Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
22| Perasaan Lail


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Gaiden menuntun Lail masuk ke dalam rumah victorian sederhana di sudut kota, halamannya luas dengan pangkasan rumput rapi.


"Tetaplah disana," kata Gaiden yang sibuk menghidupkan perapian tak jauh dari sofa, tempat Lail duduk.


Gaiden menanggalkan jubah Lail, menyampirkannya pada gantungan kayu yang berdiri kokoh pada sudut ruangan.


Gaiden terus bergerak dan Lail hanya memperhatikan sembari menjulurkan sepasang telapak tangan pada perapian jauh di depannya.


"Minumlah." Gaiden meletakkan secangkir teh di meja bundar lalu duduk di sisi Lail, membawanya dalam dekapan ringan.


Hujan mendadak turun di pelabuhan jadi Gaiden tak sempat menjelaskan banyak hal pada Lail kecuali membawanya dulu ke rumah pribadinya dekat sudut kota.


"Aku tidak mengunjungimu selama sepekan karena keponakanku datang bukan karena masih marah tentang kejadian waktu itu." Gaiden menjelaskan, sejujurnya ia kesulitan menghadapi wanita muda seperti Lail yang bahkan belum menyadari perasaan sendiri terhadapnya.


Lail diam, memilih menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Gaiden. "Aku tidak bisa menunjukkan sikap seperti biasa padamu di depannya karena keponakanku itu wanita yang cukup merepotkan." Gaiden menjelaskan secara hati-hati.


"Aku datang untuk minta maaf dan mengakhiri hubungan palsu kita." Kilatan di mata indah Lail tampak redup sedangkan Gaiden menahan napas sejenak mendengar hal tersebut.


" Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya." Rona merah lembut menghias wajah pucat Lail. " ... Sepertinya aku menyukaimu."


Jantung Gaiden berdebar lebih cepat, sampai-sampai tak mampu menahan senyum sementara Lail semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Gaiden sangking malunya.


"Jadi apa keputusanmu? Apa kita akhiri saja hubungan palsu ini?"


Lail tampak ragu, kedua tangannya sedikit terkepal. "Bagaimana denganmu? Seperti apa perasanmu terhadapku?" tanya Lail.


Gaiden melempar pandang pada perapian. "Melebihi perasaanmu padaku saat ini."


"Kalau begitu, mari menjadi sepasang kekasih sungguhan," kata Lail.


Gaiden tertawa pendek dan mengangguk. "Ya!"


Lail mengulas senyum simpul lalu perlahan matanya mengatup disusul dengkuran halus. Gaiden mengembuskan napas, melepaskan segala ketegangan karena ulah Lail.

__ADS_1


"Siapa sangka kau begitu hebat menunggang kuda," kata Gaiden kemudian membopong tubuh Lail berbaring di tempat tidur.


Gaiden mengambil selimut baru di lemari dan memasangkannya pada Lail sementara dirinya menggelar ambal tebal di lantai. Tapi saat baru saja mau tidur, tangan kanan Lail keluar dari selimut.


"Ya ampun." Gaiden meringis melihat tangan kanan Lail bengkak. Tidak ada air es disini jadi Gaiden duduk tepi ranjang dan memijit dan menggosok lembut tangan Lail demi mendorong aliran darah. Sesekali Lail meringis namun, saat itu pula Gaiden berusaha menenangkan agar tidur Lail tetap terjaga.


"Haah ... Benar-benar mengkhawatirkan."


...***...


Esok harinya, sebelum fajar muncul, Lail terbangun dan tidak mendapati Gaiden di dalam rumah namun, sepucuk surat menjelaskan segalanya.


[Aku harus kembali ke Kastel. Makanan sudah aku siapkan lalu jangan lupa minum obat pereda nyeri yang telah kubeli untukmu. Tunggu aku siang nanti]


Lail melirik obat bubuk dalam botol cokelat yang tersumpal kayu. Senyum Lail terlukis, sekali lagi sikap manis Gaiden membuatnya senang. .


Sementara itu di Kastel Themelio. Kereta kuda lambang kerajaan Hendrixine siap meninggalkan kastel. Gaiden ditemani Sebas dan Simon mengantar kepulangan Estia.


"Semalam Paman kemana? Aku lihat Paman baru kembali di pagi buta."


"Pekerjaan."


Setelah menjauh sepenuhnya, Estia berdecak kesal karena Gaiden masih saja begitu dingin padanya padahal sudah bertahun-tahun Estia berjuang demi mendapatkan perhatian juga cinta Gaiden. Estia tidak peduli bahwa Gaiden pamannya, Estia hanya tahu bahwa Gaiden akan menjadi miliknya dan jika ada wanita lain yang berusaha merebut Gaiden darinya maka Estia akan menghabisi dan menyingkirkan wanita itu, sama seperti yang dia lakukan terhadap wanita-wanita yang berusaha mendekati Gaiden.


