Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
31| Lawan atau Kawan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Lail?"


Jay tersentak mendengar suara berat di belakang, mendapati Gaiden berdiri di bibir pintu dengan napas memburu.


"Ah! Selamat pagi, Grand Duke!"


Jay sontak berdiri dan menundukkan kepala sejenak sebagai rasa hormat. Gaiden mengerutkan dahi, wajah asing pria di hadapannya membuat alis Gaiden menukik tajam dan tak bersahabat.


"Maaf, ya, Jay. Kita bisa bicara lain waktu lagi." Lail melempar senyum manis.


Jay mengangguk dan pamit undur diri, membiarkan Gaiden dan Lail saling berhadapan dalam ruangan.


"Lail ... " Gaiden mendekati Lail namun, Lail meninggalkan posisi awal, mendekati sebuah lemari dan meraih kotak obat di pucuk lemari.


"Biar aku yang obati," Gaiden merebut kotak dari tangan Lail.


"Aku sedang tidak mau berurusan denganmu. Keluar," pinta Lail lalu merebut kasar kotak.


Wajah Gaiden mengeras, ini pertama kalinya Lail marah dan mengacuhkannya.


"Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku, Lail?" Gaiden menunduk lemah.


Lail hanya diam sembari fokus mengurus luka merah pada telapak tangan. Sesekali Gaiden menilik dan meringis melihat Lail mengerjakan luka itu sendiri.


"Baiklah, aku pulang." Gaiden akhirnya memutuskan pergi dari sana.


Sementara itu, di Ibukota Kerajaan, Raixine.


Wanita berambut merah sebahu dengan sepasang mata bak obsidian mengulas senyum tipis melihat surat dari Estia datang kepadanya.


Sambil memecah stempel basah merah yang telah kering, si wanita mengeluarkan isi dan membacanya.


Awalnya ia tersenyum jenaka, tapi setelah melihat isi surat, ekspresinya berubah berang sampai-sampai luka di wajah berupa bekas sayatan di tengah batang hidung mengerut jelas.


"Bisa-bisanya Gaiden menikah tanpa memberitahuku?!" raungnya.

__ADS_1


Kembali ke Istana Hedrixine kediaman Estia.


Senyum Estia tak kunjung pudar setelah mengirim surat pada Kyle Frein, seorang Lady dari keluarga bangsawan Frein yang mendapat gelar sebagai kesatria wanita. Kyle wanita berusia 27 tahun, salah satu rekan seperjuangan Gaiden yang tersisa di medan perang sekaligus mantan calon tunangan. Yah, itu sekitar tiga tahun lalu, Kyle menjadi kandidat sebagai tunangan Gaiden namun, pria itu justru menolaknya karena tidak bisa menerima hubungan lebih dari seorang sahabat dengan Kyle.


Estia menari sambil mengangkat tinggi cangkirnya. Tamparan Lail kemarin telah memicu amarah ibunya dan mungkin besok ibunya akan datang memarahi Lail.


"Sebentar lagi acara khusus akan digelar di Istana dengan mengundang para wanita dari keluarga bangsawan baik dari luar maupun anggota keluarga kerajaan. Saat itu, aku akan membuatnya dipermalukan karena dianggap tidak pantas bersanding dengan Paman!" katanya mantap diselingi tawa menggelegar.


...***...


Benar saja.


Ketika hari berganti dan Lail masih marah pada Gaiden, Camellia datang di siang hari dan hendak menemui Lail, tapi ternyata hanya ada Gaiden di sana.


Jadi, Camellia meluapkan emosinya pada Gaiden dan berkata bahwa tindakan Lail bisa menciptakan masalah baru karena bagaimana pun Estia adalah anggota keluarga kerajaan asli.


Gaiden mendengus. "Dengar, Kakak Ipar. Istriku tidak melakukan apapun pada wajah Estia. Kau tahu sendiri, kan, bahwa Estia suka membuat kebohongan?"


Camellia terdiam, mulai meragukan aduan Estia mengenai Lail. Tidak lama, Lail kembali dari gedung pembuatan parfum dan bersipapas dengan Camellia.


"Ah, anda di sini." Lail memberi tundukan kepala sejenak lalu melempar senyum.


