Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
28| Lawan Sepadan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Lail menggosok rambut dengan handuk lalu mendekati Gaiden yang tampak muram setelah membaca surat dari istana.


"Ada apa?"


Gaiden menegang ketika aroma manis dan segar menyerangnya. Bukannya menjawab, Gaiden justru memeluk Lail yang duduk di tepi ranjang dekatnya.


"Haah ... Estia jatuh sakit dan terus memanggil namaku. Kakak memintaku kesana."


Lail terdiam cukup lama. Ingatan saat mereka bersitatap di istana membuat Lail tak bisa menganggap remeh hal ini dengan anggapan wajar bahwa Estia adalah keluarga Gaiden, jadi apa salahnya membiarkan Gaiden pergi untuk menenangkan Estia sampai sembuh.


"Kita akan pergi bersama." Lail memutuskan sambil tersenyum kecil.


"Kita? Kau yakin?"


"Sangat yakin. Aku justru tidak yakin jika membiarkanmu pergi sendiri. Lagi pula, aku juga mengkhawatirkan kondisi Estia."


Gaiden mengangguk kemudian mencium ceruk leher Lail, meninggalkan beberapa jejak di sana lalu mengerutkan dahi.


"Aromamu sedikit berbeda," komentar Gaiden, hidungnya kempas-kempis di sekitar leher Lail membuat kekehan kecil lolos dari Lail karena rasa geli.


"Hentikan, Gaiden." Lail mendorong kuat tubuh Gaiden hingga keduanya terbaring telentang di kasur dengan Lail yang menindih Gaiden.


Wajah Gaiden tampak sedikit memerah, Lail juga bisa merasakan degup jantung yang tak normal dari suaminya.


"Hm, apa aromanya enak?" Lail bertanya sambil menompang wajah dengan dua tangan yang bertumpu pada dada bidang Gaiden.


"Ini masih pagi, Lail. Jangan menggodaku," intrupsi Gaiden.


"Aku tidak menggodamu. Aku sedang minta pendapat."


Gaiden mengernyit heran. "Tentang apa? Aroma tubuhmu?"


Lail mengangguk sementara Gaiden tampak berpikir. "Hm ... Aromanya cukup tajam dan terlalu menggoda," komentar Gaiden.


"Berarti aku berhasil."


"Berhasil? Apa maksudmu?"


Lail mengubah posisi dengan duduk di atas perut Gaiden lalu mengeluarkan sebotol parfum dari saku handuk piyamanya, menunjukkannya pada Gaiden.


"Aku menyibukkan diri untuk membuat parfum dan berencana mendirikan perusahaan pembuat parfum!"


"Tapi sudah banyak perusahaan pembuat parfum," kata Gaiden.


"Tapi di Gazea tidak ada. Kebanyakan dari pedagang mendapatkan barang dari luar Gazea untuk dijual lagi," sergahnya.


"Kalau begitu bantuan seperti apa yang bisa kulakukan untuk mendukungmu?" tanya Gaiden.


"Untuk saat ini tidak ada. Aku bisa mengurus beberapa hal sendiri."


Senyum Gaiden terlukis dan perlahan tangannya bergerak, mencekam pinggul Lail dan menukar posisi mereka. Mata Lail membeliak sementara Gaiden tertawa pendek. "Kalau begitu, sekarang urus aku dulu."


Lail mendengus hendak menolak karena Gaiden selalu meminta sementara itu tiba-tiba pintu diketuk membuat Lail terkejut hingga menendang Gaiden.

__ADS_1


"Sarapan sudah siap, Duchess," kata Naika sesaat pintu terbuka, berdiri di bibir pintu.


"Anda belum juga berpakaian?" Naika mengerutkan dahi melihat Lail duduk di ranjang masih dengan piyama handuk.


"Ah, iya. Aku baru selesai mandi. Aku akan segera turun, Naika."


"Tapi, dimana Grand Duke? Apa Grand Duke tidak pulang semalam, Duchess?" tanya Naika.


Ekor mata Lail melirik ke belakang, mendapati Gaiden tersungkur di lantai sambil meringis tanpa suara.


"Dia keluar sebentar, baru saja."


"Kalau begitu saya akan menunggu di ruang makan." Naika kemudian pergi dari sana dan Lail bergegas menghampiri Gaiden.


"Maaf, aku tadi sangat terkejut," sesal Lail.


"Kau keterlaluan," keluh Gaiden.


"Cepat bersihkan diri, aku akan menunggumu di bawah," kata Lail dan bergegas berpakaian.


...***...


...Istana Hedrixine...


Mata hitam Estia naik ke atas, begitu menusuk kala mendapati Gaiden justru datang bersama Lail.


Ibu Estia, Camellia, tidak senang melihat kehadiran Lail, terlihat jelas dari air muka yang ditampilkan saat ini. Tapi Lail tidak ambil pusing jadi hanya memberi senyum ramah agar wajah tua Camellia semakin buruk.


Beberapa anggota kerajaan terutama Carl dan Camellia tengah berkumpul di kamar Estia, duduk sambil berbincang di sofa tak jauh dari tempat tidur sementara Estia duduk menyandar dengan kaki diselonjorkan pada kasur.


Estia terus menatap Lail tanpa berkedip, kuku jarinya memucat karena terkepal sangat kuat.


"Uhuk!" Lail batuk ketika menyesap teh hitam yang disuguhkan.


