Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
43| Hamil?


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Ukh!"


"Kau baik-baik saja?"


Falan bertanya cemas karena Lail terus merintih pelan sambil memegang kepala jadi Falan memilih berisitrahat sebentar di kedai sepi pembeli, menikmati secangkir minuman hangat ditemani menu makan siang.


"Kenapa tidak makan?" tanya Falan.


Lail membiarkan tubuhnya merosot, kepala terbaring lemah di meja sambil mengembuskan napas. "Aku sedang tidak bernafsu makan."


"Ya sudah, biar kuhabiskan."


"Kau cukup rakus, ya."


"Perkerjaan yang berat perlu bahan bakar yang besar!"


Lail tertawa kecil sambil menunggu Falan selesai makan dan mereka lanjut antar surat, tapi Falan justru meminta Lail pulang lebih awal karena kondisinya tak baik. Lail bilang masih bisa, tapi Falan sebagai senior harus bertanggung jawab.


Lail kini berjalan gontai, bukan kembali ke Crelam melainkan rumah barunya, tak jauh dari kantor pos jadi setiap hari Lail bisa berjalan kaki apabila berangkat kerja.


Pandangan Lail mendadak buram, langkah pun agak sempoyongan. Lail berusaha berhenti sejenak karena tak jauh darinya akan ada kereta kuda melintas, tapi tiba-tiba segerombolan anak kecil berlari, menabrak Lail hingga terhuyung ke tengah jalan.


Jatuh bersimpuh di jalanan paving panas, Lail lantas berusaha berdiri, tetapi tungkainya mendadak lunglai sementara beberapa orang di sisi jalan mulai meneriakinya untuk menghindar karena kereta kuda mungkin akan menggilasnya.


"Hah ... Hah ... Bagaimana ini ... Aku tidak bisa menghindar," liril Lail sebelum kesadarannya hilang.


Khiikkk!


Sais menarik kuat tali kendali kuda secara tajam ke sisi kiri dan kanan lantas kuda mengikik panjang nan keras bersamaan kereta terhenti mendadak.


"Jika di dalamnya Pangeran Zavir atau Pangeran Rakaz, dia akan dalam bahaya."


"Mungkin Pangeran akan mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan."


"Bukankah itu buruk? Haruskah kita mengambilnya lebih dulu?"


"Kita terlambat."


Bisikan mulai menguar kala kereta kuda berkulit mewah dan merupakan kereta kuda milik anggota kerajaan terhenti, para pejalan kaki berhenti walau tidak banyak yang memperhatikan, tetap saja kehebohan tercipta.


"Apa yang terjadi?" Hendry bertanya dari dalam kereta, perhentian tadi sukses membuat kepalanya terbentur.


"Ada wanita yang pingsan di jalan anda, Yang Mulia," ucap Sais.


Rakaz yang mengawal Hendry mulai berdecak lalu keluar sambil menendang pintu kereta, kebiasaan buruk Rakaz jika perjalanan tidak berakhir baik.


"Ck, menyebalkan," gerutu Rakaz lalu melihat wanita yang terbaring menyamping dengan wajah tertutup rambut blonde.


"Hei." Rakaz menyenggol kaki Lail dengan ujung sepatu namun tak ada respon. Rakaz berpikir mungkin itu akal-akalan beberapa wanita yang hendak mencuri perhatian namun ketika Rakaz bergerak kebih kasar untuk melihat jelas wanita itu, seketika mata cokelat cerah Rakaz terbelalak.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Rakaz membawa Lail dalam gendongan dan berhenti di depan pintu kereta kuda sambil memperlihatkannya pada Hendry yang masih duduk tenang di dalam.


"Lihat, bukankah dia wanita waktu itu?" Rakaz bertanya serius sementara Hendry sudah tercenung seperti orang bodoh.


"Hei, sadarlah!"


"Bawa dia masuk," titah Hendry.


"Ambil dulu, aku perlu mengurus beberapa hal sebelum kita pergi," kata Rakaz seraya memberikan Lail pada Hendry, kini Lail yang tak sadarkan diri terbaring di sisi Hendry sembari menjadikan paha pria berambut pirang tersebut sebagai bantalan.


"Sudah." Rakaz masuk kembali lalu memberi tanda pada Sais.


"Apa yang kau lakukan di luar sana?"


"Aku bilang dia adalah pelayan istana yang terpisah dari kita. Akan jadi hal buruk jika rumor aneh mulai merebak hanya karena terkaan tak jelas mereka," jelas Rakaz.


Hendry angguk kepala, memandangi Lail dengan tatapan sulit terbaca membuat Rakaz diam beberapa saat.


...***...


...Istana Asylam, Ruang Keluarga...


"Apa kata dokter?" Rakaz bertanya setelah Hendry keluar dari kamar dimana Lail berada.


Zavir juga sudah ada di sana setelah dipanggil Rakaz, kini Hendry duduk di sofa berhadapan dengan kedua saudaranya.


"Dia hamil." Wajah Hendry tampak pucat.


"Beberapa hari lalu aku mendapat surat dari Nilyar, katanya istri pertama Gaiden melakukan cerai sepihak lalu pergi entah kemana alhasil Nilyar sekarang menjadi Grand Duchess Valazad." Hendry menjelaskan dengan pelan.


"Jadi, dia kabur ke Asylam dalam kondisi hamil?" Rakaz tidak habis pikir.


