Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
50| Bertemu


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Keresahan tergantung jelas di wajah Nilyar, wanita yang tengah hamil tersebut berpikir bahwa Gaiden akan mengajaknya jalan bersama untuk melihat-lihat Asylam, justru ia ditinggalkan begitu saja.


"Sebenarnya pergi kemana Grand Duke? Padahal hari sudah siang begini." Nilyar menggerutu.


Nilyar hendak kembali ke kamar untuk beristirahat, namun ketika Zavir dan Rakaz terlihat dari jendela kamar, Nilyar berseru memanggil namun, tidak didengar.


Nilyar buru-buru menyusul kedua pemuda tersebut berharap bisa menghabiskan waktu seperti dulu, dimana ketiga kakaknya akan selalu menghibur jika dirinya tengah bersedih, memanjakan seolah dirinya masih anak kecil.


Napas Nilyar memburu. Sambil menyeka keringat di pelipis, Nilyar mendapati Rakaz serta Zavir memasuki paviliun dekat kediaman ratu, kalau Nilyar tidak salah ingat, pagi tadi Asye juga berkunjung kesana. Penasaran dengan apa yang sebenarnya membuat orang tertarik kesana, Nilyar memutuskan mengikuti secara diam-diam.


Nilyar bersembunyi dari balik satu pilar ke pilar lain pada lorong hingga membawanya pada bilik yang merupakan ruang teh.


"Eh ... "


Pandangan Nilyar mendadak kosong saat mengintip ke dalam, mendapati wanita yang sangat dikenalnya tengah diajak berbincang oleh kedua kakaknya, seolah begitu dekat. Nilyar merasa tempat tersebut bukanlah miliki wanita berambut blonde tersebut melainkan miliknya. Sambil menciptakan dentuman keras pada pintu ruang teh, Nilyar menunjukkan emosi bercampur keterkejutan, dadanya naik turun seirama embusan napas kasar melawan udara di sekitar.


"Nilyar ..." Lail menoleh ke arah pengacau yang menimbulkan suara bising.


Lail cukup terkejut namun, ia tidak terlalu panik mengingat bahwa ini semua akan terjadi jadi Lail memang sudah siap menghadapi situasi ini.


"Apa-apaan ini, Kak!" Nilyar berseru sambil mendekat.


Zavir dan Rakaz terkejut hingga berdiri, saling pandang untuk memberi penjelasan namun, sesaat kedua pria itu mengembuskan napas, Nilyar paham bahwa tidak akan mendapat penjelasan apapun malah sekarang, Rakaz meminta dirinya keluar sebentar karena Lail bisa tertekan jika Nilyar terus berseru, menciptakan keributan.


Nilyar menyentak tangan Rakaz pada bahunya lantas berlari ke arah Lail, hendak menjenggut rambut Lail namun, Zavir memasang badan lebih dulu, menangkap tangan Nilyar.


"Apa yang mau kau lakukan padanya? Memang kau tidak puas sudah menghancurkan hidupnya? Sama seperti ibumu ... Kau sungguh tidak tahu malu."


Sepasang mata Nilyar terbelalak, tak menyangka bahwa Zavir mengatakan hal itu.


"Kalian lebih memilih wanita itu daripada adik kalian sendiri?" Nilyar beringsut, mulai terisak seraya menyentuh perutnya yang sedikit lebih besar dari Lail.


Lail menyembunyikan senyum di balik punggung tangan, namun ekspresi matanya menunjukkan kesedihan. "Aku akan pergi, lagi pula sejak awal aku sudah menolak tinggal disini."


Zavir dan Rakaz mendadak mengalihkan atensi pada Lail, mengabaikan Nilyar. Kini kedua pangeran tersebut mengerubungi Lail, membiarkan Nilyar jauh di belakang mereka.


"Apa yang kau katakan?" Rakaz seakan tidak terima.


"Nilyar lah yang harus pergi bukan kau. Lagi pula, rumah Nilyar bukan disini lagi melainkan Hendrixine. Jika Nilyar berhasil mendapatkan suamimu maka kau berhasil mendapatkan kami." Zavir berujar telak, membuat harapan Nilyar runtuh.


Posisinya sebagai adik terasa digantikan oleh Lail. Walau Rakaz masih menyimpan sedikit pengertian di balik tatapan itu, Nilyar bisa lihat bahwa kekecewaan Rakaz padanya lebih mendominasi.

__ADS_1


Nilyar menyeka air mata lantas segera pergi dari sana. Dia harus kembali ke Valazad sekarang karena jika Gaiden sampai tahu Lail ada di istana maka semuanya akan menjadi milik Lail. Tidak! Memikirkannya saja membuat Nilyar akan jadi gila


Nilyar sampai di kamar, mulai mengemas barang-barangnya namun, saat hampir menuntaskan pekerjaannya, Gaiden kembali.


"Ada apa?" Gaiden bertanya, keheranan melihat jejak air mata di wajah istrinya.


"Aku ingin kembali ke Valazad." Nilyar menghadap Gaiden


"Kenapa?"


Lidah Nilyar terasa kelu, sulit untuk mengatakan juga mencari alasan sedangkan Gaiden memiliki kecurigaan terhadap Nilyar tentang apa yang tengah dicarinya.


