Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
47| Undangan pernikahan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Bukankah itu Pantai yang waktu itu kita kunjungi?"


Lail termangu, matanya berbinar kala mendapati bentangan padang rumput di kelilingi pantai fatum. Sangking suburnya padang rumput itu, beberapa pengembala membawa domba dan sapi.


"Ya. Dari sini jauh lebih indah, kan?" Zavir menoleh pada Lail yang termangu dengan mata berbinar, seakan hendak menelan seluruh keindahan alam di depan.


"Seharusnya lusa kemarin aku membawamu, tapi ajakanku waktu itu justru tertunda karena harus mengurus beberapa hal," imbuh Zavir.


Lail mengulum senyum, melempar pandang pada Zavir. "Ini sangat indah, aku tidak tahu kalau di balik pohon besar yang kulihat dari pantai, tersembunyi padang rumput ini."


Rasa bersalah Zavir menguap lantas matanya turun untuk mengamati gaun agak kebesaran yang mencetak jelas perut Lail yang mulai membuncit.


"Wah, mataharinya sebentar lagi akan terbenam, lihat langitnya Zav—"


Perkataan Lail terputus sesaat mata Zavir masih terpaku pada perutnya lantas beralih seolah hendak meraup tatapan Lail pada matahari tadi.


"Usia kandunganmu sudah sekitar tiga bulan jika dihitung sejak kemunculanmu di istana, ya." Zavir tersenyum lembut.


Mata Lail lantas beralih ke depan sana. "Ya. Tidak terasa."


Waktu terus bergulir, mereka diam sembari mengamati matahari perlahan beristirahat, memoles langit menjadi jingga yang menawan. Zavir menikmati hari-hari ini, semua terasa damai.


"Ukh!"


Lail merintih, perut mendadak kram sehingga tungkainya terasa goyah. Zavir buru-buru meraih tubuh Lail lalu membawanya duduk di sebuah bongkahan batu cukup besar. Sambil berjongkok di hadapan Lail, Zavir membiarkan kedua tangan kecil dan putih Lail mencekam kuat pergelangan tangannya.


"Ada apa?"


"Perutku agak sakit, rasanya tidak nyaman."


Zavir menatap cemas perut Lail, tubuh wanita berambut blonde itu sampai bergetar.


"Kalau begitu kita kembali sekarang, lain kali kita akan lebih lama melihat matahari terbenam sepenuhnya." Zavir segera menggendong Lail, membiarkan bokong wanita hamil itu berada di atas tangan kirinya sementara tangan kanan berada di balik punggung Lail.

__ADS_1


Lail mengalungkan tangan di leher jenjang Zavir, menenggelamkan wajah di ceruk leher kokoh pria bermata hazel tersebut.


"Maaf, merepotkanmu." Lail berujar agak sesal.


Zavir melirik, lehernya terasa basah. Menahan rasa sakit di perut, keringat Lail mulai bermunculan dan hal tersebut membuat Zavir kian khawatir.


"Seharusnya aku memikirkan kondisi kandungannya sebelum mengajak pergi."


Sementara itu, di Valazad, Kastel Grand Duke Valazad.


"Kami tidak tahu, terakhir kali dia mengatakan bahwa tinggal di kota kecil bernama Crelam."


Gaiden mengembuskan napas, perkataan Kyle beberapa hari lalu ketika tertangkap basah bercerita tentang Lail telah mengusiknya. Sambil mengamati undangan pernikahan di tangan kiri, kilat mata Gaiden menunjukkan setitik harapan.


"Aku akan mencarimu, Lail. Aku akan membawamu kembali padaku, dan tidak akan kubiarkan lari." Gaiden memukul keras lengan kursinya, rasa marah karena Lail pergi begitu saja tanpa pamit padanya membuat Gaiden harus menekan amarah di balik rasa bersalahnya.


"Grand Duke."


Sebas berseru di luar kamar lantas Gaiden membiarkan Sebas masuk.


"Ada apa, Sebas?"


Gaiden sontak berdiri, tatapannya menjadi lebih tajam lantas meninggalkan kamar. Melangkah lebar menuju kamar Nilyar, pria berstatus grand duke tersebut langsung disambut pelukan.


"Grand Duke, akhirnya anda mendatangi saya."


"Apa kau mau membunuh anak kita?"


Rasa senang Nilyar berganti ketakutan kala tatapan rendah dan jengah Gaiden seolah menggerogotinya.


