Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
44| Lail Pov


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Aku sungguh hamil.


Ada rasa bersalah sekaligus bahagia yang kurasakan, sepertinya aku telah memberi luka pada calon anakku dengan menjauhkannya dari Gaiden.


Aku memikirkan banyak hal, namun hanya memiliki sedikit pilihan. Sekarang aku berada di Paviliun yang berada dalam istana kerajaan, kediaman pribadi yang diberikan oleh ketiga kakak Nilyar.


Pria berkulit pucat dengan rambut hitam dan bermata hazel bernama Zavir Calius telah mengancamku untuk tinggal disini alhasil kemarin aku mendatangi kantor pos hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri.


Falan jelas sangat sedih sementara Baman menyayangkan pilihanku karena katanya aku bekerja cukup baik sebagai pengantar surat pemula. Entah, tanggung jawab seperti apa yang akan ketiga pria itu tunjukkan padaku setelah melakukan semua ini.


Tapi, yang jelas pagi ini pria berambut merah dan bermata cokelat cerah bernama Rakaz sedang mengunjungiku. Katanya dia hendak menghiburku, tapi kenyataannya karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara atau mungkin bosan, dia datang mengoceh di hadapanku, kami berada di ruang minum teh, ruang yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca, mempertontonkan keindahan taman bunga di luar sana.


"Kau tahu, sebenarnya aku bertindak sedikit kasar saat kau pingsan di jalan." Rakaz berujar santai, mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah menggantung di wajahnya


"Aku melakukannya sebab banyak wanita memilih hal berbahaya hanya untuk mencuri perhatian kami. Aku pikir kau salah satunya."


Dia mengebu-ngebu ketika bercerita, kalau tidak salah berdasar informasi yang kudapatkan, Rakaz berumur 24 tahun, dua tahun lebih tua dariku.


"Kami? Apa Zavir juga termasuk?"


"Tentu saja. Walau wajahnya terlihat keji, tapi rupa dan tubuhnya paling dikagumi oleh banyak wanita."


Aku tertawa pelan mendengar perkataan Rakaz tentang Zavir dan ketika tawaku berhenti aku telah mendapati pemuda berambut merah tersebut diam karena bingung.


"Ternyata para wanita itu tidak sayang nyawa, ya," ucapku.


Rakaz yang diam lantas ikut tertawa. "Kau benar. Padahal Zavir sudah berulang kali membuat masalah untuk menakuti para wanita, tapi tetap saja ada beberapa wanita yang justru menggilainya."


Aku mulai terbawa suasana. Entah, kenapa dengan mengatai Zavir rasanya hatiku sedikit senang sampai-sampai waktu tidak terasa dan hari telah siang saja.


"Wah, hebat. Kau benar-benar enak diajak bicara. Kau tahu, aku menghabiskan banyak waktu dengan menutup mulut rapat."


Aku kembali tertawa. Ketimbang kedua pria sebelumnya, Rakaz jauh lebih lunak dan periang walau cukup cerewet.


"Aku harus kembali. Lain kali aku akan datang dan bercerita lagi!"


Rakaz melambai sebagai tanda pamit sedangkan aku mulai meninggalkan ruang teh untuk berjalan-jalan di sekitar istana. Tidak perlu makan siang, aku cukup kenyang menikmati kue kering sambil bercoleteh bersama Rakaz.

__ADS_1


Menyusuri jalan setapak terapit taman tanpa henti, aku sadar telah keluar jalur dan berakhir pada sebuah taman labirin, cukup luas.


Dinding labirin berdinding hijau dengan tinggi mungkin satu setengah meter ini cukup mengerikan, aku tidak mau memasukinya karena penasaran, tapi tiba-tiba salak anjing terdengar di belakang dan aku ketika menoleh, anjing bertubuh bongsor menyerupai serigala tengah berlari tanpa pemilik ke arahku, seolah akan menyapa!


Sial! Aku tidak begitu takut anjing, tapi kalau ditargetkan begini tentu saja aku takut, jadi tanpa banyak pilihan aku langsung memasuki labirin dan benar saja jauh di belakang, anjing itu mengikutiku, mengejarku sambil menyalak tanpa henti.


"Jangan begitu! Aku ini wanita yang sedang hamil!" Aku menjerit kesal karena sudah lelah memutari labirin, sesekali aku nyaris menangis karena menjumpai jalan buntu untung saja ternyata labirin tidak memiliki jalur yang rumit jadi aku bisa memutar keadaan dengan menemukan jalan keluar.


"Pulu! Kau dimana!"


Baru saja hendak keluar dari mulut labirin, aku mendapati Zavir tak jauh dariku memanggil nama yang cukup lucu namun, perhatianku harus kembali teralihkan pada anjing pandai yang masih saja akan menggapaiku.


"Ah!"


Anjing itu hampir meraih ujung rokku dengan mulutnya. Jadi, sambil memejamkan mata, aku melompat ke arah Zavir. Anjing tadi sudah tidak menyalak namun, suaranya seperti terengah-engah dan ketika menoleh ke belakang, aku mendapati anjing tersebut duduk sambil menjulurkan lidah, terlihat patuh.