"Wanita yang semalam tidak terlihat seperti pelayan, apa dia orang baru? Argh! Kenapa juga aku memikirkannya, lagipula Paman begitu dingin dan tidak peduli pada wanita itu, jadi tidak mungkin dia wanita yang dirumorkan dekat dengan Paman."


Estia bermonolog. Sesungguhnya, liburan pekan ini Estia lakukan setelah dengar bahwa Gaiden dekat dengan seorang wanita bahkan dikatakan menjadi sepasang kekasih, tapi kata Gaiden itu hanya kabar simpang siur.


Di sisi lain, Gaiden mengembuskan napas, matanya berkilat seperti ada kobaran api di dalamnya. "Estia masih begitu terobsesi padaku, terlalu bahaya menempatkan Lail di sisiku jika Estia berkeliaran."


Estia sudah menyatakan perasaan berkali-kali pada Gaiden namun ditolak baik secara halus maupun kasar, tapi Estia seolah tidak jera dan terus melakukannya bahkan Gaiden pernah menyaksikan kemarahan Estia ketika Gaiden hampir pernah menerima ajakan dansa seorang wanita bangsawan. Estia tidak melampiaskan kemarahan padanya melainkan pada wanita tersebut.


"Belum ada yang bisa menghadapi kegilaan Putri Estia, Grand Duke. Jika suatu hari dia mengetahui keberaan nona Lail, apa yang akan anda lakukan?" tanya Sebas khawatir.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Lail. Selain itu, aku ingin semua surat kabar mengenaiku dan Lail dihentikan, keluarkan surat perintah itu dan berikan kepada setiap perusahaan surat kabar di seluruh Valazad!"

__ADS_1


Simon menunduk cepat. "Siap, Grand Duke!"


...***...


...Kediaman Wanner, wilayah Arche...


Wanner membanting vas bunga keramik hingga menjadi serpihan, Aiksa memekik sambil menutup kedua telinga.


Lagi. Mereka bertengkar untuk masalah yang sama. Aiksa tidak sangka bahwa Wanner ternyata bersikap kasar begini, sifat lemah lembut yang selama ini dikenalnya telah sirna sejak mereka resmi bertunangan.


Aiksa mengungkit masalah Lail dan meminta Wanner fokus pada dirinya yang tengah mengandung, tapi Wanner mendapat kenyataan pahit mengenai kehamilan Aiksa.


Hari ini, ketika Aiksa tidur siang dan terlihat pucat, Wanner memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya Wanner pikir mungkin kandungan Aiksa bermasalah jadi sekalian meminta memeriksa kandungan, tetapi dokter bilang bahwa Aiksa tidak sedang hamil.


Wanner masih belum mengatakan apapun dan terus membanting barang-barang berikutnya namun, Aiksa malah mengungkit masalah Lail dan kandungan palsunya.


"Aku pikir kau akan mengaku! Kenapa masih membawa alasan tengah hamil!" bentak Wanner di depan wajah Aiksa.


"Aku tahu kau berpura-pura hamil!" sentak Wanner penuh emosi, matanya terlihat merah sangking emosinya.


Aiksa terkejut, terbelalak sampai tak bisa memuntahkan sepatah kata pun. Jantungnya berpacu lebih cepat mendengar perkataan Wanner, pertahanan dirinya langsung runtuh karena ketakutan.


"Jika semua orang tahu, mau ditaruh dimana mukaku! Bagaimana bisa kau melakukan hal serendah ini?!" Wanner berteriak di depan wajah Aiksa yang telah pucat.


Aiksa menelan saliva sulit, berusaha mengumpulkan keberanian tak peduli barang-barang di kamar sudah luluh lantah dan beberapa pelayan menguping dari luar.


"Ini semua karena aku mencintaimu! Aku sudah berusaha keras, tapi kau masih melirik Lail maka dari itu, aku tidak bisa menahan diri untuk membohongimu! Aku tidak sepenuhnya salah ..."


Walau tubuhnya bergetar hebat, Aiksa justru tertawa kecil seolah mengolok hubungannya saat ini.


"... Kau bahkan berniat mengakhiri hubungan kita dan kembali pada j***ng itu, kan? Aku tahu semuanya!" raung Aiksa tak kalah sengit.


Wanner mengetatkan rahang kemudian dalam satu kali gerakan, Aiksa merasa pipinya memanas akibat tamparan Wanner. "Jaga mulutmu!"


Setelah itu Wanner pergi, menabrak keras bahu Aiksa hingga wanita itu tersungkur di lantai. Tak lama, tangis Aiksa pecah dan beberapa pelayan mendekat untuk membantunya menyingkir dari sana.

__ADS_1


"Kenapa aku harus mengalami ini! Kenapa?!" raung Aiksa begitu nelangsa.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2