
...SELAMAT MEMBACA...
Lail mengenakan pakaian potongan untuk pergi ke Flante, ikut serta untuk balapan kuda. Penampilan cukup penting diperhatikan pada acara begini.
Jadi, Lail terlah bersiap dan Gaiden pun demikian. Melihat lekukan tubuh Lail terbentuk jelas melalui kemeja putih dibalut rompi hitam kencang dipadu celana hitam mengilap yang ketat.
"Buka saat acaranya dimulai." Gaiden tiba-tiba memasangkan jubah miliknya pada tubuh Lail.
Lail hendak melepasnya, tapi Gaiden mencegah itu sambil menyentuh sepasang pundak Lail. "Berhenti marah, Lail. Aku tahu tindakanku salah, ke depannya aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Jangan mendiamkanku selama ini, hubungan kita bisa semakin rumit nantinya."
Tak ada senyum terbit di wajah Gaiden. Sejak kemarin, emosinya sudah ditekan sedalam mungkin ditambah Lail terus menyuruhnya tidur di luar. Gaiden tahu bahwa dia salah, tapi dia bersikeras minta maaf namun, kemarahan Lail tidak kunjung padam. Gaiden berpikir tindakan Lail akan semakin salah jika dibiarkan.
Gaiden berpikir, mungkin karena Lail jauh lebih muda darinya sehingga emosi itu tidak terkontrol baik, jadi Gaiden berusaha memakluminya. Tapi ini sudah hampir sepekan dan Lail tidak kunjung berdamai dengannya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti marah, Lail?" tanya Gaiden.
"Suruh Estia datang menemui orang tuaku dan berlutut minta maaf," kata Lail yang sontak membangkitkan emosi Gaiden.
Gaiden menjatuhkan tangannya, menatap Lail begitu dingin lalu tanpa sepatah kata pergi dari sana, masuk ke kereta kuda sambil menunggu Lail masuk.
Lail tercenung cukup lama melihat reaksi Gaiden, tidak seperti biasanya. Lail mengepalkan tangan sembari menggigit bibir bawah, sadar jika dia kelewat batas karena yang salah Estia bukan Gaide.
Kusir menyadari bahwa keduanya telah naik dan segera di antar menuju dermaga setelah itu keduanya menaiki kapal menuju Hedrixine. Tak ada sepatah kata, Gaiden terus menjaga Lail lewat pandangan namun bibirnya terkatup rapat sementara Lail diam seperti biasa.
...***...
...Royal Flante, Kota Flant...
Lail sampai bersama Gaiden di Royal Flante, memasuki ruangan mewah yang hanya diisi oleh keluarga kerajaan.
Sebelum masuk ruangan itu, makanan meeah disuguhkan untuk para tamu selain itu terdapat booth makanan, bar, panggung hiburan serta beberapa fasilitas lainnya demi memanjakan semua tamu yang hadir pada acara tahunan kali ini.
Rosea, ratu Hedrixine sekaligus istri Carl mendekati Lail dan mengatakan sangat kagum dengan parfum yang Lail berikan padanya beberapa hari lalu bersama sebuah surat yang manis. Yah, Lail dan Rosea memiliki banyak kesamaan sehingga Rosea sering mengirimi Lail surat dan Lail cukup senang dengan itu.
Beberapa orang iri melihat keakraban Lail dengan Rosea di lain sisi Gaiden terus diam sambil menikmati secangkir minuman.
" .... Itu akan dimulai dari Kastel Flain untuk mendapatkan bunga dan berakhir di lapangan luas Royal Flante seraya memberi bunga pada seseorang." Rosea menjelaskan tentang balapan kuda pada Lail.
Lail tampak bersemangat, tapi Rosea kembali berujar dan sedikit menimbulkan rasa penasaran besar pada Lail.
" Tahun kemarin, balapan kuda dimenangkan oleh Lady Kyle Frein. Dia berhasil menjadi orang pertama yang sampai di Royal Flante."
__ADS_1
"Lady Kyle Frein?"
Rosea mengangguk. "Dia seorang pasukan khusus di pasukan yang dipimpin oleh Gaiden semasa perang."
Lail berdecak kagum, penasaran seperti apa sosok wanita itu.
"Ah, tamu sudah berdatangan. Kita harus menyambutnya, Lail." Rosea kemudian menuntun Lail keluar dan di sana mata Lail bertubrukan dengan mata hitam milik seoramg wanita berambut merah.
"Sudah lama tidak berjumpa, Grand Duke." Wanita yang tak lain adalah Kyle tersebut menghampiri Gaiden.
Mata Lail tak lepas dari Kyle. Otot tubuh Kyle menunjukkan bahwa dia seorang petarung ditambah luka sayatan di tengah batang hidungnya membuat sosok Kyle menjadi lebih sangat.
