
...SELAMAT MEMBACA...
"Ini sangat enak, Grand Duchess!"
Senyum Nilyar merekah setelah meneguk secangkir teh hijau ditemani beberapa kue kering cantik pada piring bermotif bunga.
"Kau lancang sekali, ya." Lail bersedekap tangan sambil melirik pemandangan di luar dinding kaca pada ruang teh, mengamati taman yang disiram binar matahari.
Lail menikmati waktu untuk menikmati secangkir teh seorang diri, tapi tiba-tiba Nilyar bergabung tanpa minta izin, menuang teh lalu menyesap tanpa beban.
"Lancang?" Nilyar mengerjap.
"Aku belum memberimu izin, kan?" Lail menatap Nilyar.
Nilyar langsung menunduk. "Ah, maaf, Grand Duchess. Saya terbiasa melakukannya, kalau Anda tidak lupa, saya adalah Putri dari Kerajaan Asylam."
Lail nyaris menyemburkan tawa namun, sigap menutup mulut membuat Nilyar jadi kesal karena merasa diolok-olok.
"Itu disana, saat ini kau hanya istri kedua Grand Duke Valazad, posisimu ada di bawah kakiku. Jadi, jangan terlalu congkak," tutur Lail.
Wajah Nilyar memerah. "Kenapa Grand Duchess begitu kasar?!"
"Tolong antar dia keluar Naika," perintah Lail pada Naika.
Naika angguk kepala, segera berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. "Silakan, Nyonya."
Ini pertama kali bagi Nilyar diperlakukan buruk oleh orang asing. Di Asylam tidak akan ada satu pun orang berani menyinggungnya karena di belakang terdapat tiga maut yang siap jadi hukuman bagi pengganggunya, tapi ketiga maut itu jauh darinya.
Nilyar bergegas pergi, namun ketika berpapasan dengan Gaiden, air mata Nilyar luruh.
"Apa Duchess begitu membenciku, Grand Duke?" tanya Nilyar, menghadang Gaiden.
"Ada apa denganmu?"
Nilyar mengusap setitik air pada sudut mata. "Duchess bilang, posisiku ada di bawah kakinya dan sekarang aku bukan Putri dari Kerajaan Asylam saat berada disini," adunya.
"Kenapa begitu sedih? Apa yang dibilang Lail memang benar, sebaiknya kembali ke kamar dan jangan mengusik ketenangan istriku." Gaiden lantas berlalu.
"Tapi aku juga istrimu, Grand Duke!" Nilyar berujar lantang.
Gaiden menoleh ke belakang dan Nilyar melakukan hal yang sama.
"Ya, aku tahu. Tapi hanya istri, kau bukan wanita yang kucintai."
Dua orang bermata amber tersebut langsung menjauh satu sama lain, Gaiden tampak tenang namun, Nilyar telah terbakar emosi.
"Boleh aku masuk?"
Pintu di ketuk, Lail mendapati Gaiden di sana lalu angguk kepala. Merasa mendapat sedikit pengampunan, Gaiden duduk di seberang Lail dengan canggung.
"Aku masih ada urusan di luar, jadi nikmatilah waktumu di sini."
Pupus sudah harapan Gaiden untuk berbincang lebih lama, Lail lewat bagai hembusan angin lembut, menerpa kasar perasaannya yang telah memburuk sejak beberapa pekan terakhir.
Tidak ingin lebih menahan diri, Gaiden langsung merengkuh tubuh Lail dari belakang sembari menutup pintu setelah Naika terdorong ke luar
__ADS_1
"Apapun akan kulakukan untuk mendapat pengampunan darimu, Lail. Kumohon ... Jangan mengabaikanku seperti ini."
Lail bisa rasakan tengkuknya basah oleh air mata, walau berusaha mencegah sembari mengemis pengampunan, Gaiden mendekapnya cukup longgar agar dirinya tak tersakiti. Gaiden takut jika terlalu erat memeluk Lail, istrinya akan semakin hancur.
