Continuing The Duke Daughter Life

Continuing The Duke Daughter Life
56| Bimbang


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Zavir memandangi tumpukan kertas di atas meja kerja dengan gelisah. Sudah lima bulan berlalu, tapi Lail masih menunjukkan sikap yang sama padanya malahan akhir-akhir ini setiap kali berpapasan, wanita berambut blonde tersebut selalu menghindarinya.


"Memang apa yang telah kulakukan?" Zavir meremas rambut menggunakan kedua tangan.


"Apa yang terjadi, Duke?" Holand, kepala pelayan kediaman Zavir di Orcal, bertanya.


Zavir melirik Holand yang meletakkan secangkir teh hangat di sisinya ditemani beberapa kue kering. Namun, gairah makannya hilang setiap kali memikirkan Lail yang menghindarinya.


"Apa yang harus kulakukan jika wanita yang kusukai mendadak menghindariku?"


Holand mengerenyit, menyentuh dagu sambil berpikir keras. Pria berusia 58 tahun tersebut lantas menatap Zavir dengan penuh selidik. "Apa Duke melakukan kesalahan?"


Zavir menggeleng. "Tidak. Ah, aku tidak tahu. Setahuku, aku tidak melakukan apapun yang melewati batas."


Holand jadi ikut pusing dibuatnya kendati demikian tetap memberi pendapat mengenai permasalahan tersebut. "Kalau begitu, mungkin masalahnya ada pada diri wanita yang Duke sukai."


"Haah ... "


Zavir mengembuskan napas lalu melirik undangan mewah dari Hendry. Padahal tidak perlu undangan, tapi katanya itu formalitas. Yah, sudah lebih dari sebulan Ayse melahirkan dan itu seorang putri cantik bernama Amylia Clasie tapi nama itu baru diketahui anggota keluarga kerajaan saja dan pesta yang akan digelar dua hari lagi nanti akan mengumumkan nama calon putri mahkota Asylam.


"Baiklah, Holand. Aku akan menyelesaikan ini secepatnya lalu tolong jaga Orcal selama aku mengurus keamanan Istana saat pesta untuk keponakanku digelar."


Holand angguk kepala sambil menaruh tangan kanan pada dada kiri. "Ya, Duke."


Kemudian sehari setelah percakapan tersebut, Zavir sudah sibuk di istana sejak sore kemarin namun, pemuda berhazel indah tersebut tidak mendapati Lail melintas sama sekali.


"Sial! Aku terus memikirkannya. Kalau begini, tidak ada pilihan lain selain mengunjunginya, aku akan bertanya langsung kenapa dia menghindariku!" Zavir memantapkan diri lantas berjalan menuju paviliun.


Zavir telah berdiri di depan pintu kerja Lail, membuka perlahan dan mendapati Lail hendak menyusui Arrhur, wanita tersebut baru membuka dua kancing kemeja, memperlihatkan belahan dada.


Untuk beberapa waktu suasana menjadi sunyi, hanya mata keduanya yang seolah saling mengeksperikan keterkejutan sampai akhirnya Zavir keluar dengan cepat sambil menutup pintu cukup keras dan Lail buru-buru mengaitkan kancing kembali.


Wajah Lail sangat merah karena malu juga sedikit kesal karena Zavir masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Setelah cukup lama menenangkan diri, Lail akhirnya membuka pintu dan menghadapi Zavir yang masih berada di depan pintu.


"Apa kau mau mengunjungi Arthur?" Lail bertanya namun Zavir diam cukup lama dengan sedikit canggung.


Lail berusaha bersikap tak terjadi apapun jadi Zavir melakukan hal yang sama.


"Aku mau menemuimu." Kecanggungan Zavir sirna, menjadi keseriusan dan hal tersebut membuat Lail menelan ludah susah payah.


"Untuk apa?"


