
...SELAMAT MEMBACA...
Lail mengatupkan bibir, jantung berdegup lebih cepat dan keringat membanjiri pelipis dan leher jenjangnya ketika Wanner terus mendekat sambil membawa belati dalam genggaman.
Ini pertama kali dalam hidup bagi Lail harus berhadapan dengan seseorang yang membawa belati dan hendak membunuhnya. Jika pun di dunia sebelumnya, hal ini begitu mudah dicegah oleh pengawal pribadi anggota keluarga kerajaan.
"Ah!"
Lail meringis saat Wanner mengayunkan belati, menyerempet sedikit lengan kanan hingga timbul sayatan tipis namun, berhasil mengeluarkan darah.
"Kau hebat sekali!" puji Wanner dan terus mengayunkan belati tanpa ampun pada Lail.
Lail terengah-engah dan sudah terpojok pada sudut kamar, Wanner tergelak karena Lail sudah tidak bisa kabur.
Wanner mendekati Lail mengarahkan belati pada leher jenjang Lail yang dipaksa mendongkak.
"Baji**an!" maki Lail ketika Wanner merobek lengan gaunnya secara brutal.
Wanner menempelkan bibir pada daun telinga Lail seraya berbisik. "Ini tidak akan lama, Lail. Setidaknya jadilah milikku sepenuhnya sebelum kematian menjemputmu."
"Ukh!" Lail merintih, bilah tajam belati menggores sedikit demi sedikit kulit lehernya sementara Wanner berusaha merobek bagian lain pada gaun Lail.
Argh!
Raungan Wanner bergema bersamaan tangan Lail di balik punggung keluar dan menenggelamkan tusuk sanggul rambut pada perutnya.
"Rasakan itu!"
Lail menendang ulu hati Wanner dan menyingkir dari sudut, tapi sekali lagi Wanner berhasil menangkapnya. Menindih Lail di lantai sambil mengangkat tinggi-tinggi belati tepat di atas dada kiri Lail.
"Kau pikir ini bisa membunuhku? Kau terlalu percaya diri," desis Wanner sembari mencabut paksa tusukan itu pada perut, melemparnya ke sembarang arah.
Lail berusaha meraup oksigen dan melepaskan cengkeraman Wanner pada batang lehernya. Sementara Wanner yang telah gelap mata sudah tak mampu menahan diri dan hendak membenamkan belatinya tepat dimana jantung Lail berada.
Dor!
Satu ledakan terdengar bersamaan belati dalam genggaman Wanner terjatuh. Lail langsung menghindar agar belati itu tidak mengenainya.
"Argh! Sialan! Sialan! Siapa lagi bajin**an yang menghalangiku!"
Wanner meraung kesetanan sambil memegang lengannya, berguling-guling kesakitan karena satu buah peluru bersarang pada lengannya.
__ADS_1
Si penembak berjalan mendekati Wanner setelah menaruh senjata api dalam wadah yang menggantung di ikat pinggangnya. Si penembak berjongkok lalu meraih kerah pakaian Wanner, melayangkan pukulan berkali-kali di wajah Wanner tanpa ampun dan henti. Kilatan di mata si penembak semakin membesar karena sangat marah sementara Lail mendekat dengan langkah tertatih-tatih, memeluk tangan kekar dan besar si penembak yang tak lain adalah kekasihnya, Gaiden Zaigwel Laighelton.
"Cukup, Gaiden. Cukup, hentikan, kumohon!"
Gaiden berhenti bersamaan teriakan Lail yang penuh ketakutan memekakan telinga juga mendapati wajah Wanner telah bersimbah darah akibat pukulannya.
"Jangan hentikan aku, Lail. Biar kuhancurkan dia di sini." Mata Gaiden melebar sangking emosinya.
Lail menggeleng berusaha menenangkan Gaiden, memeluk pria itu begitu erat, membiarkan Wanner yang sudah tak sadarkan diri tergeletak begitu saja di hadapan mereka.
"Dia harus merasakan hal yang lebih berat dari kematian, Gaiden. Kumohon, tenangkan dirimu, jangan membuatku semakin takut ... " lirih Lail sesegukan dan Gaiden berusaha menenangkan emosi kemudian membalas dekapan Lail penuh kehangatan.
"Aku sungguh minta maaf," sesal Gaiden.
Sementara itu, tembakan yang Gaiden lancarkan telah mencuri perhatian beberapa orang sehingga mereka telah bergumul di depan rumah. Setelah itu, Gaiden menyelimuti tubuh Lail dengan jubahnya, membopong Lail keluar dan meminta para petugas yang berpatroli malam mengurus Wanner, mengobati luka lalu menahan Wanner sampai Gaiden memberi perintah selanjutnya.
