
...SELAMAT MEMBACA...
"Kemarilah, Lail."
Jantung Lail berdetak lebih cepat. Rasa gugup langsung menyerang namun, Anom langsung memberi senyum menenangkan, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Perlahan, gaun yang menjuntai hingga permukaan mulai terseret, Lail melangkah perlahan hingga Anom merelakan putrinya itu berdiri di hadapan Zavir. Petuah yang akan menjalankan ritual suci mulai melakukan satu persatu proses pemberkatan hingga momen sumpah pernikahanpun selesai diucapkan.
"Bukankah sekarang aku harus memberimu ciuman?" Zavir sedikit memiringkan kepala sementara Lail melirik para tamu undangan. Dari sekian tamu undangan, Lail bersitatap dengan Gaiden yang tampak muram dan sakit hati walau begitu tetap menunjukkan sedikit bahagia.
Beberapa hari lalu, Lail mendapat surat dari Gaiden. Pria itu meminta maaf dan berharap Lail memiliki kehidupan yang jauh lebih baik bersama Zavir kemudian ia pun berjanji akan memulai hidupnya dengan Nilyar, mencoba menerima wanita itu walau sulit karena bagaimanapun, sekarang ia sudah memiliki anak dari Nilyar. Gaiden pun mulai melangkah ke lembaran baru seraya menata hati secara perlahan.
"Jangan melihatnya, Lail. Sekarang kau adalah milikku dan aku adalah milikmu."
Lail tersentak. Tangan besar dan hangat Zavir menangkap rahangnya lalu secara perlahan mengalihkan perhatiannya dari Gaiden. Kesenyapan dari tamu undangan lantas pecah terutama Rakaz yang bersorak jahil kala Zavir langsung memangut bibir Lail.
"Terima kasih, Lail." Zavir lantas melepas pangutan, menangkup wajah Lail sambil menyatukan dahi mereka.
Momen itu membuat Asye dan Hendry terharu, sampai-sampai sudut mata mereka berair. Perjuangan keduanya dalam mendekatkan Lail dan Zavir akhirnya membuahkan hasil. "Betapa manisnya mereka," tutur Asye yang disusul anggukan Hendry dan Rakaz.
...***...
Lima tahun telah berlalu sejak pernikahan digelar. Lail telah menjadi istri dari pangeran kedua sekaligus seorang Duchess. Sesuai janji Zavir kala itu, pernikahan mereka seolah dikarunia kebahagiaan yang melimpah ruah dan Zavir tidak pernah bepergian jauh karena merasa tempat paling nyaman adalah Lail dan dua anaknya, Arthur dan seoeang putri berusia tiga tahun, namanya Jeane Laizav.
"Apa yang kau lakukan disana, Zavir?"
Lail berkacak pinggang ketika melihat Arthur yang telah berusia lima tahun memegang pedang kayu sambil mengarahkannya di patung kayu menyerupai orang.
"Aku melatih Arthur agar menjadi pria hebat sepertiku." Zavir menepuk dada dengan bangga kemudian di sisi kaki kanannya, Jeane menatap Zavir sambil memberi tepuk tangan.
Lail mengembuskan napas lantas membawa Jeane dalam gendongan. "Mereka masih anak-anak. Apa kau tidak memiliki kegiatan yang sedikit lebih ringan untuk anak kita?"
Zavir mengerutkan dahi, berpikir keras tentang jawaban apa yang pas diberikan untuk Lail. "Bukankah Amylia membutuhkan teman belajar? Bagaimana jika Arthur pergi ke Istana dan belajar bersama Amylia?"
__ADS_1
Amylia Clasie adalah putri Asye dan Hendry, umurnya dan Arthur hanya terpaut beberapa bulan. Hanya saja, melepas Arthur tinggal di istana akan menguji perasaan Lail.
"Kenapa Arthur cepat sekali besarnya, ya." Mata Lail berkaca-kaca.
Zavir yang paham akan perasaan Lail lantas memberi usapan kecil di puncak kepala istrinya tersebut. "Kita bisa mengunjungi Arthur setiap hari. Selan itu, kurasa Amylia akan lebih senang jika Arthur menjadi teman belajarnya. Menempatkan anak bangsawan lain di sisi putri mahkota mungkin justru membuat kakak cemas karena para bangsawan itu bisa memanfaatkan kesempatan ini melalui anak mereka."
"Kalau kakak pelgi, dengan siapa Jeane belmain?" seolah paham apa yang dikatakan kedua orang tuanya, Jeane menunduk lemah.
Zavir melirik Arthur yang sangat fokus memukul boneka kayu dengan pedang lalu beralih menatap Lail dengan sedikit mengerling nakal. "Bagaimana jika ayah dan mama memberikan Jeane adik? Bukankah Jeane selalu berharap menjadi seorang kakak yang hebat seperti kak Arthur?"
"Adik? Jeane mau!" Jeane mengangguk antusias tapi Lail justru menghadiahi tinju pada lengan Zavir.
"Enteng sekali mulutmu. Padahal setiap malam kau menyiksaku sampai sulit berjalan di pagi hari!" Lail cemberut lantas memanggil Arthur untuk segera makan siang.
