Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
11| Jay dan Wanner


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


...Panti Asuhan Amare, Raitle....


Hari ini, Lail mengunjungi Panti Asuhan Amare yang berada dalam naungan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan Lail akan tinggal selama sepekan di sana sebagai sukarelawan.


Para pengurus panti telah berkenalan dan tahu identitas Lail jadi mereka begitu segan pada Lail ditambah ternyata Lail begitu ramah dan baik sementara Lail saat ini tengah berada di ruangan kecil yang akan menjadi kamarnya.


Lail tidak mengajak Naika meskj gadis itu bersikeras ikut dan untungnya Lail memberi Naika tugas untuk menjadi informan selama dia tidak ada di mansion, memberitahu apa saja yang terjadi saat ia tidak ada di sana.


"Mau melihat anak-anak, Lady?"


Maina, pengurus utama panti berusia 57 tahun ini datang dan mengajak Lail untuk melihat anak-anak yang diselamatkan dari perbudakan. Lail mengangguk dan mengekori Maina menuju sebuah ruang lapang di mana banyak anak-anak di sana.


Ketika masuk, sekitar 25 anak di bawah umur baik lelaki dan perempuan tampak meringkuk secara berkelompok pada setiap sudut ruangan. Pakaian mereka lusuh, koyak di banyak bagian selain itu tubuh mereka kotor sekali.


Lail meringis, hatinya serasa diremas melihat anak-anak ini menatap penuh ketakutan ke arah Maina dan dirinya. Dalam ruangan itu bukan hanya ada anak-anak saja melainkan petugas panti lain yang bersikeras membujuk mereka untuk membersihkan diri.


Ekor mata Maina bergerak ke arah Lail, mendapati tatapan penuh kesedihan itu Maina mengembuskan napas maklum. Ini mungkin pertama kali bagi Lail terlalu menunjukkan rasa empati sementara Maina sudah terbiasa.


"Ini belum ada sebagian. Beberapa dari budak yang diselamatkan oleh ayah anda telah pindahkan ke beberapa pusat perlindungan lainnya. Anak-anak yang disini adalah mereka yang berumur di bawah 16 tahun," jelas Maina.


"Beberapa dari mereka adalah korban pelecehan seksual maka dari itu kami kesulitan menghadapinya karena mereka masih diliputi ketakutan dan trauma."


Lail sudah tak mampu membendung air matanya dan ketika air mata itu luruh, Maina tersenyum tipis dan menepuk lembut punggung Lail. "Aku yakin anda bisa membawa perubahan besar bagi anak-anak ini."


...***...


Esok harinya, Jay datang membawa banyak keranjang berisi anggur dalam kereta kuda lalu berhenti di halaman Panti Amare sambil menyapa para pengurus panti.


Wanita muda sekaligus pengurus panti memekik tertahan melihat bagaimana ramahnya Jay menyambut uluran tangan mereka sedangkan Lail yang melihat kerumunan di halaman mulai tertarik untuk bergabung.


"Lail!"


Jay melambai lalu berlari kecil ke arah Lail. Ketika mengantar Lail pulang kala itu, keduanya memutuskan untuk berbicara santai tanpa embel-embel Lady atau sir selama tidak berada dalam acara resmi.


"Jay?"


Jay menggaruk tengkuk kemudian melirik para pria panti mulai mengangkut keranjang anggur dari kereta. "Aku membawa sedikit buah untuk anak-anak dan pengurus panti."

__ADS_1


"Ah, begitu."


"Em ... Sebenarnya aku datang bukan hanya untuk itu, tapi sekalian melihatmu. Aku diberitahu Tirsia bahwa kau menjadi sukarelawan disini."


Lail tersenyum paksa, hah, Tirsia memang handal mendapatkan informasi padahal Lail tidak pernah bilang pada Tirsia maupun Gaia.


"Tirsia dan Gaia akan mengunjungimu lain waktu, saat ini mereka sibuk menghadiri undangan pesta teh."


Kini Jay dan Lail jalan beriringan pada jalan setapak di halaman panti yang dipenuhi tanaman hias, terlihat juga beberapa anak bermain di sana.


"Apa kau mengalami banyak kesulitan selama disini?" tanya Jay.


"Tidak. Lebih dari itu, kenapa kau selalu menatapku seperti itu." Lail berhenti, menghadap Jay dan mengunci tatapan pria itu.


Jantung Jay berdegup lebih cepat, padahal Lail empat tahun lebih muda darinya, tapi pembawaan yang dewasa Lail membuatnya nyaris gila selama beberapa hari terakhir ini.


