
Sesampai nya di depan rumah, Arin pun turun dari mobil nya. Tapi belum seberapa langkah ia berjalan, kakak nya pun memanggil nama nya.
"Bunny, tunggu dulu. Kakak mau ngomong sama kamu". Kata kakak nya menghenti kan langkah Arin.
"Ada apa sih kak, masalah Satria tadi ya". Kata nya menebak.
"Ia,,, memang masalah dia. Kamu ada hubungan ya sama satria itu, gak baik mainin perasaan orang bunny". Kata kakak nya mengingat kan.
"Apaan sih kak, orang aku dan satria cuman berteman doang kok". Jawab nya.
" lagian nih ya, siapa sih yang mau mainin perasaan anak orang kak, ada ada aja yah". Kata nya lagi.
"Bagus deh kalo gitu, jangan macam macam kamu yah, ntar bilang papa mama baru tahu". Kakak nya mengancam.
"Apaan sih kak Raka ini, bikin sebel tau gak". Kata nya cemberut sambil melangkah pergi meninggal kan kakak nya sendiri.
Sebenar nya ia pun bingung, kenapa ia bisa bersikap sangat berbeda dengan Satria, padahal yang dekat dengan nya bukan cuman dua atau tiga cowok. Bahkan mau satu sekolah berharap dekat dengan nya.
Tapi satria membuat ia merasa nyaman walau hanya bisa komunikasi dengan gerakan tangan atau tulisan.
Ia pun melangkah menuju kamar. Seperti biasa, mama nya pasti lagi di salon atau di butik nya. Orang tua nya memang jarang punya waktu di rumah.
Ia pun pergi kekebun belakang rumah nya, di sana terdapat taman yang indah, yang ia rawat sepenuh hati untuk mengisi kekosongan nya setiap hari jika mama nya gak di rumah.
Dia menanam bermacam macam bunga dan tumbuhan yang bisa menambah indah nya sebuah kebun.
__ADS_1
Dalam hati nya teringat dengan satria, apa kah yang di lakukan satria jika sudah pulang kerumah yah. Oh ya ampun masa aku lupa minta nomer hp nya lagi sih, guman nya sendiri. Eh,,, tapi kan sekarang aku tahu rumah nya, apa pergi kerumah nya aja yah. Kata nya lagi.
Ia pen memangil mbak asisten pribadi nya, untuk meminta pendapat pada mereka.
"Mbak,,, aku lagi suntuk nih," kata nya pada kedua asisten nya itu.
"Kalo lagi suntuk gimana kita coba belanja aja non, pasti enak tuh". Kata salah satu dari mereka.
"Gak enak belanja non, mending kita jalan jalan ketaman aja kan pemandangan nya nyaman non". Kata yang satu lagi.
"Ketaman apa nya, orang sekarang kita juga lagi di taman ini". Kata yang tadi.
"Aduh,,,,, mbak mbak ini. Ngak usah bertengakar deh, gimana kalo kita jalan umah teman aku aja, mungkin nanti dia mau ikut kita belanja, atau makan makan di luar kan." kata Arin menengah kan di antara dua asisten pribadi nya itu.
"Ide bagus itu non". Kedua nya menjawab hampir bersamaan.
Arin pun pergi kekamar nya untuk siap siap dia menyuruh asisten nya memberi tahu supir nya untuk menyiap kan mobil.
Setelah selesai dengan ritual dandan nya, ia pun keluar kamar nya menuju pintu. Di sana kakak nya lagi duduk di sofa ruang tamu.
"Eh.... Mau kemana kamu bunny, kok gak izin dulu mau keluar". Kata kakak nya menghenti kan langkah kaki adik nya.
" mau jalan lah kak, bosen di rumah nih, bukan nya gak mau pamit, kakak kan di sini ya sekalian aja lah pamit nya," kata arin beralasan, sebenar nya ia gak mau kakak nya tahu nanti pasti kakak nya mau ikut.
"Iya udah kakak ikut kamu jalan lah, kakak juga bosen di rumah ini". Kata raka pada adik nya.
__ADS_1
Seperti dugaan arin, kakak nya pasti mau ikut dia jika ia ingin jalan jalan.
"Tapi kak raka gak kekantor memang nya hari ini ha.... " kata nya.
"Gak lah, kalo kekantor kan udah dari tadi juga kale... Pergi nya. Boleh ikut gak nih,,,, ". Kata kakak nya.
"Iya udah, boleh. Tapi jagan rewel ya di jalan nanti". Kata arin.
"Rewel apaan, emang kakak anak kecil apa pakai rewel segala." kakak nya memasang wajah cemberut.
"Udah,,, udah. Ayo berangkat," kata nya sambil melangkah pergi dan kakak nya pun mengikuti nya dari belakang.
Sesampai nya di mobil kedua asisten itu sudah ada di dalam sana.
"Eh,, mbak ikut juga ya bunny" tanya Raka.
"Iya lah kak, kami mau makan dan belanja". Kata nya.
"Ya elah,,, kok gak bilang dari tadi kalo mbak ikut. Kan kakak jadi gak enak cowok sendirian." kata kakak nya.
Yes,,, momen yang sangat pas, kata arin dalam hati, kata kata kakak nya itu sangat di tunggu nya, agar bisa membawa Satria ikut bersama mereka.
"Kalo gitu ajak Satria aja gimana kak, kan rumah nya dekat dari sini". Kata arin pada kakak nya, yang di sambut pelototan mata sang kakak.
"Bilang aja ini memang rencana kamu bunny. gak ah, gak perlu ajak teman kamu yang lain, nanti kamu bisa gangu waktu nya Satria, lagian kita juga punya mas davis untuk ikut, kan." kata Raka pada adik nya.
__ADS_1
Mau tidak mau, arin pun ikut apa yang kakak nya kata kan. Dalam hati nya membenar kan apa yang kakak nya kata kan. Karna ia gak tahu apa satria akan mau ikut atau tidak, jika satria gak mau ikut dia, maka ia akan jadi malu sendiri di depan kakam nya dan asisten pribadi nya itu.