Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
49| Pencarian


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Gaiden berdecak kesal karena mendapati rumah Lail kosong. Tidak mau kembali tanpa mendapatkan apapun, Gaiden bertanya pada beberapa tetangga.


"Permisi. Apakah pemilik rumah itu sedang keluar?" Gaiden bertanya pada wanita paruh baya yang rumahnya di samping rumah Lail.


Si wanita mengikuti arah telunjuk Gaiden. "Ah, nona itu sudah tidak tinggal disini, katanya dia akan tinggal di Asla karena diterima kerja sebagai pengantar surat di Kantor Pos LoS."


"Asla?" Gaiden bergumam.


"Ya, itu perkotaan yang mengelilingi Istana."


Gaiden mengerti kemudian berterima kasih pada wanita tersebut dan kembali.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Gaiden kembali ke Istana sambil membawa sebuah kotak merah seukuran kepalan tangan dan diserahkan pada Nilyar, wanita berambut perak tersebut belum tidur ketika jam sudah diangka 11 malam, menunggunya.


"Aku membelikannya untukmu, aku pergi untuk membeli ini sebagai permintaan maaf waktu itu."


Nilyar bersemu, perlahan dibuka kotak kecil tersebut dan sebuah kalung berliontin violet berhasil menyunggingkan senyum Nilyar lantas sebuah pelukan dihadiahkannya untuk Gaiden.


"Terima kasih, Grand Duke!"


Gaiden membalas pelukan Nilyar lalu berkata, "Sayang sekali, padahal aku ingin melihat Asylam lebih lama, mengingat ini pertama kalinya bagiku berada di tempat kelahiranmu."


Nilyar melepas pelukan lalu tersenyum tipis. "Kita bisa menginap beberapa hari lagi disini, Grand Duke."


"Benarkah?"


Nilyar angguk kepala membuat Gaiden tersenyum tipis seolah berhasil melakukan sesuatu.


"Kalau begitu kita bisa berada tiga hari lagi disini, tidak apa-apa?" Gaiden memastikan.


Nilyar merasa Gaiden sangat hangat malam ini, tidak mau melewatkan momen tersebut, Nilyar lantas duduk di ranjang sambil menepuk sisi kosong agar diisi Gaiden.


"Kalau begitu ... Mau, kah, Grand Duke tidur bersamaku? Aku akan meminta izin pada Kak Hendry agar kita tinggal beberapa hari lagi disini."


Bibir Gaiden menipis lantas mengikuti apa yang Nilyar pinta. "Tentu."


...***...


Pagi menyongsong, matahari tidak bermain bersama awan jadi binarnya tercerai berai begitu terik, dan Lail telah bermain bersama Pulu di taman.


Di tengah keasikan tersebut, Lail dikejutkan dengan sosok Asye, datang bersama seorang pelayan di belakang. Lail langsung membungkuk, memberi hormat pada Asye walau sangat terkejut bahwa Asye tiba-tiba mendatangi dan hendak berbincang padanya.


Sekarang, di ruang santai sambil menikmati teh, Asye terus tersenyum pada Lail, kagum dengan kefasihan Lail menggunakan bahasa Asylam.


"Aku datang karena kediaman kita berdekatan." Asye buka suara setelah menyesap pelan teh.


Lail angguk kepala. Berhadapan langsung dengan wanita yang baru saja menjadi ratu tersebutmembuatnya agak kikuk.


"Siapa namamu? Aku Asye Raff, bisa panggil aku Asye jika kita berada di kondisi tak resmi seperti ini."

__ADS_1


Lail berkedip, Asye sangat ramah. Dari percakapan itu Lail tahu bahwa Asye ingin lebih dekat dengannya namun, tidak tahu apa tujuan sebenarnya. Belajar dari segala masalah sebelumnya, Lail jadi begitu curiga.


"Saya Lail Manuella, Anda bisa memanggil saya Lail."


Asye kembali tersenyum lantas menarik kursi lebih dekat setelah melihat perut Lail agak besar di balik gaun canary yang dikenakan.


"Yang Mulia telah menceritakan semua tentangmu."


Mendengar penuturan Asye, wajah Lail mendadak tak senang, walau berusaha disembunyikan, Asye mampu melihatnya.


"Maaf. Aku mendesak Yang Mulia untuk bercerita karena aku berpikir kau adalah wanita simpanannya." Asye langsung menunduk sembari melanjutkan perkataan, "Aku mencemaskan hal itu karena tidak ingin berbagi perasaan yang sama ke wanita lain terhadap suamiku."


Menyadari apa yang Asye cemaskan, Lail melunakkan raut wajah. "Tenang saja, Yang Mulia, aku tida—"


"Asye," potong Asye.


Lail angguk kepala. "Aku sama sekali tidak tertarik pada Yang Mulia Raja, Asye. Aku hanya sementara disini, hanya sampai melahirkan anakku."


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


Pertanyaan Asye sukses membuat Lail terdiam cukup lama. Benar, apa yang akan dilakukannya setelah melahirkan? Kembali ke Hendrixine dan melanjutkan bisnis atau tetap disini hidup bersama anaknya? Lail baru sadar bahwa ia tidak memiliki tujuan setelah itu.