"Luka besar tidak cepat pulih, Gaiden." Lail lantas melepas kedua tangan besar dari tubuhnya, pergi menjauh dari sana.
"Tidak cepat pulih? Lalu, berapa lama aku harus menunggumu memberiku pengampunan, Lail?" lirih Gaiden.
...***...
Memasuki kantor dengan tanda plakat keadilan, Lail menarik napas dalam kemudian mengisi kursi yang berhadapan langsung pada orang yang paham hukum di negeri ini.
Lail menurunkan topi jubah membuat sang Adjuster (penasihat hukum) tercengang.
"Apa yang Grand Duchess lakukan kemari?" bisiknya.
"Menurutmu apa yang orang lakukan jika janji temu denganmu?"
Bibir si adjuster lantas menipis, "Maaf. Jadi, silakan cerita, Grand Duchess."
Lail mulai memberi celah pada bibir, membeberkan sejumlah pertanyaan serta penjelasan yang semakin menggerus rasa kaget si Adjuster.
" ... hal itu bisa anda lakukan, Grand Duchess. Tapi, anda yakin ingin melakukannya?"
Mata Lail agak turun, kesenduan terlukis bersama redupnya semangat. "Aku hanya berjaga-jaga saja. Jika nanti sudah pasti, kumohon bantu aku."
Perasaan iba Adjuster masih mengambang karena rasa takut terhadap Gaiden lebih dulu tenggelam dalam dirinya.
"Kumohon."
Sang Adjuster langsung angguk kepala. "Ya, akan saya usahakan, Grand Duchess." .
...***...
Derap langkah terdengar serentak, beberapa pelayan lari luntang lantung sambil membawa beberapa gulung kain.
Lail mengerutkan dahi melihat hal tersebut sepulang dari kantor adjuster, lantas Lail bertanya pada Sebas tentang apa yang tengah terjadi. Katanya, Nilyar nekad merendam diri hampir seharian karena Gaiden terus mengabaikannya dan itu membahayakan kehamilan sehingga saat ini Gaiden berada di kamar Nilyar.
Lail datang untuk melihat namun, rasa sakit menjalar bagai sulur yang membumikan tubuhnya. Gaiden mendekap erat Nilyar yang kedinginan dalam bungkusan selimut tebal nan besar, Gaiden sangat khawatir sampai-sampai keringat sebesar biji jagung menghias pelipis.
Menyadari kehadiran Lail, Nilyar sedikit menyunggingkan senyum sarkas.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini tanpa memikirkan kandunganmu, Nilyar?" Lail bertanya setelah mendekati keduanya.
Nilyar merasa ketakutan mendengar nada bicara Lail sehingga mempererat diri pada tubuh gagah Gaiden.
"Dia sedang tidak baik, tolong memarahinya nanti saja, Lail," pinta Gaiden.
Rahang Lail mengeras sementara Gaiden langsung abai dan fokus membenarkan selimut pada tubuh Nilyar yang menggigil.
Sebas memutuskan kontak dari sana, tak kuasa melihat kepalan tangan Lail membuat luka pada telapak tangan.
"Grand Duchess, mari kembali dulu." Sebas menyentuh pundak Lail.
Lail langsung pergi dari sana menuju kamar. Cukup lama berpikir keras sambil menyentuh erat pena tinta pada genggaman.
__ADS_1
"Aku sudah menduga bahwa hal seperti ini mungkin akan terjadi, tidak hanya sekali. Wanita itu bahkan rela membahayakan calon anaknya hanya demi mendapatkan Gaiden. Jika terus begini ... " Lail mengembuskan napas berat lantas mulai merukir surat untuk dikirim pada Rosea.
"Tolong kirimkan ini secara diam-diam ke Hendrixine, berikan pada Yang Mulia Ratu."
