Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
30| Permintaan Maaf


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Apa yang terjadi di Raitle? Ayah dan ibuku mendapat luka ringan, apa itu ada kaitannya denganmu semalam?" tanya Lail.


Diam masih membekukan mulut Gaiden, Lail semakin muram sehingga memikih mengecam. "Baiklah, jangan katakan apapun padaku. Biar aku cari tahu sendiri dan jika ternyata kau memang ada kaitannya, aku tidak akan tinggal diam, Gaid—"


"Maaf!" Gaiden menunduk dalam setelah bersuara lantang.


Lail diam, menunggu pergerakan bibir penuh suaminya yang agak gemetar.


"Estia menyuruh ksatria pribadinya untuk membunuh keluargamu," sambungnya.


Jantung Lail berpacu lebih cepat. Gila! Gadis berusia 20 tahun itu memikirkan hal mengerikan seperti ini hanya karena kecemburuan?


"Lalu, bagaimana penyelesaiannya? Kau ke Istana untuk mengurus perbuatan Estia, kan?" Kilatan di mata Lail semakin jelas, napasnya menjadi berat karena emosi meletup dalam dirinya.


Sekali lagi, mulut Gaiden membeku dan tatapannya tak tentu. Lail semakin geram melihat bagaimana tingkah Gaiden saat ini.


"Apa yang Estia dapatkan sebagai hukumannya?" tanya Lail lagi.


"Aku memarahinya dan hukuman akan diberikan oleh Raja, selain itu, dia ingin memperbaiki semuanya."


"Jadi, kau memberi kesempatan padanya?"


Gaiden mengangguk, tidak berkutik sementara Lail langsung memunggungi Gaiden, berdiri di depan pintu yang masih tertutup.


"Keluargaku yang banyak mengalami kerugian lalu kau bukan hanya menyembunyikannya, tapi dengan seenaknya menyelesaikan masalah tanpa sangkut pautku?" Lail terdengar kecewa dan Gaiden hanya menunduk.


"Jangan masuk!" hardik Lail kemudian masuk ke kamar, menutup pintu cukup keras hingga memekakan telinga.


"Lail ... " lirih Gaiden.


...***...


Pagi menyongsong, Lail telah rapi menggunakan gaun sederhana merah sementara rambutnya disanggul rapi dan agak kendur, menyisakan beberapa anak rambut dekat telinga, setelahnya keluar dari kamar, mendapati Gaiden berdiri dan terjaga sejak semalam di sana.


Lail kasihan, tapi rasa marah dan kecewanya tak mudah padam.


"Lail ... Kumohon dengarkan aku dulu," pinta Gaiden dan mencekal lengan Lail, ekspresinya menyusut seperti anak anjing yang memelas.


Lail enggan bersuara, lebih memilih menatap Gaiden dengan dingin dan tak lama Sebas mengusik ketegangan tersebut.


"Maaf, Grand Duke dan Duchess." Sebas membungkuk.


"Ada apa, Sebas?"

__ADS_1


"Anda kedatangan Putri Estia, Duchess."


Lail menatap Gaiden, menyentak tangan besar itu dari lengannya kemudian berjalan melewati Sebas.


"Dimana dia sekarang?"


"Dia ruang tamu, Duchess."


Lail mengangguk dan segera kesana. Gaun indah nan mewah, terlalu banyak warna dan perhiasan berkilau, membuat mata Lail terusik ditambah hidung dan mata memerah dari Estia justru membuat Lail jengah.


"Selamat datang, Putri Estia. Apa yang membuatmu datang sepagi ini?" Lail bertanya, mereka tidak duduk melainkan berdiri berhadapan.


Estia menunjukkan raut penyesalan dan air mata berurai. "Maaf, Bibi. Aku salah, aku menyesal telah melakulan hal sejahat itu padamu. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku ... Aku ... Sungguh menyesal."


Lail diam, menatap Estia lebih lama sementara Gaiden baru sampai setelah menyusul Lail, takut hal buruk terjadi terutama tindakan Estia yang datang di pagi ini. Gaiden mengembuskan napas, dia pikir Estia akan melakulan hal buruk ternyata mengutarakan permintaan maaf.


"Bibi ... " lirih Estia diiringi tangis yang tersendat-sendat.


Lail tersenyum, mendekati Estia sembari angkat tangan untuk membelai lembut rambut indah Estia.


"Apa bibi akan memaafkanku?" tanya Estia seraya mendongkak, mebatap wajah Lail yang lebih tinggi darinya.


Plak!


Sebas dan Gaiden melongo melihat pergerakan tangan Lail berubah cepat, dari membelai berubah menjadi tamparan keras di pipi kiri Estia.


