
...SELAMAT MEMBACA...
Lail mengembuskan napas, wajahnya pucat. Sepekan telah berlalu dan selama itu Lail rutin minum teh jahe demi meredakan mual, biasanya mual terjadi saat pagi tapi terkadang terjadi ketika siang dan malam.
"Aku datang!"
Lail tersenyum tipis, seperti kata Rakaz sebelumnya bahwa akan sering berkunjung, pemuda itu benar-benar melakukannya.
"Wah, dari mana mendapatkannya?"
Lail melongo melihat keranjang cokelat dijinjing Rakaz berisi buah beri, di antaranya raspberry, blueberry, strawberi dan blackberyy, terlihat sangat segar dan lezat. Melihat Lail secara jelas menelan ludah, Rakaz tersenyum tipis.
Duduk sambil menyodorkan keranjang tersebut di meja, Rakaz mempersilakan Lail mencoba buah-buah tersebut.
"Katanya ini sangat bagus untuk wanita hamil."
"Terima kasih."
Lagi. Rakaz mengulum senyum melihat Lail berbinar kala mengunyah satu persatu buat tersebut. Tingkah Lail mengingatkannya pada Nilyar, selain umur keduanya sama, sikap mereka hampir sama hanya saja Nilyar penuh tipu muslihat, itu pikir Rakaz.
Di sisi lain, menuju kediaman Zavir. Hendry jalan tergesa-gesa sambil meremas sepucuk surat pada tangan kanan.
"Ada apa?" Zavir bertanya, baru saja kembali dari kamp pelatihan pasukan khusus. Sebuah handuk kecil penuh keringat tergantung pada leher, sambil mengusapkannya di wajah penuh peluh, Zavir menghampiri Hendry dengan tatapan bingung.
"Bisa kau bawa Lail keluar hari ini?" Hendry langsung ke inti.
"Tiba-tiba?"
Hendry mengembuskan napas, pria berusia 29 tahun tersebut menunjukkan surat yang telah kusut di tangannya. "Aku baru ingat bahwa hari ini Nilyar dan Gaiden akan berkunjung."
Mata Zavir terbelalak. "Pasti sebentar lagi mereka sampai!"
Hendry angguk kepala sementara Zavir langsung menyambar jubah hitamnya, tak lupa meraih jubah hitam lainnya lantas berkelebat dari sana, meninggalkan Hendry tanpa sepatah kata lagi.
"Lail!"
Rakaz dan Lail mengalihkan perhatian pada Zavir yang datang tergopoh-gopoh, dada pria itu naik turun serempak langkah tegas mendekati Lail.
"Ada apa?" tanya Lail.
Zavir agak canggung. Sejujurnya Zavir tidak tahu bagaimana memperlakukan wanita apalagi mengajaknya keluar, ini pertama kalinya dan sangat canggung. Butuh beberapa waktu Zavir diam lalu diperhatikan oleh dua manusia di depannya.
"Rakaz, kemari." Zavir menarik lengan Rakaz hingga berdiri di sampingnya.
"Bisakah kau ajak Lail keluar? Hari ini, Nilyar dan pria pria itu akan berkunjung," bisik Zavir.
__ADS_1
"Hah? Tapi, aku ada urusan habis ini."
"Aku akan menggantikanmu."
"Kau yakin? Hari ini aku harus menangkap beberapa pembuat onar yang bersembunyi di rumah bordil, kau yakin mau menyambut para wanita gatal yang mencoba menggerayangimu?" tanya Rakaz.
Sekujur tubuh Zavir seketika meremang, buru-buru menggeleng kuat, Zavir lantas meminta Lail berdiri lalu memasangkan jubah yang dibawa tadi.
"Ada apa ini?" Lail kebingungan menerima perlakuan tersebut.
Zavir makin berkeringat karena tidak tahu dimana akan mengajak Lail pergi.
"Ada pantai yang sangat indah tak jauh dari sini, sepertinya Zavir ingin mengajakmu kesana." Rakaz mengacungkan telunjuk sambil tersenyum lebar, memamerkan rentetan gigi rapi nan bersih.
Sepasang mata Lail lantas bersemangat. "Benarkah?!"
Zavir harus berterima kasih pada Rakaz sepulang dari pantai. "Y-ya."
Lail kini mengekori Zavir menuju kandang kuda, ada seekor kuda hitam gagah dihampiri Zavir. Sambil mengusap kepala hewan tersebut Zavir berkata, "Hari ini kita akan keluar, Pili."
"Pili?" Lail benar-benar dibuat tercengang tentang bagaimana kepribadian Zavir yang berbanding terbalik dengan sampulnya.
Selama tinggal di Istana, walau Zavir dan dirinya tidak terlalu akur, Lail tahu bahwa Zavir adalah pria yang cukup perhatian. Zavir memiliki cara tersendiri dalam memperhatikannya dan seperti perkataan pria bermata hazel itu sebelumnya, bahwa tidak sama seperti Nilyar. Lagi pula, Lail sedikit bersalah karena mengatakan hal itu tanpa mengenal ketiga pemuda tersebut. Selain itu ... Seasaat, perlakuan Zavir pada kuda mengingatkannya pada Gaiden yang begitu menyayangi kudanya yang bernama Marcus.
"Kau selalu memberi nama yang imut untuk hewan-hewan peliharaanmu, ya," celetuk Lail.
"Wah, ini nyaman sekali." Lail memuji sadel yang diduduki.
