Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
54| Meyakinkan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Bagaimana, Lail? Apakah aku pantas menjadi suamimu sekaligus ayah bagi Arthur?"


Suasana mendadak tegang, Asye memutuskan undur diri sambil mengeret Rakaz keluar walau pemuda berambut merah tersebut tetap ingin menyaksikan hal tak terduga yang baru saja Zavir ciptakan.


Hening. Lail memutuskan kontak mata karena Zavir tak kunjung mengalihkan pandangan darinya. Senyum Zavir tercipta. "Aku mendengar semuanya dari luar."


Lail langsung kembali menatap Zavir, namun pria bermata hazel tersebut memandangi Arthur dengan penuh kasih dan kegemasan.


"Aku berusaha keras untuk mengisi kekosongan di antara kau dan Arthur."


"Tapi kau tau bahwa ak—"


"Wanita tanpa suami? Orang asing yang melarikan diri?" Zavir menyela cepat dan bersamaan itu Lail angguk kepala dan menunduk lesu.


"Aku tidak akan berbuat sejauh ini jika hal-hal itu menganggu atau membebaniku. Justru aku berpikir, apakah kau yang justru terbebani dengan permintaanku ini. Jika aku mengambil langkah untuk menjadi lebih dekat denganmu, apakah aku bisa memenuhi semua keinginanmu? Apakah aku pantas mengambil alih tanggung jawab yang pernah pria itu isi?"


Lail bergeming sementara Zavir hanya tersenyum tipis. "Aku mencintaimu juga sangat menyayangi Arthur dan kurasa aku telah siap untuk membawa kau dan Arthur menjadi bagian dari diriku, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku berjanji."


Dada Lail bergemuruh, rasa aneh diperutnya membuat tubuh Lail agak meremang.


"Aku tidak akan mendesakmu, Lail." Wajah pucat Zavir agak bersemu, sudah sejak awal dia menahan rasa malu setelah mencurahkan semua kalimat tadi.


"Aku akan menunggu jawabanmu. Tidak peduli berapa lama karena aku akan tetap menantikannya." Zavir lantas menaruh Arthur ke dalam ayunan sembari menatap Lail yang menggigit bibir bawah.


Zavir mengembuskan napas pelan melihat Lail begitu tegang maka dari itu, dia izin undur diri dari sana dan Lail tak mencegah. Setelah keduanya tak terlihat satu sama lain, masing-masing dari mereka langsung mengabaikan semua hal di sekitar, memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, di Gazebo kediaman Raja atau Hendry. Rakaz tidak berhenti bercerita mengenai hal yang Zavir katakan pada Lail. Asye mengembuskan napas karena Rakaz begitu terkejut sementara Hendry hanya tertawa kecil karena sudah menduga bahwa Lail adalah alasan Zavir menolak semua kandidat.


"Tapi ... Bukankah Lail masih memiliki kewarganegaraan Hendrixine?" Rakaz mulai berhenti dari keterkejutannya.


Asye geleng kepala. "Itu bukan masalah. Jika Lail nantinya menikah dengan Zavir, maka kewarganegaraannya akan mengikuti Zavir."


"Lalu, bagaimana jika ada yang tahu bahwa ternyata Lail adalah wanita dari negara seberang? Apa kalian yakin rakyat Orcal akan menerima Lail sebagai Duchess mereka?" Rakaz kembali menyahut.

__ADS_1


Hendry mengulum senyum. "Aku yakin Zavir telah memikirkan semuanya. Dia tidak akan memantapkan diri jika ada hal yang mungkin akan menyakiti Lail."


Asye mengembuskan napas sambil mengusap perut besarnya, tak lama senyumnya tercipta. "Aku harap mereka bisa bersama.


...***...


Sepekan kemudian setelah kabar Zavir menolak para kandidat telah menyebar di ibukota kerajaan. Beberapa bangsawan yang kecewa setelah anaknya ditolak oleh Zavir mulai berspekulasi bahwa pangeran kedua tersebut tidak menyukai lawan jenis. Alhasil, rumor tidak mengenakkan telah menyebar.


Hendry mengembuskan napas. Saat ini Hendry telah memanggil Zavir untuk menemuinya di ruang kerja. Pria bermata hazel tersebut berdiri di depan meja kerja Hendry dengan rasa tidak peduli karena sudah tahu apa yang membuat Hendry memanggilnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya."


"Kau tahu apa yang kumaksud?"