"Pikirkanlah, Lail. Aku akan membantumu karena sekarang aku adalah temanmu ... Em, jika kau menerimaku."


"Terima kasih, Asye. Aku tidak mungkin menolak, ini sebuah keberuntungan untukku."


"... tapi berapa umurmu?" tanya Asye.


"22 tahun."


"Kau yakin?"


Asye angguk cepat. Lail buka mulut untuk memanggil Asye dengan sebutan Kakak, tetapi secara mendadak Zavir muncul di sana.


"Apa yang kau lakukan kemari? Bukankah Kakakku sudah bilang bahwa Lail bukan wanita simpanannya?"


Alis Zavir bertaut ditambah rahang mengeras pertanda menahan emosi.


"A-ada apa denganmu, Pangeran? Aku hanya menyapa Lail saja. Benarkan, Lail?"


Lail angguk kepala. "Ya."


Wajah Zavir mendadak merah, pria berkulit pucat tersebut lantas memalingkan wajah serempak tubuh menghadap belakang, hendak pergi dan memarahi Rakaz. Dia datang karena Rakaz bilang Asye akan melabrak Lail.


Setelah Zavir pergi, senyum Asye mengembang melihat Lail kebingungan akan sikap Zavir.


"Sepertinya Zavir sangat peduli padamu, ya."


Lail tertegun lalu mengusap bibir cangkir menggunakan ibu jari. Perkataan Asye benar, Zavir selalu ada di sisinya, membawanya mencari ketenangan dan selalu sigap jika ia mengalami kesulitan saat hamil. Lail diam cukup lama sampai sebuah pendapat aneh dalam pikirannya muncul 'Zavir seakan bertindak seperti seorang suami yang selalu ada untuk istrinya yang hamil'


Lail langsung menggeleng kuat sambil mengembuskan napas. "Ya, Zavir sangat memperhatikanku karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang adiknya perbuat padaku."

__ADS_1


Merasa telah menyakiti perasaan Lail, wanita berstatus ratu tersebut langsung tidak enak hati pada Lail namun, dalam sekedip senyum hangat Lail terlempar padanya.


"Aku baik-baik saja. Sebenarnya ... "


"Sebenarnya?" Asye seolah mendesak.


"Ketimbang berdiam diri di sini tanpa melakukan apapun, aku ingin melakukan hal yang lebih berguna." Laill agak skeptis, matanya bergerak gelisah.


"Katakan, Lail. Aku mungkin bisa membantumu."


Lail merasa tidak enak apalagi pemikiran ini baru saja muncul, terlebih Asye menjadi teman dihari pertama pertemuan.


"L-lupakan. Aku rasa belum waktunya unt—"


Perkataan Lail terhenti kala alis Asye bertaut. "Lail ... Katakan."


"Mengerikan!" Lail bergidik.


Lail tarik napas dan mengembuskan perlahan lantas berkata, "Aku ingin mendaftar sebagai sekretaris kerajaan Asylam, aku memiliki kemampuan yang sangat baik. Kupikir karena anda baru menjabat sebagai ratu, banyak posisi penting yang perlu diisi. Mungkin ... aku bisa membantu." Lail memelankan nada bicara di kalimat terakhir.


Senyum Asye mengembang. "Kalau begitu kau diterima."


"S-secepat itu?"


Asye angguk kepala. "Kalau begitu aku kembali dulu, Lail. Besok datanglah menemuiku."


Lail langsung ikut berdiri ketika Asye hendak kembali. "T-terima kasih, A-Asye!"


Asye tersenyum simpul dan segera pergi dan bersamaan itu, di Asla tepatnya dalam ruang tunggu Kantor Pos LoS, Gaiden terlihat duduk berhadapan dengan Baman.


Gaiden bertanya tentang Lail. Baman berpikir cukup lama, awalnya enggan memberitahu namun, mendengar cerita Gaiden serta melihat raut wajah frustasi Gaiden, Baman lantas memberitahu.


"Nona itu hanya bekerja sepekan di sini. Dia datang mengundurkan diri secara baik-baik ditemani seorang kesatria yang mungkin berasal dari istana," jelas Baman.


"Istana?" Gaiden mengerutkan dahi.


"Ya. Sepertinya dia diterima bekerja di Istana."


Ingatan Gaiden tentang wanita yang didekap Zavir langsung terlintas, pikirannya sudah agak kacau.


"Anda yakin?"


"Sangat yakin. Lagi pula itu tidak aneh, mungkin orang istana langsung tertarik mempekerjakan Nona Lail setelah melihatnya mengirim surat ke Istana."


Gaiden berdiri, menundukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih dan pergi.


Baman diam, mengamati punggung lebar Gaiden semakin menjauh. "Sepertinya aku membuat masalah untuk nona itu," gumam Baman.


...BERSAMBUNG ......


...Terima kasih untuk segala bentuk dukungannya, saya harap cerita ini bisa menghibur kalian....

__ADS_1


...Seminggu terakhir ini saya fokus ujian jadi maaf jika update cukup lama....


...Sampai jumpa di part selanjutnya....


__ADS_2