Mata Estia memicing tidak terima, tatapannya tersembunyi oleh rambutnya yang ikut menyamping setelah ditampar. Lail melihat ekspresi penyesalan Estia padam dalam sekejap, benar dugaannya bahwa Estia masih belum menyadari kesalahannya dan hanya berpura-pura mengemis pengampunan.


"Ya ampun, sakit, ya?" Lail bertanya sambil menangkup wajah Estia yang menjadi merah.


Estia mengeratkan rahang hingga gemerutuk dari giginya terdengar jelas. Lail yakin bahwa gadis ini tengah memaki-maki.


"Ah, sepertinya belum terasa, ya?" Lail menyeringai dan kembali melayangkan tamparan pada pipi kanan Estia.


Gaiden terbelalak dan langsung menahan tangan Lail yang hendak melayangkan tamparan ketiga di saat Estia sudah terhuyung-huyung dan dibantu berdiri oleh Sebas.


"Hentikan, Lail!" bentak Gaiden.


Dada Lail naik turun sangking emosinya ditambah Gaiden berusaha menghentikannya.


"Hentikan, dia sudah minta maaf," tekan Gaiden lagi.


Plak!


Gaiden tergugu, tamparan Lail di pipi kirinya yang bahkan tidak terasa sakit sama sekali.

__ADS_1


"Dia berniat membunuh orang tuaku, bagaimana bisa aku memberi kemudahan padanya? Dua tamparan sudah cukup bagimu untuk menghukumnya? Apa karena dia keponakanmu atau karena dia penyakitan?" tanya Lail yang sontak membuat Gaiden mendelik tajam.


"Lail! Perkataanmu kelewat batas!" hardik Gaiden.


"Aku tahu dia memang salah, tapi dia sudah mencoba memperbaiki diri dan datang jauh-jauh untuk minta maaf padamu. Tidak ada salahnya memberi kesempatan untuk seseorang yang mencoba menjadi lebih baik. Selain itu, ayah dan ibu baik-baik saja." Gaiden berusaha menjelaskan.


Tak ada bantahan sebagai jawaban melainkan tatapan terluka dan kecewa Lail berhasil membuat Gaiden terhenyak.


"Bibi, jangan bertengkar dengan paman. Paman tidak salah apapun, ini semua sal—"


"Menjauh dari sana, Sebas. Antar aku ke depan," ucap Lail pada Sebas kemudian pergi dari sana, mengacuhkan Gaiden dan Estia.


Gaiden melirik Estia lalu melirik pintu keluar. "Pulang sana. Jangan kembali lagi ke kastelku."


"Paman ... "


Gaiden mendengus. "Sudah cukup kau membuatku bertengkar dengan istriku. Sebaiknya perbaiki sikapmu, selain itu aku tekankan lagi padamu ... Jika sekali lagi kau melakukan hal buruk pada istriku, pamanmu ini akan menjadi orang terburuk yang pernah hadir dalam hidupmu."


Estia tersentak, pupilnya agak bergetar mendengar perkataan Gaiden ditambah ketika sekali lagi Gaiden menujukkan jalan keluar dari kastel. Padahal, semenyebalkan apapun dirinya, Gaiden tidak sampai mengusirnya.


"Hanya karena wanita itu?!"


...***...


"Selamat pagi, Lail."


Lail telah sampai di tempat pembuatan parfum dan di depan pintu masuk ada Jay mendekap sebuket bunga mawar segar lalu diberikan pada Lail.


"Selamat atas usaha baru yang kau jalankan."


Lail menerima bunga sembari mengulum senyum kemudian mengajak Jay masuk untuk menikmati secangkir teh di bagian kantor kerjanya.


"Kudengar dari Trisia bahwa pesanan melonjak setelah produk parfum diperkenalkan di kalangan bangsawan. Kau hebat sekali!" puji Jay.


Lail angguk kepala. "Terima kasih."


"Maaf, Lail. Tapi apa yang terjadi pada tanganmu?" tanya Jay sambil melirik telapak tangan kanan Lail yang begitu merah, sejak bertemu Jay penasaran.


Lail tersenyum getir. Rasa panas dan nyeri masih dirasakannya, tapi Lail membiarkannya saja.


"Entahlah." Lail enggan mengatakan alasannya dan Jay memaklumi itu.


Jay hanya datang untuk menyapa karena sudah lama tak bersua kendati demikian Jay masih menaruh perasaan pada Lail dan berharap jika suatu hari Lail tidak berjodoh dengan Gaiden, mungkin dia pria pertama yang akan mendatangi Lail.


"Lail?"

__ADS_1


Jay tersentak mendengar suara berat di belakang, mendapati Gaiden berdiri di bibir pintu dengan napas memburu.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2