Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
08| Pria Misterius


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Hah ..."


Lail mengusap wajah kasar melihat surat-surat dari Wanner telah menumpuk sejak dua hari lalu, dimana ketika Jay mengantarnya pulang. Lail telah membuka satu surat dan isinya mempertanyakan apa hubungan Lail dengan Jay.


"Aku benar-benar tidak menduga bahwa ini akan terjadi," keluh Lail kemudian menaruh surat-surat itu ke dalam kotak dan meminta Naika membakarnya.


Sekarang jam delapan pagi dan Lail akan bergegas pergi keluar kota, tepatnya di Gazea, ibu kota Valazad. Lail kesana hanya untuk berwisata karena katanya Gazea memiliki pemandangan dan tempat-tempat memukau.


Tentu Lail tidak berangkat sendiri melainkan bersama Naika. Tadinya Lail juga ingin mengajak Daval tapi pengawal setianya itu terpaksa ambil libur karena adik perempuannya sedang sakit.


Sekarang Lail dan Naika memakai kereta kuda biasa bukan kereta kuda pribadi, mengabiskan waktu sehari penuh sebelum memasuki daerah Gazea. Naika menjinjing dua koper berukuran sedang di belakang Lail yang memasuki kondotel, mendekati resepsionis pada ruang dasar.


"Satu kamar untuk dua orang selama sepekan," kata Lail pada si resepsionis.


Si resepsionis menganggum, mengurus pesan kamar Lail lalu menyebutkan harga setelahnya memberi sebuah kunci kamar.


Kini Lail berada di kamar bersama Naika yang tengah menyusun barang dari dalam koper sementara Lail membuka pintu belakang, mendapati satu meja bundar kaca dengan dua kursi kayu terpatri pada balkon sementara pada sudut pagar balkonnya terdapat tanaman hias dalam pot ukuran sedang. Lail mengembuskan napas lega diikuti senyum tipis. Penerang di perkotaan area perumahan terhampar indah, seperti ada bintang di bawah langit. Rasanya Lail sudah tidak sabar berjalan-jalan untuk melihat seperti apa suasana di Gazea.


"Nona di luar dingin, ayo masuk dan istirahat," perintah Naika sambil menarik Lail masuk.


"Iya, iya, Nyonya," cibir Lail kemudian tertawa renyah membuat Naika ikut tertawa.


...***...


Cahaya kemerah-merahan pada langit mulai terhampar dari timur, pertanda matahari akan terbit namun udara di luar masih terasa dingin nan menusuk kulit, tapi Lail sudah selesai mandi dan tengah mengeringkan rambut blonde panjang agak bergelombangnya menggunakan handuk sementara Naika masih mendengkur dengan liur membasahi bantal.


"Hah, aku jadi kasihan pada bantal kondotel," gumam Lail sambil terkekeh.

__ADS_1


Lail bersenandung kecil kemudian memakai atasan hitam berkancing dipadu rok assymetrical abu-abu pekat sementara rambut blondenya dipasangkan bando terbalut kain peach yang kedua ujung kainnya menjuntai. Kedua ujung kain pada bando itu kemudian disimpulkan pada rambut tersanggulnya, simpulan itu dibentuk seperti pita kupu-kupu.


"Aku cantik sekali!" Lail memuji diri sendiri setelah melihat pantulannya dari cermin dan saat itu matahari telah muncul dan menebar binar.


"Hm, baiklah begini saja." Lail kemudian meletakkan secarik kertas pada nakas lalu keluar dari kamar.


Waktu terus bergulir dan akhirnya Naika bangun dan membaca pesan yang ditinggalkan Lail pada secarik kertas pada nakas.


[Maaf, ya, Naika. Aku keluar lebih dulu karena tidak mau mengusik tidurmu. Kau juga bersenang-senanglah dan gunakan uang yang kutinggalkan sepuasnya! Jangan khawatirkan aku karena aku bisa menjaga diri sendiri.]


Naika mengerjap sambil menoleh ke arah sekantung uang tak jauh dari surat itu kemudian Naika meraung keras karena Lail kabur dari penjagaannya. Walau sudah bilang akan menjaga diri, Naika tetap saja khawatir.


