
Sudah empat bulan berlalu, dari kepulangan Raka dari luar negeri. Ujian akhir yang akan di jalani nya telah pun usai. Bahkan kelulusan nya pun telah di umum kan. Perpisahaan antara kelas 12 dan sekolah telah selesai di laksana kan. Anak kelas 11 yang dulu telah berubah. Dengan kenaikan anak kelas 11 yang baru.
Begitulah waktu berlalu, 6 bulan lama nya Arina di luar negeri tanpa tahu kabar nya. Walau pun agus sering bertanya pada mira. Tapi kabar jelas nya tak kan sama dengan kabar yang di bawa burung atau angin.
6 bulan Arin tak ada kabar nya untuk Satria, tapi selama itu juga satria masih tetap seperti dulu. Di tak pernah bicara di sekolah, tak pernah bicara dengan teman teman sekelas nya, dan tak pernah bicara dengan guru nya. Dia hanya bicara dengan Agus, itu pun jika mereka berada di kebun tiga sahabat itu. Jika di sekolah tak ada satu kata pun ia keluar kan. Dia hanya bicara dengan dua orang yang ia kenal. Dengan mama nya dan Agus teman nya. Selebih nya ia lebih senang menguna kan tulisan. Pahal kan ia tidak bisu lagi.
Satria juga sering menjaga taman mawar hasil perkawinan silang yang mereka tanam bersama. Sekarang mawar itu telah tumbuh subur bahkan berbunga. Ia terus menjaga mawar itu seperti ia menjaga rasa yang selalu ia simpan untuk gadis kecil yang telah menolong nya malam itu. Walau pun sudah bertahun tahun berlalu, rasa nya untuk si gadis kecil tidak sedikit pun berubah.
Saat ini ia telah berada di kebun milik tiga sahabat itu. Ia duduk di antara bunga bunga di taman yang mereka tanam. Ia duduk sendiri meskin pun datang nya bersama Agus tadi nya. Tidak tahu kemana agus pergi.
"Ariiin,,,, berapa lama lagi kamu akan menjauh dari aku". Kata nya sendiri. Kata nya penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
Dari jauh ia mendengar Agus memangil nya. Agus agak berlari kecil menuju kearah dia yang sedang duduk di taman.
"Sat,,,, satria... " kata agus sambil mendekat.
"Ada apa sih gus," kata Satria.
"Satria,,, Arin pulang hari ini sat, dia pulang hari ini". Kata Agus, terlihat ada kebahagiaan pada kedua orang ini ketika membicara kan nya.
"Gak lah. Mana mungkin gue bercanda masalah ini, mira tadi ngasi tahu gue". Kata Agus.
"benar kah. Apa kah kita bisa menjemput nya dari bandara Agus". Kata satria.
__ADS_1
"Sat,,, kita mungkin bisa menjemput nya. Tapi aku gak yakin kamu akan di izin kan kak Raka menjemput arin. Sebaik nya kamu tunggu saja di sini. Aku yakin arina nanti pasti akan kesini pertama tama yang ia tuju adalah taman nya. Aku tahu arin teman ku itu gimana orang nya. Kamu harus tunggu di sini saja, biar aku yang ikut menjemput nya". Kata Agus pada satria.
Dalam hati nya satria membenar kan apa yang agus kata kan. Kakak nya Arin tak akan mengizin kan adik nya bertemu Satria lagi. Apa lagi setelah 6 bulan ia melihat adik nya begitu tersiksa. Tapi, benar kah yang Agus kata kan, jika tempat pertama yang akan ia tuju adalah taman nya. Bukan kah ia harus istirahat di rumah nya.
Walau berat hati, satria mendengar kan saran nya Agus untuk tetap tinggal di taman. Ia berusaha percaya jika arin akan datang ketaman dan ia akan bertemu secepat nya dengan arin.
Berat hati nya melepas kan Agus menjemput arin sendirian, sedang ia harus menunggu di taman. yang belum pasti apakah arin benar benar akan datang ketaman atau tidak. Ini kan hal yang bel bisa di pasti kan. Tapi, ia berusaha mempercayai agus yang mungkin lebih tahu siapa Arina di banding kan dengan diri nya.
Berjam jam ia menunggu di taman, tapi tidak ada tanda tanda akan datang nya Arin, jangan kan Arin, agus pun tidak ada memberi sedikit pu kabar.
Tapi, satria tetap juga menunggu walau pun ia mulai kecewa dengan apa yang akan ia tunggu ini.
__ADS_1