"Ya, sudah lama ya, Kyle."
Lail sontak menatap Gaiden yang tersenyum manis sambil berkata begitu santai pada Kyle. Teringat perkataan Rosea, Lail tidak ambil pusing justru turut senang melihat sahabat seperjuangan tersebut tampak sangat akrab.
Tak mau menganggu pertemuan tersebut, Lail langsung memalingkan wajah dan ikut bergabung pada Rosea yang hendak memperkenalkannya pada para tamu.
Ekspresi Gaiden langsung berubah datar melihat Lail bahkan tak berekspresi jengkel melihatnya tiba-tiba begitu akrab dengan wanita lain.
"Apa-apaan ekspresimu, Gaiden?" Kyle bertanya.
"Yah, pokoknya senang meihatmu, Kyle."
Mata Gaiden menghindari Kyle kemudian tertawa canggung. "I ... Itu aku lupa."
"Kau ... " Aura gelap seolah melingkup tatapan Kyle.
Gaiden langsung membawa Kyle pada Lail.
Lail memutar tubuh ketika Gaiden memanggilnya dan saat itu pula Kyle merasa ada bunga berembus kencang menampar tubuh dan penciumannya.
Seorang wanita bertubuh ramping bak boneka dibalut kulit putih semulus porselen, wajah mungil dengan mata bak batu zamrud ditambah rambut blonde mengilap yang sepertinya terasa lembut ketika disentuh.
Kyle sontak mendekati Gaiden, sangat dekat bahkan bibirnya nyari menempel pada daun telinga Gaiden.
"Apa kau mengancamnya untuk menikah denganmu?" tanya Kyle penu kecurigaan.
Gaiden sontak menjauh dan menatap Kyle dengan sengit. "Mulutmu mau kujahit, ya?" Gaiden mendesis, tangannya yang terkepal mencetal jelas urat yang timbul.
Lail tidak tahu apa yang keduanya bicarakan, tapi saat ini beberapa orang mulai memperhatikan mereka dan berbisik.
__ADS_1
"Bukankah Lady Kyle dan Grand Duke Valazad sempat hendak bertunangan?"
"Ya, benar. Tapi tidak ada yang tahu kenapa pertunangannya malah batal."
"Apa karena Grand Duke sudah memiliki wanita yang sekarang menjadi istrinya?"
"Grand Duke dan Lady Kyle sangat serasi. Mereka sangat dekat ya."
"Seharusnya Lady Kyle menjaga jarak demi menjaga perasaan Duchess Valazad."
Mata Lail melebar mendengar ocehan di sekitarnya, lantas menatap kedua orang di hadapannya yang terus berbincang dan terkadang tertawa.
"Dia istriku, Lail Manuella. Dan Lail, ini adalah Lady Kyle Frein, sahabatku." Gaiden memperkenalkan keduanya.
Lail tersenyum menyambut uluran tangan Kyle setelahnya Gaiden tetap berada di sisi Kyle.
"Aku ingin waktumu sebentar, Kyle," pinta Gaiden dan segera menjauh.
Lail meraih tangan Gaiden. "Mau kemana?" tanya Lail.
Gaiden terdiam cukup lama kemudian melepaskan tangan Lail. "Ini bukan urusanmu, Lail. Tetaplah disini bersama Yang Mulia." Gaidn melirik Rosea tak jauh dari posisinya.
Kyle mengerutkan dahi dan melirik Lail dibelakangnya yang semakin jauh karena Gaiden mengajaknya berbincang entah dimana.
Lail menggigit bibir bawahanya. Bagaimana bisa Gaiden begitu dingi padanya. Apa karena perkataannya tadi pagi atau karena ada Kyle disampingnya.
"Sepertinya kalian bertengkar, ya?" tebak Kyle.
Gaiden mengembuskan napas lalu angguk kepala. "Ya."
"Jangan terlalu dingin padanya. Dia sangat sedih tadi. Apa yang terjadi?" tanya Kyle.
Gaiden kemudian menceritakan semuanya, mulai dari pertemuannya dengan Lail hingga permasalahan baru-baru ini.
"Hah .... Gila!" Kyle menyisir rambut ke belakang menggunakan jemari sambil menunjukkan ekspresi tak habis pikir.
"Keponakanmu itu memang bermasalah otaknya. Kau tahu, kemarin Estia berusaha mengomporiku tentang hubunganmu saat ini dan mungkin dia berharap aku mengamuk besar karena kau tidak memberitahuku tentang pernikahanmu dan mungkin mencoba mengadu domba perasaan kalian."
Gaiden menyipitkan mata. "Tapi kau memang berniat mengamuk, kan?"
"A-ah, itu ... Tidak, kok. Soalnya istrimu imut sekali," ucap Kyle sambil tersenyum malu-malu membuat Gaiden bergidik.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ......