
...SELAMAT MEMBACA...
"G-gaiden."
Lail tampak kaku untuk memanggil Gaiden yang baru sampai mengantarnya pulang ke mansion. Selama perjalanan kembali, Gaiden enggan menatap Lail dan terus diam dengan ekspresi tak bersahabat.
Lail sadar bahwa tindakannya di pemakaman adalah salah, tapi saat itu hanya hal itu yang Lail pikirkan agar Wanner sadar bahwa ia memang kekasih Gaiden sehingga tidak mengejarnya lagi. Akibat perbuatannya sendiri, Lail harus membuang jauh-jauh tentang keputusannya untuk mengakhiri hubungan palsu ini.
"Aku akan kembali, masuklah."
Gaiden tidak keluar dari kereta kuda, membiarkan Lail berdiri di depan gerbang sambil menatapnya penuh rasa bersalah.
Tangan Lail mengamit gelisah, perasaan ini belum pernah ada sebelumnya. Rasanya begitu sesak melihat Gaiden dingin kepadanya, padahal Lail yakin ini adalah rasa bersalah, tapi hati kecilnya seakan menepis hal itu. Lail kebingungan sendiri dengan perasaannya, jadi sambil bersikap acuh, Lail memutar tubuh untuk masuk tanpa mempedulikan Gaiden.
Mata Gaiden bergerak, mengamati Lail dari dalam kereta. Perasaannya masih kacau karena Lail menjadikan ciuman pertama mereka sebagai alat agar Wanner menjauh.
"Cepat kembali," titah Gaiden pada kusir.
Gaiden mengusap bibirnya dengan ibu jari, memejamkan mata setelah mengembuskan napas berat. "Aku menginginkannya lagi."
...***...
Sepekan telah berlalu dan Gaiden tidak berkunjung atau mengiriminya surat dan Lail begitu gelisah karena berpikir Gaiden masih marah padanya.
"Nona mau kemana?" tanya Naika ketika Lail menyambar jubah besar.
Lail mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana hitam ketat mengilap, lekuk tubuh Lail semakin indah ketika memakai celana karena lekuk pinggulnya terlihat jelas.
"Jika ada yang mencariku, katakan saja aku jalan-jalan ke perkotaan," kata Lail kemudian memakai jubah tersebut dan pergi keluar.
Namun, kenyataan sekarang Lail menyewa seekor kuda putih dan menungganginya meninggalkan Raitle menuju Gazea, Kastel Themelio.
Hentakan Lail pada tali kendali kuda juga posisi duduk yang sempurna ketika menunggangi kuda membuat beberapa orang yang melihatnya terkesima. Tidak heran, mengingat Lail cukup mahir dalam menunggang dan berhasil menyabet beberapa kemenangan pada lomba pacuan kuda di kehidupannya yang dulu.
Selama perjalanan, Lail menunjukkan wajah kesal, bukan pada Gaiden, tapi pada dirinya sendiri. Kenapa dia harus repot menemui Gaiden, bagaimana jika Gaiden berpikir buruk tentangnya karena tidak tahu malu mengunjunginya.
Pikiran-pikiran buruk itu membuat Lail memperlambat pacuan kuda, matanya merendah karena sedih, rasanya ingin menangis.
"Tidak! Aku hanya perlu minta maaf dan kembali ke Raitle, sekalian .... Mengakhiri hubungan palsu kami agar aku tidak kian jatuh dalam pesonanya." Lail memantapkan diri kemudian kembali memacu kudanya.
Waktu terus bergulir dan Lail sampai di malam hari. Seharian memacu kuda membuat tangan kanan Lail yang baru pulih dan sudah tidak terpasang Sling, kini terasa nyeri dan pegal bahkan sedikit membengkak.
Lail menarik tangan jubahnya agar menutupi tangan kanan kemudian turun dari kuda dan memasuki kastel Gaiden.
__ADS_1
"Nona?"
Sebas terkejut melihat Lail datang di malam hari, buru-buru Sebas menyuruh Lail masuk dan menunggu di ruang tamu dengan perapian yang hidup.
"Aku ingin menemui Grand Duke," kata Lail.
Sebas agak gelisah, saat ini Gaiden sedang kedatangan tamu dari Kerajaan Hedrixine.
"Maaf, Nona. Tapi saat ini Grand Duke sedang kedatangan tamu. Saya harap Nona bisa tunggu di sini." Sebas membungkuk rendah.
Lail tidak menjawab sementara Sebas keluar untuk membuatkan Lail secangkir teh hangat dengan beberapa cemilan manis.
Merasa akan menghambat pekerjaan Gaiden, Lail memutuskan untuk kembali saja tanpa pamit pada Sebas, tapi ketika setengah perjalanan keluar kastel, Lail justru berpapasan dengan Gaiden yang jalan beriringan dengan seorang wanita.
