
...SELAMAT MEMBACA...
Gaiden menyerahkan sebuah tanaman liar pada Carl dan mengatakan bahwa tanaman itulah pemicu kuda mengamuk, tanaman hijau mengilap itu menimbulkan efek kebingungan dan rasa pening yang hebat apabila diberikan pada kuda, tanaman beracun.
Tidak berhenti di situ bahkan Gaiden sampai mengeret pengawal pribadi Estia, pelaku yang memberikan tanaman tersebut pada kuda-kuda atas perintah Estia.
Baik Carl maupun anggota keluarga kerajaan yang lain sudah tidak bisa berkata apapun bahkan melepaskan Estia dari penjara bahkan setelah ini, Carl memanggil dokter terbaik untuk memeriksa apakah benar bahwa Estia sudah sejak lama tidak mengalami jantung lemah dan ternyata itu benar sehingga Estia tidak kesulitan atau mendapat bahaya karena mengkonsumsi alkohol kendati demikian, reputasi keluarga kerajaan sudah tercoreng akibat ulah Estia dan para bangsawan terus melaungkan permintaan hukuman mati untuk Estia namun, Carl memutuskan untuk memberi penjara seumur hidup pada Estia, membiarkan keponakannya mati di dalam penjara dengan segala perenungan dan keputus asaan untuk terbebas.
Lalu, setelah dua hari berlalu, para tamu yang mengisi acara waktu lalu dipanggil kembali oleh Carl dan Rosea untuk mengutarakan permintaan maaf atas hal buruk yang telah keluarga mereka lakukan sekaligus mengumumkan pemenang dari balapan kuda.
Tentunya, dengan rasa bahagia yang tidak terbendung, Carl dan Rosea menyebut nama Lail sebagai pemenang. Walau mulanya tak berniat menerima karena banyak korban yang jatuh akibat kemarin, tapi Lail harus menerimanya karena para bangsawan lebih lapang dan mengatakan pemenang tetaplah pemenang selain itu banyak bangsawan yang kagum karena ternyata Lail mampu menyaingi Kyle dan menjadi satu-satunya wanita yang mampu melampaui Kyle dalam balapan kuda.
Lail menerima hadiah yang diberikan Rosea kemudian setelah acara tuntas, Lail kembali ke Valazad bersama Gaiden. Hubungan Gaiden dan Lail tampak pulih, terlihat dari Lail yang tidak mengeluh kala Gaiden terus memeluknya dan berjanji tidak akan membuat kesalahan yang akan membuat Lail marah dalam waktu cukup lama.
"Kyle .... Apa dia begitu dekat denganmu?" Lail bertanya namun, pandangannya terlempar jauh pada lapangnya taman di luar jendela.
"Ya, dia satu-satunya rekan yang selamat dalam perang."
"Sepertinya kalian cukup seras—"
"Dengar, Lail." Gaiden melepaskan pelukan, mencekam sepasang bahu istrinya.
"Jangan terlalu dekat dengan Kyle. Dia sepertinya mau lebih akrab denganmu. Maksudku kau boleh akrab dengannya, tapi jangan sampai terlalu dekat." Gaiden berujar serius.
"Hm?" Lail cukup kelabakan dengan sikap Gaiden karena berpikir perkataan itu seharusnya ia yang utarakan, tapi sepertinya Gaiden justru lebih khawatir.
"Bagaimana mengatakannya, ya. Aku hanya takut Kyle membuatmu dalam banyak masalah, dia itu tidak memiliki teman wanita karena sikapnya yang terlalu keras dab posesif terhadap orang yang diyakini berharga dan penting baginya, terutama seorang teman. Sejak kau memenangkan pertandingan kemarin, dia terus memintaku untuk membuat pertemuan antar kalian, tapi aku terus menolak." Gaiden mengembuskan napas cemas namun, Lail justru tertawa kecil. Ternyata, Lail terlalu banyak salah paham tentang Gaiden karena kenyataannya Gaiden tidak akan berpaling pada wanita lain.
"G-grab duke ..."
Gaiden dan Lail menoleh ke arah pintu yang masih tertutup, suara Sebas terdengar dari luar. Keduanya menunggu lanjutan perkataan Sebas.
"Lady Kyle datang untuk menemui Grand Duke dan Grand Duchess," lanjut Sebas.
__ADS_1
"Hah?!" Gaiden menganga lebar sementara Lail mulai meninggalkan ranjang, berjalan untuk keluar dari kamar sedangkan Gaiden masih membeku di ranjang.
"Lail ..." Gaiden memanggil.
"Sejujurnya aku juga mau akrab dengan Lady Kyle, jadi izinkan aku untuk menjadi temannya." Lail tersenyum hangat membuat hati Gaiden seolah berdesir oleh angin yang sejuk.
...***...
