Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
41| Kepergian


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Dia sedang hamil, bagaimana bisa berbuat sekejam ini, Lail?" Gaiden membantu Nilyar yang nyaris limbung.


Denyutan nyeri terasa pada lengan yang dicekal kuat Gaiden barusan, namun rasa sakit Lail tidak berasal dari sana. Spontan air mata Lail luruh mengetahui bagaimana dirinya disingkirkan seolah menjadi marabahaya bagi Lail. Itu memang salah, seharusnya Lail tidak menampar, tapi bagi Lail menampar saja tidak kurang.


Menyadari istri pertamanya menangis, Gaiden menegakkan tubuh setelah membawa Nilyar dalam gendongan.


"Aku hanya mengkhawatirkan kandungannya, jangan salah paham, Lail. Kumohon, berisitrahatlah ke kamar lalu segera minta maaf pada Nilyar," tutur Gaiden kemudian segera berlalu.


"Biar saya yang jelaskan pada Grand Duke, Grand Duchess!" Naika hendak mengejar namun, Lail menahan.


"Apa yang terjadi di sini, Grand Duchess?" tanya Daval sesaat tiba dan mendapati jejak air mata di wajah Lail.


Lail mengabaikan pertanyaan Daval setelah atensi jatuh pada tangan Daval yang terselip di balik seragam.


"Kau membawanya, Daval?" tanya Lail.


Daval angguk kepala lalu mengeluarkan tangan yang mengenggam amplop berisi beberapa berkas. "Ini dari Yang Mulia Ratu. Ah, Ratu juga memberikan sebuah surat."


Lail meraih surat tersebut, membuka perlahan dan membacanya. Rasa terharus menjalar hingga ke kepala Lail, sekujur tubuhnya mendadak gemetar bersama isak tangis yang teredam, membasahi surat dari Rosea.


[Tetaplah berdiri tegap walau punggungmu nyaris hancur karena banyak masalah yang menghampiri. Aku tidak bisa banyak membantu, tapi aku yakin pilihanmu tidaklah salah, jadi apapun yang akan kau lakukan aku akan mendukungmu. Aku tidak menulis surat ini sendirian, Kyle ada di sampingku. Katanya, kau adalah wanita kuat dan selamanya seperti itu, kami yakin pilihanmu nanti bukanlah kekalahan, tapi perjuangan.]


Seperti itulah isi suratnya, Lail pikir hanya sendiri tapi ternyata banyak orang yang menguatkannya, berharap dirinya tak jatuh begitu mudah, baik Naika, Daval, Sebas, Simon, Rosea serta Kyle.


"Besok, siapkan kereta kuda untukku sebelum fajar, Daval." titah Lail.


"Apa yang akan Grand Duchess lakukan?" Naika telah berurai air mata, perasaannya tak enak terkait perintah Lail serta pembicaraan mereka sebelumnya.


...***...


Malam telah merayap, Lail membiarkan hanya lampu tidur pada nakas menerangi kamarnya. Sambil membenarkan piyama tidur putih agak tembus pandangnya, Lail membeku ketika Gaiden memasuki kamar.


Gaiden menahan napas sejenak, menekan keinginan untuk menyentuh tubuh Lail.


"Aku menunggumu untuk meminta maaf pada Nilyar, apakah itu begitu sulit?"


Lail meninggalkan ranjang, berdiri di hadapan Gaiden sambil menengadah karena tinggi mereka berbeda.


"Iya, sangat sulit."

__ADS_1


"Dia sedang hamil, Lail. Jika ingin marah, lampiaskanlah padaku."


Lail memejamkan mata, berusaha menyingkirkan perasaan buruk di dada lantas meraih wajah Gaiden, menangkup lebih lembut.


"Kapan terakhir kali kita berhubungan, Gaiden?"


Gaiden menyingkirkan kedua tangan Lail. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Lail."


"Kau bilang jika marah aku cukup melampiaskannya padamu, bukan?" Lail menarik kasar dasi Gaiden hingga terlepas membuat penguasa Valazad tersebut terbelalak.


Gaiden tak sempat menyela, Lail telah memangut kasar bibirnya, menuntunnya hingga jatuh pada ranjang dan Lail telah terduduk di atas perutnya.


"Aku akan melampiaskannya padamu sampai rasa marahku benar-benar hilang. Setelah itu, aku bisa terbebas darimu," lirih Lail bersamaan seluruh pakaian yang ditanggalkan.


"Apa maksudmu, Lail?" Jantung Gaiden berdetak kencang, sekujur tubuhnya mendadak panas.


"Aku hanya perlu mengatasi masalahku, dan sisanya adalah urusanmu, Gaiden."


Itu kalimat terakhir Lail sebelum akhirnya berhubungan lebih intens dengan Gaiden yang hanya diam, membiarkan Lail membuat apapun pada tubuhnya.


...***...


Cahaya kemerah-merahan muncul, memoles langit agar terihat malu-malu sebelum benar-benar menyembulkan matahari.


