Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
26| Kejutan untuk Redia


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Mendengar kabar bahwa Wanner ditahan atas percobaan pembunuhan yang dilakukan pada Lail membuat Aiksa nyaris pingsan.


Hari ini, Aiksa datang untuk menemui Lail, memohon pengampunan agar Wanner tidak dieksekusi karena dirinya tengah hamil, tapi Lail sudah tahu bahwa Aiksa pura-pura hamil, seorang pelayan di kediaman Wanner telah menebar cerita pertengkaran keduanya tentang kehamilan palsu tersebut.


Aiksa telah kehilangan muka di mata para bangsawan dan sekarang wanita itu tengah memarahi Lail karena permohonannya tidak dikabulkan. Melihat hal tersebut, Redia hanya menatap iba.


"Kakak ... Tidakkah kau sedikit kasihan padanya?" Redia mendekati Lail yang hanya duduk di kursi tanpa rasa simpati sama sekali.


"Lebih baik kau kasihani dirimu," ucap Lail kemudian beberapa serdadu yang mengurus permasalahan dan meneggakkan keadilan di tengah warga sipill menyeruak masuk sambil membawa surat penangkapan atas nama Redia Bavie.


Anom dan Rebelia menyusul di belakang karena terkejut melihat kehadiran para serdadu itu. Redia melotot dan menatap tak percaya atas surat penangkapan.


"Ini pasti salah! Atas dasar apa aku ditangkap?!" Redia menyangkal.


"Keracunan makanan yang terjadi di Panti Amare dan kecelakaan yang terjadi padaku dan Sir Daval, kau lupa itu?" Lail menoleh pada Redia, mengulas senyum tipis.


Redia melotot dan hendak melakukan pembelaan lagi, tapi dua serdadu mendekat dan mencekal Redia untuk tidak memberi perlawanan. Anom dan Rebelia terkejut dan berusaha menengahi.


"Kau yang melaporkan ini, Lail?" Rebelia tidak percaya atas tindakan Lail.


"Ya, aku melakukannya."


"Kenapa kau begitu tega?!" Rebelia meraung dan Anom ikut berada di sisi Rebelia.


"Ikuti saja Redia ke kantor keamanan untuk diperiksa, aku yakin ibu akan menarik kata-kata barusan." Lail kemudian hendak pergi dari sana, tapi Rebelia mencekal tanganya.


"Aku yakin Redia tidak melakukan kejahatan! Pasti ada kesalah pahaman antara kau dan Redia, selain itu, tidak ada bukti bahwa Redia melakukan semua kejahatan itu."


"Sir Daval!" Lail kembali berseru dan tidak lama Daval datang sambil membawa dua orang.


Oktal dan si kusir penyebab kecelakaan. Mata Redia nyaris meloncat dari tempatnya sementara oramg yang tak paham hanya saling pandang dan bebrincang.

__ADS_1


"Bukan itu saja, hal buruk yang terjadi padaku baru-baru ini juga ulah Redia. Grand Duke telah selesai mengintrogasi Wanner dan Wanner mengatakan bahwa Redia mendekatinya saat Festival Lampion Cinta seraya memberitahu informasi palsu tentang pertunanganku dengan Grand Duke dan Wanner sendiri mengatakan bahwa perkataan Redia yang membuatnya tak bisa menahan diri alhasil, Redia ikut andil dalam kejahatan ini dan akan ditetapkan sebagai tersangka."


Penjelasan Lail membuat semua orang terkejut lalu Redia tak berkutik ketika Oktal da si kusir menunduk demi menghindari tatapannya, tapi bagaimana bisa?!


" ... Kami juga akan menahan Lady Aiksa." Dua serdadu lain membantu Aiksa berdiri.


Aiksa kelabakan bak orang bodoh lalu hendak melakukan pembelaan sayangnya Lail lebih dulu menyela.


"Kusir telah memberi kesaksiannya, jadi tidak usah banyak mulut, Aiksa," kata Lail telak.


Redia mengepalkan tangan, lalu berujar keras, melampiaskan semua emosi yang sudah ditahannya.


"Ya, benar aku melakukannya! Aku ingin menghancurkan dan membunuhmu, aku benci melihatmu berada di antara aku, ayah, dan ibu! Seharusnya kau mati saja bersama ibumu disa—"


Perkataan Redia terhenti karena Lail melayangkan tamparan cukup keras. "Pada akhirnya kau menyakiti diri sendiri," tutur Lail yang membuat tubuh Redia mendadak lemas lalu sedetik kemudian tangisnya pecah.