Zavir mengulas senyum bangga lantas telah duduk di belakang Lail sambil menyentak pelan tali kendali kuda.
"Boleh aku yang mengendalikannya?" pinta Lail.
"Kau bisa berkuda?" Zavir terlihat skeptis.
"Aku ini cukup mahir. Di kehidupan sebelumnya aku sudah banyak memenangkan turnamen balapan kuda, jadi jangan ragu begitu."
"Kehidupan sebelumnya?"
Sadar telah berkata demikian Lail terlihat kikuk. "Maksudku saat di Hendrixine."
"Ah, begitu. Baiklah, tapi tidak untuk saat ini, mungkin lain kali." Zavir lantas mulai mempercepat laju kuda sementara Lail mendengus.
Tak lama, bersamaan kuda mereka yang keluar dari gerbang utama, kereta kuda baru saja memasuki gerbang. Perhatian Lail teralihkan, pandangan jatuh jauh ke dalam jendela kereta kuda.
"Ah." Lail mendesah pelan melihat siapa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Sementara pria yang berada dalam kereta kuda tersentak, sesaat kuda yang berlawan arah dengannya melintas cukup kencang.
"Ada apa, Grand Duke?" Nilyar bertanya.
Gaiden menyentuh wajah lalu mengembuskan napas lemah. "Tidak apa-apa."
Nilyar angguk kepala, matanya tadi melihat Zavir mengenakan jubah hitam sambil menunggang kuda bersama wanita yang sebagian wajahnya tertutup topi jubah.
"Kak Zavir menunggang kuda bersama wanita? Apa aku bermimpi?" batin Nilyar.
...***...
Suara debur ombak, angin agak kencang menerpa, juga burung-burung yang mengudara berhasil menenangkan hati Lail, ah, tidak. Sepertinya hati Lail merasa kebebasan, ketenangan terbaik yang saat ini dia rasakan adalah tak mampu dibendungnya emosi yang selama ini ditekan.
Pantai ini bernama Fatum, masih bagian dari Asla. Air pantai sangat jernih lalu dikelilingi pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Zavir mendekati Lail setelah mengikat tali kuda pada sebuah tiang kayu kokoh tak jauh dari mereka.
"Lepas sepatumu, sensasi pasir pantai bisa sedikit menghangatkan hatimu." Zavir menyarankan.
Lail menunduk, menatap gamang sepasang sepatu berlumur pasir pantai yang putih nan halus.
"Terima kasih karena kalian sangat memperhatikanku." Lail tersenyum kecut, walau sudah bersikap tegar sejauh ini itu semua nyaris runtuh setelah melihat Gaiden berada dalam satu kereta dengan Nilyar.
Lail mungkin akan sangat terpukul mengingat dirinya tengah hamil dan dalam lubuk hatinya, perasaan untuk mengungkapkan kabar itu pada Gaiden cukup besar. Lail ingin melihat bagaimana respon pria itu, juga ada harapan kecil tentang masa depan, apa ia bisa merasakan keluarga kecil yang indah bersama Gaiden? Sekelebat ingatan di masa lalu dimana dirinya terus diacuhkan oleh ayah ketika dia memiliki terlintas, lalu bagaimana dengan anaknya? Apakah bahkan tidak merasakan kasih sayang seorang ayah nantinya?
"Eh?"
Zavir tersentak, mata indah bak permata Zamrud telah menampung air mata di pelupuk mata, berkilau namun menyiratkan rasa sakit.
"Ada apa? Apa aku menyinggungmu?" Zavir kelabakan.
Lail menggeleng sambil berusaha menyingkirkan air mata namun, sia-sia. Air matanya justru luruh kian banyak dan Zavir kelimpungan, tidak tahu harus berbuat apa kecuali berdiri kaku dengan kedua tangan terangkat sedikit di sisi tubuh Lail tanpa menyentuh.
"Padahal aku tidak mau menangis, apalagi di hadapanmu," ungkap Lail dengan napas tersenggal-senggal.
Zavir memalingkan wajah, tangannya turun di sisi tubuh. "Kau melihatnya, ya?"
Zavir tidak bisa berpura-pura lagi. Sejak awal dia tahu bahwa Lail sempat melihat Gaiden, tapi Zavir tidak menyangka reaksi Lail akan sampai seperti ini karena sejujurnya Zavir tidak tahu seperti apa rasanya patah hati apalagi dalam kondisi seperti Lail.
"Ya."
"Coba lakukan ini." Zavir berdiri di bibir pantai tanpa alas kaki, lebih dekat dengan deburan ombak lembut, sambil menatap jauh ke depan.
Air mata Lail telah kering lantas mengikuti apa yang Zavir lakukan, meninggalkan sepatunya dan berdiri di sisi Zavir, merasakan hembusan angin memainkan rambut yang tergerai dan ujung dress canary polosnya.
"Saat berusia 10 tahun, aku pernah membaca sebuah buku mengenai pantai. Katanya, suasana pantai bisa menenangkan jiwa dan pikiran, aku pikir itu hanya omong kosong. Tapi, saat ibuku meninggal, aku coba mendatangi pantai dan ternyata itu benar adanya." Zavir bercoleteh tentang pantai lalu pandangannya beralih pada Lail yang juga memperhatikan dirinya sejak berbicara.
__ADS_1
"Kau juga merasakannya, kan?" Zavir tersenyum tipis, senyum tulus yang membuat Lail tercenung.
...BERSAMBUNG ......