Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
51| Undangan dari Hendrixine


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Delapan bulan kemudian.


"Harus kukatakan berapa kali, Lail?"


Lail yang fokus mengurus beberapa dokumen milik ratu mengalihkan pandang pada ambang pintu. Zavir berdiri sambil menautkan alis sebelum mendekat.


"Maaf, tapi aku tidak bisa berdiam diri terlalu lama selain itu, Arthur sedang tertidur," balas Lail sambil melempar pandang pada ayunan bayi yang tak jauh darinya. Bayi laki-laki berambut blonde di ayunan begitu tenang saat terlelap.


Arthur Zanderic, anak yang Lail lahirkan dua bulan lalu telah terlelap di ayunan kayu. Arthur memiliki mata amber cerah, rambut blonde serta kulit bersih seperti Lail.


"Padahal aku sudah memberimu libur yang lama, Lail." Asye tiba-tiba muncul ditemani Hendry dan Rakaz.


Lail tertawa canggung. "Maaf. Tapi aku sudah merasa sangat baik."


"Ya, baiklah. Jadi ... apa yang dilakukan keponakan tampan kami?" Asye segera mendekati ayunan sambil menyentuh perut.


"Wah, dia tertidur." Asye melirik Hendry yang telah berdiri di sisinya, ikut tersenyum melihat Arthur.


Perut Asye sudah cukup besar, usia kandungannya 5 bulan. Sejak Arthu lahir, kedua pangeran, ratu dan raja asylam tersebut selalu mendatanginya, bukan untuk menyapa tapi berbasa-basi sebelum mendekati ayunan dan mengaggumi anaknya bahkan Asye sering menghabiskan waktu di paviliun untuk menggendong Arthur dan mengajaknya jalan-jalan di taman. Sekarang, penghuni istana sudah mengetahui keberadaan Lail, mereka mengira bahwa Lail adalah adik Hendry dari selir yang disembunyikan Raja, jadi tidak ada rumor buruk dan perlakuan jahat yang Lail terima selama di Asylam.


"Ah, aku mau menyerahkan ini." Rakaz menyodorkan sebuah surat berstempel lambang keluarga Kyle.


Senyum Lail terbit, Zavir tidak melepaskan pandang dari Lail di saat tiga orang di samping sudah sibuk mengerubungi Arthur.


Itu undangan pernikahan Kyle dan Jay yang akan diselenggarakan sepekan lagi. Lail turut bahagia karena akhirnya pasangan tersebut memasuki pernikahan.


"Berarti aku harus kembali ke Hendrixin, kan?" gumam Lail.


Zavir yang mendengar gumaman tersebut lantas mendekat, berdiri di depan meja kerja Lail. Pikiran Zavir mengelana akan hal yang ditakutkan belakangan ini. Mengenai apakah Lail masih memiliki harapan untuk kembali pada Gaiden setelah melahirkan Arthur atau hendak kembali ke Hendrixine karena sesuai janji mereka tentang tanggung jawab sampai Lail melahirkan maka Lail bisa bebas.


"A-ada apa, Zavir?" Lail menengadah, menatap pria jakung di hadapannya.


Kini semua mengalihkan atensi pada Zavir.


Zavir menunduk lalu melirik sejenak surat tersebut, dugaan bahwa itu surat dari Gaiden, membuat Zavir mendadak muram. "Tidak apa-apa. Maaf, sepertinya aku harus kembali ke Orcal."


"Secepat itu?" Hendry angkat sebelah alis.


Orcal adalah tanah yang dikuasai oleh Zavir jadi selain bertugas membantu beberapa urusan militer kerajaan, Zavir sebenarnya adalah seorang duke yang menguasai sebagian besar wilayah di Asylam, Rakaz pun sama, dia seorang duke namun di wilayah bernama Arera.

__ADS_1


Lail tak mengerti jadi bersikap seperti biasa, membiarkan Zavir pergi namun, Hendry dan Rakaz paham ketika melihat surat di tangan Lail. Sejak beberapa bulan terakhir, Lail sering berkirim surat dengan seseorang dari Hendrixine, dan terlihat senang setiap kali menerima surat balasan.


Baik Hendry maupun Rakaz penasaran tentang siapa yang mengirim surat, tapi tidak berniat bertanya karena itu privasi Lail. Hanya saja, Lail tidak pernah peka terhadap sikap Zavir selama ini.


"Kau masih memiliki banyak pekerjaan. Kembalilah, aku akan disini sambil melihat Arthur." Asye mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir tipis Hendry, memecah keheningan.


