
...SELAMAT MEMBACA...
Kastel Grand Duke Valazad.
Sambil menikmati secangkir ditemani beberapa cemilan, Lail tampak senang karena Kyle dan Jay datang menemuinya.
Keduanya bilang telah memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius. Tampak malu-malu, Kyle mengungkapkan bahwa tidak menyangka Jay akan datang ke kediamannya dan mengatakan hal tersebut sementara itu Kyle juga minta maaf karena mengabaikan surat dari Lail, kendati demikian Kyle begitu berat jika memikirkan berhenti menjadi teman untuk Lail.
"Bagaimana hubunganmu dengan Gaiden?" tanya Kyle.
Tatapan Lail berubah sendu, ditatapnya teh yang tenang dalam cangkir. "Dia terus mengabaikanku."
"Aku akan membicarakannya pada Gaiden, tenang saja." Kyle berujar mantap.
Lail tersenyum tipis. "Terima kasih, Kyle."
...****...
...Istana Hendrixine...
Perayaan kecil di gelar dalam istana, hanya diisi oleh beberapa anggota inti keluarga kerajaan. Perayaan digelar sebagai bentuk perpisahan untuk Nilyar yang akan kembali ke Asylam besok pagi.
Gaiden juga ada disana karena diundang oleh Carl. Sejujurnya, Gaiden sangat merindukan kebersamaan dengan Lail, tapi ternyata Lail masih berdekatan dengan Jay.
Malam ini perayaan benar-benar menyenangkan untuk beberapa orang kecuali Gaiden. Entah sudah berapa gelas minuman alkohol berkadar tinggi telah diteguk hingga kesadarannya perlahan memudar dan Nilyar terus memperhatikan.
"Ah, sepertinya aku harus kembali ke Valazad." Gaiden berdiri agak sempoyongan.
Carl dan Rosea cemas kemudian mendekati Gauden sambil memanggil pelayan pria untuk membawa Gaiden ke kamar.
Setelah itu pesta kembali berlanjut. Mengambil hati keluarga kerajaan ini tidaklah sulit, cukup bersikap baik dan lugu saja, semua menyayanginya. Lagi pula, Nilyar berkunjung kemari hanya untuk menebar perhatian, kegemaran Nilyar adalah mencuri hati orang-orang yang memiliki status tinggi. Jika dia berhasil mendekati keluarga kerajaan sekutu, besar kemungkinan dirinya akan diperlakukan lebih istimewa, berlaku selayaknya anggota keluarga kerajaan di Hendrixine kemudian menerkam satu mangsa besar.
"Aku sudah mengantuk, Yang Mulia." Nilyar tampak menahan rasa kantuk.
__ADS_1
Carl mempersilakan Nilyar beristirahat lebih dulu dan meminta pelayan mengantar, namun Nilyar bilang akan pergi sendiri sekaligus ke kamar mandi sebentar.
Setelah meninggalkan ruangan, langkah Nilyar tidak menuju kamar tamu atau kamar mandi, melainkan ke sisi lorong yang membawanya pada sebuah ruang lain.
Nilyar berdiri di depan pintu besar di hadapannya setelah bertanya pada beberapa orang dimana letak kamar Gaiden.
Perlahan Nilyar memutar kenop pintu, senyumnya mengembang kala pintu tidak dikunci. "Pria yang sedang frustasi memang sangat ceroboh."
Nilyar lantas masuk, mendapati kamar dengan penerangan minim menunjukkan Gaiden yang telentang asal di kasur besar. Nilyar mendekat dan ternyata mata Gaide masih sedikit terbuka.
"M-maaf, Grand Duke. Saya kemari hanya untuk melihat kondisi Anda. Tadi Anda agak mengkhawatirkan," ungkap Nilyar sambil menyelipkan rambut pada celah telinga.
Gaiden diam sejenak kemudian suara beratnyaengalun indah di telinga Nilyar. "Kau, kah, itu, Lail?"
Sepasang mata Nilyar terbelalak. Sekejap diliriknya lampu tidur pada nakas kemudian Nilyar menjauh ke arah pintu, menutup rapat sembari menguncinya setelah itu dalam gerakan cepat, Nilyar telah menyangga tubuh di atas tubuh Gaiden yang tidak berdaya, melepaskan sanggul rambutnya dan membiarkan rambut keperakannya tergerai, sedikit mengusik wajah tampan Gaiden.
"Ya, ini aku, Sayang." Nilyar membelai lembut pipi Gaiden.
Seolah menikmatinya, Gaiden memejamkan mata lantas mengubah posisi, membiar Nilyar di bawahnya. Tanpa membuang waktu lebih, Gaiden menghujam leher Nilyar dengan bibir tebalnya, meninggalkan beberapa tanda disana. Nilyar bergairah, mendesak Gaiden untuk melakukan lebih.