Zavir belum menjawab, tapi ia melanglah maju secara sepihak sehingga Lail terpaksa mundur hingga masuk kembali dan saat itu Zavir menutup pintu, membiarkan hanya dia, Lail dan Arthur berada dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa aku melakukan kesalahan yang menyinggungmu?" tanya Zavir.


Lail sontak geleng kepala. "Tidak."


"Lalu, kenapa selalu menghindar setiap kali berpapasan denganku?"


Lail memalingkan wajah, berpikir tidak mungkin mengatakan pada Zavir bahwa setiap kali berpapasan sejak terakhir kali keningnya dicium, jantungnya terus berdegup kencang ditambah setiap perlakukan manis Zavir terhadap dirinya dan Arthur membuat Lail tidak bisa menahan perasaan yang terus membesar hanya kepada Zavir.


Bahkan saat ini, hanya melihat mata hazel pria berstatus duke tersebut membuat Lail benar-benar kebingungan karena rasa tegang yang terus menggerogoti.


"Hah ..." Zavir menyentuh kening seraya mengembuskan napas karena wanita yang dicintainya justru menggigit bibir bawah cukup kencang sangking tak bisa menjawab pertanyaan.


"Hentikan, bibirmu bisa terluka." Zavir menggerakan ibu jari pada bibir bawah Lail, mencoba menghentikan tindakan bodoh Lail.


Tak!


Zavir terbelalak ketika tangannya ditepis cepat oleh Lail dan sekarang wanita beranak satu tersebut mundur dua langkah sambil berusaha menyembunyikan wajah yang telah bersemu seutuhnya.


"Lail?" Zavir tercenung beberapa saat melihat pemandangan tersebut, bukan karena kecewa atas tepisan tadi melainkan menyadari sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh hebat.


"M-maaf, aku tidak bermaksud untuk ... " Lail menggantung kalimatnya, tak tahu harus mengatakan apa lagi namun, Zavir paham dan menepuk puncak kepala Lail.


"Aku akan kembali lagi, jadi kumohon jangan menghindariku lagi. Jika aku salah, aku sungguh minta maaf."


"Kau tidak salah sama sekali." Lail berujar sangat pelan.


Zavir lantas keluar, sementara Lail kini menatap daun pintu yang perlahan terkatup kembali. Lail jadi merasa bersalah pada Zavir, seharusnya ia bukan lari dari perasaan ini.


...***...


Pesta digelar pada malam hari. Jamuan berat serta minuman telah berjajar indah di meja panjang. Para tamu berasal dari bangsawan kalangan atas dan tokoh terkemuka. Bahkan, ada beberapa orang penting dari negeri seberang ikut merayakan pesta pengunguman nama untuk calon putri mahkota Asylam tersebut.


Salah satu tamu dari negeri lain adalah Gaiden berserta Nilyar, mereka hanya datang berdua sementara anaknya ditinggal di Valazad bersama pengasuhnya.


Pesta berjalan cukup baik bahkan setelah nama calon putri mahkota diumumkan. Namun, itu tidak berjalan cukup baik bagi Lail karena malas bergabung ke tengah pesta setelah melihat Gaiden. Pria bermata amber tersebut pasti akan membuat sedikit pertikaian kecil karena pertengkaran waktu itu jadi Lail memilih menikmati malam di balkon yang tidak jauh dari keramaian pesta.


"Dia sangat populer." Lail bergumam sesaat melihat Zavir dikerumuni beberapa wanita bangsawan di bawah sana.


Wanita-wanita bergaun seksi dan mewah terus mengekori Zavir, melontarkan kata-kata manis namun yang dipuji hanya diam sambil menunjukkan ekspresi tidak bersahabat, memberi tahu dengan jelas bahwa dirinya sangat tidak nyaman dan tidak mau didekati.


"Nona, silakan." Seorang pelayan datang ke balkon, membawa nampan bersepuh emas dengan beberapa minuman di atasnya.