"Aku baru saja bertemu Kak Zavir untuk minta maaf atas perbuatanmu malam itu, tapi dia justru memarahiku. Jadi, aku mau pulang."


"Kalau begitu biar aku menemui Pangeran Zavir." Gaiden berbalik arah.


Nilyar berlari, memeluk erat lengan kekar Gaiden dengan ekspresi panik.


"Tidak! Tolong jangan menyinggung kakakku lagi!"


Gaiden menatap Nilyar lekat, sepasang mata amber tersebut menyipit penuh selidik.


"Aku tidak akan menyinggung kakakmu. Aku memiliki sedikit pertanyaan untuknya setelah itu kita akan kembali ke Valazad."


Nilyar duduk di tepi ranjang sambil memeluk diri sendiri, mencemaskan segala hal yang akan terjadi.


"Bagaimana jika Grand Duke bertemu Lail?"


"Apa dia akan meninggalkanku?"


"Jika benar, aku harus kemana? Kakak bahkan tidak mau melihatku lagi?"


"Lalu anak ini ... Harus kuapakan dia?"


Nilyar meremas rambut sambil menunduk sangat rendah, menangis lagi. Sementara di sisi lain, Gaiden mencari Zavir sejak tadi tapi, berakhir bertemu Rakaz.


"Grand Duke?" Rakaz angkat sebelah alis.


"Maaf, Pangeran. Tapi, apa anda melihat Pangeran Zavir? Saya ingin bertemu dengannya."


Rakaz agak tersentak, baru saja dia berpisah dari Zavir yang membawa Lail pergi keluar istana. Rakaz dan Zavir memikirkan kemungkinan terburuk setelah kejadian tadi yakni mungkin Nilyar akan mengatakan pada Gaiden bahwa Lail ada di sini, jadi Zavir memutuskan membawa Lail keluar istana.


"Dia pergi ke perbatasan, ada beberapa hal yang perlu diurus di sana."

__ADS_1


"Kapan Pangeran Zavir akan kembali?"


"Hm ... Mungkin empat hari lagi."


Gaiden mengusap wajah kasar lalu membungkuk sambil mengucapkan terima kasih, setelahnya pamit undur diri.


Sedangkan, di Asla telatnya di kedai cukup terkenal. Zavir memesan ruang pribadi untuk menikmati beberapa makanan dan tentunya sebelum itu, Zavir meminta pada pelayan untuk memberi menu terbaik yang aman untuk wanita hamil.


"Kalian mencemaskanku jika bertemu Gaiden, ya." Lail berujar di sela-sela makan, senyum terselip di bibirnya.


Zavir diam. Sejujurnya ketimbang mencemaskan Lail, Zavir lebih mencemaskan dirinya karena Zavir masih ragu apakah Lail sudah melupakan Gaiden, Zavur takut jika Lail goyah dan memilih Gaiden lagi. Sekarang, Zavir memperhatikan Lail yang melanjutkan makan.


Lail tidak memberi jeda lama untuk memasukkan makanan dalam mulut, melihat bagaimana lahapnya Lail makan, membuat Zavir menelan ludah.


"Tunggu!"


Zavir menahan pergerakan tangan Lail yang hendak memasukkan sesendok makanan lagi ke dalam mulut.


"Ada apa?"


"Itu ... Boleh aku mencobanya?" pinta Zavir sambil memanyunkan bibir pada sendok.


Lail angguk kepala lantas meraih sendok baru namun, Zavir justru melahap makanan di sendoknya.


"Sangat lezat, pantas saja kau begitu lahap memakannya." Zavir angguk kepala dan mulai menikmati makanannya.


Lail diam, mengamati sendok dan Zavir secara bergantian. Padahal itu bekasnya, kenapa Zavir bertindak sangat ceroboh?


"Apa kau memang suka memakan sesuatu dari bekas orang lain?" Lail bertanya.


Zavir mengerutkan dahi lalu sadar dengan apa yang dilakukannya. "Maaf! Aku benar-benar tidak memperhatikannya. Kau bisa ganti sendok yang baru."


Lail diam, padahal dia yang harusnya minta maaf karena berpikir membuat seorang pangeran memakan sesuatu dari sendok bekas makannya, tapi sudahlah. Lail kembali menikmati makanan menggunakan sendok baru.


"Jangan memikirkan banyak hal, Lail. Fokuslah membesarkan anakmu nanti. Bahkan setelah anak itu lahir, aku harap kau tetap ada di istana, aku ingin menjaga anakmu juga." Zavir berkata secara mendadak membuat Lail nyaris tersedak.


Lail angkat kepala, menatap pria berkulit pucat tersebut dengan kerutan jelas di dahi tapi yang ditatap duduk dengan tegap, wajahnya sangat serius.


"Aku tidak bercanda. Lagi pula, akan sulit mencari pekerjaan di saat anakmu masih bayi. Kau membutuhkan bantuan untuk menjaganya. Jadi ... " telinga Zavir jadi cukup merah sebelum melanjutkan perkataan, "Aku ingin menjadi seseorang yang cukup berguna untukmu."


Kerutan di dahi Lail hilang, terganti raut wajah teduh yang membuat Zavir tertegun.


"Kalau begitu, mohon bantuannya." Lail tersenyum tulus.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2