Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
38| Pengakuan Nilyar


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Apa? Menikah dengan mesin pembunuh itu?!"


Rakaz Caes, Hendry Catys, dan Zavir Calius bertanya tak senang setelah mendengar pernyataan adik bungsu mereka, Nilyar Asvila.


Ketiga pria tersebut berasal dari ibu yang berbeda, namun satu ayah begitu pula Nilyar.Hendry pertama, Zavir kedua, Rakaz ketiga dan Nilyar terakhir.


Mereka bertiga tahu siapa Gaiden, tidak asing karena nama Gaiden sering disebut oleh mendiang ayahnya sebagai mesin pembunuh di medan perang.


"Baru berapa hari di sana dan kau sudah memiliki permintaan seperti ini? Aku yakin ada yang tidak beres!" Rakaz melipat tangan di depan dada.


"Aku mencintai Gaiden, Kakak! Kumohon, penuhi permintaanku, jika tidak aku bisa melakukan hal buruk demi bersama Gaiden!" Nilyar menunduk dalam, menghindari tatapan nyalang ketiga kakaknya.


Zavir meninggalkan posisi duduk berdekatan Rakaz dan Hendry, menghampiri Nilyar sambil menyibak rambut panjang adik bungsunya.


"Noda apa itu, Nilyar?"


Tanda merah dan keunguan pada leher jenjang Nilyar terlihat, bukan satu melainkan banyak. Nilyar tersentak, buru-buru menutupnya kembali namun Rakaz dan Hendry telah menarik pedang.


"Ayo ke Hedrixine dan bunuh pria itu, Rakaz, Zavir!" seru Hendry.


"Kakak! Tenanglah!" Nilyar berdiri, menyentuh tangan Hendry yang memegang pedang.


"Bagaimana bisa kami tenang setelah melihat itu, Nilyar? Pria itu melecehkanmu, kan, sehingga kau bilang ingin menikahinya. Pasti dia mengancammu, kan?!" Hendry sangat marah.


Nilyar diam sembari menggigit bibir bawah dan mencengkeram rok bervolumenya.


"Aku akan siapkan pasukan," kata Zavir dan hendak meninggalkan ruangan, namun seruan Nilyar membuat mereka tercengang.


"Tidak! Sejujurnya aku menjebak Gaiden di saat dia mabuk dan memanfaatkan momen itu dengan mengaku sebagai istrinya!"


Untuk beberapa detik suasana menjadi aneh namun, sekedip kemudian Rakaz tertawa panjang, pria berambut merah tersebut langsung menyarungkan pedang kembali, mendekati Nilyar untuk mencari kebohongan di mata.


"Dia sudah beristri dan kau melakukan hal sehina itu?" kata Rakaz setelah tahu Nilyar tidak berbohong.


Wajah Nilyar bersemu, malu mengatakan itu pada kakaknya. "Gaiden benar-benar pria yang kuinginkan. Aku tidak mau kembali tanpa membawa apapun."


Zavir melotot, berjalan cepat dan merengkuh erat bahu Nilyar. "Kau benar-benar gila!"


"Iya, aku memang gila! Itu karena kalian selalu membatasi urusanku terhadap para pria jadi aku memanfaatkan ini untuk mendapatkan apa yang sangat kuinginkan."


Zavir langsung mendorong Nilyar hingga kembali terduduk di sofa kemudian menghadap Hendry dan Rakaz.


"Urus saja pernikahannya kemudian lepas kewarganegaraan Asylam darinya, biarkan dia ikut kewarganegaraan pria itu."


"Jadi, kita akan benar-benar ke Hendrixine mengurus pernikahan itu?" Rakaz masih tak terima.

__ADS_1


"Kau saja, aku tidak mau melihatnya lagi." Zavir lantas pergi dari sana disusul Hendry sementara Rakaz diam sejenak sambil menatap Nilyar yang mulai nangis sesegukan.


"Padahal kami sangat menyayangimu, tapi perbuatanmu kali ini benar-benar membuat kami kecewa."


...***...


Keesokan harinya, saat di pertengahan hari, sebuah surat dari Carl mendarat di meja kerja Hendry. Kini ketiga pemuda tersebut menatap intens surat tersebut.


"Siapa yang akan membukanya?" tanya Hendry.


"Tentu saja kau. Kau, kan, Raja Asylam!" cetus Rakaz.


Hendry mengalihkan atensi, menunggu persetujuan Zavir.


"Ya, lakukan."


"Apa isinya?" tanya Rakaz.


Hendry mengembuskan napas sambil memijat pelipis. "Permintaan maaf dari Raja Hendrixine juga pertanyaan tentang pendapat kita mengenai pernikahan. Berdasarkan isi surat sepertinya pihak sana tidak tahu kalau Nilyar melakukan itu."


"Tentu saja. Nilyar itu seperti ular putih, hanya terlihat bagus saja di depan, tapi kenyataannya persis seperti mendiang ibunya." Zavir berdecak.


