Cinta Tulus Untuk Lelaki Bisu

Cinta Tulus Untuk Lelaki Bisu
Ketigapuluhempat


__ADS_3

Mira saling berpelukan dengan mama nya, yang lain sibuk dengan khawir mereka masing masing. Satria yang memar memar karna tonjokan dari Raka juga masih di sana. Dia tidak melawan sedikit pun, bagi nya yang paling penting bukan lah sakit yang ia rasa kan. Melain bagai mana keadaan Arin di dalam sana yang sedang berjuang antara hidup dan mati nya.


Tiba tiba, agus datang dengan tergesa gesa. Ia menghampiri satria. Dia baru di kasi tahu kabar ini oleh Mira. Karna kepanikan nya, mira juga melupan kan Agus.


"Ada apa sih Sat, kok bisa jadi gini". Kata nya yang duduk di samping satria.


Diam nya satria, bukan ia tidak bisa bicara lagi. Melain kan ia tidak ingin berkomentar apa pun, bahkan ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari Agus teman nya.


Setelah menunggu lumayan lama di luar, pintu itu pun terbuka. Di balik terbuka nya pintu, ada dua kemungkinana yang akan mereka dengar. Yaitu kabar baik atau kabar buruk.


Mereka pun menghampiri dokter yang baru keluar dari kamar itu. Dokter itu di hujani beberapa pertanyaan yang di keluar kan dari mereka yang penasaran.


"Tenang semua nya, biar kan dokter bicara dulu. Jika kalian terus mendesak untuk tahu, bagai mana dokter bisa mengata kan keadaan bunny ku". Kata papa pada semua nya. Mereka pun diam menunggu dokter bicara.


"Pasien masih dalam keadaan kritis, darah yang ia keluar kan terlalau banyak. Selain itu kemungkinan untuk sadar sangat lah kecil". Kata penjelasan dokter.


Saat mendengar adik nya dalam keadaan kritis, Raka sangat terpukul. Apa lagi dokter mengata kan jika adik nya berkemungkinan untuk sadar hanya sedikit. Bearti adik nya akan koma dalam waktu yang tidak bisa di pasti kan.


Ia bangun dan menghampiri satria.

__ADS_1


"Puas lho sekarang. Puas lho....


Pergi lho dari sini, pergi... " kata Raka mengila karna tahu keadaan adik nya.


Adik nya tersayang adalah aset berharga keluarga nya. Dia lebih memilih kehilangan harta dan menjadi miskin dari pada kehilangan adik nya tersayang.


Papa nya adalah orang yang sangat sabar, tapi berbeda dengan raka. Dia tidak akan diam jika ada apa apa pada adik tersayang nya. Raka akan bertindak tanpa bisa papa cegah. Dia akan menggila melaku kan apa yang ia mahu.


"Raka,,, sudah nak. Jangan tambah masalah lagi. Untuk kamu satria, om harap kamu bisa mengerti dengan keadaan Raka saat ini. Om ingin kamu pergi dulu dari sini. Obati luka kamu, nanti kamu bisa datang kembali kesini". Kata papa Arin sambil terus menenang kan Raka anak nya.


Satria menganguk kan kepala nya, ia mengerti apa yang di kata kan papa arin barusan. Mungkin benar juga, demi kebaikan semua nya, ia harus menjauh dulu dari rumah sakit ini. Karna jika tidak, bukan hanya menjadi penganggu untuk arin, juga akan menjadi penganggu pasien yang lain nya.


Dia pun berdiri dan melangkah pergi, sementara yang lain nya tetap menunggu dokter yang menanagani mengatakan boleh melihat baru mereka boleh masuk.


"Sat, tunggu gue. Gue ingin tahu apa yang sebanar nya terjadi di antara kalian". Kata agus menghenti kan satria.


"Ayo, masuk mobil gue aja. Gue antar lho pulang dulu". Kata nya lagi.


Satria mengikuti agus masuk kemobil, agus pun menhidup kan mesin mobil nya dan melaju menuju rumah satria.

__ADS_1


"Lho bisa kasih tahu gue sat, apa sebenar nya yang terjadi. Kenapa arin bisa sampai kecelakaan." kata Agus pada satria lagi.


Mau tidak mau satria, harus menjelas kan apa yang terjadi di antara Arin dan dia. Bagai mana pun, di tidak mau sahabat nya yang satu ini juga salah paham karna masalah ia dan Arin.


"Sebenar.... " kata kata dia tertahan karna Agus mengerem mobil nya secara mendadak.


"Lho bisa bicara Sat," kata nya kaget.


"Iya,,,, gue udah bisa bicara lagi." kata nya.


"Kok bisa sih". Agus makin penasaran.


Satria pun mencerita kan, apa yang terjadi. Dari arin mengalami kecelakaan karna menolong nya. Hingga ia bisa bicara.


"Harus nya aku yang kecelakaan, bukan Arin Gus." kata nya menangis.


"Arin sangat mencintai mu Sat, tapi kenapa kamu dan dia bisa terjerat masalah seperti ini. Aku yakin kalian pasti dalam keadaan salah paham". Kata Agus.


"Sudah lah, kamu tidak perlu terus terus menyalah kan diri mu. Yang harus kamu laku kan adalah memperbaiki semua nya dan memperbanyak doa agar Arin baik baik saja". Kata Agus yang di sambut anguk kan kepala oleh Satria.

__ADS_1


Walau pun begitu, air mata penyesalan nya terus tumpah di pipi satria, sebenar nya ia sangat tidak ingin pergi dari rumah sakit itu. Tapi karna kak Raka yang makin menggila dan demi kebaik kan bersama ia harus mengalah.


"Satria, kita sudah sampai sekarang, lho gak mau turun ya". Tanya agus, ia melihat satria terus menitik kan air mata. Bahkan saat mobil berhenti pun satria tidak sadar.


__ADS_2