
Di dalam mobil Arin sibuk mengobati tangan Satria yang luka tergores karna jatuh tadi.
Kakak dan sepupu nya memandang ia dengan tatapan yang begitu aneh bagi mereka. Karna yang mereka tahu Arin tidak pernah sekawatir itu pada orang lain apa lagi itu seorang cowok. Tapi dengan satria, sukses membuat dua orang itu merasa cukup aneh.
Arin tak perduli dengan tatapan aneh dari sang kakak juga kakak sepupu nya, ia masih sibuk dengan luka di tangan Satria.
"Jadi lho yang nama nya Satria itu". Kata kakak Arin yang dingin itu mengeluar kan kata kata yang mampu membuat Satria salah tingkah.
Ia pun menganguk, menjawab pertanyaan kakak arin yang terkenal dingin jika berhadapan dengan orang lain.
"Rumah lho di mana". Tanya Raka lagi.
"Kak Raka, nanya sama orang jangan bikin orang nya takut dong sama wajah kakak". Kata arin angkat bicara. Ia tahu kakak nya jarang mau komunikasi sama orang asing yang baru di kenal nya.
Satria mengeluar kan kertas dari dalam tas nya, dan berusaha menulis. Tapi tangan nya masih terasa sakit karna goresan batu jalanan tadi sehingga membuat ia sulit untuk memegang pena nya.
"Udah, apa lho bisa tulis di tangan gue aja, karna lho gak mungkin kan memaksa untuk tulis di buku, tangan lho kan sakit." kata arin.
Satria pun melihat pada kakak nya arin, ia sangat tidak enak hati untuk menjawab ia, karna ia takut pada kakak nya arin, tapi untuk menjawab dengan menulis di buku juga gak kan bisa. Karna goresan luka itu sangat sakit.
Raka menyetujui untuk Satria menulis mengunakan jari nya saja. Ia menganguk kan kepala setelah melihat bahwa kakak nya arin menyetujui itu.
__ADS_1
Arin oun mengulur kan tangan nya, Satria menulis alamat rumah nya di atas telapak tangan arin dengan pelan, supaya arin paham dengan apa yang ia tulis kan.
Ketika tepat apa yang ia tulis, ia menganguk kan kepala nya, itu menanda kan kalau apa yang di kata kan Arin adalah benar.
Ternyata ia tinggal tak jauh dari tempat Arin pertama kali bertemu dengan nya, di situ lah rumah nya.
Yang berarti julia lah yang turun duluan, kemudian baru lah Satria.
Akhir nya mobil pun berhrnti di depan rumah nya julia, arin memberitahu kan pada satria. Yang mereka berhenti ini adalah rumah sepupu nya julia, Satria melihat begutu besar nya rumah julia, dalam hati ia penasaran bagai mana dengan rumah Arin dan Raka. Mungkin kah sama seperti ini, atau bahkan lebih besar lagi. Karna teman teman di sekolah mengata kan bahwa yang terkaya di sekolah adalah Arin.
Mobil pun terys melaju menuju jalan raya yang tak lama kemudian berhenti tak jauh dari komplek perumahan yang sederhana.
Setelah mobil melaju meninggal kan rumah satria, baru lah satria berjalan menuju pintu rumah nya.
Nampak seorang wanit paruh baya sedang menunggu nya di depan pintu rumah.
"Siapa sih satya, yang nganterin kamu tadi nak". Tanya mama nya. Yah panggilan mama nya satya bukan satria.
Satria menjawab mengguna kan bahasa tubuh. Jika di rumah ia komunikasi dengan mama atau orang yang biasa dengan nya, dia hanya mengguna kan bahasa tubuh.
Mama mengerti apa yang ia sampai kan. Tapi mama tiba tiba terfokus pada tangan anak nya yang di perban.
__ADS_1
"Ini tangan mu kenapa nak". Tanya mama cemas.
Dan satria menjawab kalau ia tadi jatuh karna kepeleset kulit pisang di jalan.
"Jangan bohong sana mama satya, gak mungkin anak yang bela diri nya tingkat tinggi bisa jatuh hanya gara gara kulit pisang. Kan gak mungkin sat, jujur aj sama mama". Kata mama nya. Yang nama kan seorang ibu pasti tahu lah jika anak nya berbohong. Mak aku aja tahu tuh kalo aku nya lagi bohong, he... He... He... Lanjut.
Satria pun mengalah pada mama ny, memang ia jatuh karna anak anak usil yang mencoba mengangu nya. Dan ia gak mungkin untuk membalas perlakuan teman nya yang usil dengan kekerasan.
Sebenar nya satria sangat jago bela diri, itu bukan untuk nyakitin teman nya. Kata mama nya gitu. Itu di butuh kan saat kita terjebak dalam bahaya dan gak bisa memikir kan cara lain selain berantem.
Mama pun mengerti dengan apa yang di sampai kan satria pada nya. Memang mama yang mengingin kan kalau ia lebih baik mengalah dari pada cari musuh.
Mama kembali ingat pada seseorang yang mengantar kan satria tadi, ia pun mengoda anak nya.
"Oh ya sat, yang tadi itu gadis cantik siapa sih, kok gak di ajak mampir sih nak". Kata mama.
Satria pun diam saja, mendengar mama muji Arin yang memang gak bisa di sembunyi kan lagi cantik nya.
Dia bilang pada mama nya itu teman sekelas nya, kebetulan dia yang berpas pasan dengan anak anak yang mengangu nya, bukan nya dia gak mau ajak Arin mampir kerumah nya, dia takut kakak nya Arin keberatan untuk mampir.
Mama pun anguk anguk mengetahui penjelasan anak nya itu. Dalam hati mama nya ada sedikit kesedihan yang mendalam di hati mama nya. Andai saja kejadian itu tidak pernah terjadi, anak nya tak kan jadi bisu seperti ini.
__ADS_1