"Sudah waktunya makan siang. Arthur, mari ikut mama dan makan bersama," ajak Lail.
"Bagimana dengan ayah?" Arthur melirik Zavir yang mengusap-usap lengan.
Lail mendelik tajam ke arah suaminya itu. "Ayah akan menyusul karena banyak pekerjaan yang menunggunya."
"Ayah, semangat kerjanya! Aku akan menyimpan biskuit kering untukmu!" seru Arhur sambil meninju udara.
Zavir tertawa kecil. Hatinya menghangat melihat punggung dua anaknya juga sang istri, keluarga kecil yang membuat hari-harinya terasa menyenangkan. "Putramu memang paling perhatian."
Sementara itu di Valazad, mansion Grand Duke Valazad. Seorang gadis kecil dengan gaun merah muda berhambur dalam pelukan Gaiden dan tak jauh dari sana Nilyar terlihat canggung.
"Haruskah kita makan siang bersama, Grand Duke?" Nilyar mengusap tengkuk dengan canggung.
Gaiden angguk kepala dan Nilyar sontak membelalakkan mata dengan berbinar. Empat tahun terakhir, Gaiden mulai sedikit lunak padanya, namun tidak menunjukkan perasaan yang ia dambakan selama ini. Nilyar mulai menyesali segala perbuatannya di masa lalu terhadap Lail dan Gaiden kemudian tahun lalu, Nilyar memutuskan untuk menemui Lail dan mengakui kesalahan sampai-sampai rela bersujud untuk memohon ampunan.
Namun, tidak semua bisa diperbaiki. Nilyar menerima kelapangan hati Lail namun, ketiga kakaknya sudah menjauh dari genggamannya dan lebih mengakui Lail sebagai penggantinya. Nilyar mati-matian menangkap hati Gaiden karena ia sudah tidak memiliki apapun kecuali putrinya namun, setelah permintaan maafnya pada Lail diketahui Gaiden, sikap pria itu semakin berubah padanya, dari melunak hingga sedikit demi sedikit memberi perhatian.
"Aku pernah mengatakan pada Lail bahwa aku akan memulai hidup yang baru denganmu tapi kau masih tidak berubah saat itu jadi aku tidak bisa menepati janjiku terhadap diriku sendiri. Tapi, Nilyar, kuharap kau bisa sedikit melupakan masa lalu karena semua orang mulai berdamai dengan masa itu. Kau pun ... Kuharap menyadari bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik saat kau memiliki banyak tekad dan kesempatan."
__ADS_1
Nilyar terbelalak, rasa sakit dan hangat menelusup ganas dalam hatinya. Perkataan dan tatapan teduh Gaiden berhasil merobohkan pertahanannya, lantas ia menangis kencang, bersimpuh sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Ak... Aku sungguh minta maaf telah menghancurkan kehidupan kalian berdua. Sampai mati ... Aku bahkan tidak bisa melupakan masa lalu."
Gaiden mendekat lalu membiarkan putri mereka berada di tengah-tengahnya. Gaiden lantas menyingkirkan kedua tangan Nilyar dari wajah.
"Maka itu hukumanmu. Tapi, jangan menghukum anak kita, kurasa kita perlu memperbaiki hubungan ini agar anak kita bisa bahagia dan aku berharap kau bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik, akupun akan melaksanakan tugasku mulai sekarang, sebagai ayah putri kita juga sebagai suamimu."
...TAMAT .......
Terima kasih atas segala bentuk dukungan kalian di cerita saya!
Saya tahu cerita ini masih banyak kekurangan, tapi saya akan belajar lagi untuk menyuguhkan cerita yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Maaf, jika banyak kesalahan dan kekurangan di cerita ini terlebih saya terlalu lama memunculkan episode baru.
Saya harap kalian bisa memberi kesan di cerita ini agar saya bisa semangat menulis ke depannya!
Selain itu, kalian bisa menemui beberapa karya saya lainnya disini, seperti yang baru-baru ini saya buat:
...Pertama: Kesepakatan yang menghukum Sang Tiran...
Blurb:
Ketika keluarganya terancam dieksekusi mati oleh Sang Tiran, Gaia memutuskan menemui Sang Tiran untuk membuat kesepakatan.
Rahid Stearic Hill bertemu wanita yang berani membuat kesepakatan dengan menggunakan kelemahannya, dan hal tersebut membuat emosinya cukup meluap, tapi apa yang harus dia lakukan jika si wanita justru menggugah rasa bosannya?
"Bagaimana jika aku menolakmu? Lagi pula, aku tidak peduli jika harus mati karena dendamku sudah terpenuhi." Rahid menyeringai, menekan pedang pada bawah dagu Gaia agar lebih menatapnya.
Rahid tersenyum sinis melihat Gaia terpojok. "Kenapa kamu berhenti bicara?"
__ADS_1
Gaia kesal dan secara sadar menatap sengit pada Rahid. "Saya melihat aura kutukan itu sudah sampai jantung Anda. Sepertinya sebelum keluarga saya, Anda akan mati lebih dulu."
Sampai jumpa di karya saya yang berikutnya!