"Apa-apaan itu?"'


Alis Gaiden terpaut tajam mendapati satu pintu lemari Lail terbuka, tidak ada gaun tergantung disana. Buru-buru mengenakan celana, Gaiden langsung memeriksa semua benda penyimpanan barang di kamar namun, yang tersisa hanya barang-barang kastel, milik Lail sirna.


"Aku akan melampiaskannya padamu sampai rasa marahku benar-benar hilang. Setelah itu, aku bisa terbebas darimu."


Perkataan Lail semalam berkelebat. Rahang Gaiden mengeras serempak pergerakannya ke luar kamar, membuat para penghuni terkejut.


"Simon! Sebas!"


Gaiden berteriak sepanjang koridor, Simon lantas muncul ditemani Sebas.


"Ya, Grand Duke?"


"Dimana Lail?" Dada Gaiden naik turun sementara Sebas dan Simon saling pandang.


"Bukankah, Grand Duchess bersama anda?"

__ADS_1


"Cari Lail di seluruh sudut kastel sekarang," titah Gaiden.


"Tenanglah, Grand Duke. Ini bahkan masih sangat pagi, memang kemana Grand Duchess jam segini, aku yakin Grand Duchess hanya jalan-jalan di tam—"


"Tidak, Simon!"


Sanggahan Gaiden bergaung serempak kepalan yang dihantamkan pada dinding, retakan tercipta bersama luka di tangan Gaiden.


"Tidak ada barang pribadi milik Lail di kamar, dia mungkin saja kabur ... Tidak! Dia tidak mungkin melakukan hal sejahat itu padaku. Cepat, cari!"


Simon segera melaksanakan perintah disusul Sebas, tapi setelah beberapa jam berlalu dan matahari telah menampakkan diri, Lail tidak ditemukan sampai akhirnya Davap dan Naika muncul dengan wajah sembap.


"Grand Duchess pergi di pagi buta tanpa memberitahu kami tujuannya," jelas Naika.


Gaiden langsung marah hendak menarik kerah seragam Naika namun, Simon dan Daval berdiri, melindungi Naika seperti sebuah perisai.


"Kenapa tidak mencegahnya?!" Gaiden membentak.


Naika gemetar namun, demi Lail ia mengumpulkan keberanian untuk membalas seruan Gaiden.


"Saya tidak bisa mencegahnya karena Grand Duchess sudah cukup terluka, dia menginginkan kebebasan! Selain itu, Grand Duchess tidak berhutang permintaan maaf pada Putri Nilyar! Putri Nilyar lah yang bersalah karena mengatakan walau nona saya seorang Grand Duchess, tapi pewaris Grand Duke akan lahir lebih dulu dari rahimnya, namun bukan karena itu Grand Duchess menamparnya, tetapi karena Putri Nilyar berkata demikian setelah nyaris membahayakan calon bayinya sendiri!"


"A-apa?"


"Grand Duke bahkan sampai menyingkirkan Grand Duchess hingga lengannya sakit! Setelah semua itu, bagaimana bisa saya mencegah Grand Duchess, Grand Duke? Tolong katakan!" raung Naika.


Daval langsung membawa Naika dalam dekapannya, sedangkan Gaiden langsung berlari menunggangi kudanya, mencari kemana Lail akan pergi.


"Mungkin Raitle? Hendirixine? Dimana kau akan bersembunyi, Lail? Dimana kebebasan yang kau maksud?"


...***...


Lail meraup oksigen dengan tamak lalu mengulum senyum melihat segerombol burung dara laut mengudara disusul suara deburan ombak yang seolah bermain ramah dengan deru angin.


Semua itu Lail rasakan ketika berdiri di geladak, tak hanya dirinya tapi beberapa penumpang lain ada disana, kapal ini akan berlayar menuju Asylam.


Meninggalkan semuanya dalam semalam lalu disambung dengan usaha melupakan. Lail, tidak ingin Gaiden menemukannya dengan mudah. Ini pilihan Lail, bukan berarti dirinya kalah, sejak awal dirinya menang karena Nilyar tidak mendapatkan Gaiden. Kepergiannya ini akan membuat Gaiden tersiksa dan menyalahkan Nilyar, kendati demikian Lail harap Gaiden bisa sedikit membuka mata pada calon anak itu nanti.


Lebih dari semua itu, Lail harus berterima kasih pada Rosea dan adjuster. Berkat Rosea, Lail bisa mengurus beberapa persyaratan untuk tinggal di Asylam dalam waktu cukup lama sementara sang adjuster akan membawa surat cerai darinya pada Gaiden. Lail dapat menggunakan perceraian sepihak dengan alasan tidak terpenuhi kebahagiannya sebagai seorang istri jadi Lail harus membayar ganti rugi pada pihak suami yakni Gaiden atas perceraian yang telah diajukannya, sesuai hukum yang ada. Jika tidak begitu, maka semuanya akan makin runyam.


"Seperti apa Asylam, ya ... "

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2