
...SELAMAT MEMBACA...
Ini adalah Crelam, salah satu kota kecil di wilayah ibu kota kerajaan Asylam. Lail tidak salah memilih tempat untuk menyegarkan pikiran dan perasaan. Penataan kota Asylam lebih baik ketimbang Hendrixine selain itu, masyarakat sangat patuh dan taat pada kebijakan pemerintah dalam penerapan hukum, tidak ada keributan.
Sudah hampir dua pekan Lail di Asylam, tinggal di sebuah rumah pada tengah kota karena dekat dengan pertokoan dan pusat keramaian. Berbeda dengan Hendirixine, di Asylam kehidupan malam lebih gemerlap, tempat hiburan hampir buka semua, terutama klub malam, beberapa orang terlihat menikmati alkohol dan bercerutu namun teratur.
Kegiatan malam seperti itu sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di Crelam. Lail menikmati hari-harinya di Asylam walau terkadang teringat beberapa kenangan bersama Gaiden.
"Nona, mau bergabung bersama kami?"
Beberapa pemuda mengerling nakal pada Lail, menjahili karena sudah kenal cukup dekat.
Lail angkat tangan sambil menggeleng, lantas masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Lail tidak perlu bekerja untuk bertahan lebih lama di Asylam karena uangnya cukup banyak karena investasi emas yang dilakukan masih berlanjut sejak bisnis parfumnya kian tersohor. Tapi, hanya berdiam diri sangat membosankan lagi pula, Lail tidak pernah bekerja berat baik di kehidupan sebelumnya dan sekarang.
"Hm, apa aku bekerja di kantor pos, ya?" Lail melirik selembaran lowongan pekerjaan di salah satu kantor pos terkenal di ibu kota kerajaan, lokasinya berada di pusat perkotaan besar bernama Asla, kota yang terhubung dengan istana kerajaan, dimana penguasa Asylam berada.
Beberapa pekerjaan yang tersedia adalah juru ketik, pengantar surat dan staf administrasi.
"Aku perlu mencobanya." Lail meraih selembaran tersebut, menatap cukup lama alamat kantor post.
...***...
Lail tersenyum canggung pada kursi ketika pria paruh baya bernama Baman terus menatapnya setelah melihat formulir pendaftaran karena dirinya berasal dari Hendrixine.
"Kau yakin mau menjadi pengantar surat?" Baman membenarkan kacamata bulat.
Lail angguk kepala. "Ya. Pak."
Baman berpikir cukup lama, sepanjang sejarah berdirinya kantor pos LoS ini, pengantar surat adalah lelaki, tidak ada wanita yang akan mengambil opsi ini karena mengantar surat adalah pekerjaan yang cukup melelahkan.
"Kenapa menginginkan pekerjaan ini? Aku bisa memberikanmu pekerjaan sebagai staf adminsitrasi, menyambut klien yang hendak dituliskan surat, itu lebih cocok untukmu." Baman akui bahwa penampilan dan paras Lail begitu indah, alih-alih menjadi pengantar surat yang membahayakan karena Lail cukup memilkat, Baman lebih menyarankan Lail untuk menjadi staf administrasi, atau apabila cukup cepat belajar, Baman akan senang jika Lail menjadi juru ketik karena ia kekurangan juru ketik.
"Saya baru di sini, saya pikir dengan menjadi pengantar surat saya bisa lebih mengenal tempat-tempat di sini dan menemukan banyak hal baru yang menyenangkan." Lail menjawab jujur.
Baman mengembuskan napas lalu angguk kepala. "Mulailah bekerja besok."
Lail kontan berdiri sambil menundukkan kepala penuh rasa terima kasih kemudian keluar sambil bersenandung kecil, menatap matahari yang sudah di atas kepala. "Hari yang cerah," komentarnya.
...***...
"Dia adalah rekanmu, Lail." Baman berada di ruang kerja, memperkenalkan Lail pada pemuda yang dua tahun lebih tua dari Lail.
Pria berambut cokelat tersebut menyengir. "Namaku Falan. Salam kenal, Lail."