"Kalian pantas mendapatkannya," desis Lail dan pergi dari sana.


...***...


Sekarang, dua wanita ini berada dalam satu sel yang sama, sejak masuk keduanya bertengkar tanpa henti. Keduanya dapat bebas jika membayar denda yang cukup besar, tapi sepertinya keluarga mereka sengaja membiarkannya lebih lama mendekam di sel lembap dan terasa bau itu.


Sementara itu, di pusat kota Gazea, jalanan jadi basah dan lembap, langit tak lagi memerah dan hendak menangis. Tonggak-tonggak pada pedagang kaki lima mulai terpasang kokoh, cahaya jingga dari penerang mereka mulai berpadu dengan jalanan yang mulai disesaki warga.


Di banyaknya pejalan kaki disana, Lail terlihat berdiri sambil memegang dua tusuk cumi bakar yang masih mengepul asap lalu di depannya sosok gagah Gaiden fokus mengeratkan mantelnya.


"Bagaimana dengan Wanner?" tanya Lail yang telah menghabiskan cumi bakar tusuk.


Gaiden mengamit tangan kanan Lail kemudian berjalan bersama. "Penjara seumur hidup, tapi sebelum itu aku mencabut gelarnya secara tidak terhormat."


Lail mengangguk, itu sudah sangat bagus bagi Wanner, tapi sepertinya Gaiden masih tidak puas.


"Ini kencan pertama kita, jadi jangan membicarakan pria breng**k itu." Gaiden berhenti pada toko aksesoris.

__ADS_1


" ... Kau menginginkan sesuatu?" tanya Gaiden.


Lail memperhatikan sederet aksesori pada bar dagangan lalu telunjuknya jatuh pada salah satu bros dengan permata yakut sebagai perhatian di tengahnya.


"Itu sangat indah, seperti matamu," ungkap Lail, tersenyum manis hingga matanya menyipit dan nyaris tertutup.


Gaiden membeku sambil memandangi Lail sementara yang dipandang telah mengambil bros itu dan memasangnya pada mantel.


"Indah, kan?" Lail menunjukkannya.


Gaiden tersadar dan mengangguk kemudian keduanya meninggalkan perkotaan, berjalan kaki menuju Kastel Themlio.


Aroma tanah basah begitu menangkan bagi Lail ditambah tangan hangat Gaiden yang mengenggamnya membuat Lail semakin terbuai. Langkah keduanya ringan, begitu akrab dengan tanah.


"Aku ingin kita terus bersama," ungkap Lail, berhenti dan menghadap Gaiden.


Kini mereka saling berhadapan dan Kastel telah terlihat di depan sana. Mata Gaiden menatap lekat bros Lail, apakah matanya seindah itu? Berkilau dan cantik? Gaiden benar-benar hanyut dalam pikirannya.


Terkadang, Gaidencberpikir apakah ia pantas mendapatkan cinta setelah mengakhiri banyak kehidupan orang-orang ketika perang berlangsung ditambah belum pernah ada yang memuji matanya.


"Apa aku mengatakan hal yang salah, Gaiden?" Lail bertanya sembari menangkup wajah Gaiden.


Gaiden memejamkan mata, menikmat hangatnya tamgan kecil di wajahnya itu. Perlahan sudut bibir Gaiden membentuk lekungan tipis, menciptakan senyum menawan yang membuat jantung Lail berdebar lebih cepat.


"Sepertinya aku harus mengikatmu lebih dulu," gumam Gaiden.


"Mengikat?" ulang Lail.


Gaiden membuka mata, tatapannya begitu dalam. "Mari kita bertunangan dulu, Lail." Gaiden menarik napas dalam lalu merengkuh pinggul Lail, memangkas jarak hingga habis dan saling merapatkan tubuh di bawah cahaya bulan yang perlahan menyibak awan.


"Aku adalah pria penuh masalah, menjadi wanitaku mungkin hal tersulit dalam hidupmu, tapi aku menginginkanmu untuk bertahan bersamaku. Jadi, apakah kau mau menerima lamaran pertamaku?" tanya Gaiden.


Lail menengadah demi memperjelas ekspresi Gaiden yang merunduk membalas tatapannya. "Bagaimana, ya ... Sepertinya aku tidak bisa menolak pesona Grand Duke," jawab Lail diselingi kekehan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2