Camellia mengerutkan dahi sementara Gaiden menelan saliva sulit, was-was jika Lail melakukan hal lebih buruk dari apa yang dilakukannya pada Estia. Bertindak terlalu berlebihan dan gegabah pada anggota keluarga kerajaan bukanlah masalah sepela, banyak hal yang harus diperhitungkan ke depannya.


"Tolong tinggalkan kami." Lail menoleh pada Gaiden, memberi tatapan dingin dan mulai menuntun Camellia untuk menikmati secangkir teh.


Tak berselang lama, Camellia keluar dari ruangan bersama Lail. Senyum Camellia terlalu merekah sehingga Gaiden yang sejak awal berjaga di luar tampak kebingungan.


"Kalau begitu aku kembali. Maaf karena telah salah sangka pada istrimu, Gaiden." Setelah berkata demikian, Camellia langsung keluar ditemani Lail.


Gaiden berdiri di samping Lail dan bertanya. "Apa yang kau lakukan?"


Lail diam kemudian kejadian beberapa saat lalu terngiang. Jadi, Lail memberi sebotol parfum dengan bahan dasar bunga Gardenia dan beberapa campuran bahan lain yang menghasilkan aroma pekat cukup aromatik, terasa lembut dan segar.


Lail mencari tahu informasi tentang Camellia sejak pertemuan pertama mereka dan ternyata Camellia dirumorkan dekat dengan seorang pria duda viscount di Raixine, jadi Lail berencana mendekati Camellia dengan embel-embel memberi sedikit bantuan melalui parfum yang mampu memikat pria yang disukai.


Camellia mudah terhasut dan terbuai dengan sesuatu yang baik baginya, jadi mudah bagi Lail untuk memanipulasi Camellia untuk berada di pihaknya, membuat Estia kian tidak berkutik jika hendak mengusik kehidupannya bersama Gaiden.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Lail setelahnya pergi meninggalkan Gaiden.


Gaiden mengacak rambut frustasi dan mengekori Lail, terus berbicara dan mengemis permintaan maaf. Sepanjang koridor, pelayan dan para penjaga yang melihatnya saling pandang kemudian terkekeh melihat tidak berdayanya Gaiden di hadapan Lail.


Padahal Gaiden dijuluki dewa perang berdarah dingin, tapi kenyataannya berbanding terbalik.


"Duchess."


Sebas menghadang langkah Lail di arah berlawanan.


"Ya?"


"Maaf, ini undangan untuk Anda."


Sebab memberi sebuah undangan dengan stempel emas yang kering setelah dilelehkan pada mulut surat.


Lail membuka perlahan, membaca isinya. Jantung Lail berdegup kencang, binar di mata hijaunya kian melebar.


"Royal Flante?" cicit Lail.


"Exti Royal Flante adalah salah satu acara tahunan keluarga kerajaan yang dikhususkan untuk kalangan bangsawan elit, acaranya di selenggerakan pada sebuah kota kecil bernama Flante. Acaranya berupa memacu kuda, berbeda seperti tahun lalu, dimana pria akan mendapatkan bunga untuk wanita yang dikasihi atau dihormatinya, kali ini Ratu menginginkan wanitalah yang memberi hadiah pada si pria." Gaiden menjelaskan tanpa diminta.


Lail mendengarkan dengan seksama dan Gaiden mengulas senyum tipis. Lail pasti sangat menginginkannya karena yang Gaiden perhatikan, Lail benar-benar pandai menunggangi kuda seolah sering melakukannya tanpa henti.


" ... Untuk mengikutinya, para wanita perlu izin orang tua jika belum menikah sementara jika sudah menikah bisa meminta izin suaminya."


Gaiden berkacam pinggang, tersenyum angkuh karena berpikir Lail pasti akan mengajaknya bicara duluan dan memohon dengan manja agar diberi izin.


"Dengan senang hati, suamimu ini akan memberi iz—"


"Terima kasih, Sebas." Lail memotong perkataan Gaiden lalu kembali melanjutkan langkah.


"Argh! Kenapa Lail begitu mengerikan saat marah!" Gaiden bersimpuh sambil mengacak rambut frustasi.


"Grand Duke, tolong perhatikan sekeliling Anda," intrupsi Sebas sambil melirik beberapa pandang penghuni Kastel.


Gaiden hanya diam, dia sudah tidak peduli lagi. Entah berapa lama Lail akan terus mengacuhkannya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2