"Eh, dia diam?" kataku.


"Hei, apa yang kau lakukan?"


Pertanyaan Zavir membuatku sadar. Wajahku mungkin sangat merah sekarang ketika mendapati tanganku melingkar pada leher jenjangnya yang kokoh sementara kakiku melingkar pada pinggulnya.


Aku sangat malu! Sungguh, aku tidak berniat melakukannya kalau bukan karena anjing nakal itu. Aku mulai melonggarkan tangan yang terkalung di lehernya lalu hendak turun, tapi ketika anjing itu kembali menyalak, refleks aku kembali pada posisi awal namun, menempel lebih lekat pada Zavir.


"Anjing! Kumohon singkirkan dulu anjingnya!" raungku.


"Pfft ... Hahahaha! Apa yang kalian lakukan?"


Si rambut merah, Rakaz muncul di belakang Zavir ditemani Hendry sambil tertawa keras seraya menunjukku yang hinggap di tubuh kakaknya sedangkan Hendry terlihat kebingungan. Aku sangat sial.


"Pulu, hentikan." Zavir menggerakkan telunjuk dari atas ke bawah dan aku mengalihkan atensi dari Rakaz sertaHendry pada pria berwajah sangar yang baru memerintah si anjing.


Ah, jadi yang sejak tadi dicarinya adalah anjing ini? Tapi kenapa namanya sangat imut!


"Sekarang turun, dia tidak akan mengganggumu lagi."


Aku percaya, turun dari tubuh Zavir lalu berdiri di sampingnyaa sambil sedikit mencubit lengan pakaiannya.


"Sepertinya Pulu menyukaimu, tidak biasanya dia mengejar seseorang tanpa menggigit dan sepertinya dia sengaja lari tak secepat biasanya," ungkap Rakaz yang telah mendekat bersama Hendry di sisiku.

__ADS_1


Tak secepat biasanya? Hah, aku benar-benar lelah jadi sekarang bersimpuh di permukaan berumput tempatku berpijak, rasanya sangat lelah.


"Sepertinya kau benar, Rakaz," celetuk Hendry.


Harus kuakui itu karena anjing itu kini mendekatiku sembari bersandar pada lenganku sambil menggoyangkan ekor, mata cokelatnya pun tak lepas dariku. Anjing berwajah serigala ini ... Mengerikan seperti pemiliknya!


"Kemari."


Eh? Baru saja aku bicarakan, kini Zavir meraih pergelangan kaki kananku, ternyata akibat berlari tadi kakiku sedikit lecet karena sepatu.


"Jangan salah paham. Aku bertanggung jawab agar Pulu tidak terlalu membawa banyak dosa ketika mati," katanya dan aku hampir tertawa mendengar alasan tersebut tetapi secara serempak tubuhku telah beralih dalam gendongan Zavir.


Hendry dan Rakaz saling pandang lalu terkekeh kecil bersama. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi aku memang lelah untuk kembali ke paviliun yang jaraknya lumayan jauh, istana ini benar-benar luas.


Aku mengamati Zavir, pria bermata hazel indah ini tidak bicara sedikit pun, rahangnya selalu mengeras dan alis menukik tajam, jika dia sedikit melunakkan raut wajah mungkin tidak akan membuat orang bergidik ngeri.


"Guk!"


Anjing itu ... Ah, tidak, tapi Pulu. Pulu kembali menyalak sambil mengekori kami.


"Kukira tadi dia serigala," cicitku.


"Pulu adalah anjing langka, mungkin hasil perkawinan silang antara serigala dan anjing. Aku menemukannya di hutan dan mengadopsinya, Pulu sangat mampu diandalkan untuk tugas khusus seperti berpatroli di perbatasan, aku sering mengajaknya," jawab Zavir.


Aku terdiam sejenak, nada bicaranya tidak seburuk waktu itu, sedikit melunak. Yah, mungkin dia merasa bersalah karena Pulu hampir membuatku celaka.


Kami sampai di paviliun. Pelayan paruh baya bernama Velin yang ditugaskan untuk menjagaku keluar dan Zavir mulai menurunkanku.


"Aku akan mengobatimu," kata Zavir.


Aku melirik Velin, namun dia tidak bicara apapun hanya terlihat cemas ketika mendapati luka di kakiku.


"Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri. Terima kasih telah mengantarku."


Setelahnya aku mengajak Velin masuk, sebelum pintu tertutup rapat, aku lihat Zavir masih berdiri sambil menatapku. Hah, lagi pula itu hanya luka di kaki yang bisa kucapai sendiri jika mandiri diobati lagi pula aku tidak boleh lupa bahwa Zavir adalah seorang pangeran dan aku hanya wanita asing dari Hendrixine yang mereka tampung. Aku tidak mau menciptakan keributan ketika seorang pangeran memasuki paviliun wanita yang baru diterima di istana, hidupku dan anakku bisa dalam masalah nanti.


Tapi satu hal yang aku baru tahu, mereka memang tidak seburuk yang kupikirkan, mungkin terlalu cepat menyimpulkan, setidaknya untuk saat ini.


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2