2