...***...
Keesokan harinya, Carl dan Rosea dibuat syok mengetahui apa yang terjadi antara Gaiden dan Nilyar. Carl segera menutup rapat-rapat kejadian ini agar tidak sampai keluar, hanya ada satu pelayan saja yang tahu dan kini baik Gaiden dan Nilyar telah berada di ruang pribadi Carl dan Rosea.
Sebelumnya, ketika fajar telah tiba, Gaiden terbangun dan nyaris lupa bernapas melihat tubuh telanjang Nilyar berada di sampingnya, tertutup oleh selimut begitu pun dirinya.
Setelah itu, Nilyar terbangun dan mulai terisak, mengatakan dirinya telah dilecehkan oleh Gaiden dan sekarang Gaiden seperti orang yang dunianya akan hancur dalam waktu dekat, memikirkan bagaimana menghadapi Lail.
"Kau harus bertanggung jawab, Gaiden. Nikahi Putri Nilyar," ucap Carl.
"Aku sudah memiliki Lail! Bagaimana bisa menikah lagi, Kak? Selain itu, aku tidak ingat jelas tentang semalam, namun yang pasti dia yang menaiki ranjangku!"
Nilyar tersentak, sambil meremas dada di luar pakaian, Nilyar melakukan pembelaan bersama air mata berurai. "Aku begitu menghormati Grand Duke, bagaimana bisa melakukan hal itu?! Selain itu, aku kemari membawa kehormatan jati diriku sebagai putri Asylam!"
__ADS_1
Gaiden tidak paham, sungguh! Pria itu kini meremas rambut dengan frustasi.
"Maaf, Gaiden, tapi ingatan orang mabuk sulit dipercayai," ucap Carl sedih.
"Kak, sungguh aku ... "
Nilyar menyela. "Tidak apa-apa, jangan diperpanjang. Aku akan kembali ke Kerajaanku hari ini, anggap saja ini tidak pernah terjadi." Nilyar memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan air mata.
"Itu akan memicu perang besar. Jika Kakakmu tahu, perang benar-benar tidak akan terelakkan." Carl membalas cepat.
"Lalu, bagaimana? Grand Duke bahkan tidak mau bertanggung jawab padaku sementara kehormatanku telah direnggut!" Nilyar menutup wajah dan mulai menangis. Rosea tidak berkata apapun, hanya memikirkan nasib Lail ke depannya. Sebagai seorang wanita dan sahabat dekat, Rosea benar-benar memikirkan perasaan Lail.
"Aku bukan tidak mau bertanggung jawab, tapi aku yakin tidak melecehkanmu! Selain itu, apa yang kau lakukan dengan datang ke kamarku?! Aku yakin pergi sendiri ke kamar sebelumnya!" bentak Gaiden, urat lehernya timbul karena sangat emosi.
Rosea dan Carl langsung menatap Nilyar, menunggu jawaban gadis berambut perak tersebut.
"Itu ... Karena saya mengkhawatirkan Grand Duke jadi saya hendak melihat sebentar. Tapi, Grand Duke justru menyebut saya sebagai Lail, menarik paksa saya ke dalam kamar lalu mengunci pintu. Tidak sampai situ, Grand Duke mulai melempar saya di atas ranjangnya, dan melakukan hal tak senonoh bahkan setelah saya bersikeras memberontak, menyadarkan bahwa saya bukan istrinya!"
Telak! Gaiden sudah tidak tahu harus membela diri seperti apa karena memang dalam ingatannya, semalam ia melihat wajah Lail. Carl dan Rosea mengembuskan napas kasar dan menatap tajam pada Gaiden.
"Ini kelalaianmu, Gaiden, tapi tidak sepenuhnya salahmu. Putri Nilyar juga sangat ceroboh, bagaimana bisa mendatangi seorang pria beristri yang mabuk di malam hari karena mencemaskannya? Saya pikir, Putri tidak terlalu memikirkan kehormatan yang dimaksud." Rosea berujar dingin membuat Nilyar harus menahan kekesalannya.
"Dasar, Ratu sialan!" makinya.
"Sekarang Putri bisa kembali dan mengatakannya pada kakak anda, tapi saya minta satu hal," ucap Carl.
"Apa itu?"
"Jangan katakan kebenarannya jika perang tidak ingin terjadi, anda bisa mengatakan bahwa anda sangat menyukai Gaiden atau alasan apapun itu asal tidak memicu emosi kakak anda."
Nilyar berpikir sejenak sambil melirik Gaiden yang menunduk dalam.
"Iya." Nilyar menunduk lemah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .........
Terima kasih telah mendukung cerita ini, walau masih banyak kekurangan, semoga kalian menikmatinya. Walau kita bakal terjun bebas dulu dalam permasalahan Gaiden dan Lail, dadah.