Hendry mengembuskan napas. Zavir cukup menyayangi Nilyar namun disisi lain membenci Nilyar. Mundur ke masa lalu, ibu Zavir harus mengalami banyak rasa sakit hati sejak kehadiran ibu Nilyar yang berperan sebagai selir kesayangan ayahnya.


"Orang tua kita sudah tidak tersisa, untuk apa bertengkar lagi. Setidaknya dengan begini kita bisa melepaskan Nilyar, biar dia atasi permasalahannya sendiri disana karena itu ulahnya," tutur Hendry.


"Ya, aku akan mengurusnya."


Sementara itu di Kastel Grand Duke Valazad.


Lail tersenyum karena akhirnya Gaiden mau bertemu dengannya.


"Aku minta maaf, Gaiden. Tapi semua sudah selesai, Jay akan menikah dengan Kyle, kesalahpahaman antara kita sudah selesai. Jadi, kumohon maafkan, aku, ya?" Lail meraih tangan besar Gaiden, menaruh di wajahnya.


Gaiden diam, kepalanya tertunduk sangat rendah, seakan ditimpa sesuatu.


"Lail ... Aku sungguh minta maaf ..."


Suara Gaiden terdengar agak gemetar, Lail salah paham dan mengira Gaiden bersalah atas pengabaian yang dilakukan terhadapnya.


"Tidak apa-apa Gaiden, aku seharusnya menyadari sejak awal kalau tindakanku itu sal—"


Perkataan Lail terputus karena Gaiden tiba-tiba angkat kepala sembari mencekal sepasang bahunya, air mata mulai membasahi wajah suaminya.


"Lail aku melakukan kesalahan besar. Karena kesalahan itu, aku harus menikah dengan Putri dari Kerajaan Asylam."


"Apa maksudmu?" Perut Lail terasa tidak enak setelah mendengar itu.

__ADS_1


Gaiden kemudian mulai bercerita dan Lail seolah dihantam benda besar, tatapannya menjadi kosong bahkan sekarang seakan menjadi tuli, hanya memperhatikan gerak mulut Gaiden.


"Jika itu terjadi, perang akan dilaungkan. Kali ini ... Aku sungguh tak bisa mengatasinya."


Lail melepaskan diri dari Gaiden lantas mendaratkan satu tamparan keras hingga wajah Gaiden tertoleh menyamping.


"Aku mau kembali ke Raitle, urus masalah itu," kata Lail lantas pergi dari sana dengan perasaan tak tentu.


Tubuh Gaiden merosot, bersimpuh di lantai dan meredam tangis sementara Lail berusaha menenangkan diri, tapi itu justru membuatnya benar-benar pusing.


"Ada apa, Grand Duchess?" tanya Simon yang sigap meraih tubuh Lail yang nyaris limbung.


"Siapkan kereta kuda. Aku ingin kembali ke Raitle," titah Lail.


"Apa yang terjadi, Grand Duchess?"


"Tanyakan saja pada Grand Duke."


...***...


Wilayah Raitle, Mansion Duke Of Raitle.


Dua pekan telah berlalu, Lail menghabiskan banyak waktu di perpustakaan setelah bercerita pada Anom mengenai apa yang dialaminya.


Anom hendak membantu dengan berbicara dengan Gaiden, namun Lail mencegahnya dan bilang mungkin semua akan baik-baik saja.


Lail tidak ditemani Daval atau Naika karena meminta kedua orang itu menjaga dan mengelola perusahan parfumnya untuk sementara waktu.


"Ternyata dia punya tiga orang kakak, ya, dan semuanya berbeda ibu."


Lail bergumam sambil membaca buku-buku mengenai Asylam. Beberapa hari Lail berusaha mendapatkan sedikit informasi tentang Nilyar dan latar belakang keluarganya, namun hanya itu yang didapat. Sejak pindah ke dunia ini, Lail banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mempelajari mempelajari bahasa Asylam dan lainnya, tapi siapa sangka salah satu kerajaan yang ingin dikunjungi itu justru membawanya dalam masalah.


"Gaiden tentu harus bertanggung jawab karena telah melecehkan wanita itu karena menganggapnya diriku, tapi ... " Lail menutup buku setelah mengingat kembali penjelasan Gaiden kemarin.


" ... Jika ternyata wanita itu benar-benar menjebak Gaiden, aku tidak akan membiarkannya hidup tenang."


Lalu di Istana Asylam.


Nilyar terus mual setiap pagi sepekan terakhir ini selain itu, payudar*nya sedikit sakit. Seharusnya ia telah datang bulan pekan lalu, namun ini sudah terlambat hingga akhirnya Nilyar meminta dokter pribadinya untuk memeriksa.


"Anda hamil, Putri?" Dokter wanita tersebut tercengang setelah memeriksa kondisi Nilyar.


"Aku ... Hamil?" Nilyar tercenung beberapa saat sebelum mengulum senyum amat lebar lalu menyentuh perutnya yang rata.


"Ini anakku dengan Gaiden," gumamnya.


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2