Gaiden terbelalak sementara Lail membeku di posisinya, mulai memunculkan terkaan-terkaan negatif yang membuat perasaannya terluka.
"Siapa dia?" Wanita di samping Gaiden menoleh untuk mendapatkan jawaban.
Gaiden menatap Lail begitu dingin kemudian menaruh tangan pada bahu si wanita. "Hanya penghuni kastel."
Hati Lail berdenyut mendengar jawaban Gaiden sedangkan si wanita mengembuskan napas sambil memeluk lengan kekar Gaiden.
"Hei, pergilah menyingkir. Kau menghalangi jalan kami!" seru si wanita.
Lail meremas dada dari luar jubahnya, perlahan air luruh dari matanya dan isakan kecil lolos dari mulutnya.
"Nona?"
Sebas menyentuh pundak Lail dengan lembut, cukup lama Lail memutar tubuh untuk melihat Sebas.
"Dari tadi saya mencari and— eh!" Sebas terperangah melihat air mata membasahi wajah Lail.
Lail langsung mengusap wajah kasar dan berdiri tegap berusaha menghentikan tangis yang justru membuat dada Lail seolah akan meledak.
"Aku akan kembali sekarang. Maaf, telah merepotkan Sebas." Setelahnya Lail melangkah lebar meninggalkan kastel, meraih kuda dan memacu begitu cepat.
Sementara itu Gaiden mengantar wanita yang bersamanya untuk beristirahat ke kamar, namanya Estia Hieglton, anak dari kakak ketiganya yang berarti adalah keponakan Gaiden.
"Istirahatlah aku akan mengantarmu kembali besok," kata Gaiden.
"Paman, temani aku!" Estia merentangkan kedua tangan.
Gaiden mendengus kesal lalu berujar penuh penekanan, "Jangan banyak tingkah, Estia. Aku sudah cukup menahan diri membiarkanmu tinggal selama sepekan di sini."
__ADS_1
Estia cemberut. "Iya, iya, Paman. Kalau begitu selamat malam!" Estia kemudian menutup pintu sementara Gaiden langsung pergi begitu cepat, ia bahkan sampai berlari.
"Gra-grand Duke?"
Sebas terkejut karena Gaiden nyaris menubruknya karena berpapasan di pertigaan koridor.
"Dimana Lail?" tanya Gaiden, napasnya memburu.
"Dia baru saja kembali. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia menangis saat bilang ingin kemb—"
"Tsk! Sial!"
Gaiden terlihat sangat cemas ketika memaki kemudian berlari lagi tanpa mendengar penjelasan Sebas sampai selesai.
"Aku butuh bantuanmu, Marcus." Gaiden mengusap kuda hitam gagahnya sebelum ditunggangi.
...***...
Lail berhenti menunggang, sekarang ia berjalan sambil memegang tali kendali kuda, jalan beriringan bersama kuda di dekat pelabuhan karena tangannya sudah tidak mampu menyentak tali kendali kuda.
Angin berembus kencang hingga topi jubah Lail luruh dan angin membuai rambut blonde Lail yang tergerai.
"Apa aku pada akhirnya menyukai Gaiden?" gumam Lail, tatapannya begitu sendu.
"Bukankah marahnya terlalu berlebihan?" Lail menatap kuda putih itu sambil memberi usapan lembut pada kening.
Sekarang, Lail berhenti melangkah dan diam menikmati kapal-kapal ditambatkan. Ketika malam semakin larut maka pelabuhan terasa lengang jalanan pun begitu temaram karena pencahayaan pada jalan dekat pelabuhan ini memiliki penerangan yang minim.
"Seharusnya aku tidak kesana." Lail tersenyum getir kemudian menyandar pada pembatas jalan di sana setelah mengikat tali kuda.
"Tidak ada penolakan, Marry. Jadi jalanilah kehidupan kali ini karena sesuatu yang membahagiakan telah menantimu.”
Sekelebat ingatan akan percakapannya dengan wanita bercahaya kala itu terlintas.
"Sejak aku hidup disini, masalah terus datang, tidak memberiku jeda untuk beristirahat. Aku sampai ragu tentang sesuatu membahagiakan yang dia katakan." Lail kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, mendadak merindukan ibunya.
Setiap kali menghadapi masalah yang berat, Lail akan lari dan bercerita pada ibunya, tapi sekarang Lail tidak memiliki tempat yang pas untuk bercerita.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Gaiden tiba-tiba muncul, melepaskan kedua tangan yang menutup wajah Lail. Gaiden sedih melihat jejak air mata pada wajah Lail.
"Maaf!" Gaiden langsung merengkuh Lail erat sembari mencium puncak kepala Lail.
__ADS_1
...BERSAMBUNG .......