Sementara itu Lail telah memborong beberapa barang dalam dua paper bag namun, sekali lagi matanya menangkap salah satu toko tua menarik yang berada di dekat gang sepi.


Lail segera masuk ke sana, tokonya cukup tua, warna cat dalam ruangan pun pudar, namun bukan itu yang membuat Lail terkejut.


Ada enam orang pemuda berada di dalam sana, mengenakan luaran jubah hitam yang menutupi kepala serta tubuhnya. Salah satu dari mereka memegang sebuah peti kayu yang berisi Indigo Cake.


"Tolong Sir, ini harta berharga saya. Barang ini bukan seludupan, seorang teman dari Baebilo mengirimkannya untuk saya!" mohon pria paruh baya, pemilik toko tua.


"Sir, apakah kalian mencoba merampas barang rakyat miskin?" tanya Lail, ia paling tidak suka melihat penindasan.


Seorang pria menoleh ke arah Lail dengan tatapan dingin kemudian berujar penuh penekanan, " Ini bukan urusanmu, Nona."


"Saat ini Indigo Cake bahkan lebih mahal dari pada emas. Mereka bahkan bisa menukarkan selembar kain biru dengan satu budak. Apakah kalian mencoba mengambilnya dengan alasan penyeludupan?" tanya Lail lagi.


Pria tadi mendekat kemudian mencengkeram kuat pergelangan Lail. Mata amber si pria mengunci tatapan sengit Lail.


"Kenapa wanita sepertimu tahu hal semacam ini? Apakah kau ada hubungannya dengan penyeludupan yang terjadi di Valazad?" tudingnya

__ADS_1


Lail memandang lekat pria di hadapannya. Berita semacam ini tentu saja banyak tertulis di surat kabar.


"Informasinya banyak dimuat dalam surat kabar. Saranku, sebaiknya kau pergi ke armada laut sebab penyeludupan sering kali melalui jalur perairan. Kemudian tolong lepaskan cengkeramanmu," kata Lail sembari melirik cekalan pria itu pada pergelangan tangan kanannya.


Pria itu tersadar kemudian melepaskannya.


"Maaf, sepertinya ku telah salah sangka. Kalian orang-orang pemerintah rupanya," kata Lail setelah matanya tidak sengaja menangkap lencana pada sarung pedang salah satu orang itu yang simbolnya mirip bendera Valazad.


Lail kemudian mundur selangkah, menunduk cepat dan mulai ambil langkah lebar meninggalkan toko.


Pria yang bertanya tadi merunduk untuk melihat telapak tangan bekas mencengkeram tangan Lail.


"Kita akan ke armada laut, sekarang," katanya, tapi tiba-tiba pandangannya jatuh ke arah Lail yang kian menjauh di sana.


"Siap, Grand Duke!" jawab rekan-rekannya bersamaan.


"Aku akan memberimu tugas lain, Simon."


"Apa itu, Grand Duke?"


"Ikuti wanita tadi dan beritahu informasi tentangnya," perintahnya pada kesatria pribadinya yakni Simon.


"Siap, Grand Duke!"


Gaiden Zaigweld Laighelton adalah pria yang dipanggil Grand Duke, pria bertubuh tegap, kokoh, nan tinggi dengan kulit agak cokelat yang eksotis diikuti sepasang mata amber penuh intimidasi ini adalah penguasa Valazad.


Gaiden merupakan adik bungsu dari mendiang Raja II Hedrixine. Hedrixine adalah kerajaan yang membawahi negeri Valazad. Valazad adalah hadiah yang diberikan oleh mendiang Raja II Hedrixine kepada Gaiden karena berkontribusi besar bagi kejayaan-kejayaan yang Hedrixine dapatkan.


Ketika perluasan wilayah, Gaiden memimpin kalaveri di medan perang dan selalu melaungkan kemenangan karena itu sosoknya cukup terkenal dan disegani. Sayangnya, di usia yang nyaris menginjak 30 tahun ini, belum ada satu pun wanita yang menarik perhatian Gaiden sehingga beberapa orang terdekat mengeluhkan Gaiden yang tidak kunjung menikah dan mungkin akan menjadi perjaka tua.

__ADS_1


"Setelah urusanku selesai, kita akan bertemu lagi," gumam Gaiden seraya mengulas senyum samar.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2