Para petugas patroli malam yang mengenal Gaiden sontak bergegas memanggil kawanan mereka dan mengerjakan perintah sementara Gaiden segera membawa Lail pergi menggunakan kuda.
"Aku tidak mau kembali ke rumah dulu, Gaiden," pinta Lail.
Gaiden berhenti memacu kuda, berhenti di sebuah penginapan lalu masuk ke sana.
"Apakah penginapan ini sudah penuh?" tanya Gaiden pada pemilik penginapan.
"Tidak, bahkan belum ada satu pun orang yang datang," katanya.
Gaiden menyerahkan dua logam mulia lalu berkata, "Aku menyewa penginapan selama beberapa malam, jangan berikan siapapun akses masuk."
Si pria lansia menelan saliva sulit dan mengangguk, jelas sekali pemuda ini bukan orang biasa.
"B-baik, Tuan."
"Kemudian bawakan aku makanan juga kotak obat, sekarang di kamar terbaik yang kau miliki."
Si Lansia langsung berseru memanggil istrinya untuk mengurus permintaan Gaiden sementara ia menuntun Gaiden ke kamar terbaik yang dimaksud.
Sekarang, Gaiden meletakkan Lail begitu penuh kehati-hatian di kasur, menanggalkan jubah lalu terdiam dengan rahang mengeras mendapati bekas cekikan membiru di leher putih susu Lail.
"Gaiden, tidak apa-apa." Lail menyentuh rahang Gaiden yang mengeras, tersenyum kecil demi menenangkan.
"Seharusnya aku datang lebih cepat." Gaiden menangkup kedua tangan Lail, menciumnya lalu menangis perlahan tanpa suara.
__ADS_1
Lail tertegun cukup lama. Gaiden menangis karenanya? Lail yang masih ketakutan kini terlihat senang dan terharu, beruntung sekali Gaiden datang. Sedangkan sebelum semua ini, Gaiden harus mampir ke mansion Anom untuk bertanya pada Naika alamat rumah baru Lail.
Gaiden menyesal berat karena begitu lamban menemukan rumah Lail, namun setelah ketemu, Gaiden malah mendapati Lail nyaris terbunuh oleh mantan tunangan itu.
"Permisi, Tuan ini kotak obat dan makanannya." Wanita Lansia masuk sambil membawa troli dua tingkat. Tingkat atas makanan dan tingkat bawah kotak obat.
"Terima kasih, kalau begitu tolong keluar," ucap Lail sambil tersenyum kecil dan memberi anggukan sopan.
Si wanita lansia keluar dan Gaiden langsung membersihkan dan mengobati luka di lengan Lail. Setelah semuanya selesai, Gaiden hendak menyuapi Lail, tapi wanita itu menolak.
"G-gaiden?" Lail terperangah ketika Gaiden menanggalkan kancing kemeja putih pada tubuh gagahnya, lalu memberikannya pada Lail sambil memunggungi.
"Lepas gaunmu dan ganti dengan itu."
Lail kemudian mengganti gaunnya dengan kemeja, setelah selesai ia memanggil Gaiden agar tidak memunggunginya lagi.
"Sudah."
"Hm, kau jadi semakin kecil," canda Gaiden setelah melihat kemejanya tampak sangat longgar di tubuh Lail sampai-sampai panjangnya mencapai atas lutut wanita itu.
"Bajumu yang terlalu besar," balas Lail.
"Ya, ya, kau benar." Gaiden duduk di sisi lapang tempat tidur di samping Lail kemudian membawa Lail dalam dekapannya.
"Saatnya istirahat dan tidur," ucap Gaiden.
"Tapi aku sudah tertidur sampai petang tadi."
"Kalau begitu, mari bercerita sampai pagi. Bagaimana?" usul Gaiden.
Lail mengangguk. "Ya."
...***...
Setelah pagi datang, Lail akhirnya terlelap karena sepanjang malam mendengarkan beragam cerita dari Gaiden.
Gaiden mengusap kepala Lail kemudian pergi pagi-pagi untuk mengurus berbagai masalah terutama memanggil Naika dan Daval untuk menjaga Lail selama dia pergi.
Gaiden menemui Wanner yamg masih belum sadar kemudian memberitahu Anon tentang apa yang terjadi. Tentu Gaiden akan ikut campur masalah ini lalu memberi hukuman yang berat, tapi sebelum itu Gaiden telah mencabut gelar Wanner sebagai Marquess.
"Hah ... Kenapa dia selalu saja selamat dari bahaya, sih!" Redia bersungut setelah tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"... Jadi harapanku tidak terkabul, ya?" sambungnya lagi.
...BERSAMBUNG ......