Nilyar mundur, melepas pelukan sambil menunduk sangat rendah. "Aku ... Aku ingin memiliki lebih banyak waktu dengan Grand Duke."


Gaiden mendengus lantas memerintahkan Sebas untuk membawa makanan baru untuk Nilyar setelah itu hendak pergi namun, perkataan Nilyar yang sarat akan ancaman membuat Gaiden kembali pada posisi awal.


"Jika Grand Duke terus begini, maka aku akan semakin tertekan dan itu tidak baik untuk kesehatan anak kita! Jika Grand Duke memang peduli pada anak ini lakukan apa yang aku minta jika tidak Grand Duke akan kehilangannya!"

__ADS_1


"Kau gila?!"


Senyum Nilyar terselip melihat ketegangan bercampur amarah menghias raut wajah Gaiden. Jika Gaiden hanya mempedulikan anak yang di kandungnya, maka itu akan menjadi senjata terkuatnya agar Gaiden jatuh perlahan walau diawali keterpaksaan, pikir Nilyar.


"Ya, aku gila karena Grand Duke ti—"


Perkataan Nilyar terputus bersamaan kelopak mata yang terkatup perlahan serta tubuh merosot tiba-tiba, nyaris menghantam lantai untung saja Gaiden sigap meraihnya.


"Segera panggil dokter!" Gaiden berseru pada pelayan yang berjaga di luar pintu.


...***...


Pagi menyongsong, Asye telah rapi mengenakan gaun cerah bewarna lembut. Rambutnya disanggul agak tinggi dibarengi hiasan rambut indah.


Kali ini, Asye memberanikan diri datang ke istana untuk menemui Hendry, mempertanyakan tentang wanita di paviliun waktu itu sebelum pernikahan akan terjadi sepekan lagi.


Sekali lagi, mereka bertemu di satu ruangan sambil menikmati jamuan sederhana dan Hendry terus menatap tanpa berkedip ke arahnya.


"Maaf, Yang Mulia. Maksud kedatangan saya kemari ..." Asye sedikit menggantung kalimat.


" ... Apakah Yang Mulia memiliki wanita simpanan?"


"Hah?" Hendry sedikit melotot, raut wajah terlihat bingung.


Asye menelan ludah lalu cepat-cepat berkata lagi. "S-saya melihat wanita yang sangat menawan di paviliun dekat kediaman ratu. Saya tidak bermaksud ikut campur dan bertindak tidak sopan dengan mengatakan ini, tapi jika memang hati Yang Mulia telah dimiliki wanita lain dan menikah dengan saya hanya untuk kepentingan politik, saya rasa hentikan saja pernikahan ini." Asye menegakkan tubuh, dadanya sedikit membusung bersama kepala terangkat sedikit lebih tinggi.


" ... Karena saya tidak bisa bersama pria yang telah mencintai wanita lain. Saya hanya ingin bersama pria yang hanya memiliki saya sebagai wanita yang dicintainya."


Tatapa tegas dan keberanian Asye membuat Hendry tertegun namun sekejap tawa pria berambut pirang tersebut meledak. Hendry tahu siapa yang dimaksud Asye, itu pasti Lail. Hendry akui bahwa memang sempat suka saat pertama kali melihat Lail ditambah wanita bermata zamrud tersebut berada dalam istana, tapi setelah tahu bahwa Zavir sepertinya menyukai Lail, Hendry telah mengubur perasaan itu, lantas bertemu Asye yang berhasil membuat jantungnya berdebar lebih cepat bahkan Asye berhasil membuat Hendry jatuh hati apalagi dengan sikap mengejutkannya saat ini.


"A-apa yang anda tertawakan?" Wajah Asye menjadi sangat merah.


Hendry berhenti tertawa lantas membalas tatapan Asye tak kalah tegas. "Wanita yang kau lihat itu bukan wanita simpananku, ada cerita panjang di baliknya."


Hendry diam sejenak. Belajar dari pengalaman orang tuanya di masa lalu, Hendry tidak ingin memiliki seorang selir atau wanita simpanan karena hal itu akan menimbulkan banyak masalah ke depannya, seperti kejahatan yang akan dilakukan para selir agar mendapat perhatian raja serta merebut posisi putra mahkota, Hendry sudah cukup merasakannya hanya dengan mengamati.

__ADS_1


"Selain itu ..." Hendry mengulum senyum, menompang wajah dan tak lepas menatap Asye. "Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu dan kurasa kita bisa saling menjaga satu sama lain."


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2