Lail angguk kepala kemudian Baman memberi kode agar keduanya melakukan pekerjaan namun, sebelum itu Baman meminta Falan yang notabene senior di pengiriman surat untuk mengajari Lail, menjaga Lail agar tidak berada dalam masalah.
Sekarang, sambil mengeret pedati ukuran sedang di penuhi kotak-kotak berisi surat, Falan jalan beriringan Lail.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya ada pengantar surat wanita, jadi seragammu masih dalam proses," ungkap Falan, mencairkan suasana canggung.
"Apa setiap hari kau membawa surat sebanyak ini? Butuh berapa lama menghabiskannya?" tanya Lail setelah angguk kepala menanggapi perkataan Falan sebelumnya.
"Hm ... " Falan sedikit berpikir, "Paling lama pukul tiga sore, tapi saat aku masih pegawai baru, itu memakan waktu dua hari."
Falan kembali menyengir sementara Lail bergidik disusul tawa paksa. Dia mengatakan dua hari dengan ekpresi cerah seperti itu seolah semua baik-baik saja. Lail mengembuskan napas namun serempak pedati terhenti, Falan meraih salah satu surat lalu mengetuk pintu rumah, tepat dimana mereka berhenti.
"Permisi, surat!" seru Falan.
Tak lama pemilik rumah keluar diiringi senyum riang lantas berterima kasih, melihat hal itu Lail merasa ikut senang. Mereka seperti menantikan surat-surat dari pedati.
"Berikutnya boleh aku yang memberi suratnya?" pinta Lail, matanya berbinar.
Falan acungkan ibu jari. "Tentu!"
Sedangkan itu di Kastel Grand Duke Valazad, Kota Gazea.
Lukisan Lail duduk di kursi putih panjang ditemani Gaiden terus terpampang di ruang kerja, si pemilik ruangan duduk di kursi sambil menutup mata seraya mengembuskan napas berulang kali sementara tangan kananya mengenggam sebuah pena tinta di atas kertas perceraian yang telah datang pekan lalu, menanti tanda tangannya.
"Kenapa? Kenapa meninggalkanku seperti ini?" Gaiden membuka mata, mempertajam pandangan pada lukisan pertamanya ketika memandu Lail berkeliling Gazea.
Gaiden enggan menorehkan tanda tangan, tapi waktu akan terlewat sehingga dengan hati yang berat kertas tersebut mulai ditimpa oleh tanda tangan. "Serahkan itu pada si Adjuster," titah Gaiden pada Simon.
"Ya, Grand Duke."
...***...
Dua hari berlalu, seragam Lail telah jadi dan langsung dikenakan hari ini karena ada misi pengantaran surat khusus.
"Surat Khusus?" Lail mengernyit penasaran.
Baman angguk kepala setelah tersenyum lebar sambil berkacak pinggang. "Benar! Hari ini, pengiriman surat-surat di perkotaan akan diambil alih oleh petugas lain, sedangkan kalian berdua mengantar setumpuk surat istimewa ke Istana."
Mata Falan berbinar, selama bekerja menjadi pengantar surat, baru dua kali ia pergi ke istana untuk mengantar surat, rasanya sangat iri mengetahui Lail langsung mendapat keberuntungan tersebut padahal baru bekerja tiga hari yang lalu.
"Berapa lama perjalanan menuju istana, Falan?" Lail bertanya setelah mereka keluar dari kantor pos LoS.
"Sejam menggunakan kereta kuda," jelas Falan.
Lail melirik tumpukan surat pada kotak indah berlapis emas di tangannya. "Tapi ... Surat-surat apa ini?"
"Oh, itu surat dari anak-anak panti untuk Yang Mulia Raja dan para Pangeran."
Lail mengerjap, dia baru mendengar tentang hal ini.
"Setahun sekali anak-anak panti akan mengirim surat sebagai bentuk terima kasih pada raja dan pangeran. Aku dengar dari Baman kalau kau dari Hendrixine, mungkin ini sedikit menyombongkan diri, tapi kami sangat menganggungkan raja dan para pangeran karena sejak di bawah kepemimpinan mereka, Asylam benar-benar damai. Tidak ada huru- hara."