Lail telah memberi stempel merah panas cair pada penutup amplop putih seraya menyerahkannya pada Daval.
"Baik, Grand Duchess."
...***...
Pagi menyongsong, kicauan burung masih terdengar kala matahari telah di atas kepala, begitu terik, Lail berpikir dirinya akan terbakar jika terus berdiam diri di luar sambil menikmati udara segar.
Lail menyandar lelah pada tubuh pohon berdaun rindang di temani Naika yang sibuk menuangkan teh hitam untuknya.
"Saya tidak melihat Daval sejak kemarin, dimana dia, ya?" Naika bertanya.
Lail mengamati Naika sejenak, mengingat kembali pertemuan pertamanya dimana Naika menangis sambil menyembah pengampunan, membuat Lail tertawa.
"Ada apa, Grand Duchess?" tanya Naika kelabakan.
Lail menyeka air di sudut mata. "Kau tahu banyak tentang cara membuat parfum dan mengelola bisnis saat aku tidak ada, kan, Naika?"
"Ya, itu karena Grand Duchess tak berhenti mengajari saya."
"Kalau begitu, tolong lakukan itu terus, aku ingin kau berhenti jadi pelayanku suatu hari nanti dan lanjutkan bisnis tersebut." Lail memejamkan mata ditemani senyum mengembang kala angin menyapa lembut tubuh, memainkan rambutnya yang tergerai.
"K-kenapa tiba-tiba?" Naika lantas mendekat, raut wajahnya begitu cemas.
"Aku ingin kebebasan, walau semua orang berpikir harusnya aku berdamai dengan kondisi saat ini, menerima kehadiran Nilyar. Tapi, aku bukan wanita berhati lapang, bukan wanita yang dengan mudah bisa membagi perasaan suaminya terhadap orang lain. Aku adalah wanita serakah pada apa yang kumiliki, selain itu ... Aku tidak akan menang dalam pertarungan ini karena aku tidak memiliki hal yang paling didambakan Gaiden kendati demikian, aku selalu berharap bisa memberikan hal lain yang sesuai dengan itu."
"Grand Duchess ..."
Naika memanggil lirih, tetapi kehadiran Nilyar secara serempak mengacaukan suasana. Wanita yang nyaris mati karena menggigil itu telah berdiri tegap ditemani dua pelayan.
" ... Aku turut bersedih." Nilyar memanyunkan bibir sambil geleng-geleng kepala.
Naika langsung berdiri, mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Apa-apaan ekspresi itu, Putri?"
"Jaga nada bicaramu, Pelayan. Aku hanya menyampaikan rasa simpatiku."
Lail berdiri, menarik Naika ke sisinya. "Aku tidak perlu rasa simpatimu."
"Ayo, pergi Naika."
Lail berlalu, jalan di belakang Nilyar namun, wanita berambut perak tersebut berbalik dan kembali berujar, "Walau kau seorang Grand Duchess, tapi pewaris Grand Duke akan lahir lebih dulu dari rahimku. Bagaimana denganmu?"
Kesombongan Nilyar telah menciptakan perubahan arah, Lail kembali berhadapan dengan Nilyar lantas melayangkan satu tamparan keras hingga pelayan mereka tercengang.
"Pandai sekali kau bicara setelah hampir menghilangkan nyawa calon anakmu." Lail berujar sinis.
"Lail, apa yang kau lakukan padanya?!"
Satu tarikan kasar dari belakang pada lengannya membuat Lail sedikit terhuyung. Gaiden muncul lalu menjauhkannya dari Nilyar.
"Dia sedang hamil, bagaimana bisa berbuat sekejam ini, Lail?" Gaiden membantu Nilyar yang nyaris limbung.
__ADS_1
Denyutan nyeri terasa pada lengan yang dicekal kuat Gaiden barusan namun rasa sakit tidak berasal dari sana.
...BERSAMBUNG ......