Gaiden segera bergerak menepuk-nepuk ringan punggung Lail sembari memberikan sapu tangan.


"Apa dadamu sakit?" tanya Gaiden sangat cemas.


Carl dan anggota keluarga saling pandang. Gaiden yang lebih terlihat seperti patung tanpa ekspresi bertingkah berlebihan hanya karena Lail terbatuk setelah minum.


Pergerakannya barusan seperti menarik pedang secepat kilat, terlalu cekatan.


"Pftt ... Bukankah itu berlebihan?" tanya Carl diiringi ekspresi jenaka.


"Orang bisa mati hanya karena tersedak," balas Gaiden lalu kembali duduk manis setelah Lail merasa lebih enak.


Camellia berdecak sebal, suara decakannya terdengar jelas membuat Lail mengalihkan atensi padanya.


"Apa istrimu sengaja melakukannya, Gaiden?" Camellia kemudian melirik Estia yang hendak menangis melihat adegan barusan.


"Kau bilang apa baru—" Gaiden menghentikan perkataannya tatkala Lail menyela.


Lail mengerjap dua kali lalu bertanya, "Maaf, tadi ketika minum aku sedikit terkejut melihat Estia seperti melototiku," cicit Lail sambil menunduk.


Gaiden melirik Estia dengan dingin karena sejak tadi Gaiden sadar bahwa pandangan Estia tidak pernah lepas dari Lail.

__ADS_1


Gaiden berusaha diam karena mungkin Lail tidak akan menyadarinya.


"Aku ingin ke kamar mandi sebentar," izin Lail kemudian pergi keluar.


Setelah berada di kamar mandi, Lail menyunggingkan senyum, mengamati pantulannya di cermin. "Haah, ayah benar. Menjadi wanita seorang Grand Duke memang tidak mudah."


"Tapi ... Apa benar dia sakit?" Lail bergumam tak jelas.


Setahunya, orang yang lemah jantung memiliki napas pendek, sering batuk bahkan terkadang ada pembengkakan pada tubuh, tapi Lail tidak mendapati itu dari Estia. Selain itu, apa orang yang lemah jantung bisa minum alkohol? Lail sempat mencuri aroma alkohol dari tubuh Estia, tapi tiba-tiba aroma itu hilang terganti aroma dari parfum yang cukup menyengat.


"Haah, lupakan hal itu," kata Lail kemudian keluar kamar mandi.


"Berhenti."


Lail berhenti sesaat Camellia mencegahnya di jalan keluar.


"Ya, Nyonya Camellia?"


"Berhentilah berlagak romantis dengan Gaiden di depan putriku. Asal kau tahu, putriku mengalami hal ini karena Gaiden."


Lail memanyunkan bibir sembari bersedekap tangan di dada. "Apa yang dilakukan suami? Apa suamikku mengutuk anakmu?" balas Lail.


Camellia terperangah, bagaimana bisa Lail membalas ucapannya dan bukan menurut! Padahal Lail terlihat lemah.


"Maaf, aku harus kembali." Lail kemudian pergi dari sana, tapi Camellia justru mengekorinya dan terus mengoceh.


Lail begitu acuh dan saat sampai, Gaiden bersama Carl telah berada di luar pintu, menunggu Lail.


"Terima kasih telah memanggil, Lail," kata Gaiden pada Camellia.


Lail tersenyum sinis melihat Camellia mengangguk dengan postur berwibawa. Memanggil apanya, yang ada mengancam.


"Kita harus pulang, Lail," tutur Gaiden.


"Apa tidak terlalu cepat? Aku bisa pulang sendiri jika Estia masih ingin ditemani olehmu. Aku tidak apa-apa." Lail memberi senyum tulus yang membuat Carl tertegun. Kesannya terhadap Lail semakin bagus.


Gaiden mendekati Lail, mengusap rambut Lail. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang sendiri? Jangan konyol."


Lail menahan senyum. "Sepertinya topiku tertinggal di dalam. Kalau begitu aku akan mengambilnya dan berpamitan pada Estia."


Lail masuk ditemani Camellia kemudian endekati Estia sambil memegang topi. Estia tidak mau menatap Lail, memilih memandang lurus ke depan dengan raut wajah mengerut tajam.


"Cepatlah pulih," ucap Lail lalu menyampirkan rambut tergerainya ke sisi bahu kiri lalu memakai topi.


Estia menoleh dan memandang Lail dengan jengah, tapi fokusmya jatuh pada beberapa jejak keunguan pudar di leher jenjang Lail.


"Apa itu di lehermu?" tanya Estia, nadanya seolah menghakimi.


Lail terbelalak dan buru-buru membenarkan posisi rambutnya seperti semula, menyembunyikan noda tersebut.


"Ah, maaf. Ini ulah Gaiden." Lail tersenyum malu bersama rona merah lembut memoles wajahnya, lalu Lail buru-buru menundukkan kepala pada Estia dan Camellia ketika pintu terbuka, Gaiden memperhatikannya karena tak kunjung keluar.


"Kalau begitu, aku pamit dulu." Lail segera berlalu dari sana, menunjukkan senyum penuh kemenangan sebelum akhirnya meraih uluran tangan Gaiden.


"Kau harus sadar posisi, anak kecil." Lail melirik sinis pintu kamar Estia yang ditutup keras oleh Camellia.

__ADS_1


"Ja**ng itu! Aku yakin dia sengaja melakukannya!" raung Estia sambil melempar bantal.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2