__ADS_1
Falan terus becerita sampai mereka menaiki kereta kuda lantas sais mulai melaju untuk mengantar keduanya ke Istana.
Cerita Falan terus mengalir. Falan mengatakan jika raja sebelumnya memerintah kurang tegas sehingga banyak permasalahan yang dilakukan oleh pejabat, serta bangsawan kalangan atas pada rakyat di bawah mereka.
Perbudakan wanita, korupsi, perdagangan anak, penyeludupan obat terlarang dan senjata, intinya kriminalitas meningkat dan kejahatan jadi lebih terorganisir namun, setelah ketiga pangeran mengambil alih setelah pemberontakan besar terjadi pada raja sebelumnya kini Asylam berdiri kokoh kembali, semua pelaku kejahatan disingkirkan baik itu para pejabat korup serta bangsawan yang bertindak semena-semena pada kalangan menengah ke bawah.
"Pasti mereka penguasa yang sangat dicintai rakyat, ya," tutur Lail.
Falan mengulum senyum. "Ya. Walau dua pangeran kami sungguh mengerikan," cicit Falan.
"Mengerikan?" Lail mengulang perkataan Falan.
Falan berkedip dua kali lalu melongok keluar jendela setelah melihat Istana sudah di depan mata.
"Kita akan memasuki istana, bersiaplah," ucap Falan.
Kereta kuda memasuki istana, kereta kuda yang digunakan Lail dan Falan adalah kereta kuda pribadi milik Los, jadi terdapat logo pada kulit kereta sehingga penjaga hanya perlu memeriksa isi dalam kabin dan mempersilakan masuk tanpa banyak urusan.
Lail dan Falan turun dari kereta kuda sambil membawa masing-masing kotak berisi surat. Pintu raksasa di hadapan mereka terbelah, memperlihatkan lorong megah berlapis permadani dengan dinding putih gading berpadu keemasan, terlihat classy.
"Kenapa ekspresimu begitu biasa?" Falan berbisik pada Lail.
Lail hanya tersenyum tipis lalu Falan fokus pada langkahnya sementara kepala pelayan yang menuntun kereka mengamati bagaimana postur tubuh Lail kala berjalan dan menanggapi sambutannya.
"Baru kali ini pengantar suratnya seroang wanita, terlebih lagi sikapnya sangat mencerminkan wanita bangsawan kelas atas, dia seolah begitu terbiasa sehingga sikapnya sangat alami dan terlihat elegan." Kepala pelayan tersebut terus mengomentari apa yang ia dapati dari memperhatikan Lail.
"Masuklah, ini adalah ruang kerja Yang Mulia." Kepala pelayan kemudian membuka pintu setelah memberitahi siapa yang datang namun, tidak ada suara dan kursi kerja telah kosong.
"Sepertinya Yang Mulia baru saja keluar. Kalau begitu, tolong letakkan surat itu di meja kerja beliau."
Setelah menaruhnya, Lail dan Falan pamit untuk kembali sementara tak jauh di belakang mereka, Hendry ditemani Zavir telah kembali menuju ruang kerja.
"Siapa mereka?" tanya Zavir pada kepala pelayan.
"Pengantar surat, Pangeran."
Senyum Zavir terulas tipis lantas segera masuk sementara Hendry terdiam di depan pintu dengan fokus jatuh pada punggung Lail yang kian menjauh di persimpangan lorong.
"Aku baru tahu pengantarnya ada seorang wanita," ucap Hendry.
"Benar, Yang Mulia. Saya juga baru tahu itu, sepertinya dia pegawai baru, terlihat dari seragamnya yang masih kaku."
Hendry angguk pelan, tapi bukan hal itu yang membuatnya terganggu melainkan postur tubuh wanita tadi mengingatkannya pada Lail Manuella.
"Aku pikir itu dia," gumam Hendry.
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1