Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
23| Hadiah dari Ayah


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Nona! Nona!"


Panggilan antusias Naika yang tiba-tiba datang ke kamar sambil berlari membuat Lail mengalihkan atensi dari buku di pangkuan.


"Jangan biasakan lari, Naika," nasihat Lail.


Naika tersenyum canggung. "Maaf, Nona."


"Jadi, ada apa?"


Naika menahan senyum lalu sebelah tangan yang sekak tadi berada di balik punggung langsung keluar sambil menunjukkan selembaran pada Lail.


"Festival Lampion Cinta akan digelar dua hari lagi!" seru Naika.


Lail mengerutkan dahi, baru dengar semacam lampion cinta, apa itu? Lail tampak kebingungan sementara Naika mendengus pelan. Lagi dan lagi, Lail tidak tahu hal sering dilakukan sebelumnya.


"Festival Lampion Cinta selalu digelar setiap tahun demi memperingati hari kasih sayang dan harapan."


"Bisa kau ceritakan lebih jelas, Naika?" Lail menutup buku, fokus pada Naika.


Naika angguk kepala. "Festival Lampion Cinta awalnya hanya untuk memperingati para pejuang yang telah gugur di medan perang, tetapi karena banyak keluarga berduka dan wanita banyak kehilangan kekasihnya, Festival Lampion Cinta diperuntukkan untuk setiap orang yang hendak menyampaikan perasaan juga harapannya melalui lampion yang akan diterbangkan ke langit malam, baik untuk orang yang telah gugur atau untuk harapan di masa mendatang."


Mata Lail sontak berbinar, sepertinya itu sangat luar biasa sedangkan Naika hanya diam. Padahal sebelumnya, Lail tak pernah absesn untuk pergi menerbangkan lampion dengan harapan yang selalu sama, yakni agar Wanner menjadi miliknya.


"Untung saja harapan nona waktu itu tidak terkabul," batin Naika penuh syukur.


"Kita akan ke sana bertiga, tapi sayang sekali Seina tidak disini," kata Lail


"Tenang saja, Nona. Walau Seina tidak pergi bersama kita, dia tetap akan merayakannya karena Festival Lampion Cinta ini dirayakan pada seluruh wilayah yang berada di bawah naungan kerajaan Hendrixine!"


"Syukurlah kalau begitu," tutur Lail.


"Maaf, menganggu, Nona. Duke memanggil anda untuk menemuinya." Kepala Pelayan datang menyampaikan pesan Anom.


"Baiklah."


...***...


Di ruang tamu kediaman Anom.

__ADS_1


Teh disuguhkan kepada Lail dan Anom tampak memegang beberapa dokumen penting di tangn tanpa sepatah kata. Lail jadi was-was apakah ia melakukan hal buruk atau akan mendapat tugas lagi.


"Lail," panggil Anom sembari menyodorkan beberapa lembar dokumen mengenai sebuah rumah.


"Apa Ayah ingin meminta pendapatku untuk memilih rumah-rumah ini?" Lail bertanya setelah melihat dokumen tersebut.


Anom mengangguk. "Ya. Sebenarnya ayah ingin menghadiahkanmu sebuah rumah, tapi tidak tahu seperti apa seleramu."


Lail mengerjap. "Aku?"


"Sudah sejak lama ayah ingin memberikan sebuah rumah untukmu, tapi ayah baru melakukannya sekarang. Sewaktu kecil kau selalu merengek untuk dibelikan rumah dilengkapi rumah kaca untuk merawat berbagai tanaman hias bahkan dua tahun lalu kau masih mengungkitnya."


Hati Lail tersentuh. Seandainya Lail terdahulu melihat ini, pasti dia tidak akan merasakan penyesalan lebih besar. Lail tidak akan menolak, keberuntungan ini akan Lail ambil karena memang ia membutuh sebuah tempat untuk menimbun sebagian emas dan perhiasaannya.


"Kalau begitu aku ingin mengambil ini, Ayah." Lail tersenyum cerah sambil memberikan satu dokumen kepemilikan rumah pada Anom.


Lail memilih rumah yang berada di daerah bagian Raitle bernama Aster, salah satu kota terindah di Raitle.


"Pilihan yang bagus, Lail," puji Anom.


"Terima kasih banyak, Ayah!" ungkap Lail.


Lail mengangguk senang. "Ya, Ayah."


...***...


...Raitle, Kota Aster...


Rumah bergaya eropa dengan desain unik nan classy yang Lail lihat saat ini adalah rumah yang telah dipilihnya.


