Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
53| Alasan Lail


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Jika kau memang mencintainya dan memiliki penyesalan besar, penuhilah keinginannya. Setidaknya, berhentilah untuk mendesaknya menerima hal yang menyakitkan. Lail ... Dia sudah cukup lelah menanggung semuanya!" Zavir berkata lantang membuat Lail tercenung menatapnya.


"Jangan ikut campur. Kau hanya orang asing dalam hubungan kami!" cetus Gaiden.


Perkataan Gaiden sukses menyadarkan Zavir, pria itu tercenung beberapa saat namun, pergerakan kasar Lail yang keluar dari dekapan membuat perasaan Zavir seolah berbunga-bunga.


"Kita sudah tidak ada hubungan lagi, Gaiden. Selain itu, Zavir bukanlah orang luar. Selama ini Zavir banyak membantuku, dia sangat berharga bagiku. Bukan hanya Zavir, tapi semua orang yang mendukungku."


Setelah berkata demikian, Lail lantas menarik Zavir keluar namun masih setengah perjalanan, Zavir melepaskan tangan Lail.


"A-ada apa, Zavir?" Lail bertanya, berpikir mungkin perkataannya tadi sedikit menimbulkan pertanyaan besar bagi Zavir, seperti kata berharga tadi.


"Sepertinya aku menjatuhkan lencana bajuku." Zavir beralasan sambil berlari menuju ruang dimana Gaiden masih berada.


"Biar aku tem—"


Perkataan Lail terputus karena Zavir sudah begitu jauh sementara itu, tak lama Zavir memasuki ruangan tadi, Gaiden masih terduduk lemas di lantai.


"Hei."


Gaiden sontak angkat kepala, menatap bingung pada Zavir yang tiba-tiba berdiri di depannya, menjulang seperti pohon besar yang tangguh.


"Apa yang mau kau lakukan? Kau pikir aku akan berhenti mendapatkan Lail kembali padaku?" Gaiden tersenyum sinis.


"Berhenti menganggu Lail. Setelah mengetahui bahwa dia memantapkan diri untuk membuka lembaran baru, aku akan menghancurkanmu jika hendak mengusiknya lagi. Selain itu, aku bisa memicu perang besar antara Hendrixine dan Asylam."


Gaiden tergelak lantas berdiri, mencekam kerah pakaian Zavir. "Kau pikir aku akan percaya gertakanmu? Memicu perang hanya karena wanita adalah kejahatan luar biasa, kau berusaha mengorbankan banyak nyawa hanya untuk satu wanita? Penguasa macam apa kau?"


Zavir diam, tentu itu hanya gertakan. Tapi ... Zavir memiliki satu kartu yang bisa membuat Gaiden tak berkutik.


"Bagaimana jika Kakak dan rakyatku tahu bahwa ternyata kau melecehkan putri kerjaan Asylam dan menutupinya dengan pernikahan beralasan saling menyukai?"


Mendengar penuturan tersebut, jantung Gaiden berdetak lebih cepat serempak mata yang melotot.


"Aku bisa saja melakukannya sesaat tahu kebenaran itu, tapi Nilyar tidak ingin itu terjadi. Namun, perlu kutekankan, walau Nilyar tidak ingin itu terjadi, aku bisa menggunakan alasan tersebut untuk membuat rakyatku sendiri yang memutuskan melaungkan perang. Dan kau tahu, kan, bahwa kekuatan militer Asylam lebih unggul? Maka dari itu, urungkan niatmu untuk membawa Lail."


Setelahnya Zavir langsung berlalu, menyusul Lail yang setia menunggunya sementara Gaiden menahan amarah sampai tubuhnya gemetar.

__ADS_1


"Sudah kau ambil?" tanya Lail.


Zavir angguk kepala sambil menyengir lebar. "Sudah. Jadi, sekarang bagaimana?"


"Menemui Arthurku." Lail menjawan disusul senyum lebar yang membuat Zavir tergugu sesaat.


...***...


Hari-hari di Asylam terjadi seperti biasa, Lail sudah sampai di istana beberapa hari lalu dan sibuk mengurus beberapa dokumen di ruang kerjanya sembari menjaga Arthur yang begitu senang bermain sendiri di ayunan kayu membuat Lail sesekali tertawa kecil.


Tapi, ada beberapa hal yang mengusiknya sejak kembali dari Hendrixine. Pertama, apakah Gaiden akan menyerah. Kedua, apa yang terjadi pada Zavir karena sejak hari itu Zavir tidak ke istana.


"Ada apa dengan wajah sedihmu itu?"


Lail tersentak. Ayse datang lagi, setiap hari.