"Rumor buruk itu, kan?"


Hendry mengusap wajah kasar sebelum kembali menatap sengit pada Zavir. "Orang-orang istana membicarakanmu dengan jelas. Bahkan, aku menyadari beberapa pekerja pria di istana agak waspada saat berpapasan denganmu."


Zavir lantas keluar membiarkan Hendry meraung kesal sementara itu setelah meninggalkan kediaman Raja, di pertengahan jalan menuju kediaman ratu, Zavir melihat Lail jalan sambil membawa setumpuk berkas.


Seraya mempercepat langkah, senyum Zavir tak luntur sampai akhirnya jalan beriringan dengan wanita berambut blonde tersebut.


"Perlu bantuan?" Zavir menahan kekehan ketika menawarkan bantuan, itu karena Lail begitu fokus melangkah sehingga tidak menyadari kehadirannya.


"Eh?!" Lail terkejut, hampir menjatuhkan semua berkas.


Zavir tertawa lalu keduanya berhenti, berhadapan. Dari beberapa sudut kediaman ratu, para pekerja mulai memperhatikan keduanya.


"Tidak perlu, aku bisa membawanya." Lail menolak.


Zavir angguk kepala lalu merogoh saku jubah, sebuah kotak merah berpita emas lantas disodorkan pada Lail bersamaan berkas yang diambil secara sepihak olehnya.


Tubuh tegap Zavir agak membungkuk, bibirnya lantas mendekat pada daun telinga Lail sembari berbisik agak sensual, "Biar aku yang bawa ke Ratu kebetulan aku ada urusan disana. Bukalah kotaknya setelah kembali ke paviliun."

__ADS_1


Lail merasa geli hingga beringsut mundur sambil menyentuh daun telinga, wajahnya sudah memerah.


Zavir semakin tertawa karena gemas melihat reaksi Lail lalu melambai untuk bergegas menemui Asye.


"Ah, jadi nona sekretaris, ya?"


"Pantas saja Pangeran kedua selalu mengunjungi paviliun."


"Yah, bagaimana pun rumor tetaplah rumor."


"Lagipula keduanya serasi, kan."


"Benar. Yang Mulia Ratu saja tampak mendukung hubungan keduanya."


Bisik-bisik mulai menguar, Lail yang sadar telah menyita banyak perhatian langsung pergi dari sana sembari memandangi hadiah kecil yang Zavir berikan.


Lail mengembuskan napas panjang, sekarang sudah sampai di paviliun, kamarnya. Sambil duduk di sofa, Lail membuka kotak tersebut hati-hati lalu mendapati sebuah kalung berliontin permata. Lail terkesima, kilatan cahaya muncul di matanya sesaat cahaya matahari beradu dengan permata.


Kalung tersebut Lail angkat tinggi-tinggi lantas senyumnya terlukis. "Ini terlihat seperti bulan juga ..."


Lail menghentikan perkataan sesaat mata indah Zavir terlintas dalam benaknya. Yah, selain terlihat seperti bulan, permata berkilau itu mirip mata Zavir yang bewarna hazel.


"Haruskah aku memakainya? Tapi, jika memakainya apa berarti aku menerima lamarannya?" Lail mulai frustasi sedangkan di tempat berbeda, Zavir terus terkekeh saat bercerita pada Asye.


"Bukankah kau terlalu bersemangat, Zavir?" Asye geleng-geleng kepala.


Zavir berhenti tergelak lalu menyandar lelah pada sofa. "Aku sudah terlalu menahan diri. Selain itu, aku ingin memperkenalkan Lail secara tidak langsung pada orang-orang agar nantinya tidak muncul rumor buruk setelah Lail benar-benar menerima tawaranku untuk menikahinya."


"Bukankah, rumor lebih baik menyerbu sekaligus? Dengan begitu, mudah dibereskan. Lagi pula, aku tidak mau membuat Lail mengalami banyak masalah dan tekanan karena dia sudah cukup mengalaminya." Zavir menyeringai tipis sambil menatap Asye.


Sekali lagi. Asye mengembuskan napas lalu angguk kepala. "Kau benar. Tapi ... Berapa lama kau akan mendapat kepastian dari Lail?" kini Asye tersenyum sarkas pada Zavir.


Merasa diremehkan, Zavir membalas Asye tak kalah sarkas. "Tentu saja secepatnya. Walau aku bilang akan menunggu, bukan berarti aku akan membiarkannya terlalu lama."


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2