Beberapa hari telah berlalu, Lail kembali fokus pada bisnis parfumnya dan Kyle semakin rajin berkunjung ke kastel untuk menemuinya. Lail berpikir sikap keras yang Kyle lakukan timbul karena sikap canggungnya yang tidak terbiasa berinteraksi dengan sesama wanita. Kyle bilang bahwa teman wanitanya tidak akan bertahan lama jika bersamanya padahal selama beberapa kali berinteraksi dengan Kyle, Lail mendapati bahwa sosok Kyle begitu hangat dan penuh perhatian walau terkadang agak aneh.
"Ini sangat harum!" Kyle memuji setelah menyemprotkan parfum keluaran baru yang akan Lail luncurkan di penghujung tahun ini.
"Kau menyukainya?" Lail bertanya.
Kyle angguk antusias. Walau terbilang umur mereka terpaut 6 tahun, itu bukan penghalang bagi Lail maupun Kyle untuk berbicara santai selayaknya teman sebaya. Selain itu, Lail berencana untuk mencari pasangan untuk Kyle karena setahu Lail, Kyle belum kunjung menambatkan hati pada seseorang sementara umurnya kian bertambah.
"Selamat pagi, Lail."
Pintu kerja terbuka, Jay datang sambil membawa anggur dari kebun keluarga kemudian meletakkannya di meja. Lail menyambut ramah kedatangan Jay dan berterima kasih atas anggur itu namun, ketika menangkap sosok Kyle di dekatnya, Lail terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.
"Y-ya."
"Perkenalkan, dia adalah Jay dan Jay ini adalah Kyle."
Jay angguk kepala lalu menjulurkan tangan pada Kyle, mencium punggung tangan Kyle singkat sambil tersenyum.
"Senang bertemu dengan Lady Kyle. Saya sudah dengar banyak tentang Lady, dan ini pertama kalinya saya bisa melihat secara langsung. Lady benar-benar menganggumkan seperti rumor yang beredar." Jay menyengir lebar dan sukses membuat hati Kyle terasa hangat.
" .... Kelinci," gumam Kyle, nyaris berbisik.
"Hah?" Lail dan Jay saling pandang.
Kyle tersadar dan langsung duduk tegak. "Maaf, aku hanya asal bicara."
__ADS_1
Mereka kemudian terlibat perbincangan santai. Kyle tidak henti memperhatikan Jay sambil mengunyah buah anggur dari Jay, itu benar-benar enak dan segar. Lail tersenyum tipis melihat tingkay Kyle, mungkin Kyle tertarik pada Jay atau mungkin jatuh hati pada pandangan pertama.
"Hm ..." Lail tampak berpikir.
"Oh, ya, Jay. Bolehkah aku dan Kyle melihat kebun anggurmu?" tanya Lail.
"E-eh aku juga?" Kyle terlihat gugup.
Lail hanya tersenyum pada Kyle lalu menatap Jay.
"Tentu saja. Datanglah besok, aku akan menunggu Grand Duchess dan Lady Kyle." Jay tampak senang.
...***...
Keesokan harinya, Lail datang ke kebun keluarga Jay. Beberapa petani anggur terlihat sibuk mengurus anggur dan tak lama Jay datang namun, senyum Jay terlihat pudar kala melihat sosok gagah di balik Lail berdiri seakan menjadi penghalang terbesar bagi Jay.
"A-aku tidak tahu kalau Grand Duke juga akan datang," kata Jay.
Lail melirik Gaiden di belakangnya lalu tersenyum canggung. "Maaf, Jay. Suamiku bersikeras untuk ikut saat aku meminta izin melihat kebunmu."
"Kau tampak kecewa, ya, Jay," komentar Gaiden.
"Kalau begitu boleh, kah, aku dan Gaiden melihat-lihat sebentar? Dan ... Kyle, kau bisa bersama Jay menikmati kebun anggur." Lail tersenyum cerah sementara Kyle tersipu malu.
"Hah? Apa-apaan ekspresimu, Kyle? Jangan bilang kau menyuka— Hmph!"
Hah?!
Jay dan Kyle menganga melihat Lail dengan berani memutus kalimat Gaiden dengan bungkaman. "Maaf, ya, Jay, Kyle. Aku ingin melihat ke arah sana bersama Gaiden," pamit Lail sambil memeluk erat lengan Gaiden, menjauh dari sana.
"Pfft ... mereka sangar serasi, ya ..." Kyle menahan tawa namun, saat berkata demikian sembari menatap Jay, Kyle justru mendapati raut wajah kekesalan pada Jay.
"Ya, sepertinya." Jay menjawab sembari menuntun jalan, membawa Kyle untuk menyusuri perkebunan.
__ADS_1
Ekor mata Kyle bergerak, melirik Jay yang jalan beriringan di sisinya. "Maaf, menanyakan ini. Sepertinya aku membuatmu tidak nyaman, ya?" tanya Kyle.
...BERSAMBUNG ......