Zavir mengerutkan dahi. "Kau yakin? Bagaimana jika ternyata tidak."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, bagaimana jika ternyata dia ingin balas dendam karena Nilyar merebut suaminya lalu datang kemari untuk menghabisi kita?" tuding Zavir.


"Pemikiranmu sangat luas, ya." Rakaz bertepuk tangan sementara Hendry mengerutkan dahi.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan jika dia sadar?" tanya Rakaz.


"Kita harus bertanggung jawab." Hendry angkat kepala, kalimatnya terdengar sangat tegas.


"Hah? Bertanggung jawab? Kenapa kita harus melaku—" perkataan Zavir terhenti menginggat pengakuan Nilyar tentang menjebak Gaiden.


Zavir lantas mengusap wajah kasar. "Bertanggung jawab bagaimana? Kau mau diantara kita menikahinya?"


Hendry geleng kepala. "Tidak. Aku punya ide yang lebih baik dari itu."


"Katakan." Rakaz dan Zavir jadi antusias.

__ADS_1


Sementara itu, ketika waktu terus bergulir dan hari telah memasuki petang, Lail mendadak panik mendapati dirinya di kamar mewah, buru-buru keluar dari kamar untuk mencari jalan keluar, Lail justru berakhir di ruang tamu, dimana ketiga pemuda yang sejak tadi berunding tampak kelelahan di sofa.


Suasana menjadi aneh, tiga pasang mata beragam warna tersebut menghujam di satu titik yakni dirinya. Lail hendak beringsut mundur untuk keluar dan menuntuk pintu namun, Zavir lebih dulu menariknya ke dalam dan menutup pintu.


Dada Lail naik turun, perasaannya sudah tak enak namun tetap bersikap berani agar dirinya tak dipandang remeh.


"Siapa kalian? Lalu kenapa aku bisa berakhir disini?" tanya Lail.


Hendry tersenyum ramah kemudian menuntun Lali untuk duduk di sofa disusul ketiga pemuda itu duduk di seberangnya.


Setelah ketiganya memperkenalkan diri, Lail langsung berdiri dengan ekspresi berang sembari hendak meninggalkan ruangan namun, perkataan Rakaz menghentikan langkah Lail.


"Padahal kami telah menolongmu karena pingsan di jalan, kalau bukan karena kami pasti kau dan anakmu sudah tidak dalam kondisi baik."


Lail sontak menghadap mereka lagi, pupil mata sedikit bergetar bersamaan pertanyaan yang berhasil membuat ketiga pria tersebut tercenung.


"Anakku? Apa maksudmu?"


"Dokter baru saja memeriksamu dan katanya kau hamil dan perlu istirahat yang banyak," jelas Hendry, hati-hati mendekati Lail karena sepertinya wanita yang bahkan tidak tahu dirinya hamil tersebut akan menangis.


Sekelebat ingatan dimana terakhir kali dirinya dan Gaiden berhubungan membuat Lail hanya diam. Melihat cara berbicara dan tatapan Hendry membuat Lail paham bahwa itu bukan kebohongan.


"Apa kami perlu mengantarmu kembali ke Hendirixine, membawamu pada pria bernama Gaiden itu?" Zavir menyahut tanpa memikirkan perasaan Lail.


Lail mengalihkan atensi cukup keji pada Zavir. "Jaga mulutmu, kau pikir aku akan bertindak sebodoh itu setelah mengambil keputusan besar untuk pergi darinya?"


Lagi. Ketiga pria itu membeku, Zavir tampak lebih kesal karena diintrupsi cukup kasar jadi Zavir menghampiri Lail tapi Rakaz buru-buru menahannya.


"Terima kasih telah menolongku." Lail lantas berjalan menuju pintu, tapi Hendry telah berdiri di depannya.


"Kami akan bertanggung jawab. Jika memang kau tidak mau kembali ke Hendirixine, kami akan membantumu, tinggalah di istana sampai anakmu lahir, kami akan menjagamu dengan baik di sini."


"Kalian menjagaku? Atas dasar apa? Apa karena kalian sudah tahu kalau .... Adik kalian menjebak suamiku agar tidur bersama sampai dia hamil?"


Hendry, Rakaz, dan Zavir tersentak. Nyali mereka seolah menguap di hadapan wanita yang berlagak seperti singa.


"Kau tahu ... Itu?" cicit Hendry.


Lail tertawa pendek. "Kalian sama saja."


"Tarik kembali ucapanmu. Kami tidak sama dengan ular putih itu!" Zavir tampak berang, tidak terima.


Lail mengembuskan napas." Aku tidak peduli, intinya aku tidak perlu pertanggung jawaban kalian."


Zavir sudah geram. Saat Lail telah meraih gagang pintu, Zavir berada di balik punggung, menahan pintu dengan telapak tangannya yang besar. Lail merasa tengkuknya mendadak bergidik apalagi saat menengadah, wajah sangar Zavir telah memayunginya.


"Kami akan bertanggung jawab agar pemikiran bodohmu terhadap kami hilang. Jika kau menolaknya, saat ini juga aku akan mengirim surat ke Gaiden dan memberitahunya bahwa kau ada disini." Zavir menyeringai lantas kembali berujar, "lalu aku akan mengikatmu sekarang dan menyerahkanmu ketika Gaiden telah sampai kemari, bagaimana?"


Lail mendelik lebar, itu bukan gertakan tapi ancaman yang akan berakhir nyata.


"Dasar Pangeran sialan!" raung Lail.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2