"Tsk!" Rakaz berdecak sebal melihat keromantisan kedua orang itu lantas pamit pada Lail.


Hendry tersenyum lalu membalas perlakuan Asye dengan hal yang sama lantas segera pergi dari sana.


"Apa itu dari teman yang sering kau ceritakan?" tanya Asye.


Lail menatap Asye dan angguk kepala. "Ya. Dia akan menikah pekan depan."


"Kau akan datang?"


Lail diam sejenak lalu angguk kepala. "Tentu saja. Jika aku tidak datang, dia akan mencekikku."


Asye tertawa begitupun Lail namun, saat ini Lail tengah memikirkan sesuatu. "Tapi ... " Lail melirik putranya.


"Bagaimana dengan Arthur? Aku tidak bisa membawanya pergi jauh, usianya bahkan belum genap dua bulan, aku takut terjadi sesuatu padanya."


Asye menepuk dada dengan bangga. "Tenang saja. Aku, kan, bibinya. Aku sangat senang jika bisa menghabiskan waktu menjaga Arthur karena Hendry selalu mencegahku melakukan hal berat alhasil aku hanya berdiam diri seharian tanpa melakukan apapun."


...***...


Keesokan harinya, Lail berjalan di taman sambil menggendong Arthur yang tak berhenti menangis.


"Ada apa?"


Lail putar badan dan mendapati Zavir yang mengenakan atasan putih dipadu bawahan hitam ketat mengilap bersama pedang tersampir di pinggang.


"Aku tidak tahu, Arthur terus menangis." Lail terlihat cemas.


Zavir sudah merasa lebih baik setelah kembali untuk menenangkan perasaan dan menjernihkan pikiran, jadi dia bersikap seperti biasa. Sambil mengulurkan kedua tangan, Zavir meminta izin pada Lail untuk membawa Arthur ke dalam gendongannya.


Lail angguk kepala dan memberikan Arthur pada Zavir dan tak lama tangis Arthur berganti tawa kecil ketika tali pakaian yang mengekspos sedikit dada bidang Zavir menjuntai mengenai wajahnya.


"Eh, dia langsung diam." Lail agak terkejut.


"Sepertinya Arthur sangat menyuk—"

__ADS_1


Lail menghentikan perkataan ketika Zavir tersenyum amat manis sambil merunduk untuk menggesekkan hidung bangirnya pada Arthur sehingga tawa Arthur kian terdengar.


"Ah, kau bilang sesuatu tadi?" Zavir yang dengar perkataan Lail terputus tadi langsung angkat kepala.


Lail langsung menepuk pipi cukup pelan membuat Zavir agak bingung.


"Ada apa dengannya?"


"Itu ... " Lail agak ragu.


"Ada apa?"


"Aku diundang ke pernikahan sahabatku di Hendrixine. Apakah aku bisa meminta bantuanmu?" tanya Lail.


"Bantuan apa?"


"Bisakah kau menjadi pasanganku untuk datang kesana?"


Mata Zavir membelalak, dadanya bergemuruh.


"Ya ampun. Maaf, aku melupakan identitasmu. Maaf, sepertinya aku kelewat bat—"


"Aku bisa. Kapan kau akan pergi kesana?" potong Zavir sangat cepat.


"Eh?"


"Dia jadi langsung setuju dan sangat bersemangat?"


"Aku akan menemanimu. Kau sudah mengajakku jadi jangan menariknya lagi," sambung Zavir.


Zavir tersenyum, dengan menjadi pasangan Lail di pesta nanti maka ia bisa menjaga Lail dari Gaiden.


"Aku akan kesana akhir pekan ini." Lail berbicara dengan tatapan agak bingung sementara Zavir segera menjauh sambil menggendong Arthur, berjalan-jalan di taman sambil bersenandung ria.


"Hm ... Paman bisa selangkah lebih jauh lagi untuk mendekati mamamu, Arthur. Tapi, apa menurutmu paman cocok untuk menjadi ayahmu?" Zavir bercoleteh sambil menatap Arthur, mengabaikan Lail yang tercenung jauh di belakangnya.


Arthur tentu tak paham, tapi Arthur terus tertawa sambil angkat tangan untuk menggapai wajah Zavir.


Zavir melebarkan senyum. "Yah, lagi pula paman tidak akan membiarkan siapapun mendekati mamamu sebelum paman siap mengatakan perasaan ini. Lalu, jika nanti ditolak maka paman akan menjadi pengagum saja." Zavir lantas terkekeh.


"Ada apa dengannya?" Lail mengerutkan dahi cemas melihat Zavir yang terkekeh sambil mengajak putranya berbincang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2