Muka bangunan terbuat dari ornamen batu yang unik namun cantik selain itu interior dan eksteriornya memiliko banyak detail ornamen sementara atapnya cukup tinggi dilengkapi dua cerobong asap.


Lail segera masuk dan lagi-lagi berdecak melihat isi dalam rumah. Dia tidak akan menyesali pilihannya. Rumah ini memiliki lebih dari satu lantai.


"Hm ... Sepertinya aku bisa membangun ruang bawah tanah di belakang rumah ini," kata Lail setelah membuka pintu belakang, mendapati perkarangan luas di sana.


Lail berpikir untuk menimbun emasnya di sana. Walau di rumah jauh lebih cukup untuk menaruh emas, itu tidak menjamin keamanan. Jadi Lail berencana membangun ruang bawah tanah.


Lail menemui Anom dan mengatakan ingin membangun sebuah gudang di belakang rumahnya untuk menyimpan barang-barang yang dibutuhkan untuk berkebun kecil di halaman belakang. Anom setuju tanpa kecurigaan sama sekali dan akan memanggil pekerja namun, Lail bilang bahwa dia akan menemui pekerja itu secara pribadi tidak perlu ditemani.


"Besok ada Festival Lampion Cinta, apa Gaiden tidak akan menemanimu?" Anom bertanya ketika mereka dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


Lail tersenyum tipis. "Dia harus memeriahkan festival bersama warga Gazea, aku merasa tidak enak jika memintanya untuk menemaniku."


Anom mengangguk, memperhatikan Lail yang semakin lama tumbuh dewasa. Anom sedikit sedih jika membayangkan Lail akan jauh darinya setelah menikah.


"Tapi Lail, menjadi kekasih seorang Grand Duke bukanlah hal yang mudah. Gaiden memiliki banyak musuh ditambah merupakan anggota keluarga kerajaan yang berpengaruh. Kekhawatiran ayah ini mungkin berlebihan bagimu, tapi Lail pikirkan kembali agar kau tidak menyesal di kemudian hari."


Lail mencengkeram roknya. Anom benar, tapi setiap kali mengingat atau berada di dekat Gaiden, Lail tidak bisa menahan diri untuk tetap di sisi pria itu. Pada akhirnya Lail jatuh pada pesona Gaiden, tapi Lail yang sekarang berbeda, ia sudah terbiasa menghadapi banyak bahaya.


Lail paham bahwa permasalahan yang ada di zaman ini tidak sebanding dengan kehidupannya sebagai putri bungsu seorang penguasa di kehidupan sebelumnya, tapi Lail tidak mau melepaskan sosok seperti Gaiden. Semakin bagus sesuatu maka, semakin sulit mendapatkan juga mempertahankannya.


"Walau kami masih belum lama menjalin hubungan, tapi aku yakin dengan kekuatan dan kemampuan Gaiden demi melindungi orang yang dicintainya." Lail mengulas senyum tulus yang membuat hati Anom merasa tenang.


...***...


"Tangan kakak sudah pulih total, ya?"


Redia datang ke gazebo, menganggu waktu santai Lail di pagi hari setelah kemarin pergi melihat rumahnya di Aster.


"Ya."


"Aku dengar kakak mendapat hadiah dari ayah. Apakah aku boleh tahu apa hadiahnya?" Redia tampak bersemangat dan duduk di hadapan Lail.


Lail tersenyum sarkas. "Aku tidak mau memberitahunya. Pergi sana," usir Lail.


Bibir Redia berkedut karena kesombongan Lail, walau demikian dia tetap menahan diri. "Tsk, pelit sekali. Aku datang kemari bukan hanya untuk menanyakan itu melainkan sekalian melihat kondisi Kakak."


"Jika kuberitahu, otak busukmu itu pasti langsung segar memikirkan rencana untuk menghancurkan hadiahku," telak Lail dan langsung membuat Redia terbelalak.


"Sial! Kenapa dia tahu!" Redia membatin jengkel.


Lail tertawa pendek melihat ekspresi Redia. "Aku tahu hanya dari melihat wajahmu."


Lagi. Redia merasa telak mendengar perkataan Lail sehingga memutuskan pergi dari sana dan tak lama Daval datang setelah beberapa hari diberi tugas penting oleh Lail.


"Selamat datang, Daval," sambut Lail.


Daval menunduk sejenak. "Saya sudah mengamankan dua orang itu, Nona."


Lail menyeringai kemudian memberi gigitan besar pada apel merah dalam genggamannya. "Kerja bagus, Daval."


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2