Bersamaan Lail mengalihkan perhatian untuk mengambil minuman, Zavir justru sedikit tersenyum melihat Lail ada di balkon, jadi dia buru-buru masuk dan pergi menuju Lail.


"Terima kasih." Lail meraih salah satu minuman lantas melihat ke bawah kembali, namun Zavir sudah tidak ada jadi dia kembali menatap minumannya.

__ADS_1


"Haah ... Membosankan." Lail lantas meneguk habis minuman tersebut dan terkejut sesaatenyadari bahwa itu minuman beralkohol.


Lail diam cukup lama lalu lambat laun mulai sedikit pusing, jadi dia meletakkan gelar berkaki pada pagar balkon sementara dirinya duduk sambil memeluk lutut.


Sejam berlalu dan Lail kini telah benar-benar mabuk dan saat itu pula Zavir baru muncul. Tadi, pria itu haru terjebak obrolan dengan beberapa bangsawan jadi sangat lambat untuk menemui Lail, bahkan tadi berpikir mungkin Lail sudah tidak di balkon tapi siapa sangka bahwa wanita tersebut justru duduk sambil menyembunyikan sebagian wajah yang sudah agak merah dibalik lutut yang dipeluk.


"Ya ampun, bagaimana bisa kau mabuk?"


Penglihatan Lail agak kacau, namun dia masih bisa mengenali pria yang kini sudah ambil posisi duduk di sampingnya.


"Aku tidak tahu kalau minumannya beralkohol."


"Kalau begitu, kau tidak boleh menjaga Arthur malam ini, tidak baik seorang ibu yang mabuk menjaga anak." Zavir terlihat cemas.


"Lalu siapa yang akan menjaganya? Kau?" Lail mengarahkan telunjuk di pangkal hidung Zavir.


Zavir tertawa kecil sembari menangkap tangan Lail. "Tentu saja. Biarkan aku berlagak jadi ayahnya malam ini."


Kilauan di mata Lail semakin membesar melihat senyuman Zavir juga mendengar perkataan pria itu. "Kenapa ... "


"Kenapa apanya?" Zavir angkat sebelah alis mendengar gumaman Lail.


"Kenapa kau selalu saja muncul di saat yang tepat. Seharusnya kau jangan berbuat apapun, jadi perasaanku tidak semakin besar."


Zavir diam, membiarkan Lail terus berceloteh dengan wajah mabuk yang merah padam.


"Aku sampai bingung harus bagaimana menghadapimu dengan perasaanku ini. Aku berusaha bersikap biasa saja, tapi kau selalu melakukan hal yang luar biasa tanpa menyentuhku. Kata-katamu, tindakanmu, bahkan tatapanmu benar-benar membuatku mengharapkan sesuatu yang besar darimu." Lail menyentuh dadanya setelah menarik tangan dari Zavir. Dia menurunkan pandangan, terlihat sedih.


"Aku malu mengungkapkannya padamu." Lail diam setelah mengatakan kalimat terakhir.


"Kalau begitu jawab saja, itu lebih mudah dari pada mengungkapkan."


"Jawab? Jawab ap—"


"Aku mencintaimu." Zavir menyela cepat.


"E-eh!"


"Aku ingin menikah denganmu. Sekarang, apa jawabanmu?" Zavir menyunggingkan senyum penuh kemenangan sementara Lail yang mengira bahwa dirinya sedang bermimpi mulai menepuk-nepuk pipi secara pelan.


"Minuman itu pasti membuatku berhalusinas— mm!"


Mata Lail nyaris loncat ketika Zavir mengunci kedua tangannya ke bawah dengan tangan kiri, sementara tangan kanan yang bebas meraih wajah Lail untuk membantu penyatuan bibir mereka.


"Ini bukan halusinasi, jadi bagaimana jawabanmu?" Zavir tersenyum lebar setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Lail.

__ADS_1


"Aku ... "


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2