"Karena aku terpikat denganmu. Lebih tepatnya sepertinya aku menyukaimu." Daun telinga Jay merah sepenuhnya setelah berkata demikian sedangkan Lail bergeming.


"Lail?"


Lail tersadar lalu menatap Jay skeptis. "Kau yakin? Tapi kita baru beberapa kali bertemu, bagaimana bisa seperti itu?"


Lail cukup terkejut karena di novel tidak ada hal penting yang membahas Jay. Yah, Lail harus menyadarkan diri ketika mengingat bahwa ia telah mengubah alur. Seharusnya saat ini Lail masih terus tersakiti oleh Wanner dan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Aiksa, tapi sejak pertunangan itu dibatalkan maka alur telah keluar dari jalur novel lagi pula ini adalah kehidupan kedua yang diberikan padanya.


"Hah, kau gila, ya?"


Lail dan Jay terkejut ketika Wanner tiba-tiba menyahut di belakang mereka. Pria itu datang ke panti setelah tahu Lail menjadi sukarelawan ditambah Wanner ingin membicarakan banyak hal karena Lail tidak membalas satupun surat yang dia kirimkan.


"Wanner?"


"Ya. Ini aku Lail." Wanner kemudian membawa Lail ke sisinya namun, Jay mencekal tangan Lail dengan sigap sehingga Lail tidak sepenuhnya berada dalam genggaman Wanner.


"Ya ampun." Kini kedua tangan Lail masing-masing dicekal oleh dua pemuda ini, para pengurus panti yang menonton dari kejauhan hanya tertawa kecil sambil beroh-ria melihat Lail diperebutkan.


"Aku harus bicara denganmu, Lail," kata Wanner.


Lail mendengus lalu meminta Jay melepaskan tangannya dan memberi ruang agar Wanner dan dirinya bica berbicara secara pribadi.


Dengan berat hati Jay menjauh dan berdiri sambil menganati Wanner dan Lail berbicara di bawah pohon. Selama pembicaraan, Wanner begitu mengebu-gebu sementara Lail begitu jengah meladeni Wanner yang menanyakan apa hubungan Jay dengannya, kenapa dia tidak pernah membalas surat juga mengapa terus terlibat bersama Jay.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan Aiksa, jadi kumohon kembalilah padaku. Sungguh, aku menyesali banyak hal, Lail."


Wanner menangkup kedua tangan Lail, tatapannya begitu nelangsa ketika memohon namun, Lail tidak goyah sama sekali karena baginya Wanner adalah pria asing sebab memang Lail tidak memiliki hubungan apapun dengan Wanner karena dia bukan Lail yang sama.


"Aku sudah tidak mencintamu jadi jangan mengharapkan apapun lagi dariku." Lail menyentak tangan Wanner lalu pergi dari sana.


Dari kejauhan, sudut bibir Jay tertarik ketika melihat bahu Wanner menyusut sesaat Lail meninggalkannya.


"Benar-benar menyedihkan," komentar Jay.


...***...


Dua hari kemudian.


Satu orang baru datang sebagai pengurus panti karena salah satu pengurus sebelumnya tiba-tiba harus pulang kampung dengan alasan ibunya sakit parah. Di sisi lain, anak-anak jauh lebih baik dari hari pertama, mereka sudah mulai makan dengan lahap dan mengajak pengurus panti berbicara.


Kemajuan ini tentu membuat Lail bangga apalagi ketika anak-anak panti mulai bergantung padanya, rasanya Lail agak enggan kembali dalam waktu dekat sementara waktunya tinggal tiga hari di sana.


"Anak-anak, saatnya makan malam!" seru Maina lalu beberapa pengurus panti mulai meletakkan sarapan pada meja panjang. Tak lama, anak-anak mulai mengisi kursi dan menyantap makanan mereka.


Maina berdiri di sisi Lail sambil menyaksikan anak-anak makan.


"Rasanya lega, bukan?" Maina menatap Lail.


"Benar, Bibi. Rasanya hati begitu sejuk melihat mereka kian membaik."


"Kami sangat senang jika nanti kau kembali lagi kemari untuk melihat anak-anak atau pun kami," ungkap Maina.


Hati Lail mendesir mendengar perkataan Maina. Jika saja Lail bersikap lebih baik mungkin hidupnya tidak berakhir tragis justru ia akan merasakan banyak hal kecil yang membuatnya bahagia.


"Ukh!"


"Argh!"


"S-sakit!"


"Au!"


Lail, Maina dan pengurus panti sontak melotot melihat anak-anak jtuh dari kursi sambil muntah dan memegang perut dan leher.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ... ...


__ADS_2