"Apa terlalu jelas?" Lail menyelipkan senyum kecil sembari fokus lagi menorehkan tinta di beberapa kertas.


"Ya. Oh, ya!" Ayse membawa Arthur dalam gendongannya lalu menghampiri Lail.


"Ada apa?"


Lail diam, kini ia menghentikan pekerjaan dan fokus pada apa yang Ayse bicarakan.


"Katanya, Zavir sedang sibuk mengurus beberapa wanita yang menjadi kandidat sebagai tunangannya."


Mata Lail sontak melebar.


Tunangan?


Seharusnya dia senang karena akhirnya Zavir sibuk mengurus masa depan mengenai pasangan, tapi Lail merasa hatinya terusik, ada perasaan sedih dan ketidakrelaan menyelimuti.


"Ah, begitu. Baguslah, semoga dia mendapat calon yang baik." Lail terlihat sendu ketika kembali menyibukkan diri lagi.


Ayse jadi murung namun, tatapannya jatuh pada Arthur yang begitu tenang dalam gendongannya. "Jika Zavir menikah, maka dia tidak akan sering ke istana. Dia seorang duke yang memimpin salah satu wilayah terbesar di Asylam. Alasannya sering ke istana saat ini adalah keberadaanmu."


Seketika pena dalam genggaman Lail terlepas, bergulir hingga terjatuh dari meja.


"Kau sebenarnya tahu, kan, kalau Zavir menyukaimu?" Asye lantas menatap Lail.

__ADS_1


Lail diam sejenak. Menarik napas dalam sebelum mengumpulkan alasan kenapa dirinya pura-pura tidak tahu hal itu. "Aku tahu. Tapi ... Apa aku pantas untuknya? Pikirkan ini Asye .... "


Lail menggantung kalimat sambil menatap Asye dengan sedih, menujukkan perasaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. "Aku seorang janda, tidak memiliki apapun kecuali Arthur. Zavir begitu bersinar, dia seorang pangeran dan duke dari wilayah besar sementara aku hanyalah wanita asing yang melarikan diri. Bagaimana jika keberadaanku dan Arthur hanya membebaninya? Aku rasa, Zavir bisa mendapatkan wanita yang lebih baik ketimbang diriku."


Asye tidak mampu membalas perkataan Lail. Wajar jika Lail memiliki kecemasan seperti itu, namun kesadaran diri Lail telah melukai dir sendiri. Jika begitu, maka lembaran baru akan sulit digulir.


"Kenapa diam saja di situ?"


Rakaz berbisik tepat di samping daung telinga Zavir. Pria berkulit pucat tersebut sudah ada di sana tak lama Asye masuk namun, ia urungkan niat ketika dirinya sedang dibahas.


Zavir tak terkejut dengan kehadiran Rakaz.


"Aku baru saja datang," ucap Zavir lantas masuk begitu saja membuat Lail dan Asye terkejut.


"Z-zavir?" Lail terbata.


Zavir tersenyum kecil menanggapi keterkejutan Lail, berlagak seolah tidak mendengar apapun. Kini, Zavir mengambil alih Arthur dalam gendongan Asye.


"Aku datang karena merindukan Arthur. Apa aku menganggu waktu kalian?" Zavir bertanya sambil menatap Lail dan Asye secara bergantian.


Lail tak berkata apapun jadi Asye yang menjawab dengan kikuk. "T-tidak. Ah, bagaimana dengan kandidat pertunanganmu?" tanya Asye.


Rakaz menyela, tidak membiarkan Zavir menjawab. "Seperti biasa, dia menolak para wanita bangsawan. Haah ... Aku jadi mencemaskan masa depannya, bagaimana bisa dia memiliki pasangan kalau hatinya sekeras batu."


Zavir tak peduli tentang apa yang Rakaz katakan sementara Lail sedikit tak percaya mendengar penuturan Rakaz.


"Sungguh?" Asye berdiri sambil bertepuk tangan. "Sepertinya Rakaz akan mendahuluimu," sambung Asye.


"Tidak akan kubiarkan." Zavir menyunggingkan senyum tipis.


"Heeh ... Memang kau sudah memiliki calon yang pasti? Asal kau tahu, aku ini sudah memiliki tunangan, kami tinggal menunggu hari pernikahan." Rakaz berkacak pinggang sambil menunjukkan espresi penuh olokan pada Zavir.


"Calonku, ya?" Zavir tampak berpikir lantas mendekati Lail sambil menggendong Arthur yang tampak riang meraih dagunya.


"Bagaimana, Lail? Apakah aku pantas menjadi suamimu sekaligus ayah bagi Arthur?"


"Eh?!" Rakaz dan Asye terperangah sementara Lail merasa napasnya terjebak dikerongkongan.


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2